"Eva...."
"Eva.."
Suara itu terus bergema di telingaku. aku merasa risih. "Sepuluh menit lagi bu!" kataku sambil memperkuat cengkramanku pada guling di sampingku.
"Eva bangun!" suara itu semakin keras.
"Ahhh! kubilang nanti dulu kan, aku masih mau tidur..." jawabku sambil berusaha memperdalam alam mimpiku.
eh? tunggu. aku sekarang tidak sedang di rumah bukan? aku langsung membuka mataku.
aku melihat Denis yang ada disampingku. wajahnya benar-benar merah padam.
"sudah cukup kau memegang?" kata Denis dingin.
"Uwahh..." aku cepat-cepat melepas cengkramanku pada tubuh Denis. aku benar-benar mengira tubuhnya adalah sebuah guling. "maafkan aku yang mulia. aku benar-benar tidak sadar" kataku cengengesan.
Denis bangkit berdiri dan memakai jubahnya. "ayo kembali ke perkemahan" katanya.
"Bukannya bandit-bandit itu masih mencari kita?" kataku sambil mengucek mataku yang sepat.
aku masih mengantuk, hah~
"Jendral Lin sudah memberi tanda. semuanya sudah dibereskan. ayo kembali"
"Hmm" aku menggunakan sihir angin untuk siap-siap berlari, tapi tiba-tiba Denis meraihku dan membawaku dalam pelukannya.
"Kau seperti siput. Tidak akan sampai kalau kau berlari sendiri" kata Denis sambil mengaktifkan sihirnya.
"cih!"
Kami melintasi hutan belantara itu selama beberapa saat. Jujur saja, berlari melalui jalur darat lebih aman dari jalur udara. karena itulah kami tidak memilih sihir terbang. Kalau kami terbang, posisi kami benar-benar akan terbuka. Tapi, kalau kami berlari melintasi hutan. posisi kami bisa tertutup oleh pepohonan.
KRUYUK! Diluar keinginanku perutku berbunyi kelaparan.
Aku ingat ruang dimensi yang kubawa, disitu ada banyak makanan.
Denis menatapku "kau lapar?"
"ya' jawabku. "di ruang dimensiku ada banyak makanan. Bisakah kita singgah sebentar? aku ingin sarapan~"
Denis menghentikan langkahnya dan menurunkan Eva dari pelukannya.
"Denis, kau membawa ruang dimensi ?" tanyaku.
Denis menggeleng.
kali ini aku memutuskan untuk memanggil Denis dengan namanya apabila kita hanya berdua. Kalau bersama orang lain baru kutambahkan embel-embel yang mulia. dan tampaknya Denis susah terbiasa dan tidak keberatan.
"oke, kalau gitu aku akan mengambilkan untukmu juga"
Eva membuka ruang dimensi. dan mengambil beberapa makanan. Ruang dimensi ini benar-benar berguna. Ruangan di dalam ruang dimensi memiliki waktu yang terhenti. Sehingga saat kita menyimpan makanan di dalam, itu tidak akan basi. Jayalah sihir hehehe. fungsinya mirip kulkas di bumi, hanya saja ini lebih sempurna.
Aku menutup ruang dimensi setelah membawa beberapa makanan.
"Makanan apa ini? Apakah ini makanan dari rumah duke?" kata Denis sambil melihat sate cumi bakar.
Aku mengernyitkan kening "Kau tidak tahu? Ini dari ibukota tau. aku membelinya beberapa hari yang lalu" kataku sambil mengambilnya dan memakannya.
"Kami tidak memiliki makanan seperti ini di istana" jawab Denis sambil menatap ragu makanan itu, kemudian mengigit kecil satenya. "hm, rasanya tidak buruk"
"Apanya yang tidak buruk. ini enak tahu. jajanan pinggir jalan selalu enak. aku suka ini sejak dulu. sayangnya disini tidak ada junk food~" kataku. "Haah aku rindu KFC, MCD~'
"Perkataanmu sangat aneh" kata Denis tidak mempedulikan kosa kata aneh yang keluar dari mulut Eva. "Jajanan pinggir jalan? Kau membeli ini dimana?'
"Kau benar-benar tidak tahu?" kataku bingung. "hei, kau tinggal di ibukota bukan. Cumi bakar banyak dijual di dekat pasar" kataku sambil mengernyitkan kening.
"Entahllah, aku tidak tahu. aku jarang keluar istana. tidak, lebih tepatnya aku tidak pernah berkeliling ke ibu kota" jawab Denis lirih.
"Kenapa? Ibu kota itu besar lho. bagaimana kau bisa menjadi seorang raja, bahkan kondisi tempat tinggalmu saja kau tidak tau? bagaimana kau bisa mengontrol seluruh negara?" kataku dengan nada mengejek.
Denis menyipitkan matanya "kau meremehkanku?"
"aku tidak meremehkanmu. aku hanya menasehatimu" kataku sambil terus menikmati makananku.
Denis menatapku lekat-lekat.
"kenapa? kau mau memarahiku?" kataku dengan nada menantang.
Denis mendekatkan wajahnya ke wajahku. Jarinya langsung menyentuh dan mengelap bibirku.
"Bisakah kau makan dengan rapi? segala hal tentangmu benar-benar berantakan" katanya.
BLUSH! pipiku langsung memerah,
dan jantungku berdetak.
jantung oh jantung, tolong tenang oke?
tubuh Eva tolong tenang oke? kau terlalu menggebu-gebu.
"Menasehatiku adalah tugasmu di masa depan" lanjut Denis lirih.
BAM! jantungku berdegup lagi.
aku cepat-cepat menyembunyikan wajahku yang sudah memerah.
oh tenanglah, oh tenanglah, oh tenanglah. aku mengulangi kalimat ini berkali-kali dalam hati sambil makan. sampai akhirnya beberapa menit kemudian degupan jantungku sudah mulai mereda.
"Ayo kita lanjutkan perjalanan" Denis mengambilku dan membawaku dalam pelukannya lagi.
Setelah beberapa jam kami sampai di perkemahan.
Denis menurunkanku. saat kami berdua langsung masuk ke dalam tenda Jendral Li.
"Selamat datang yang mulia!" sambut jendral Li. "Masalahnya sudah dibereskan. Kami sudah menemukan dalang dibaliknya. itu bukan bangsawan dari negara ini, tapi pedagang petualang dari negara lain. jadi kami susah untuk melacaknya. pedangang ini berkeliling dunia untuk menjual budak" jelas jendral Li.
Jendral Li kemudian melihat Eva "Selamat datang nona muda" katanya.
eh? aku agak kaget. aku tidak memberitahunya identitasku kan?
melihat wajah Eva yang kebingungan, Jendral Li melanjutkan "Duke Court mencarimu diseluruh ibukota. berkat yang mulia kami sudah mengirimkan pesan padanya. dia akan segera tiba kesini"
DUARR! Aku merasa seperti petir menyambar kepalaku.
bukankah ini kematian lainnya?
oh tuhan, tolong aku. aku masih sayang hidupku.
kalau ayah bodoh itu benar-benar kesini, tanpa perlindungan ibu, aku benar-benar mayat kering. aku benar-benar menangis meratap di dalam hati...
"Kalau begitu kami permisi dulu jendral Li" kata Denis sambil memberi hormat.
Aku juga menyusul untuk memberi hormat "terima kasih Jendral Li"
Saat kami berdua melangkah keluar tenda jendral. aku melihat Reina sedang menunggu kami di depan.
seperti biasa. dia memasang wajah lugu dengan mata berkaca-kaca.
"Syukurlah...kalian selamat..." katanya. Tapi arah matanya mengarah ke Denis.
"Yang mulia...kau tidak terluka bukan?" tanyanya penuh perhatian.
"tidak" jawab Denis.
Lalu Reina mengarahkan tatapannya ke Eva. "Maafkan aku kak Ev. aku tidak akan berkata seperti itu lagi" katanya dengan takut-takut.
"HMPH!" aku hanya menjawabnya dengan dengusan.
"Untuk panti asuhanmu, aku akan membantumu" kata Debis tiba-tiba. Seperti pahlawan yang mnyelamatkan gadis cantik.
Hooo, jadi dia meminta bantuan Denis untuk menjadi donatur.
padahal aku sudah menawarkan diri lho, dia tidak percaya ya kalau aku benar-benar mampu menolongnya.
dia meremehkanku karena aku memakai pakaian pelayan
"Terima kasih yang mulia..." kata Reina dengan wajah berseri seri senang. "Aku tidak akan melupakan kebaikan yang mulia" Reina memberi hormat dengan wajah malu-malu.
Denis tersenyum ramah dan mengelus kepalanya. "tidak apa-apa gadis kecil. aku tau kau sedang kesusahan. kau gadis kecil yang baik dan lugu" kata Denis
HOEKK!! aku benar-benar akan muntah dengan lovey doveey kedua pasangan ini.
Haruskah mereka menujukkan kalau mereka saling sayang di depanku?
lihat, gara-gara kalian tubuh Eva ini bereaksi tahu
bereaksi menebarkan aura iri ckck
"Cih!" aku hanya mendengus jijik. dan meninggalkan mereka berdua.
Denis melihat Eva langsung berbalik arah dan memanggilnya "Eva kau kemana? Ayahmu sebentar lagi datang, jangan membuat masalah"
aku tidak mempedulikannya dan terus berjalan maju.
untunglah aku benar-benar tidak membuka hatiku
untunglah aku menganggap perkataan Denis itu hanyalah gombalan bocah!
kalau aku benar-benar menganggap itu serius, aku pasti sudah sakit hati sekarang!
untuk sekarang, aku masih bisa menyelamatkan hati dan pikiranku.
aku berdoa dalam hati.
semoga aku bisa tahan semua rayuannya. semoga aku bisa tahan semua kebaikannya. semoga aku tidak jatuh cinta padanya!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 427 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
ruang dimensi tuk makanan ya orang enggak bisa masuk....hissss...muak juga liat sikap denis...cih..
2024-06-06
0
Iyet Rohayati
pengen ruang dimensi
2024-04-16
0
Rieny Sartika
jgn fokus 1 org harus liat yg lain jd gk akan bucin ma cinta semangat eva kamu bs netral ma rasa yg ada....
2022-12-31
0