Bab 10

Sekretaris Theo cepat tanggap masuk ke dalam mobil.

"Pak, anda ingin membeli makanan untuk nona Yuna?" Sekretaris Theo menambahkan sebutan 'nona' sebab dia sudah jadi tunangan atasannya.

"Tidak perlu!" Saga mengecek catatan pekerjaannya.

"Nona Yuna mungkin kelaparan, Pak. Semalam anda memberi nona Yuna makananan?" Sekretaris Theo memutar kunci mobilnya. Saga tetap menatap catatan pekerjaannya, dia sedikit mengernyitkan dahi.

"Jika kau menghakwatirkannya pesankan saja makanan." Ucap Saga acuh tak acuh.

"Ya, Pak." Sekretaris Theo mencari menu makanan di ponselnya. "Pak, saya harus pesan makanan apa, ya?"

Saga mendengus dia menatap sekretaris Theo yang terlihat kebingungan. "Belikan apa saja."

"Tunggu belikan dia steak daging," ucap Saga dia teringat semalam Yuna mengigau. Sekertaris Theo tersenyum mengerti lalu memencet tombol menu makanan steak.

"Ada info dari dektetip?" Saga melihat jalanan sepi di pagi hari ini.

"Belum, Pak." Jawab Sekretaris Theo dia mematikan mesin mobil setelah sampai di kantor perusahaan MT Group. "Pak Bagas meminta waktu luang anda nanti malam, Saya harus jawab apa ya, Pak?"

"Apa jadwalku penuh hari ini?" Saga berjalan ke ruangannya sambil membuka jas dan menggantungkannya.

"Tidak, Pak. Pukul 7 malam jadwal Anda kosong," jawab Sekretaris Theo "Pak, pesanan sudah terkirim ke rumah sakit."

Saga mengetik komputernya dia melambaikan tangan. "Oke. Kau bisa keluar!"

Sekretaris Theo menunduk memberikan salam hormat, "baik Pak."

Di saat Sekertaris Theo keluar. Beberapa jam kemudian seseorang mengetuk pintu ruangan Saga.

"Siapa?" Sahut Saga.

"Pak, ini aku sekretaris Mirea, A.da seorang pria datang dan memaksa ingin masuk ke dalam ruangan anda Pak!" Jelas Sekretaris Mirae.

Saga melihat jam tangan pukul 7 pagi, Siapa tamu yang tak tahu waktu itu? Saga tak suka di ganggu di pagi hari, dia melanjutkan pekerjaannya "abaikan saja, kau bisa pergi."

"Saga Nugraha Kenwood," seorang Pria bule bertubuh tinggi berjalan masuk ke dalam ruangan Saga. "Di usia 30 an sudah menjadi Ceo."

"Kau tak merayakannya setelah jadi ceo perusahaan terbesar?" Lanjut pria bule itu sambil duduk di meja kerja Saga.

Saga menatap tajam pria di hadapannya itu, "apa kau tak punya kerjaan! selain mengganggu pekerjaan orang lain di pagi hari."

"Kau ini, tidak pernah berubah selalu saja tidak suka di ganggu." Ucap pria bule itu, dia berjalan mengambil minuman soju di rak kulkas mini. "Malam ini kita ke clubbing untuk merayakannya, gimana?"

"Aku sibuk." Saga sambil menulis di catatannya. "Ada perlu apa kau kemari?"

"Tentu saja untuk menemanimu kerja." Pria bule tertawa keras melihat Saga menatapnya dengan tatapan dingin. "Kau begitu serius sekali ya!"

"Kau belum memiliki pekerjaan?" Saga mengambil beberapa file untuk ditandatangani. "Bagaimana bisa kau begitu santai. Reyhan!"

Pria bule itu adalah Reyhan, dia mengangguk, "benar, aku suka sekali dengan keadaanku sekarang ini. Setelah melihatmu begitu bekerja keras dan menatap layar komputer di pagi hari membuatku ingin bersantai menikmati indahnya hidup."

Saga menunjuk Reyhan dengan pulpen. "Kelihatan sekali dari wajah pemalasmu itu."

Reyhan tertawa bangga "Begini-begini juga banyak wanita yang suka denganku."

"Lihatlah dirimu, kau bahkan melajang sampai sekarang." Reyhan membuka tutup Soju lalu meminumnya.

"Penipu!" Saga menatap file terakhir. "Kau bahkan menipu wanita dengan tampilanmu itu."

Reyhan mengernyitkan dahi, dia menatap dirinya berpakaian jas coklat kemeja hitam, Reyhan seperti orang kantoran pada umumnya. Reyhan memang tidak bekerja, dia lebih senang berkumpul dengan teman-teman apalagi dengan wanita cantik.

"Benar. Aku baru tersadar menyukai tampilan seperti ini." Reyhan merapihkan jas.

"Kau menyadarinya sekarang." Saga tersenyum miring, dia berjalan ke sofa lalu mengambil majalah forbes.

"Saat membuka pintu aku mendengar beberapa pegawai kantor menggosipkanmu," jelas Reyhan. "Ceo baru muda itu gay."

"Katanya kau tidak tertarik dengan wanita. Aku setuju yang satu ini." ucap Reyhan sambil tersenyum senang. Dia duduk di sofa berhadapan dengan Saga. "Mau aku carikan wanita, tipe seperti apa yang kau inginkan?"

Saga membuka lembaran buku dengan tatapan kosong dia tak bisa fokus. "Aku tak memilih soal wanita."

Reyhan melihat Saga pergi mengambil minuman. Reyhan tertawa "Benarkah? Kurasa kau suka wanita tipe yang manis-manis."

"Katakanlah kau ingin apa?" Saga tak tahan dengan pembicaraan mereka tentang wanita. Dia mengalihkannya.

"Woah, kelihatan sekali, ya?" Reyhan tersenyum manis, dia menaruh Soju di atas meja "vila kacamu, aku akan mengadakan pesta ulang tahunku."

"Kenapa harus di sana?" Tanya Saga lalu meminum soju.

"Kau tahu 'kan, aku suka sekali pemandangan di vila kaca itu, lagipula kau tidak tinggal di sana 'kan."

"Silahkan saja, lantai satu tidak untuk lantai lainnya." Saga melihat jendela besar di ruangan itu. Dia berjalan dan melihat pemandangan bawah, lalu lintas terlihat macet dengan kendaraan mobil dan motor. "Jangan ada yang masuk keruangan lain."

"Baiklah, tapi kau datang 'kan ke acaraku?" Tanya Reyhan. "Kau orang pertama yang aku undang."

"Malam minggu kau harus datang ke sana. Oke!" lanjut Reyhan sebelum keluar ruangan dia melihat sebuah kotak biru kecil di meja. "Cincin?"

Saga mengabaikannya dia mengambil kotak itu lalu menyimpannya di laci meja. "Ingin tahu saja, cepat pergilah."

"Kau berencana melamar seseorang" tebak Reyhan.

"Jika kau tidak pergi juga, akan kupanggil security untuk menyeretmu." Saga dengan tegas.

"Oke, aku pergi, jangan lupa ke pesta dan bawa tunanganmu." Rehyan menutup pintu sebelum melihat tatapan tajam sahabatnya itu.

Sekretaris Theo berdiskusi dengan Sekretaris Mirae.

"Theo!" Reyhan menyapa dari kejauhan. Dia berjalan ke meja sekretaris wanita itu. "Apa kabarmu?"

"Baik," jawab Sekretaris Theo sambil memberi salam hormat, "apa anda ingin bertemu dengan pak Saga, Pak?"

"Baru saja keluar dari sana." Reyhan menunjuk pintu ruangan Saga. "Berbicara santai saja. Tidak usah formal begitu."

Sekretaris Theo menggeleng dia tak setuju.

"Baiklah terserah kau saja." Reyhan memberikan undungan pesta pada sekretaris Mirea. "Datanglah malam Minggu ini."

Sekretaris Mirea menerimanya dia menatap wajah tampan pria itu yang tersenyum menggoda. "Iya, Pak."

"Kau juga datang." Reyhan menepuk bahu Sekretaris Theo.

"Saya tidak bisa menjanjikan akan datang ke sana, Pak!" Jawab Sekretaris Theo dengan sopan.

"Kudengar Saga bertunangan, kau tahu siapa wanita itu?" Tanya Reyhan.

"Anda juga akan tahu suatu saat nanti, Pak." Jawab Sekretaris Theo.

"Dasar, kau begitu setia pada Saga." Reyhan mendengus. "Baiklah akan aku cari tahu sendiri!"

Sekretaris Mirea melihat kepergian pria bule itu. Dia menatap penasaran pada sekretaris Theo, "Pak, benarkah apa dikatakan pria itu?"

"Kau bekerjalah, jangan pikirkan hal itu." Sekretaris Theo mengambil dokumen di meja kerja sekretaris Mirea

"Sekretaris Mirea, berikan ini ke Sekretaris Susan." Ucap Sekretaris Theo sambil tersenyum sopan, "Kalau begitu saya pergi dulu."

Sekretaris Mirea mengangkat sebelah alisnya, dia yakin ada yang ditutupi sekretaris Theo padanya.

Yuna membuka matanya, ternyata dia tertidur di rumah sakit. Seingatnya dia duduk di kursi sana tapi kenapa dia bisa tidur di sofa, ya?

Lehernya terasa kaku, dia memijatnya. Yuna melihat jas dipangkuannya. Dia mengkat jas itu dan mencium bau parfum pria. Jangan bilang jas ini punya Saga?

Dia melempar jas itu ke ujung sofa. Yuna memegang perutnya, dia sangat lapar . Yuna mencium bau makanan lalu melihat ke depan dibatas meja ada dua kantong, dia membukanya ada note kecil 'Nona Yuna' untukku. Dari siapa ya?

"Wah, mari makan" Yuna memotong steak daging, "terimakasih, orang baik."

Yuna makan dengan lahap, Yuna membuka botol air mineral lalu meminumnya, dia bersendawa. "Ha, Kenyangnya..."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!