"Apa? Aku mendapat tambahan bonus 10 juta?" Ucap Rio pada seseorang yang sedang berkomunikasi dengan dirinya melalui sambungan seluler. Rio tampak melompat kegirangan setelah mengakhiri panggilan tersebut.
Kiara yang baru sampai rumah tidak sengaja mendengar obrolan Rio. Kiara yakin pasti Rio baru saja berbicara dengan orang yang sudah membelinya. Seketika rasa sesak dan marah menguasai dada Kiara.
"Mas Rio..." Teriak Kiara sembari membuka pintu dengan keras.
"Eh kamu. Sudah pulang rupanya? Gimana semalam? Enak nggak?" Ucap Rio tanpa merasa berdosa dan bersalah sedikitpun.
"Keterlaluan kamu mas, kamu jahat. Tega kamu mas. Apa salah aku sama kamu mas? Apa pun yang kamu mau, selalu aku lakukan. Tapi kenapa seperti ini balasan kamu mas?" Marah Kiara sembari menangis histeris dan memukuli punggung Rio dengan tangan mungilnya.
"Udah, nggak usah lebay! Gitu aja nangis.Tenang! Nanti aku belikan baju yang bagus buat kamu. Sepertinya orang yang sudah pakai kamu itu orang kaya. Aku saja semalam dikasih dua puluh juta, eh sekarang ditambah lagi sepuluh juta." Ucap Rio diakhiri dengan tertawa bahagia
Kiara mengabaikan ucapan kakak sepupunya, dan kemudian ia masuk ke dalam kamarnya. Kiara merasa percuma jika harus berdebat dengan orang nggak waras seperti Rio.
Di dalam kamar, Kiara menangis sembari memandangi foto kedua orang tuanya. Ia merasa hidupnya sudah tak berarti lagi. Tidak ada semangat dan tidak ada yang bisa dibanggakan lagi.
"Kiara, buka pintunya! keluar kamu!" Teriak budhe Kiara dari luar kamar sambil menggedor-gedor pintu kamar Kiara. Terpaksa Kiara membuka pintunya, sebab ia tidak mau menambah masalah lagi.
"Ya budhe ada apa?" ucap Kiara setelah membuka pintu kamarnya.
"Kamu ya, jam segini masih enak-enakan dikamar. Apa kamu nggak lihat rumah masih berantakan? Makan siang juga belum ada. Belum lagi kamu harus ke hutan buat cari kayu bakar. Sana buruan! Selesaikan pekerjaan kamu!" Marah budhe pada Kiara.
Kiara hanya mengangguk, kemudian mulai membersihkan rumah. Kiara tidak berani melawan budhenya. Ia juga tidak mau mengadu tentang kejadian semalam.
Sebab menurut Kiara percuma. Apapun yang dilakukannya akan selalu salah, dan pasti budhe nya juga akan lebih berpihak pada anak kandungnya, sekalipun anaknya itu bersalah.
Menjelang sore hari, Kiara pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Hal yang sudah biasa ia lakukan hampir setiap hari, selain mengurus kebun sayur.
...................
Di dalam hutan, tampak tiga pemuda yang ingin mendaki gunung tapi malah tersesat, entah apa penyebabnya. Padahal ketiganya sudah melakukan pendakian sesuai instruksi.
"Gimana kalo kita nggak bisa pulang lagi ke rumah?" Tanya salah satu dari pemuda tersebut yang bernama Aldi.
"Iya, mana gue belom kawin." Saut pemuda satunya lagi yang bernama Dion.
"Diem loe pada! Daripada kalian mengeluh terus mending kita berdoa, semoga ada orang sekitar sini yang bisa menolong kita." Ucap salah satu pemuda yang paling tampan, bernama Yoga.
Keduanya menjawab aamiin secara serentak dan kemudian menengadahkan tangannya sembari bibirnya berkomat kamit, entah doa apa yang keduanya panjatkan.
Yoga geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua temannya yang absurd.
"Gue mau bernazar" Ucap Yoga ketika kedua sahabatnya sudah berhenti berdoa.
"Kalo seandainya ada yang menolong kita keluar dari hutan ini dan dia adalah seorang ibu-ibu, maka gue akan jadikan dia ibu angkat, tapi seandainya yang menolong kita itu bapak-bapak, maka gue akan jadikan dia bapak angkat." Ucap Yoga dengan serius.
Belum selesai Yoga berbicara Aldi sudah menyela ucapannya.
"Kalo seandainya dia laki-laki atau perempuan yang belum menikah, gimana?" Tanya Aldi ingin tau.
"Eum. Kalo dia laki-laki, akan gue jadikan saudara angkat. Tapi kalo dia perempuan akan gue jadikan bini ha ha ha." jawab Yoga diakhiri dengan tertawa lebar dan menganggap ia hanya sedang bercanda.
Tapi tiba-tiba suara petir menggelegar, membuat ketiganya terkejut dan ketakutan.
"Loe sih ngomong sembarangan, ini hutan angker lho. Tidak boleh ngomong sembarangan disini!" Ucap Dion menyalahkan Yoga.
"Itu cuma kebetulan kali, percaya amat loe sama mitos." Balas Yoga tidak percaya.
Setelah itu ketiganya melanjutkan lagi perjalanannya, dan mencoba mencari arah sembari berusaha mengecek signal setiap saat, berharap menemukan jaringan.
Hari sudah mulai hampir gelap, tetapi ketiganya tak kunjung menemukan jalan pulang. Mereka merasa sudah putus asa, bahkan ada yang beranggapan bahwa sebenarnya mereka sudah mati seperti dalam film horor yang pernah ia tonton di bioskop kala itu.
"Loe jangan bikin gue takut dong! Mana ada kita udah mati? Kita masih hidup keles." Seru Aldi tidak terima dengan pendapat Dion.
Kemudian terdengar suara seperti sapu lidi yang diseret-seret, Ketiganya langsung merinding, apalagi hari sudah semakin gelap. Ada yang berpikir bahwa suara tersebut adalah rambut kuntilanak yang menjuntai ke tanah, seperti yang pernah di ceritakan orang-orang. Ada juga yang membayangkan jasad manusia yang sudah dibunuh kemudian mayatnya mau dikubur, Karna tidak kuat mengangkat sendiri jadinya diseret.
Segala pikiran buruk dan horor melintas bebas di pikiran ketiganya, hingga suara tersebut semakin terdengar mendekat dan ketiganya langsung berteriak ketakutan sembari berlarian untuk sembunyi dibalik pohon besar.
Di saat yang bersamaan, juga terdengar suara perempuan yang berteriak kaget.
Menyadari ada suara perempuan berteriak, ketiganya langsung mengintip.
"Hei, kalian siapa? Kenapa ada disini? Apa yang sedang kalian lakukan disini?" Teriak perempuan tersebut pada ketiga pemuda yang sedang bersembunyi dibalik pohon.
Mendengar suara pertanyaan dari seorang perempuan, Ketiganya langsung bernafas lega dan kemudian keluar dari persembunyiannya.
"Astaga mbak, bikin kaget kami saja." Ucap Aldi sembari mengusap pelan dadanya di bagian letak jantungnya.
"Iya mbak, Kita kira mbak nya kuntilanak atau penjahat." sambung Dion.
"Lagian loe perempuan, ngapain jam segini ada di hutan?" Tanya Yoga sinis.
"Dih orang nanya bukan di jawab malah balik nanya." Perempuan itu merasa kesal, kemudian berjalan lagi mengacuhkan ketiga pemuda tersebut.
Yoga menelisik wajah perempuan itu, samar-samar seperti pernah melihat perempuan tersebut. Tetapi karna hari sudah gelap, jadi wajah perempuan itu juga tidak terlihat jelas.
"Sepertinya ada sesuatu yang kita lupa?" Ucap Aldi dengan wajah bengong.
"Ituuu. Itu tadi kaaan?" Sambung Dion tampak sedikit lemot dalam berpikir dan berucap.
"Bego, itu tadi kan orang yang bisa kita tanyakan arah kemana kita bisa pulang." Ucap Yoga yang kemudian melangkah mengejar perempuan tadi.
"Mbak, mbak, tunggu mbak!" Teriak ketiganya sembari berlari mengejar perempuan itu.
Mendengar ketiga pemuda tadi berteriak ke arahnya, perempuan itu berhenti.
"Ada apa?" Tanya perempuan itu pada ketiga pemuda tersebut.
Dengan nafas ngos-ngosan ketiganya berjongkok didepan perempuan itu.
"Mbak tolongin kita mbak! kita tersesat. Dari tadi siang muter-muter nyari petunjuk jalan tidak ketemu." Ucap Aldi menjelaskan.
"Iya mbak tolongin kita mba! Kita tidak mau mati konyol disini." Sambung Dion.
"Berapapun yang loe minta bakal gue kasih, asal loe bisa bawa kita keluar dari hutan ini." Ucap Yoga merasa punya banyak duit.
Perempuan tersebut yang bernama Kiara merasa kesal dengan ucapan yoga yang menurutnya sangat sombong.
"Aku tidak tau daerah tempat tinggal kalian, tapi kalian bisa ikuti aku! Nanti kalian aku antarkan ke tempat pak RT, biar pak RT yang bantu kalian pulang." Ucap Kiara yang kemudian kembali melangkah melanjutkan perjalanannya untuk pulang.
Tidak biasanya Kiara pulang dari hutan sampai kemalaman seperti ini. Berhubung hari Ini sedikit kesulitan mencari kayu bakar dan tadi juga berangkat kesorean, akhirnya Kiara jadi telat pulang ke rumah.
Karna merasa bahagia dan bersyukur, Dion dan Aldi membantu Kiara membawa kayu bakar yang dibawa Kiara. Dengan senang hati, Kiara menyerahkan kayu bakar tersebut untuk dibawa Dion dan Aldi. Sedangkan yoga, ia tampak cuek tidak peduli sama sekali.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments