"Mas gerimis, ayok kita masuk!" Ucap kiara yang merasakan hujan mulai datang. kemudian reflek menarik tangan suaminya masuk ke dalam villa. Dion dan Aldi juga ikut berlarian masuk ke dalam villa.
"Kita langsung ke kamar ya ga, ra." Ucap Dion pada yoga dan Kiara dan kemudian menarik tangan Aldi untuk masuk ke dalam kamar.
"lho, nggak pada ngobrol dulu? Ini masih belum terlalu malam lho." Ucap Kiara yang merasa takut, jika suasana menjadi sepi.
"Nggak, kita udah ngantuk. Besok kita juga harus bangun pagi buat liat sunset." Aldi yang menjawab dan kemudian mengikuti Dion masuk ke dalam kamar.
Kini tinggal Kiara dan Yoga berdua di ruang tengah. Di luar, hujan terdengar semakin deras.
"Den yoga sama neng Kiara mau dibikinin minuman apa?" Ucap bibi tiba-tiba muncul dan menawarkan minuman.
"Nggak usah bik! Bibi sama paman istirahat saja! Nanti kalo saya butuh apa-apa, biar Kiara yang bikinkan." Ucap Yoga merasa kasihan sama bibi yang sudah tua.
"Oh yasudah kalo begitu den, bibi permisi istirahat dulu. Mari den Yoga, neng Kiara." Ucap bibi kepada Yoga dan Kiara.
Kemudian segera kembali ke kamarnya di bagian belakang. Kiara hanya tersenyum walaupun sebenarnya ia pengen ikut bibi, tapi ia merasa tidak enak, takut menganggu.
"Bisa bikinin aku kopi?" Ucap Yoga pada Kiara.
"Tapi aku takut ke belakang sendiri, temenin ya!" Pinta Kiara memohon.
Tanpa menjawab, Yoga langsung menarik tangan Kiara untuk ke belakang menuju dapur. Setelah Kiara selesai menyeduh secangkir kopi untuk suaminya, kemudian keduanya pergi menuju kamar disamping kamar yang ditempati Dion dan Aldi. Kiara meletakkan minuman kopi tersebut diatas meja khusus meletakkan makanan dan minuman di dalam kamar tersebut.
"Mas, Dion sama Aldi tahu nggak kalo kita satu kamar?" Tanya Kiara ingin tahu.
"Memangnya kenapa? Mereka itu orangnya nggak suka kepo kayak kamu." Ucap yoga duduk di kursi sembari memainkan layar ponselnya.
"Aku cuma nggak enak saja, kalo mereka tahu kita sekamar. Nanti mereka pikir aku perempuan apaan, mau-maunya tidur sama majikan." Ucap Kiara yang kemudian masuk ke kamar mandi untuk bersih-bersih.
Setelah Kiara selesai bersih-bersih, kini gantian yoga yang masuk ke dalam kamar mandi. Kiara merasa takut sendirian di dalam kamar, kemudian ia langsung naik ke atas ranjang tempat tidur dan menutup tubuhnya dengan selimut.
Tiba-tiba listrik padam, membuat Kiara ketakutan dan berteriak histeris. Yoga yang kebetulan sudah selesai dengan aktifitasnya, langsung mendekati Kiara. Beruntung saat dikamar mandi, ia juga membawa ponselnya. Hingga ia bisa dengan mudah menyalakan senter pada ponselnya.
"Aku takut mas, kenapa lampunya mati?" Ucap Kiara memeluk erat suaminya.
"Namanya juga hujan badai, sudah biasa kan seperti ini? Memangnya dikampung kamu tidak pernah seperti ini?" Ucap Yoga sedikit merasa kesal, sebab menurutnya Kiara terlalu lebay.
"Iya aku tahu, tapi masalahnya aku kepikiran sama cerita bibi tadi." Balas Kiara ikut kesal, kemudian membaringkan tubuhnya miring membelakangi suaminya.
Tak lama kemudian terdengar pintu diketuk berkali kali di iringi suara Dion dan Aldi yang berteriak memanggil yoga dan Kiara.
Kiara langsung buru-buru membuka pintu kamar yang sedang ditempatinya. Begitu pintu terbuka, Dion dan Aldi langsung berebut naik ke atas ranjang tempat tidur, membuat yoga merasa kesal.
"Hei, apa-apaan kalian ini? Ngapain kalian disini? Tempat tidur kalian kan disebelah?" Teriak Yoga pada Dion dan Aldi, sebab ia merasa terusik oleh kehadiran mereka.
"Kita tidur disini aja ya bro, di sebelah takut. Serem banget, ada suara-suara aneh dari kamar mandi." Ucap Dion yang kini sudah berbaring diatas ranjang bersama Dion.
"Betul bro, gila serem banget." Sambung Dion, yang kemudian menutup seluruh tubuhnya dengan selimut dan bantal.
"Iya nggak papa, kalian tidur disini saja! Biar ramai, jadi hantunya nggak akan berani ganggu." Ucap Kiara senang, sebab ia sendiri juga merasa takut, meskipun ada suaminya bersamanya.
Yoga merasa tidak terima, tetapi dia juga bingung harus bagaimana menjelaskan pada Dion dan Aldi. Akhirnya, ia hanya bisa mengalah dan memilih duduk bersandar pada sofa yang tersedia di dalam kamar tersebut. Kemudian menarik tangan Kiara untuk ikut duduk bersamanya.
"Kamu ngapain malah nyuruh mereka tidur disini? Terus kita bagaimana?" Ucap yoga dengan berbisik pada Kiara.
"Kita tidur disini nggak papa. Lagian aku juga nggak bisa tidur, kalo suasana gelap dan mencekam seperti ini." Ucap Kiara yang kini sudah dalam pelukan suaminya.
Kemudian Yoga menciumi daun telinga Kiara dan pipinya. "Mas jangan seperti ini! Nanti dilihat Dion sama Aldi!" Bisik Kiara sembari menyelimuti tubuh keduanya.
"Mereka sudah tidur, lagian dari sana nggak akan keliatan kita lagi ngapain." Bisik Yoga yang kemudian tangannya mulai nakal menggerayangi tubuh Kiara.
Kiara hanya bisa diam. Ingin komplain takut menimbulkan keributan dan malah mengganggu Dion dan Aldi yang sepertinya sudah terlelap dalam tidurnya.
Kiara tak kuasa menahan lenguhan ketika kedua tangan suaminya sudah bermain-main di kedua puncak dadanya. "Udah mas jangan dilanjut!" Ucap Kiara sembari menyingkirkan tangan suaminya dan menurunkan bra miliknya untuk menutup kembali dadanya.
"Kamu sangat enak Kiara, bikin aku ketagihan, ingin selalu mengulang malam pertama kita waktu itu." Bisik Yoga pada Kiara.
"Memang dasarnya kamu mesum, sama Sherly juga begitu kan?" Ucap Kiara yang kemudian memposisikan tidur miring mepet sandaran sofa dan segera memejamkan kedua matanya.
Yoga merasa kesal, lagi-lagi istrinya menuduhnya pernah berhubungan dengan wanita lain. Seandainya tidak ada Dion dan Aldi dikamar tersebut, pasti yoga sudah mengerjai Kiara habis-habisan.
Kini semuanya sudah tertidur. Tinggallah Yoga seorang diri, berdiri menatap ke arah luar jendela kamar. Hujan sudah mulai reda dan tak lama, listrik juga sudah menyala. Yoga teringat malam itu, malam dimana ia tidak sengaja melihat Sherly bergandengan tangan mesra dan masuk ke dalam hotel dengan seseorang yang sangat dikenalnya.
Dari awal sebenarnya Sherly sudah mengakui bahwa dirinya sudah tidak perawan lagi. Yoga pun menerimanya, karna menurutnya itu kesalahan masalalu disaat belum menjalin hubungan dengan dirinya. Yoga sudah memperingatkan Sherly untuk tidak mengulangi kesalahan itu kembali. Tapi ternyata diam-diam Sherly masih saja mengulangi kesalahan itu dibelakang yoga.
Dengan penuh rasa percaya diri, Yoga sudah meyakinkan Dion dan Aldi bahwa sekarang Sherly sudah berubah. Dan kini ia merasa malu karna ternyata merubah Sherly tidak semudah yang yoga bayangkan.
Hingga pada suatu malam, Yoga merasa frustasi. Di tengah keputusasaannya, Yoga tergoda untuk mencoba mencicipi gadis perawan yang kebetulan malam itu ada yang menawarkan Kiara pada dirinya, saat ia berlibur di daerah Jawa tengah tidak jauh dari kampung Kiara.
Yoga tidak menyangka, gadis perawan yang dibelinya saat itu yang Ia pikir waktu itu memang sengaja menjual dirinya karna membutuhkan uang, ternyata kakak sepupunya Kiara yang sudah menjual Kiara tanpa seizin Kiara. Hal itu membuat yoga merasa bersalah karna sudah menodai Kiara tanpa konfirmasi terlebih dahulu pada Kiara.
Kini Yoga sudah merasa kecanduan oleh tubuh Kiara, walaupun sudah berusaha keras untuk melupakan tapi tanpa ia duga takdir malah mempertemukan mereka kembali. Yoga yang tadinya berencana ingin menceraikan Kiara, Kini berubah pikiran. Menurutnya Kiara perempuan yang baik, perempuan yang malang yang butuh perlindungan. Walaupun Yoga tidak janji bisa selalu menjaga dan melindungi Kiara, tapi yoga akan berusaha untuk selalu berada di dekat kiara.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments