Bab 17

"Paman," Yuna melambaikan kedua tangannya dan tersenyum.

Jemin menghampiri Yuna, "Aku menjemputmu ke apartemen tapi di sana kosong. Kau pindah kemana?"

Yuna melihat raut wajah khawatir Jemin, "Tenang saja Paman, aku tinggal dengan orang baik kok."

"Siapa? Pria atau wanita?" tanya Jemin.

"Ayolah, Paman. Aku bukan anak kecil lagi kau tidak usah khawatir denganku." seru Yuna sambil merangkul sebelah tangan Jemin. "Kau mengajakku ke sini. Apa kau akan membeli sesuatu?" Yuna melihat banyak pengunjung pria berjas hitam duduk di kursi dan di depannya ada sebuah panggung.

Mereka berdua duduk dibarisan depan dan acara pun mulai dengan seorang pria mempromosikan benda yang akan dilelang.

"Kau suka itu?" Jemin melihat jepitan kuno.

Yuna menggeleng. Lalu berganti dengan benda lain yang akan dilelang.

Jemin terusan bertanya apa Yuna menyukai itu. Namun Yuna tak tertarik dengan itu semua. Namun pas promosi buku novel kuno Yuna menginginkan itu.

"Paman, aku mau." ucap Yuna.

Jemin mengangkat tangan dan menyebutkan jumlah harga. Tidak semudah itu mendapatkannya, banyak orang tertarik dengan sebuah buku itu.

"Paman," Yuna melihat jemin merebutkan harga itu dengan orang-orang. "Sudahlah kau tidak perlu menawarkannya lagi. Itu sudah melebihi batas."

"Yuna, buku ini berbeda dari yang biasa kau beli di toko." jelas jemin. "Aku tidak masalah mengeluarkan uang puluhan juta hanya untukmu."

"80 juta."

Apa? Yuna menengok ke belakang apa dia sudah gila sedari tadi berebutan dengan Jemin dan belum berhenti. Yuna ingin melihat wajah orang itu tapi lampu remang-remang diruangan ini membut Yuna tidak bisa melihat wajah itu dengan jelas.

"11 juta." Jemin mengangkat tangannya, Yuna melotot dia terkejut.

"Paman." Yuna menepuk bahu Jemin "Sadarlah. Kau ingin membuang-buang uangmu."

"Sudah kukatakan, itu tak masalah." sahut Jemin dia terlihat fokus ingin memenangkan buku itu.

Jemin merasa bersalah karena tak memenangkan buku itu. "Yuna, maafkan aku!"

"Tidak apa-apa, Paman." Yuna sambil tersenyum.

"Kau tahu buku novel itu karya Rosemary." jelas Jemin.

Yuna tercengang, Rosemary adalah seorang penulis jaman dulu yang banyak digemari sampai sekarang. Yuna ingin jadi penulis seperti Rosemary, dulu ketika dia masih SMP, Jemin memberikan sebuah buku novel genre thriller berjudul 'The Kill' Yuna masih mengingat semua isi novel itu. Dia membacanya berulang kali saking senangnya.

Jemin memegang bahu Yuna "Kau baik-baik saja?"

Yuna tersadar dan mengangguk "Ya, Paman." lirih Yuna.

"Ayo makan malam dulu," ajak Jemin.

Yuna berjalan menuju dapur dan mengambil air didalam kulkas.

"Darimana saja kau?"

Yuna tersedak minuman. "Uhuk!"

Saga mendekatinya dan menepuk leher Yuna. "Sudah baikan?"

"Ya." sahut Yuna dia melihat Saga berpakaian kemeja putih berlengan panjang. "Aku tadi habis keluar sebentar."

"Anda mau minum, Pak?" Yuna menyodorkan air, Saga menatapnya terus menerus.

"Tidak! Kau ikut aku." titah Saga.

Yuna menggeleng dia menaruh gelas di washtafel, dia tidak mau mengikuti perintah Saga. Namun saat Yuna menoleh Saga menatapnya dengan dingin. "Baiklah, aku ke sana."

Mungkin Saga ingin membicarakan tentang ibunya yang hilang. Yuna berpikir positif.

Ruang kerja Saga tertata rapih, Yuna baru menyadari rambut basah Saga. Ternyata pria itu habis mandi, Yuna tadi hanya menatap mata birunya yang tajam itu.

Saga memejamkan matanya yang berat dia merasakan Yuna berdiri disampingnya, Saga tidak tahu kenapa dia merasa kesal melihat Yuna jalan dengan seorang pria.

"Siapa pria itu?" tanya Saga.

"Anda mematai saya, Pak?" Yuna bertanya balik.

"Aku tanya sekali lagi siapa pria itu?" tanya lagi Saga.

Yuna menggeleng dia tidak ingin memberitahukan apalagi Saga bertanya dengan raut wajah yang paling tidak ingin Yuna lihat. Saga terlihat marah. "Dalam perjanjian nomer 6, jangan saling meng

..."

"Yuna," Saga menarik tangan Yuna dan mereka saling bertatapan dengan posisi Yuna duduk diatas pangkuan Saga. "Apa susahnya kau memberitahuku?"

Yuna merasakan detak jantungnya yang berdetak kencang, dia menundukkan wajahnya. "Dia pamanku."

"Pria muda itu pamanmu?" Saga melihat dengan jelas pria bersama Saga kelihatan masih muda sekitar usia 25 an.

"Benar, Pak." sahut Yuna kesal, Saga menatapnya tak percaya. "Terserah Anda mau percaya atau tidak."

Apaan ini! Kenapa wajah Saga begitu dekat, apa dia ingin menciumku. Tidak! Itu tidak mungkin.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!