Yuna menunjuk Sarah yang sedang berdiri di depan mesin foto copy, "ajak Sarah aja."
"Tidak mungkin dia mau ikut, tadi dia bilang padaku, katanya malam ini dia akan kencan." Raisya mengambil pulpen di atas meja Yuna. "Kenapa kau memiliki pulpen mewah seperti ini?"
"Oh itu hadiah." Jawab Yuna seadanya.
"Yuna." Susan menaruh beberapa dokumen diatas meja Yuna. "Tolong selesaikan ini sekarang ya!"
"Ya?" Yuna menatap dokumen itu " Sisanya hari Senin bisa ga, Bu?"
"Gak bisa, Yuna. Itu harus beres hari ini, kau ambil lembur kerja saja," jelas Susan.
"Hei, gimana jadi ikut tidak?" Tanya Raisya setelah kepergian Susan.
"Tidak, kau lihat sendirikan kerjaku bertambah banyak." Jawab Yuna.
"Benar juga sih." Raisya menepuk-nepuk bahu Yuna, "semangat!"
Yuna mengacungkan ibu jarinya. "Siap!"
Jam pulang kerja tinggal sejam lagi.
Yuna dengan teliti melihat dokumen lalu mengetiknya di komputer.
"Pak, jadwal dengan pak Bagas malam ini dibatalkan, beliau sedang sakit." Jelas Sekretaris Theo.
"Mendadak begini?" Saga melihat jam tangannya pukul 8 malam.
"Iya, Pak. Anda ingin menjenguk pak Bagas, dia sedang dirawat?" Sekretaris Theo menyodorkan ponselnya. Saga mengabaikannya.
"Tidak perlu!" Jawab Saga pintu lift terbuka. Saga tak sengaja melihat Yuna bekerja sendirian di ruangannya. "Kenapa dia sendirian di sini?"
Sekertaris Theo menoleh melihat ruangan masih menyala. "Apa perlu kita tunggu dia sampai selesai kerja, Pak?"
Yuna meregangkan kedua tangannya, dia merasa pegal. Akhirnya dia bisa menyelesaikannya juga, Yuna melihat sekelilingnya, tidak ada orang. Dia terlalu fokus menatap komputernya. Kesalahan satu ketikan aja dia pasti disuruh mengulanginya lagi. Yuna tak mau hal itu terjadi.
Ketika Yuna keluar dari ruangan itu betapa terkejutnya dia melihat dua sosok bayangan. "Ha ... hantu!"
Sekretaris Theo menepuk bahunya Yuna yang sedari tadi berteriak sambil menutup wajah dengan tasnya. "Nona tenanglah. Ini kami."
Memang lampu lorong ini hanya satu yang menyala itupun di ujung dekat lift. Yuna menghela nafas lega, mendengar suara yang dia kenal.
"Apakah kau, Pak Sekretaris Theo?" Tanya Yuna. Sekretaris Theo menyalakan senter ponselnya.
"Benar ini saya, Nona." jawab Sekretaris Theo.
Berarti yang berdiri di depannya itu Saga? Sekretaris Theo menyenternya dan terlihatlah wajah datar Saga yang menatapnya tajam. Bikin kaget saja.
Saga berjalan lurus "ayo, ngapain berdiri terus di sana!"
Yuna membalikkan badannya dan berjalan mengikuti Saga, untung masih ada orang gak biasanya dia lembur sendirian. Apa karena hari ini malam Minggu ya? Orang yang lembur bisa begitu cepat kerjanya.
Di dalam lift mereka bertiga tidak ada yang berbicara sepatah kata 'pun.
"Ini sudah malam, pulanglah bersamaku." ucap Saga ketika sampai di lobby.
Yuna menggeleng "tidak, Pak. Saya akan naik bus saja."
Mobil hitam berhenti di depan mereka. Sekretaris Theo keluar dan membukakan pintu mobil. Saga masuk kedalam mobil.
Yuna menghampiri sekretaris Theo yang berdiri di samping mobil.
Yuna merogoh tasnya dan mengambil pulpen mewah itu lalu memberikannya pada sekretaris Theo. "Terimakasih telah memberikan saya hadiah ini. Namun ini tidak cocok dengan saya."
Sekertaris Theo mengernyitkan dahi. "Nona, itu dari Pak Ceo." Jelas Sekretaris Theo "saya hanya membelikannya dengan kartu milik Pak Ceo."
Yuna menatap pulpen itu dengan diam.
"Pak, malam pesta ulang tahun teman anda!" Sekertaris Theo mengingatkannya.
Setelah merapihkan tempat tidurnya, Yuna mematikan lampu dan meloncat ke kasur. Yuna merebahkan tubuhnya sambil menatap atap kamarnya. Malam minggu begini lebih baik tidur nyenyak, Yuna menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Dia memejamkan matanya.
Drtt! Suara getaran ponselnya, Yuna mengambil ponsel di meja dengan mata terpejam. "Ya?"
Yuna membuka matanya lebar-lebar. "Baik, Pak. Saya akan segera ke sana!"
Panggilan terputus, Yuna menuju ke kamar mandi mengganti baju dengan kemeja kotak abu-abu lengan panjang dan celana jeans. Yuna kembali ke kamar mengambil tas selempengan dan jaket abu abu. Semoga saja bus masih ada.
Lima belas menit kemudian, Yuna berlari menuju lift, "tunggu."
Saga menekan tombol dan lift terbuka, dia melihat Yuna yang terengah-engah. "Sudah kubilang sopirku menjemputmu ke sana."
"Saya lebih suka naik kendaraan umum, Pak." Sahut Yuna. "Bagaimana dengan ayah anda, Pak?"
"Penyakitnya kambuh lagi," jelas Saga "pasokan obat dari luar negri telah habis."
"Kalau boleh tahu ayah anda sakit apa ya, Pak?" Tanya Yuna.
"Alergi dingin." Jawab Saga dan menatap serius Yuna "aku ingin mengatakan ini sekali lagi."
Yuna melihat Saga meraih sebelah tangannnya, "Apa yang anda lakukan?"
"Yuna menikahlah denganku," ucap Saga. "Dan kita akan menikah kontrak selama tiga tahun."
Yuna terkejut ternyata Saga mengajak Yuna menikah kontrak. "Kenapa anda begitu ingin menikah denganku, Pak?"
Mungkin Saga ingin bertanggung jawab soal malam hari itu, atau mungkin Saga jatuh cinta padanya. Tapi yang terakhir itu tidak akan pernah terjadi. Saga si pria dingin bagaimana mungkin bisa jatuh cinta pada dirinya.
"Aku ingin mengabulkan permintaan terakhir ayahku," jawab Saga datar.
Yuna menunduk menatap sepatunya. Benar, pasti alasanya itu karena orang yang di sayanginya. "Baiklah, saya akan menikah dengan Anda." jawab Yuna "Saya punya beberapa Syarat."
Saga mengangguk "Jelaskan apa persyaratanmu?"
"Saya ingin tinggal di apartemen saya..."
"Kau ingin tinggal berpisah." Saga mengulang perkataan Yuna, "Tidak boleh, Kau harus tinggal bersamaku."
Yuna menyipitkan matanya dia menghempaskan lengannya yang dipegang Saga. "Kalau begitu, Aku tidak mau."
"Apa yang akan dikatakan ayah nanti, melihatmu tidak tinggal bersamaku," ucap Saga.
"Saya mau tinggal dengan anda, tapi kamar kita harus terpisah." Sahut Yuna ketus.
"Oke, apa ada lagi?" Tanya Saga santai.
"Tidak ada hubungan intim, jangan mencampur urasan pribadi." Jelas Yuna.
Saga memperhatikan Yuna dari atas ke bawah, "aku tak tertarik dengan itu." jawab Saga "dan yang terakhir aku setuju."
"Anda juga berjanji akan menemukan ibu saya?" Yuna mengacungkan sebelah jari kelingkingnnya dan menautkan dengan jari kelingking Saga.
"Ya, aku berjanji!" Saga menatap aneh yang dilakukan Yuna. "Apa harus melakukan ini."
"Kata ibuku, ketika dua orang memutuskan untuk membuat janji, mereka dapat menautkan jari kelingking mereka sebagai tanda kesetiaan." Jelas Yuna. "Hal ini diyakini dapat memperkuat ikatan emosional dan memberikan keyakinan satu sama lain bahwa janji tersebut akan ditepati."
Lift terbuka, Yuna jalan lebih dulu Saga berjalan di belakangnnya.
Saga menatap kelingkingnya lagi dan melihat rambut panjang Yuna yang teruai. Yang benar saja, untuk apa dia memikiran perkataan Yuna tadi dengan serius. Seseorang berjanji akan setia dengan mengaitkan jari kelingkingnya. Saga menoleh ke kiri dia tersenyum tipis.
Di dalam ruangan inap ayahnya Saga terlihat pucat, Saga dan Yuna berjalan ke samping kasur ayahnya Saga.
"Maaf Kalian menikah tanpa pesta," ucap ayahnya Saga terrbata-bata.
"Tidak apa-apa, Pak." Sahut Yuna.
"Panggil aku Ayah, hari ini kau akan jadi menantuku." Ucap ayahnya Saga dan memberikan kotak cincin pernikahan turun temurun pada Saga. "Aku ingin melihatmu menikah dengannya."
Ayahnya Saga meraih lengan Yuna dan lengan Saga, saling berpegangan bertiga. Yuna merasakan kulit dingin ayahnya Saga.
"Ini mungkin kali terakhirku dan bisa melihat putraku menikah," ucap ayahnya Saga. "Saga berjanjilah pada ayah."
Saga membalas menggenggam lengan ayahnya yang dingin sedingin es. "Ya, Ayah. Katakanlah?"
Ayahnya Saga menatap Yuna dengan senyuman hangat. "Ayah ingin kalian hidup bahagia bersama dan memiliki keluarga utuh," jelas ayahnya Saga. "Tolong jagalah Yuna dengan baik."
Yuna menggeleng dan menatap sekitarnya, kakeknya Saga berdiri di sudut ruangan, pria tinggi sepertinya dia pengacara dan pria perahu baya berpakaian putih dia adalah pastor.
"Aku janji, Ayah." Sahut Saga dia merasakan denyut nadi ayahnya yang melemah.
Pastor mulai berdoa dan mengucapkan janji nikah.
Yuna dan Saga mengucapkan sumpah pernikahan. Mereka saling bertukar cincin, ayahnya Saga tersenyum senang dia menutup matanya.
Suara tangisan lirih kakek Saga melihat anaknya lebih dulu berpulang.
Badan Saga gemeteran dia menumpukkan kedua lengannya di sisi kasur ayahnya. Saga mengingat masa kecil bersama ayahnya pergi ke sebuah tempat yang Saga impikannya. Saga mengetahui suka duka hidup ayahnya.
Yuna merasa dadanya sakit melihat orang yang baru beberapa hari ini dia kenal telah meninggal dunia, ayahnya Saga meninggal dengan tersenyum bahagia. Air mata mengalir mengingat betapa baik dan ramahnya, Yuna menghapus air matanya. Dia menatap raut wajah sedih Saga, yuna memegang sebelah tangan Saga.
Sekretaris Theo yang berada di dekat pintu menangis tanpa suara.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Comments