Setelah selesai menjalani rawat inap selama tiga hari, Kiara di ajak pulang ke rumah bu RT. Awalnya Kiara menolak, tetapi bu RT terus saj memaksanya. Bu RT sudah tahu kalo ternyata Kiara di usir dari rumah. Jadi ia merasa kasian sama Kiara dan berjanji, setelah Kiara sembuh total, bu RT akan mencarikan pekerjaan untuk Kiara.
Satu minggu telah berlalu. Keadaan kiara sudah sehat seperti sebelumnya. Rio Kakak sepupu Kiara juga sudah sehat seperti sedia kala. Kiara pernah tidak sengaja bertemu Rio di jalan. Ia mengancam akan menjual Kiara lagi, jika Kiara tidak mau memberi uang pada Rio setiap minggunya.
Kiara berpikir akan lebih baik jika ia pergi merantau saja, daripada di kampung akan terus di ganggu kakak sepupunya.
"Kamu yakin mau merantau ke kota?" Tanya bu RT pada Kiara yang sebelumnya sudah menceritakan keinginannya.
"Iya buk. Sekalian saya mau mencari suami saya. Takutnya dia ada musibah, makanya sudah sebulan lebih dia tidak pernah datang kesini lagi." Jawab Kiara dengan menjadikan suaminya sebagai alasan. Sebab Kiara tidak ingin bu RT tahu masalah yang sebenarnya.
"Oh ya sudah kalo begitu, benar juga kata kamu. Kamu harus mencari suami kamu! siapa tau dia lagi ada masalah." Bu RT tidak mencurigai Yoga, sebab menurutnya Yoga terlihat seperti anak yang baik saat menginap dirumahnya kala itu.
Sore harinya, pak RT dan bu RT mengantarkan Kiara ke terminal. Untuk sementara, Kiara akan bekerja menjadi asisten rumah tangga. Tapi itu hanya akan menjadi batu loncatan saja, sebab impian Kiara yang sebenarnya adalah mempunyai usaha sendiri.
"Kamu yang hati-hati ya Kiara! ini ada sedikit rezeki buat kamu, selama kamu belum gajian kamu bisa gunakan ini untuk keperluan kamu!" Ucap bu RT sembari menyerahkan beberapa lembar uang warna merah ke tangan Kiara.
"Nggak usah buk! Saya sudah banyak merepotkan Ibu" Ucap Kiara berusaha menolak uang pemberian Bu RT Karna merasa tidak enak.
"Sudah tidak apa-apa Kiara! Anggap saja ini balasan untuk orang tua kamu dulu, mereka dulu sangat baik sama kami." Ucap Bu RT memaksa Kiara menerima uang pemberiannya dan langsung ia masukan pada saku baju Kiara.
Kiara memeluk bu RT dengan tangis haru, ia mengucapkan banyak terimakasih dan kemudian pamit pada mereka, saat bus yang akan ditumpanginya sudah memberi aba-aba akan segera berangkat menuju kota Jakarta.
Setelah menempuh perjalanan selama semalam, akhirnya Kiara sampai juga di kota Jakarta. Kiara disambut pemandangan gedung-gedung menjulang tinggi menampilkan keindahan khas kota besar.
Bus berhenti di terminal daerah jakarta selatan. Kiara segera turun dan mencari orang dari yayasan yang akan menjemputnya.
"Mba Kiara ya?" Ucap perempuan berseragam yayasan yang sebelumnya sudah dikirimi foto Kiara dan Bus yang dinaiki Kiara oleh buk RT.
"Iya mbak" jawab Kiara dengan tersenyum ramah.
Kemudian pegawai yayasan tersebut mengajak Kiara untuk ke kantor yayasan dengan mengendarai motornya. Lokasinya tidak jauh dari Terminal.
Sesampainya di kantor yayasan, Kiara disambut baik oleh pemilik yayasan. Pemilik yayasan tersebut adalah sahabat baik Bu RT dimasa muda, tetapi sampai sekarang masih menjalin komunikasi dengan baik melalui sosial media. Pemilik yayasan tersebut juga sering meminta tolong pada bu RT untuk mencarikan orang-orang yang membutuhkan pekerjaan sebagai asisten rumah tangga/Baby Sister.
"Kamu sudah siap berangkat ke tempat kerja hari ini juga? Soalnya besok kamu sudah harus mulai bekerja. Atau mau menunggu lowongan yang lain saja? Biar kamu bisa istirahat lebih lama disini?" Ucap pemilik yayasan dengan ramah kepada Kiara.
"Sekarang saja buk! Saya sudah tidak sabar ingin tau rasanya bekerja di kota" Jawab Kiara dengan antusias dan tersenyum manis.
"Oh ya sudah, bagus kalo begitu. Tolong jangan kecewakan kami ya Kiara! Bekerja lah dengan baik disana! Bos kamu orang kaya raya, kamu bakalan sering dapet bonus seperti yang lainnya, kalo kamu rajin bekerja." Pesan pemilik yayasan kepada Kiara yang langsung di angguki Kiara dengan mantap.
Setelah beberapa menit dalam perjalanan, kini sampailah kiara di halaman rumah yang sangat besar nan megah.
Kepala asisten rumah tangga mengantar sang pemilik yayasan bersama dengan Kiara untuk menemui nyonya besar pemilik rumah tersebut megah tersebut.
"Kamu sudah menikah?" Tanya calon majikan Kiara ketika sudah bertatap muka dengannya.
"Sudah nyonya, tapi suami saya sudah meninggalkan saya tanpa kabar. Jadi insyaAllah tidak akan mengganggu pekerjaan saya." Jawab Kiara, khawatir jika sang calon majikan tidak menerima perempuan bersuami dengan alasan takut suaminya mengganggu pekerjaannya.
Wanita anggun calon majikan Kiara mengangguk, kemudian ia menyuruh kepala asisten rumah tangga untuk membawa Kiara ke kamar pembantu dan menunjukan pekerjaan kiara yang akan dikerjakan mulai besok pagi.
"kamar kamu ada di belakang, kita lewat samping saja ya!" Ucap kepala asisten rumah tangga saat sudah berada di depan rumah.
"Rumah ini besar sekali, pembantu disini ada berapa orang bik?" Tanya Kiara khawatir jika pembantunya hanya dia seorang.
"Ada banyak kok neng, lima belas termasuk neng Kiara. Yang sepuluh berangkat pagi pulang sore. kalo yang lima orang menginap disini. Itu belum termasuk satpam sama tukang kebunnya." Jawab bibi memberitahu.
Kiara bernafas lega mendengar jawaban kepala ART tersebut.
"Ini kamar kamu ya neng! nggak papa kan kamu tidurnya dibawah sendirian? Soalnya diatas sudah penuh, atau kamu mau tidur sekamar dengan bibi di atas?" Tawar kepala ART yang bernama bik Narti.
"Tidak apa-apa bik, disini saja biar nggak ribet naik turun." Balas Kiara yang menyadari tugasnya dominan berada di lantai satu.
"Ya sudah, bibi tinggal dulu ya? Nanti kalo ada perlu apa-apa, kamu panggil bibi di ruang pantry sana! Dari sini lurus saja masuk! kemudian belok kiri." Ucap bik Narti menjelaskan lokasi pantry sembari jarinya menuding ke arah dalam lorong disebelah kamar Kiara.
Setelah bik Narti pergi, Kiara mulai membersihkan kamar barunya dan menata baju serta barang keperluannya.
Di tempat baru ini Kiara berharap bisa merubah hidupnya jadi lebih baik dan jauh dari orang-orang yang selalu menindasnya.
Esok harinya, Kiara sudah mulai bekerja. Tugas pertama yang harus ia kerjakan adalah membantu bik Nana membuat sarapan.
Kiara membantu meracik sayur dengan telaten sambil bertanya-tanya tentang penghuni rumah besar tempat ia bekerja.
"Bik yang tinggal di sini ada siapa saja bik selain para pekerja?." Tanya Kiara pada bik Nana sembari mengelupas wortel.
"Di sini itu ada eyang ndoro putri, tapi sudah sangat sepuh. Jadi seringnya hanya di kamar ditemani sus Eni. Ada Tuan besar dan Nyonya besar, terus satu menantu laki-laki dan nyonya muda anak pertama di rumah ini. Ada juga tuan muda anak kedua dirumah ini. Dia masih lajang dan ada juga keponakannya nyonya besar, baru sekitar 2 tahun tinggal disini dan satu lagi cucu nya nyonya besar yang baru berusia sekitar dua tahun. Sudah cuma itu saja. Kamu jangan coba-coba untuk akrab sama tuan muda dan sepupunya! Nanti nyonya besar bisa marah." Jawab bik Nana panjang lebar tanpa mengalihkan pandangan matanya dari wajan penggorengan.
Kiara hanya manggut-manggut saja, lalu teringat pada Yoga yang sudah pernah memberinya mahar 1 milyar dihari pernikahannya. Apa rumah Yoga juga sama seperti ini?" Begitu pikir Kiara.
Setelah beberapa menit, akhirnya masakan sudah siap semua dan kini waktunya Kiara dan bik Nana mempersiapkan menu sarapan di meja makan.
Dengan posisi bik nana berada di depan, Kiara berjalan mengikuti bik Nana melangkah menuju ruang makan.
Di meja makan ternyata masih kosong belum ada satu pun penghuni rumah yang menduduki bangku meja makan tersebut. Lalu Kiara dan bik Nana mengambil lagi masakan yang belum tersaji di meja makan.
Saat sudah kembali lagi dengan membawa menu yang lain, ternyata di meja makan sudah duduk laki-laki muda yang terlihat rapi sedang menatap layar ponselnya.
Kiara merasa sangat terkejut, sebab laki-laki tersebut sangat tidak asing. Kiara sama sekali tidak menyangka akan bertemu laki-laki itu ditempat barunya.
Sebelum laki-laki itu menatap kearahnya, Kiara buru-buru meletakkan apa yang dibawanya. Kemudian ia langsung berbalik hendak berlari tetapi ragu, khawatir akan kena marah jika Ketahuan nyonya besarnya.
Baru melangkahkan kaki dalam beberapa langkah, laki-laki muda tersebut sudah memanggilnya.
"Mbak, tolong bikinkan saya kopi hitam ya!" Pinta laki-laki tersebut dengan melirik Kiara sebentar, lalu kembali menatap layar ponselnya tanpa mau tau siapa pembantu tersebut.
"Iya mas." Balas Kiara terbata dan kemudian langsung mempercepat langkahnya.
Sesampainya di dapur Kiara bernafas lega, Laki-laki muda tersebut tidak mengenalinya. Mungkin karna hanya melihat kiara dari belakang. Tapi Kemudian Kiara merasa bingung, bagaimana cara mengantar kopi pesanan tuan mudanya, tanpa ketahuan bahwa dirinya adalah Kiara.
Bersambung..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 65 Episodes
Comments