Eva kecil dan Denis kecil duduk saling berhadapan. meja kecil berisi banyak sekali cemilan dan minuman ada di antara mereka. Eva kecil saat ini sedang menatap penasaran Denis kecil.
"kenapa kau menatapku?" tanya Denis dingin.
UHUK!
aku keselek karena kaget.
orang itu memanggilku. sejauh yang kutahu, dia tidak pernah berbicara padaku. umm...pada Eva maksudnya.
walaupun Eva kecil mengejar ngejar dan selalu menempel padanya, dia tidak pernah berbicara padanya, kecuali dalam situasi 'pangeran menyelamatkan putri' (saat Denis menyelamatkan Reina).
tapi kali ini orang dingin itu menatapnya dan berbicara padanya.
walaupun nadanya tidak ramah, tapi tidak seburuk itu.
"emm..kau tidak mau makan ini. ini sangat enak loh..." aku bergumam sambil menunjuk kue cifon manis. aku mengambil kue cifon itu dan memakannya perlahan.
"aku tidak punya waktu untuk itu" jawab Denis dingin.
HUK! UHUKK!!
aku keselek lagi.
dia menjawab pertanyaanku. ada apa dengannya? mungkinkah dia sedang sakit?
saat Eva kecil terus menanyainya dengan antusias di masa lalu, dia tidak pernah menggubrisnya. tapi kenapa dia menjawab pertanyaanku?
tapi dalam sedetik, suasana kembali menjadi hening lagi.
Ayah bodoh itu pergi bersama raja untuk bermain. Ibu juga bergosip dengan para Ratu dan selir. Sementara aku ditelantarkan dalam suasana yang suram ini. benar-benar menyedihkan.
sangat suram. benar benar suram.
aku tidak suka situasi suram ini, walaupun aku banyak mengunyah makanan enak.
hmm...kue coklat ini enak, tidak terlalu manis...
aku menatap Denis sekali lagi, dan dengan ragu-ragu memberanikan diri untuk memulai percekapan.
"yang mulia...bosan?"
"ya" jawab Denis singkat.
aku terbelalak kaget. pupil mataku membesar dan secara tidak sadar mulutku menganga.
Denis memperhatikan itu dan raut wajahnya tampak kesal.
"kenapa kau begitu kaget?" katanya dingin.
"kau berbicara..." kataku terbengong bengong
"tentu saja aku bisa bicara. kau mengharapkan aku bisu hah?!"
bukan, bukan, maksudku kau tidak akan pernah menjawabku. tapi dari tadi dia merespon perkataanku. yah, walaupun responnya tidak menyenangkan, tapi dia merespon. ada apa dengannya??
"kukira kau lebih dari bisu" kataku tanpa sadar dan masih terbengong bengong.
Denis sangat marah. "kau sama saja seperti ayahmu. sama-sama kasar dan tidak tahu malu. julukan kejam dan ganas juga cocok untuknya"
"kau!" aku agak marah. "ayahku memang bodoh. tapi dia tidak kejam. dia juga tidak pernah kasar pada kami. jangan asal memfitnah!!" kali ini aku cukup kecewa dengan Denis kecil ini. masih kecil tapi suka sekali menjelek jelekan orang. dan kali ini aku akan membela ayah bodoh itu.
"lihatlah perkataanmu. kau tidak memanggilku dengan hormat, huh. dan siapa juga yg tidak tahu di negara ini kalau Duke Court itu ganas dan kejam, makanya dia dijuluki deewa perang!!"
"benar sekali perkataan ayahku, kau hanya bocah banci pengecut. berani beraninya menjelekkan ayahku dibelakangnya, bahkan raja negeri ini tidak berani untuk mengejek ayahku sendiri. sombong sekali kau, padahal belum menjadi raja!" balasku kesal
Denis murka. wajahnya merah padam. dia memukul meja dan bangkit berdiri.
"mau kemana banci?! apakah kau takut menghadapi putri ini?!" aku juga bangkit berdiri dan mencoba bergaya imut untuk mengolok olok. aku tidak tahu apa yang merasukiku, sehingga aku berani memprovokasi pembunuhku sendiri. bukankah nanti even kematianku akan lebih cepat karena aku lebih dulu memprovokasinya?
"kenapa aku harus bertemu gadis kasar sepertimu!" dengus pangeran sambil memalingkan wajah.
"aku juga tidak mau. aku juga tidak mau bertunangan denganmu," aku terdiam sebentar setelah mengatakan ini. bukankah alur ceritanya berubah kalau aku yg memutuskan pertunangan duluan? oh, ide yang benar benar brilian. aku tahu kalau aku memang pintar um...um...um
"kalau begitu ayo bilang ke orang tua kita, kalau kita tidak akan bertunangan. aku tidak mau hidup denganmu" aku menghampirinya.
raut wajah Denis berubah dan dia diam di tempat.
"ayo, aku akan memutuskan pertunangan!" aku berkata antusias sembari berusaha menarik tangannya.
Denis langsung menghempaskan tanganku "aku yang akan memutuskan pertunangan" kata Denis dingin.
"tidak boleh" aku menggeleng spontan.
kalau Denis yang memutuskan, bukankah sama saja kejadian lama terulang kembali? hanya saja kali ini lebih awal. aku tidak mauu!!
"harus aku yang memutuskan pertunangan!! harus aku, titik!"
Denis mengangkat alisnya "kenapa kau bersikeras sekali?"
"derajatku lebih tinggi dari kau. aku adalah putra mahkota dan raja masa depan negeri ini. dan kau hanyalah bangsawan kecil. segala hal harus aku yang memutuskan lebih dulu!" kata Denis percaya diri.
"aku tidak mauu!! aku akan mati kalau kau melakukannya!!" aku berteriak tidak sabar.
"mati?"
"ini menarik" Denis tersenyum licik "kita akan terus bertunangan"
APAA?? kali ini mataku terbelalak lagi dan mulutku menganga lagi.
"kenapa...?"
"kau akan mati bukan? bukankah menarik melihat musuhmu sendiri menghadapi kematian." kata Denis tersenyum licik.
"kau!!" eh? tapi tunggu dulu.
kalau kami tetap bertunangan, bukankah tidak apa-apa? kalau kami bisa menjadi pasangan, bukankah itu akan menyelamatkan hidupku? kalau terus begini sampai 12 tahun ke depan, menunggu sampai kami dewasa dan menikah, bukankah berarti ceritanya happy ending? apakah aku harus patuh dan mulai membuatnya jatuh cinta padaku?
ehh?? apa yang aku pikirkan?
aku mengelengkan kepalaku
itu tidak mungkin terjadi!
aku tidak akan pernah menikah dengannya!
menikah dengan orang seperti ini, aku tidak mau!! huh!
tapi apa yang sudah kulakukan?!
aku memprovokasi musuhku sendiri. bukankah even kematianku akan semakin mendekat?
note: anak-anak normal tidak akan pernah bercakap-cakap seperti ini :V
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 427 Episodes
Comments
Shinta Dewiana
kenapa kamu jadi gegabah...evaaaa...
2024-06-06
0
Iyet Rohayati
nah jadi penasaran Denis gara2 kata mati
2024-04-15
0
Iyet Rohayati
lucu
2024-04-15
0