Di dalam kamar mandi, Yoga termenung memikirkan ucapan Kiara. Walaupun Ia tak pernah berpikiran kiara akan hamil, tapi mendengar Kiara keguguran, Yoga merasa sedikit kecewa.
Bagaimanapun anak itu adalah darah dagingnya. Yoga merasa bersalah karna sebelumnya tidak memastikan Kiara hamil atau tidak.
Setelah merasa tenang Yoga kembali ke kamar lagi. Kiara tampak merasa cemas didepan pintu kamar.
"Ayo kita pulang!" Ucap yoga dengan raut wajah datar tanpa ekspresi sambil membuka pintu kamar dan melangkah keluar, Kiara mengikuti langkah suaminya dengan perasaan lega.
"Kenapa kamu bisa keguguran?" Tanya yoga pada Kiara setelah keduanya sudah berada di dalam mobil.
Kemudian Kiara menceritakan semuanya yang sudah terjadi. Yoga merasa geram mendengarnya.
"Aku nggak akan tinggal diam, suatu saat nanti aku akan balas perbuatan mereka yang sudah membuat nyawa calon anak kita hilang sebelum aku sempat melihatnya." Ucap yoga pada Kiara.
Kiara mengernyit heran. "Bagaimana bisa kamu mengakui itu anak kamu mas? sedangkan satu minggu sebelumnya, mas Rio sempat menjual ku pada laki-laki lain, yang aku sendiri tidak tau wajahnya seperti apa. Bagaimana kalo ternyata janin yang sempat aku kandung itu adalah anak b4j1Ng4n yang sudah merenggut kehormatanku malam itu?" Ucap Kiara emosi dan sedih mengingat kejadian waktu itu.
"Kiara, jaga ucapan kamu! Jangan sembarang ngatain orang seperti itu!" Yoga reflek menegur Kiara. Sebab ia tidak terima disebut b4j1Ng4n.
"Kenapa kamu marah mas? Apa salah, aku membenci laki-laki yang sudah merenggut kehormatanku, walaupun faktanya dia membeli ku tapi harusnya dia konfirmasi dulu ke aku. Jangan malah memanfaatkan aku yang sedang tidak sadarkan diri." Ucap Kiara yang kemudian terisak dengan mengarahkan pandangannya ke arah kaca jendela samping.
"Gara-gara dia juga, aku jadi terlibat sama pernikahan tidak jelas seperti ini" Sambung Kiara meratapi nasib pernikahannya.
Sebenarnya Yoga ingin menceritakan bahwa yang sudah membeli Kiara malam itu adalah dirinya. Tapi melihat Kiara marah seperti itu membuat yoga khawatir, takut jika Kiara malah semakin membenci dirinya.
Setelah sampai di rumah yoga, Kiara langsung turun dan melangkah dengan cepat menuju kamarnya. Ia ingin menangis untuk menghilangkan rasa sesak di dadanya.
Di tempat baru, Kiara sangat berharap akan ada kebahagiaan yang datang untuknya. Tapi baru hari pertama bekerja malah sudah ada dua orang yang mengusik hati dan pikirannya.
Di dalam kamar mandi dengan menyalakan air kran, Kiara mencoba menangis sepuasnya.
Malam harinya setelah selesai urusan memasak, Kiara dan bik Nana menyajikan masakan yang sudah siap saji ke meja ruang makan untuk makan malam majikannya.
Yoga dan Andre sudah terlihat menunggu di ruang makan sambil mengobrol membicarakan urusan kantor. Sudah dua hari yoga tidak masuk kantor karna ada urusan pekerjaan di luar kota dan baru bisa pulang tadi siang.
Kiara merasa bingung harus tetap melangkahkan kaki menuju ruang makan, atau memilih berbalik arah. Sebab ia merasa malu, jika sampai Andre melihat dirinya menjadi pembantu di rumah tersebut. Tetapi jika berbalik arah. Di belakang Kiara ada pembantu yang paling judes. Kiara takut kena marah sama pembantu judes tersebut.
Akhirnya dengan terpaksa kiara terus melangkah dengan menundukkan kepalanya supaya Andre tidak melihatnya.
Tapi sialnya Kiara malah menabrak nyonya besar nya. Untung yang dibawanya adalah lauk kering, bukan sayuran berkuah. Jadi sedikit aman saat mengenai nyonya besar.
"Kamu itu gimana sih? Kalo jalan yang bener dong!" omel mama yoga kesal, saat Kiara tidak sengaja menabrak dirinya. Andre dan yoga langsung berdiri melihat kejadian tersebut.
"Kiara" Ucap Andre pelan, merasa tidak menyangka melihat Kiara dirumah tantenya.
Mendengar Andre menyebut nama Kiara, Yoga merasa biasa saja. Sebab di pikirnya, Kiara adalah pembantu dirumah ini jadi mungkin Andre baru mengenal Kiara kemarin atau tadi pagi, begitu pikir Yoga.
Kemudian tanpa menatap ke arah Andre dan yoga, Kiara meletakkan lauk yang dibawanya di meja makan. Tanpa berucap apa-apa Kiara langsung kembali menuju dapur.
Sebenarnya Andre ingin bertanya kenapa Kiara bisa menjadi pembantu di rumah tersebut. Tapi ia merasa tidak enak sama tante dan sepupunya. Jadi ia tunda terlebih dahulu. Mungkin nanti setelah makan ia akan coba menemui Kiara di belakang.
Kiara merasa sedih dan malu karna sekarang dia hanya menjadi pembantu di rumah tantenya Andre. Rasanya Kiara enggan untuk bertatap muka dengan Andre.
"Aku perhatikan setiap kamu habis bertemu tuan muda, kamu selalu melamun tidak jelas." Sindir Rani si pembantu paling judes, saat melihat Kiara yang menyabuni perkakas sampe tiga kali.
"Ma af mba, aku hanya belum terbiasa saja bekerja ditempat seperti ini." Ucap Kiara beralasan.
"Yang penting kamu harus ingat siapa kamu siapa mereka! Kamu itu nggak level sama mereka, jadi jangan sekali kali bermimpi buat mendapatkan salah satu dari mereka!" Ucap Rani memperingatkan Kiara.
"Tapi mba, Kalo ternyata mereka yang mengejar saya bagaimana mbak?" Ucap Kiara iseng mengerjai Rani.
Rani tertawa. "Mimpi kamu? Cepet bangun! tidur kamu terlalu miring!" Ejek Rani yang kemudian melangkah pergi ke belakang.
Setelah semuanya sudah bersih, termasuk bekas-bekas piring untuk makan malam. Kiara segera membuang sampah ke tong sampah depan gerbang rumah.
"Mau buang sampah ya neng?" ucap pak satpam saat melihat Kiara membawa kantong sampah.
"Iya pak, tolong buka sebentar ya pak!" Ucap Kiara meminta pak satpam membuka pintu gerbang dengan tersenyum ramah.
Setelah selesai dengan urusan persampahan. Kiara segera mencuci tangannya di air kran sebelah gardu satpam, kemudian ia kembali melangkah pergi menuju kamarnya.
"Kiara tunggu!" Ucap Andre sembari menarik pelan tangan Kiara yang hampir masuk ke dalam kamarnya.
"Andre, ngapain kamu disini? Nanti ada yang lihat." Ucap Kiara merasa khawatir.
"Memangnya kenapa kalo ada yang lihat? Aku cuma mau nanya kenapa kamu bekerja jadi pembantu disini?" Tanya Andre penasaran.
"Aku terpaksa ndre. Budhe mengusirku dari rumah. Menjadi pembantu disini adalah jalan satu-satu nya agar aku mendapat tempat tinggal dan bisa mencukupi kebutuhanku." Balas Kiara menjelaskan.
"Tapi kiara, kamu kan bisa melamar jadi karyawan pabrik atau toko, tidak harus menjadi pembantu seperti ini." Ucap Andre merasa Kiara tidak cocok jadi pembantu karna setau Andre kiara sangat cerdas.
"Memangnya kenapa dengan pembantu? Apa kamu merasa malu mempunyai teman pembantu seperti aku? Aku sadar kok ndre, kita sudah beda level. Bahkan mungkin sejak dulu, tapi aku nya yang baru sadar." Ucap Kiara yang kemudian hendak masuk ke dalam kamar, tapi langsung dicegah oleh Andre lagi.
Kemudian Andre menjelaskan maksudnya supaya Kiara tidak salah paham. Andre hanya merasa Kiara tidak cocok jadi pembantu karna Kiara perempuan yang sangat cerdas. Untuk lulusan SMA seperti Kiara, ia lebih cocok menjadi karyawan kasir, karyawan toko atua pabrik. Begitu maksud Andre.
Tapi ternyata Kiara tidak bisa melamar pekerjaan semacam itu. Sebab ijazahnya sudah dibakar habis sama budhe nya.
Andre merasa kasihan sama Kiara dan ingin berusaha membantu Kiara, tapi Kiara menolak. Sebab ia tidak mau berurusan sama Tania yang suka sekali membully dirinya.
Tanpa mereka sadari, ternyata ada yang menyaksikan obrolan mereka berdua dan orang itu merasa sangat marah, melihat keakraban Andre dan Kiara.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments