Bab 15 : Perang Yang Semakin Dekat

Reynal memeriksa statusnya di ponsel.

Nama : Reynal

Class : Demon king of death

Servant : Skull knight (Lord)

Status : Dungeon master

Title : Goblin's Lord, Org's Lord

Skill : Inventory, Speech, Magic Martial Art rank E, Godly Overlord Step rank E, Godly Overlord Spirits rank E, Godly Overlord Power rank E, Godly Overlord Stance rank E, Godly Overlord Punch rank E

Level :50

Atribut : Str :120 Int : 111

...Agl:115 Vit :115...

...Mp : 50 Qi : 50...

Free stats : 80

Mata Reynal membelalak saat melihat statusnya. "A-apaan ini?. Demon king?. Memangnya bisa ada dua demon king didunia ini?. Tunggu, itu tidak penting, sekarang. Aku harus menutupi kepalaku dengan sesuatu." pikirnya.

Reynal mencari sesuatu untuk menutupi kepalanya dikamar tempat Shiron dirawat. Dia menemukan sebuah kardus dipojokan dan dilubanginya lalu digunakannya untuk menutupi kepalanya.

Reynal berfikir untuk menyembunyikan identitasnya sebagai demon king dengan item yang pernah dia lihat di shop dungeon, tapi harganya sekitar 10.000 poin. Sekarang dia tidak memiliki sisa poin lagi.

Sebuah bayangan seseorang yang sedang mendekat muncul. Reynal semakin gugup melihat bayangan yang semakin mendekat.

Saat itu Elen menghubungi Reynal dengan telepati. "Hai tuan. Sekarang adalah hari gajian dari vassal. Setiap kelompok memberikan 5.000 poin dungeon. Dari keduanya jadi totalnya 10.000 poin dungeon. Sebenarnya mereka memberikan barang-barang yang gak jelas sih, jumlahnya juga sangat banyak. Karena tuan sudah memberikan izin untukku mengatur dungeon, jadi semuanya aku tukar jadi poin."

Reynal sangat senang mendengar itu. Ia langsung membeli Demon Ring Of Transformation. Reynal langsung mengubah wujudnya seperti semula dan menghilangkan tanduknya.

Saat itu bertepatan dengan dua orang perempuan masuk ke ruangannya.

Dua orang itu meneriaki Reynal yang kepalanya ditutupi kardus. "Woi, siapa kau. Beraninya kau menyusup kesini. Lina bersiaplah, kita harus melindungi paman Shiron."

Iris dan Lina bersiap-siap untuk menyerang Reynal.

Reynal kaget melihat mereka ingin menyerangnya. Reynal mengangkat tangannya "Tunggu, ini aku. Kenapa kalian ini menyerangku?."

"Lina, ikat dia dengan tali. Karena dia menyerah, akan lebih baik jika kita tidak membuat kerusuhan. Paman Shiron juga sedang istirahat, tidak baik mengganggunya." ucap Iris.

Tanpa banyak bicara, Lina langsung mengikat Reynal. Lina lalu melepas kardus yang dipakai di kepala Reynal. Mereka berdua lalu kaget, tidak menyangka ternyata itu Reynal.

"Reynal?. Ternyata kau. Dasar sialan, kenapa kau menutupi kepalamu segala. Membuat kami tegang saja." ucap Iris merasa lega.

"Iya, ini aku. Eh... apa yang mau kalian lakukan. Berhenti... agh..." ucap Reynal.

"Badum-badum."

Iris dan Lina memukuli Reynal dengan wajah kesal. Reynal memohon-mohon minta ampun.

"Kenapa kau tidak mengabari kami kalau paman terluka parah, hah?. Dasar kau bajingan. Kalau bukan karena gereja memberitahu kami, kami bahkan tidak akan tahu. Apa menurutmu tidak ada gunanya memberitahu kami, hah?." ucap Iris dengan nada kesal.

"Kau bajingan tidak bertanggung jawab. Kenapa kau tidak memberitahuku kami. Apa kamu ini beban bagimu?." ucap Lina dengan ekspresi sedih.

Wajah Reynal bonyok dipukuli mereka berdua. Dengan kesulitan, Reynal berbicara.

"Ampuni aku... aku tidak bermaksud begitu. Aku berniat memberitahu kalian, tapi aku juga terluka." meskipun itu hanya kebohongan, tapi Reynal mengatakannya dengan wajah serius.

Dengan wajah tulus, Reynal mengatakan "Aku benar-benar minta maaf."

Saat itu Iris dan Lina mulai mengeluarkan air mata.

"Terimakasih, setidaknya kalian masih hidup. Aku benar-benar sangat takut saat mendengar kabar Izanagi menyerang kalian." ucap Iris dengan mengusap air matanya.

"Hiks hiks. Kupikir kau sudah mati. Bahkan Shiron yang kuat terluka parah, jadi kupikir kamu sudah mati." ucap Lina sambil mengusap air matanya.

Mereka berdua lalu memeluk Reynal dengan erat sambil menangis.

Reynal bingung dengan mereka berdua. Sebelumnya mereka memukulinya dan sekarang malah menangis. Yang dipukuli Reynal tapi yang nangis malah yang memukuli. Pikirnya Reynal.

"Te-terimakasih sudah perduli padaku. Su-sudah cukup ya nangisnya. Lihat, aku masih sehat dan Shiron juga bangun itu gara-gara kita berisik." ucap Reynal dengan gugup.

Shiron berpura-pura tidur dan berkata. "Jangan hiraukan aku, aku masih tidur."

Reynal kesal melihat sikap Shiron. "Hei, bajingan tua. Apa-apaan maksudmu itu. Bantu aku, setidaknya bantu aku dengan mereka berdua."

Shiron tidak memperdulikan ucapan Reynal dan kembali pura-pura tidur.

"Oh, aku ingat. Kita diundang ke gereja. Iris, Lina, apa kalian mau ikut?." ucap Reynal.

Iris dan Lina mengangguk serentak.

"Kalau begitu, bisakah kalian membukakan ikatanku dulu. Kita bisa langsung berangkat. Aku juga mau menyeret pak tua yang brengsek ini." ucap Reynal.

Shiron merasa merinding mendengarnya.

Iris dan Lina melepaskan tali yang mengikat Reynal dengan senang.

"Terimakasih, ini sangat nyaman. Ayo kita berangkat. Hei pak tua, apa kau mau jalan sendiri atau ingin diseret?." ucap Reynal dengan kesal.

"Paman, bukannya kamu bilang sebelumnya kalau akan kembali dengan selamat. Lalu bagaimana dengan sekarang, apa kamu mau dipukuli?." ucap Lina dengan kesal.

Shiron menjadi semakin berkeringat.

Lina ingin memukuli Shiron tapi Iris menghentikannya.

"Sudah-sudah. Setidaknya mereka masih selamat bukan. Sebaiknya kita segera ke gereja. Valkyrie pasti sudah menunggu mereka berdua." ucap Iris menenangkan.

Shiron yang lemas karena kelaparan memberanikan diri berbicara.

"A apa kita bisa makan dulu?." ucap Shiron.

"Tidak, Valkyrie-sama pasti sudah menunggu kalian. Kita harus langsung berangkat. Disana juga pasti ada banyak makanan." ucap Lina antusias.

Shiron mengeluh dan bergumam pelan "Apanya, kau pasti cuma mau cepat-cepat melihat idolamu itu."

Lina mendengar gumaman Shiron "Apa maksudmu. Pokoknya kita harus langsung berangkat, ayo."

Lina menarik tangan Shiron dan mengajak mereka untuk langsung ke gereja.

Reynal masih sedikit berfikir "Kenapa aku merasa seperti ada yang ku lupakan?."

Sesampainya di pusat gereja, banyak sekali orang yang datang. Semua memberikan jalan untuk mereka berempat. Saat memasuki pintu gereja, hanya ada beberapa orang didalam.

Di tempat lain, kesadaran alam iblis. Sebuah kekuatan dari raja iblis untuk menarik jiwa bawahannya untuk berkomunikasi.

Ketiga greater demon dikumpulkan oleh raja iblis. Raja iblis mendiskusikan tentang perang yang sebentar lagi akan ia mulai.

"Kalian bertiga, luncurkan serangan kepada manusia secara bersamaan. Karena jarakku cukup jauh, aku akan datang sedikit terlambat, sekitar sebulan atau kurang. Aku akan senang jika kalian bisa menyelesaikannya sebelum aku datang. Jangan lengah lagi seperti perang yang sebelumnya." ucap raja iblis.

semuanya menyetujuinya kecuali Ifrit.

"Yang mulia, aku punya sedikit masalah. Sepertinya ada sesuatu yang menggangu di daerahku. beberapa monster yang di bawahku tiba-tiba mati. Apakah kamu boleh menyerang saat aku selesai mengurus masalah di daerahku?." ucap Ifrit dengan cemas.

Raja iblis mengerutkan keningnya "Kalau begitu selesaikan secepatnya. Kita akhiri pertemuan ini, kalian serang bersamaan. Tunggu Ifrit menyelesaikan masalah didaerahnya." ucap raja iblis.

Episodes
Episodes

Updated 42 Episodes

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!