Bab 11

Yuna melihat makanan penutup lainnya sayang sekali kalau tidak dia makan, sepertinya itu enak.

'Dasar aku!' Yuna menepuk kepalanya sendiri. Dia pergi ke toilet mencuci wajahnya, lalu melihat kondisi ayahnya Saga.

"Maafkan saya ya, Pak. Saya harus pergi kerja. Semoga Anda segera sembuh!" Ucap Yuna dengan sopan.

"Kau?"

Selangkah lagi menuju pintu, terdengar suara orang memanggilnya. Yuna menoleh memastikan bahwa dia tidak salah dengar.

Pria paruh baya itu tersenyum pada Yuna. Dia melambaikan tangan agar Yuna mendekatinya, "kemari, Nak!"

"Oh, bagaimana ini!" Yuna terkejut dia merasa senang ayahnya Saga sudah sadar. Yuna melangkah dan berdiri di samping ayahnya Saga. "Pak, anda sudah sadar! Syukurlah."

"Benar, saya harus memanggil dokter ke sini!" Ucap Yuna. Namun ayahnya Saga mencegahnya.

"Tidak usah, dokter dalam perjalanan ke sini?." Ucap ayahnya Saga. "Apa kau wanitanya Saga?"

"Ya?" Tanya balik Yuna. Dia melihat ayahnya Saga menatap cincin di jarinya. Yuna menggangguk mengerti "ha, ini. Ya, saya dengan Pak Saga..."

Ayahnya Saga tersenyum senang, dia menunggu lanjutan Yuna.

"Itu... Pak Saga melamar saya." Yuna dengan senyuman bersalah, dia tidak tahu harus berbicara seperti apa pada pria paruh baya ini.

"Ya, aku mempercayaimu." Ucap Ayahnya Saga.

Tak menunggu berapa lama dokter dan perawat datang ke dalam ruangan.

"Saya ingin menelepon seseorang," Yuna menghadap perawat yang sedang mendorong troli rumah sakit. "Apakah anda tahu dimana tempat telepon umum, Bu?"

"Ya." Perawat memberitahu tempatnya pada Yuna.

"Pak, saya tinggal sebentar ya!" Yuna berpamitan pada ayahnya Saga.

Lorong rumah sakit di sini sangat panjang dan luas. Jika malam hari jalan sendirian mungkin agak horor kali, ya?

Yuna sudah di lobby rumah sakit, dia berjalan ke resepsionis wanita.

"Selamat pagi, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Resepsionis wanita itu.

"Ya. Bolehkah saya pinjem teleponnya sebentar?" Yuna menunjuk telepon umum di atas meja.

"Tentu," jawab resepsionis wanita sambil tersenyum.

Yuna mengetik nomor kontaknya. Ayolah angkat, ponselku sekarang sama siapa ya? Semoga saja aku tidak menggangu.

Nomor sedang sibuk. Yuna kembali memanggil, sama saja. Benar yang ketiga ini pasti ke angkat, berpikir positif.

Panggilan tersambung, suara Saga. Jadi ponselnya Yuna ada sama Saga!

"Maaf, Pak. Saya ingin menyampaikan bahwa ayah anda sudah siuman." Ucap Yuna

"Ya, dokter sedang memeriksanya." Jawab Yuna.

" Ya?" tanya ulang Yuna, "tapi, Pak..."

"Halo..." Panggilan terputus. "Pak... hei!"

Seenaknya saja mematikan telepon saat dia belum selesai bicara. Yuna merasa kesal.

Saga menyuruh dirinya mengambil cuti dan merawat ayahnya yang sakit. "Dia pikir aku bakalan menurutinya begitu?"

Beberapa hari kemudian.

"Kau kemana saja selama tiga hari ini?" Raisya bertanya.

"Di rumah sakit." sahut Yuna dan merapihkan dokumennya tinggal satu file lagi yang belum dia kerjakan.

"Apa? Siapa yang sakit?" Raisa tercengang.

"Ayah tetanggaku." Yuna menulis catatan kerja untuk hari Senin nanti.

"Tetangga?" lirih Raisya. Seingat Raisya temannya satu ini tidak suka bergaul dengan orang lain. Sarah datang ke tempat kerja Raisya.

Yuna berjalan menuju ke pantry, dia merasa ngantuk. Selama cuti dia merawat ayahnya Saga, ralat. Dia hanya menemaninya ngobrol. Tentu saja Saga juga ada di sana namun hanya malam hari saja.

Yuna terkejut orang yang dipikirkannya ada duduk di kursi pantry. Yuna melihat ke kiri ke kanan tidak ada orang lain selain Saga. Yuna berpura-pura tak melihatnya, dia mengambil gelas di dalam lemari. Sambil menunggu minumannya Yuna memilih duduk.

"Kau tidak makan siang?" Tanya Saga.

Yuna menoleh kebelakang siapa tahu ada orang lain juga di sini.

Saga menatap Yuna sambil meminum kopi white. "Apa kau tidak makan siang?"

"Tidak, Pak..." Yuna terdiam untuk apa Saga bertanya itu padanya, lagipula dia tidak begitu akrabkan.

Saga menyodorkan kotak ke hadapan Yuna.

"Apa ini, Pak?" Yuna tahu itu kotak berisi makanan. Tapi itu kan hanya untuk para petinggi perusahaan kenapa Saga memberikan padanya.

"Makanlah," ucap Saga dingin.

Yuna menggeleng dia melihat Saga membaca file dan berpakaian jas hitam serta kacamata putih, terlihat tampan!

Saga menatap tajam Yuna,

"Ya, akan aku makan ini." Yuna merasa gemetaran dengan tatapan itu. Tadi siang dia makan biskuit, Yuna tak meninggalkan meja kerja dia begitu sibuk setelah cuti itu.

Saga berjalan menuju washtafel lalu membuang sisa minumannya. "Soal ibumu."

"Ya?" Yuna memutar kursi menghadap Saga. "Apa anda telah menemukan ibu saya, Pak?"

"Italia, lokasi ibumu berada di sana." jawab Saga dan menatap serius Yuna. "Alessandro! Siapa dia?"

"Benarkah? Apa anda tahu alamat rumah ibu saya?" Tanya Yuna dengan antusias.

Saga mengedikkan bahunya. "Masih dalam proses pencarian, Kau mengenal Alessandro?"

Yuna merasa bahagia bercampur sedih. "Entahlah, saya tidak tahu, Pak."

"Memangnya ada apa dengan nama itu, Pak?'' Yuna mengambil minuman lalu duduk kembali.

Saga membuka tutup kotak makanan dan menyuruh Yuna segera makan. Yuna dengan patuh memakannya dengan pelan.

"Setelah kupikir semalaman, Bagaimana kita menikah minggu ini?"

Yuna hampir saja menyemburkan makanannya. Dia menatap Saga. Seorang pria dingin memikirkan pernikahan semalaman. Yuna melihat ke pintu pantry takut ada karyawan yang mendengarnya.

"Anda mengalihkan pembicaraan kita, Pak." Ucap Yuna, pria di sebelahnya itu suka sekali mengeluarkan perkataan yang tak terduga di luar pikiran Yuna. "Lagi pula saya sudah pernah bilang, Kalau saya tidak ingin menikah."

"Saat Anda melamar saya waktu itu. Saya sudah berpikir keras untuk mengakhiri ini semua." Jelas Yuna.

"Kau tak menyukaiku?" Saga dengan ekspresi dingin, Saga mengingat saat dirinya menjadi ketua tim, Yuna selalu menuruti perkataannya.

Yuna mendengar pertanyaan itu dia segera berdiri. "Saya tidak ingin menjawab pertanyaan itu. Hanya saja saya tidak ingin menikah dengan Anda." Yuna lalu melihat raut wajah datar Saga.

"Saya belum siap menikah karena masih ada impian yang belum saya capai." Jelas Yuna.

"Tenanglah," Saga mengangkat sebelah tangan meminta Yuna duduk kembali.

Yuna kira pria itu akan marah dengan penolakannya itu, tapi Saga tetap tenang.

"Kau memiliki keluarga keturunan Italia?" tanya Saga dan membaca catatan yang ditulis tadi.

"Tidak," jawab Yuna.

Saga melihat raut wajah kesal Yuna, dia memberikan kotak kecil di hadapan Yuna. "Kemarin aku ke Italia. Sekretaris Theo membelinya."

Yuna menatap sekilas kotak panjang kecil, isinya adalah Visconti Ripple. Yuna menatapnya dengan kagum. Pulpen yang indah dan mewah di seluruh dunia. "Ya ampun bukankah harganya mahal."

Yuna hampir saja tersenyum karena senang. Dia menatap Saga "Aku tidak tahu kalau sekretaris Theo begitu perhatian. Tolong ucapkan terima kasih saya padanya, Pak."

Yuna merasakan aura dingin di sekitarnya. Dia melihat Saga membereskan file. Yuna tak sengaja melihat pulpen milik Saga, mirip denganya.

Saga pergi meninggalkan Yuna sendiri, dengan wajah datarnya itu.

Tak terasa Yuna menghabiskan waktu lima belas menit, dia kembali menuju tempat kerjanya.

"Yuna malam ini mau ikut tidak ke pesta ulang tahun pacarku?" Raisya berdiri di samping meja kerja Yuna. "Minta notenya dong!"

"Sepertinya tidak bisa." jawab Yuna lalu memberikan note book kuning.

Raisya mendengus "aku mengajak siapa lagi, ya?"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!