Kiara dan 3 pemuda yang tersesat

"Apa? Aku mendapat tambahan bonus 10 juta?" Ucap Rio pada seseorang yang sedang berkomunikasi dengan dirinya melalui sambungan seluler. Rio tampak melompat kegirangan setelah mengakhiri panggilan tersebut.

Kiara yang baru sampai rumah tidak sengaja mendengar obrolan Rio. Kiara yakin pasti Rio baru saja berbicara dengan orang yang sudah membelinya. Seketika rasa sesak dan marah menguasai dada Kiara.

"Mas Rio..." Teriak Kiara sembari membuka pintu dengan keras.

"Eh kamu. Sudah pulang rupanya? Gimana semalam? Enak nggak?" Ucap Rio tanpa merasa berdosa dan bersalah sedikitpun.

"Keterlaluan kamu mas, kamu jahat. Tega kamu mas. Apa salah aku sama kamu mas? Apa pun yang kamu mau, selalu aku lakukan. Tapi kenapa seperti ini balasan kamu mas?" Marah Kiara sembari menangis histeris dan memukuli punggung Rio dengan tangan mungilnya.

"Udah, nggak usah lebay! Gitu aja nangis.Tenang! Nanti aku belikan baju yang bagus buat kamu. Sepertinya orang yang sudah pakai kamu itu orang kaya. Aku saja semalam dikasih dua puluh juta, eh sekarang ditambah lagi sepuluh juta." Ucap Rio diakhiri dengan tertawa bahagia

Kiara mengabaikan ucapan kakak sepupunya, dan kemudian ia masuk ke dalam kamarnya. Kiara merasa percuma jika harus berdebat dengan orang nggak waras seperti Rio.

Di dalam kamar, Kiara menangis sembari memandangi foto kedua orang tuanya. Ia merasa hidupnya sudah tak berarti lagi. Tidak ada semangat dan tidak ada yang bisa dibanggakan lagi.

"Kiara, buka pintunya! keluar kamu!" Teriak budhe Kiara dari luar kamar sambil menggedor-gedor pintu kamar Kiara. Terpaksa Kiara membuka pintunya, sebab ia tidak mau menambah masalah lagi.

"Ya budhe ada apa?" ucap Kiara setelah membuka pintu kamarnya.

"Kamu ya, jam segini masih enak-enakan dikamar. Apa kamu nggak lihat rumah masih berantakan? Makan siang juga belum ada. Belum lagi kamu harus ke hutan buat cari kayu bakar. Sana buruan! Selesaikan pekerjaan kamu!" Marah budhe pada Kiara.

Kiara hanya mengangguk, kemudian mulai membersihkan rumah. Kiara tidak berani melawan budhenya. Ia juga tidak mau mengadu tentang kejadian semalam.

Sebab menurut Kiara percuma. Apapun yang dilakukannya akan selalu salah, dan pasti budhe nya juga akan lebih berpihak pada anak kandungnya, sekalipun anaknya itu bersalah.

Menjelang sore hari, Kiara pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Hal yang sudah biasa ia lakukan hampir setiap hari, selain mengurus kebun sayur.

...................

Di dalam hutan, tampak tiga pemuda yang ingin mendaki gunung tapi malah tersesat, entah apa penyebabnya. Padahal ketiganya sudah melakukan pendakian sesuai instruksi.

"Gimana kalo kita nggak bisa pulang lagi ke rumah?" Tanya salah satu dari pemuda tersebut yang bernama Aldi.

"Iya, mana gue belom kawin." Saut pemuda satunya lagi yang bernama Dion.

"Diem loe pada! Daripada kalian mengeluh terus mending kita berdoa, semoga ada orang sekitar sini yang bisa menolong kita." Ucap salah satu pemuda yang paling tampan, bernama Yoga.

Keduanya menjawab aamiin secara serentak dan kemudian menengadahkan tangannya sembari bibirnya berkomat kamit, entah doa apa yang keduanya panjatkan.

Yoga geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua temannya yang absurd.

"Gue mau bernazar" Ucap Yoga ketika kedua sahabatnya sudah berhenti berdoa.

"Kalo seandainya ada yang menolong kita keluar dari hutan ini dan dia adalah seorang ibu-ibu, maka gue akan jadikan dia ibu angkat, tapi seandainya yang menolong kita itu bapak-bapak, maka gue akan jadikan dia bapak angkat." Ucap Yoga dengan serius.

Belum selesai Yoga berbicara Aldi sudah menyela ucapannya.

"Kalo seandainya dia laki-laki atau perempuan yang belum menikah, gimana?" Tanya Aldi ingin tau.

"Eum. Kalo dia laki-laki, akan gue jadikan saudara angkat. Tapi kalo dia perempuan akan gue jadikan bini ha ha ha." jawab Yoga diakhiri dengan tertawa lebar dan menganggap ia hanya sedang bercanda.

Tapi tiba-tiba suara petir menggelegar, membuat ketiganya terkejut dan ketakutan.

"Loe sih ngomong sembarangan, ini hutan angker lho. Tidak boleh ngomong sembarangan disini!" Ucap Dion menyalahkan Yoga.

"Itu cuma kebetulan kali, percaya amat loe sama mitos." Balas Yoga tidak percaya.

Setelah itu ketiganya melanjutkan lagi perjalanannya, dan mencoba mencari arah sembari berusaha mengecek signal setiap saat, berharap menemukan jaringan.

Hari sudah mulai hampir gelap, tetapi ketiganya tak kunjung menemukan jalan pulang. Mereka merasa sudah putus asa, bahkan ada yang beranggapan bahwa sebenarnya mereka sudah mati seperti dalam film horor yang pernah ia tonton di bioskop kala itu.

"Loe jangan bikin gue takut dong! Mana ada kita udah mati? Kita masih hidup keles." Seru Aldi tidak terima dengan pendapat Dion.

Kemudian terdengar suara seperti sapu lidi yang diseret-seret, Ketiganya langsung merinding, apalagi hari sudah semakin gelap. Ada yang berpikir bahwa suara tersebut adalah rambut kuntilanak yang menjuntai ke tanah, seperti yang pernah di ceritakan orang-orang. Ada juga yang membayangkan jasad manusia yang sudah dibunuh kemudian mayatnya mau dikubur, Karna tidak kuat mengangkat sendiri jadinya diseret.

Segala pikiran buruk dan horor melintas bebas di pikiran ketiganya, hingga suara tersebut semakin terdengar mendekat dan ketiganya langsung berteriak ketakutan sembari berlarian untuk sembunyi dibalik pohon besar.

Di saat yang bersamaan, juga terdengar suara perempuan yang berteriak kaget.

Menyadari ada suara perempuan berteriak, ketiganya langsung mengintip.

"Hei, kalian siapa? Kenapa ada disini? Apa yang sedang kalian lakukan disini?" Teriak perempuan tersebut pada ketiga pemuda yang sedang bersembunyi dibalik pohon.

Mendengar suara pertanyaan dari seorang perempuan, Ketiganya langsung bernafas lega dan kemudian keluar dari persembunyiannya.

"Astaga mbak, bikin kaget kami saja." Ucap Aldi sembari mengusap pelan dadanya di bagian letak jantungnya.

"Iya mbak, Kita kira mbak nya kuntilanak atau penjahat." sambung Dion.

"Lagian loe perempuan, ngapain jam segini ada di hutan?" Tanya Yoga sinis.

"Dih orang nanya bukan di jawab malah balik nanya." Perempuan itu merasa kesal, kemudian berjalan lagi mengacuhkan ketiga pemuda tersebut.

Yoga menelisik wajah perempuan itu, samar-samar seperti pernah melihat perempuan tersebut. Tetapi karna hari sudah gelap, jadi wajah perempuan itu juga tidak terlihat jelas.

"Sepertinya ada sesuatu yang kita lupa?" Ucap Aldi dengan wajah bengong.

"Ituuu. Itu tadi kaaan?" Sambung Dion tampak sedikit lemot dalam berpikir dan berucap.

"Bego, itu tadi kan orang yang bisa kita tanyakan arah kemana kita bisa pulang." Ucap Yoga yang kemudian melangkah mengejar perempuan tadi.

"Mbak, mbak, tunggu mbak!" Teriak ketiganya sembari berlari mengejar perempuan itu.

Mendengar ketiga pemuda tadi berteriak ke arahnya, perempuan itu berhenti.

"Ada apa?" Tanya perempuan itu pada ketiga pemuda tersebut.

Dengan nafas ngos-ngosan ketiganya berjongkok didepan perempuan itu.

"Mbak tolongin kita mbak! kita tersesat. Dari tadi siang muter-muter nyari petunjuk jalan tidak ketemu." Ucap Aldi menjelaskan.

"Iya mbak tolongin kita mba! Kita tidak mau mati konyol disini." Sambung Dion.

"Berapapun yang loe minta bakal gue kasih, asal loe bisa bawa kita keluar dari hutan ini." Ucap Yoga merasa punya banyak duit.

Perempuan tersebut yang bernama Kiara merasa kesal dengan ucapan yoga yang menurutnya sangat sombong.

"Aku tidak tau daerah tempat tinggal kalian, tapi kalian bisa ikuti aku! Nanti kalian aku antarkan ke tempat pak RT, biar pak RT yang bantu kalian pulang." Ucap Kiara yang kemudian kembali melangkah melanjutkan perjalanannya untuk pulang.

Tidak biasanya Kiara pulang dari hutan sampai kemalaman seperti ini. Berhubung hari Ini sedikit kesulitan mencari kayu bakar dan tadi juga berangkat kesorean, akhirnya Kiara jadi telat pulang ke rumah.

Karna merasa bahagia dan bersyukur, Dion dan Aldi membantu Kiara membawa kayu bakar yang dibawa Kiara. Dengan senang hati, Kiara menyerahkan kayu bakar tersebut untuk dibawa Dion dan Aldi. Sedangkan yoga, ia tampak cuek tidak peduli sama sekali.

Bersambung..

Episodes
1 Kiara Yang Malang
2 Kiara dan 3 pemuda yang tersesat
3 Rio Berulah Lagi
4 Menikah sama Gue!
5 Mahar Satu Milyar
6 Kiara Di Usir Dari Rumah
7 Terpaksa Menjadi Pembantu
8 Kiara Bertemu Yoga
9 Andre Menemui Kiara
10 Cemburu
11 Kiara Bertemu Sherly
12 Bunga Mawar Putih Dari Siapa?
13 Liburan Ke Villa
14 Menginap Di Villa
15 Harus Tertunda Lagi
16 Kembali Ke Rumah Keluarga Pratama
17 Salah Paham
18 Mengajak Tinggal Di Apartemen
19 Mencoba Bertahan
20 Memulai Merintis Usaha
21 Merasa Di Permainkan
22 Meminta Penjelasan
23 Kejadian Di Kamar Kontrakan
24 Belum Siap Hubungannya Terbongkar
25 Dion Dan Aldi Menjenguk Kiara
26 Di Apartemen untuk sementara
27 Yoga Mengajak Diandra Menginap
28 Memberi Dimas Kesempatan
29 Di masjid Apa Di Gereja?
30 Mulai Bekerja Lagi
31 Agama Yoga Dan Keluarganya
32 Tidak Sengaja Bertemu Di Kafe
33 Andre Memergoki Kiara Dan Yoga Menginap Di Hotel
34 Status Hubungan Kiara Dan Yoga
35 Eyang sepuh
36 Merasa Tak Berarti Lagi
37 Kiara Hamil
38 Ternyata Hanya Salah Sangka
39 Kepergok Saat Mencium Kiara
40 Kamera CCTV
41 Bertemu Tania
42 Kiara, Tania Dan Sherly
43 Jam Tangan Pembawa Masalah
44 Pengakuan Yoga Kepada Keluarganya
45 Kehamilan Sherly
46 Sus Eni Kabur
47 Kedatangan Sherly Dan Keluarganya
48 Sambutan Untuk Menantu
49 Terjadi Sesuatu Pada Andre Dan Fitri
50 Meminta Restu Tante Mentari
51 Menikahlah Denganku, Fit!
52 Obrolan Mentari Dan Tania
53 Amanda Fitriana
54 Rumah Pak RT & Bu RT
55 Nasi Jagung
56 Kota Salatiga
57 Acara Syukuran Tujuh Bulanan
58 Bertemu Seseorang
59 Alan Teman Masa SMA
60 Mentari Bertemu Tania
61 Toko Perlengkapan Bayi
62 Hinaan Dari Tania Untuk Kiara
63 Kedatangan Fitri Di Rumah Kiara
64 Fakta Tentang Yoga Dan Kiara
65 TAMAT
Episodes

Updated 65 Episodes

1
Kiara Yang Malang
2
Kiara dan 3 pemuda yang tersesat
3
Rio Berulah Lagi
4
Menikah sama Gue!
5
Mahar Satu Milyar
6
Kiara Di Usir Dari Rumah
7
Terpaksa Menjadi Pembantu
8
Kiara Bertemu Yoga
9
Andre Menemui Kiara
10
Cemburu
11
Kiara Bertemu Sherly
12
Bunga Mawar Putih Dari Siapa?
13
Liburan Ke Villa
14
Menginap Di Villa
15
Harus Tertunda Lagi
16
Kembali Ke Rumah Keluarga Pratama
17
Salah Paham
18
Mengajak Tinggal Di Apartemen
19
Mencoba Bertahan
20
Memulai Merintis Usaha
21
Merasa Di Permainkan
22
Meminta Penjelasan
23
Kejadian Di Kamar Kontrakan
24
Belum Siap Hubungannya Terbongkar
25
Dion Dan Aldi Menjenguk Kiara
26
Di Apartemen untuk sementara
27
Yoga Mengajak Diandra Menginap
28
Memberi Dimas Kesempatan
29
Di masjid Apa Di Gereja?
30
Mulai Bekerja Lagi
31
Agama Yoga Dan Keluarganya
32
Tidak Sengaja Bertemu Di Kafe
33
Andre Memergoki Kiara Dan Yoga Menginap Di Hotel
34
Status Hubungan Kiara Dan Yoga
35
Eyang sepuh
36
Merasa Tak Berarti Lagi
37
Kiara Hamil
38
Ternyata Hanya Salah Sangka
39
Kepergok Saat Mencium Kiara
40
Kamera CCTV
41
Bertemu Tania
42
Kiara, Tania Dan Sherly
43
Jam Tangan Pembawa Masalah
44
Pengakuan Yoga Kepada Keluarganya
45
Kehamilan Sherly
46
Sus Eni Kabur
47
Kedatangan Sherly Dan Keluarganya
48
Sambutan Untuk Menantu
49
Terjadi Sesuatu Pada Andre Dan Fitri
50
Meminta Restu Tante Mentari
51
Menikahlah Denganku, Fit!
52
Obrolan Mentari Dan Tania
53
Amanda Fitriana
54
Rumah Pak RT & Bu RT
55
Nasi Jagung
56
Kota Salatiga
57
Acara Syukuran Tujuh Bulanan
58
Bertemu Seseorang
59
Alan Teman Masa SMA
60
Mentari Bertemu Tania
61
Toko Perlengkapan Bayi
62
Hinaan Dari Tania Untuk Kiara
63
Kedatangan Fitri Di Rumah Kiara
64
Fakta Tentang Yoga Dan Kiara
65
TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!