Shiron muncul di guild saat guild belum lama dibuka. Dia sedikit buru-buru tidak seperti biasanya.a
"Hey Sarah, apa Reynal sudah kemari?." tanya Shiron.
"Reynal?. Dia masih belum datang. Tunggu saja disini, mungkin tidak lama lagi dia akan datang. Oh iya, kenapa anda tidak datang dengan Iris dan Lina?." jawab Sarah.
"Aku menyuruh mereka untuk libur hari ini. Ada situasi yang mendesak yang harus diselesaikan. Sang Valkyrie memperkirakan bahwa raja iblis sudah pulih, akan sangat berat perang kali ini karena tidak ada sang pahlawan." ucap Shiron.
"Hmm... jadi begitu." ucap Sarah.
Merasa ada sesuatu yang aneh Shiron bergegas menyingkir sambil membawa Sarah.
"Bruak!."
Seseorang jatuh dari atap guild.
Reynal muncul dari robohan atap dan membersihkan bajunya.
"Aduh... sial, tiba-tiba saja atapnya roboh." ucap Reynal.
Semua orang melihat Reynal dengan tatapan bingung.
"Huh... Reynal?. Apa yang kau lakukan di atap guild?." tanya Sarah.
Reynal merasa malu-malu dan menjawabnya
"Ahahaha... aku sedang menikmati pemandangan di atap. Tapi aku tiba-tiba kehilangan pijaka dan terjatuh."
Aku yang baru saja mendapatkan uang, seperti sudah harus mengganti rugi kerusakan guild.
Reyna gelisah jadi sorotan dan dengan spontan mengucapkan"Sarah, apa ada misi dengan hadiah yang banyak?. Sepertinya aku harus mengganti rugi kerusakan atap."
Shiron berjalan mendekati Reynal dan menawarkan "Kau tidak perlu mengganti rugi, aku bahkan akan memberimu upah. Tapi kau akan ikut denganku untuk menyelesaikan misi dari Valkyrie."
Sarah mengambil sesuatu di laci meja dan berjalan kearah Reynal dan memberikan itu padanya. "Reynal, ini adalah kartu identitas barumu. Guild memutuskan untuk memberimu rank A karena kemampuanmu. Terimakasih atas kerja kerasnya."
Reynal menerimanya dengan senang hati.
"Terimakasih, terimakasih banyak. Dengan ini aku bisa mengambil misi dengan rank tinggi. Aku juga bisa menjadi kaya dengan lebih cepat." ucapku terharu.
"Bamm."
Shiron memukul kepala Reynal dan menegaskan. "Hey bocah, sudah kubilang kau ikut aku untuk misi Valkyrie. Jangan coba-coba cari misi lain dulu."
Reynal memegangi kepalanya.
"Augh... baiklah-baiklah aku mengerti."
"Kalau begitu ayo berangkat. Yang lainnya sudah menunggu." ucap Shiron.
Shiron dan Reynal pergi ke arah barat ke perbatasan barat kota. Disana desa yang cukup miskin.
Tidak seperti yang lainnya, tanah disini gersang dan tidak cocok untuk bercocok tanam.
"Apa yang mau kita lakukan di desa ini?." tanyaku sambil memandangi sekitar.
Shiron memperlihatkan wajah serius. Lalu ia menggumamkan "Kenapa desa ini terlihat lebih gersang dari biasanya, sepertinya ada yang aneh."
Seorang pak tua berjalan melewati mereka berdua.
Shiron bergegas menghentikan langkah pak tua itu. Lalu ia bertanya.
"Pak tua, apa yang terjadi di desa ini?. Kenapa semua orang terlihat murung?."
Pak tua yang sebelumnya terlihat murung itu langsung merubah ekspresinya dan tersenyum. Ia menjawab dengan antusias.
"Apa kalian bukan penduduk desa ini?. Kalian pasti petualang, tolong selamatkan kami dari para monster itu. Aku mohon, tolong selamatkan kami dari mereka, mereka terus-menerus menyerang desa dan membunuh para petualang asli."
Reynal mencoba memisahkan pak tua itu dari Shiron sambil mengucapkan.
"Tenanglah dulu pak. Tolong tenang dulu dan jelaskan situasinya secara perlahan."
Pak tua itu sedikit tenang. Ia menjelaskan situasinya kepada mereka berdua.
Rombongan monster undead muncul dalam jumlah sekitarnya ratusan menyerang desa secara berskala.
Petualang asli desa ini berusaha menghentikan mereka tapi banyak dari mereka yang dikorbankan dalam hal itu.
Semakin lama semakin banyak yang gugur dalam melawan para monster itu, dan sekarang para petualang asli desa yang masih tersisa memutuskan untuk pindah.
Sekarang hanya tersisa orang-orang biasa yang ada di desa.
Shiron memegangi janggutnya sambil berfikir. Ia mengatakan "Jadi begitu. Lalu kenapa kalian tidak ikut pindah?. Kalau situasinya seperti itu, bukankah lebih baik kalian pindah juga.?"
Pak tua itu memalingkan wajahnya ke tanah dan menunjukkan ekspresi sedih. Ia menjawab "Terlalu banyak kenangan didesa ini. Para penduduk memutuskan tetap tinggal bahkan jika mereka mati dan itu termasuk aku juga."
Shiron sedikit menyesal dengan perkataannya. Ia menenangkan pak tua itu.
"Kami akan melindungi desa kalian pak, tidak perlu khawatir lagi. Valkyrie-sama yang menyuruh kami menginspeksi daerah ini."
Shiron dan Reynal pergi ke luar desa. Tiga orang berdiri di depan gerbang luar desa, terlihat sedang menunggu mereka.
Seorang sniper laki-laki dengan rambut hijau, seorang pendekar pedang yang membawa perisai besar, dan juga yang terakhir seorang penyihir yang membawa tongkat.
"Hei, Shiron. Kau lama sekali." ucap sniper itu.
Shiron terus berjalan dan mengabaikannya.
Sniper itu sedikit marah dengan kelakuan Shiron. "Hei, Shiron. Sialan kau, jangan mengabaikanku begitu."
Shiron menghentikan langkahnya dan menoleh ke sniper itu. "Kalian tiga kodok rambut hijau jangan terlalu banyak bicara. Apa kalian tidak lihat aku mencari satu anggota lagi untuk memenuhi tim."
Shiron kembali berjalan. Mereka dengan patuh mengikuti langkah Shiron.
pendekar pedang yang membawa perisai besar melihat Reynal dengan sedikit khawatir. "Hei, bocah. Jika kau tidak yakin bisa melawan para monster, lebih baik kau kembali sekarang sebelum terlambat."
Reynal tersenyum dan berkata "Tidak usah perdulikan aku, aku cukup kuat untuk melindungi diriku sendiri."
Pendekar pedang itu tersenyum. "Baiklah jika itu maumu."
Shiron menghentikan langkahnya dan memberikan aba-aba untuk berhenti. "Disini adalah teritori salah satu dari greater demon. sang greater demon of death, Izanagi."
Shiron berfikir "Eh... Bukankah ini tempat yang ku lewati untuk menuju ke kota. Jadi sepertinya ini adalah tempat seorang greater demon."
"Ayo, ikuti aku pelan-pelan." ucap Shiron.
Tak lama kemudian sang greater demon Izanagi muncul dari atas dengan membawa death scythe.
"Salam para manusia brengsek. Beraninya kalian menghancurkan prajurit-prajuritku saat aku sedang tidur. Meskipun mereka makhluk rendahan, tapi mereka masihlah prajuritku. Sekarang terimalah pembalasanku." ucapnya.
"Shiron berfikir keras "Sial, bagaimana dia bisa ada disini."
Reynal dengan keringat dingin membasahi tubuhnya berfikir "Eh... Mungkinkah ini semua karena kesalahanku?."
Shiron memerintahkan semuanya untuk bersiap. "Berhati-hatilah, dia adalah salah satu dari greater demon. Salah langkah sedikit kalian akan langsung mati."
Izanagi mengayunkan death scythe miliknya dan mengeluarkan gelombang hitam berbentuk tebasan kearah mereka berlima.
Pendekar pedang yang membawa perisai besar dengan sangat yakin maju kedepan dan berusaha menahan serangan itu. "Serahkan itu padaku."
Shiron langsung kaget dan berteriak "Menghindar!, jangan menahannya!."
Yang lainnya menghindar dan hanya pendekar pedang itu yang menahannya. Pendekar pedang itu terbelah termasuk perisainya, itu bagaikan membelah kertas.
Semua tim langsung ketakutan dan berlari kecuali Reynal dan Shiron.
Reynal yang gugup berteriak lagi "Jangan lari!."
Tidak ada yang mendengarkannya. Yang lain tetap berlari menjauh.
Izanagi tersenyum lebar. "Jangan harap bisa lari dariku. Death scythe, death slice."
Dua orang yang lari itu tidak sempat menghindar dan langsung terpotong dua.
"Hahaha... Rasakan lah pembalasan dariku, manusia. Sekarang giliran kalian berdua." ucap Izanagi dengan sangat senang.
Mereka berdua mulai ketakutan dengan kekuatan Izanagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments