"Mbak, kalau begitu kita langsung kerumahnya Gani, saja. Mbak Aulia tahu, kan?" tanya Bayu.
"Iya, Mas. Saya tahu rumahnya Gani. Iya, kita kesana sekarang." jawab Aulia.
"Kalau begitu, Mbak Aulia ikut sama saya saja naik mobil. Kalau kita sendiri-sendiri malah ribet dan kelamaan." ucap Bayu.
"Oh gitu, ya Mas. Ya sudah kalau gitu motor saya biar saya taruh disini saja. Oh iya, Rani. Tolong, nitip motor Kakak, ya?" ucap Aulia sama anak tadi.
"Iya, Kak. Biar saya yang jaga motor Kak Aulia." jawab Rani.
Kemudian Bayu dan Aulia masuk kedalam mobil. Mereka berdua langsung menuju rumah Gani. Dalam perjalanan, Aulia banyak diam karena dia memamg baru mengenal Bayu. Demikian juga dengan Bayu. Dia lebih banyak fokus menyetir dibanding ngobrol sama Aulia.
"Oh iya, Mas Bayu. Nanti perempatan depan itu, belok kiri." ucap Aulia memecah kesunyian diantara mereka berdua.
"Iya, Mbak." jawab Bayu.
Pas sampai di perempatan Bayu langsung ambil kiri. Kemudian dia masih fokus menyetir. Tak lama kemudian mereka bertemu dengan pertigaan. Lalu Bayu mengurangi kecepatan mobilnya. Kemudian dia berhenti karena dia tidak tahu mau kemana.
Aulia diam sesaat, kemudian akhirnya dia ingat. "Oh iya, Mas. Saya ingat. Depan lurus saja, nanti kalau ada gang dengan gapura warna merah kita masuk. Rumahnya nggak jauh dari depan gang, kok." jelas Aulia.
"Oke Mbak." jawab Bayu singkat.
Bayu melanjutkan mengemudikan mobil dan menuju tempat yang tadi dikasih tahu oleh Aulia. Setibanya didekat rumah Gani, ternyata sudah banyak yang ngelayat. Bayu dan Aulia turun dari mobil lalu masuk untuk menemui Gani.
Gani tidak menyadari kehadiran Bayu dan Aulia. Tapi, ketika ada tetangganya memberitahukan kalau dia ada tamu, Gani lantas menoleh dengan cepat dan matanya menatap kearah Bayu dan Aulia. Serta-merta dia berdiri dan memeluk Aulia.
"Kak, Nenek telah meninggal. Kini Gani sendirian dan nggak punya siapa-siapa." ucap Gani sambil menangis dipelukan Aulia.
"Gani, coba dengarkan Kak Bayu. Kamu harus kuat karena kamu anak laki-laki. Dan kamu tidak sendiri. Ada Kak Aulia, ada Kak Bayu dan ada teman-teman ditempat biasanya." sahut Bayu sambil mengelus kepala Gani.
"Iya, Gani. Benar apa yang dikatakan oleh Kak Bayu. Kita disini semua akan ada buat kamu, Gan." ucap Aulia.
"Gani, kamu ingat apa yang pernah Kakak sampaikan ke kamu. Kamu boleh tinggal dirumah Kak Bayu." tukas Bayu.
"Iya, Kak. Gani ingat, kok." jawab Gani.
"Sudah, sekarang kita ngaji dulu buat Nenek." ucap Bayu.
Mereka bertiga akhirnya duduk didepan jenazah Neneknya Gani. Mereka ikut mengaji dan mendokan Almarhumah Neneknya Gani.
Tak lama kemudian pengurus pemakaman datang. Semua yang datang akhirnya membantu mengurusi pemakaman jenazah. Bayu juga ikut membantu dan membaur dengan warga setempat. Gani dengan tegar juga ikut membantu dan kemudian berangkatlah ke makam.
Aulia tidak ikut ke makam dan menunggu dirumah dan membantu beres-beres rumah Gani. Untung saja tetangganya itu baik-baik dan banyak membantu Gani dan Neneknya.
"Maaf, Mbak ini siapanya, Gani?" tanya Ibu-ibu yang ada disitu.
"Saya temannya, Bu. Biasanya saya membantu Gani dan teman-temannya untuk belajar membaca dan menulis." jawab Aulia.
"Ya ampun baik banget, kamu Mbak." ucap Ibu itu.
"Iya, Bu. Saya kasihan melihat mereka yang masih kecil sudah bergelut dengan peluh dijalanan, padahal seumuran mereka waktunya belajar. Makanya saya membantu mereka untuk belajar. Kebetulan kan saya kerja ditoko buku, jadi kadang saya belikan buku-buku yang sudah lumayan lama tapi masih bisa dimanfaatkan." jelas Aulia.
Mereka ngobrol-ngobrol sampai nggak terasa sudah hampir sejam dan yang ikut ke makam sudah pulang. Bayu dan Gani langsung menuju belakang untuk bersih-bersih karena habis dari makam. Setelah itu mereka bergabung dengan Aulia dan yang lainnya.
"Gani, ini saya mewakili warga setempat memberikan sedikit bantuan buat keperluan kamu." ucap Ibu tadi.
"Makasih Bu Siti. Saya berterima kasih banyak buat semua warga yang telah membantu pemakaman Nenek." jawab Gani.
"Iya, Gani sama-sama. Kalau misal kamu ada perlua apa-apa, langsung saja lapor sama Pak RT, nanti biar dibantu." ucap Bu Siti.
"Iya, Bu. Makasih." jawab Gani.
Akhirnya tetangganya pamit pulang semua, kini tinggal mereka bertiga. Aulia duduk disamping Gani, sedangkan Bayu sendiri duduk menghadap Aulia dan Gani.
"Gani, nanti Kakak akan bilang sama orang tua Kak Bayu untuk mengurus sekolah kamu." ucap Bayu.
"Iya, Kak." jawab Gani singkat.
"Jadi kamu mau sekolah lagi, Gan?" sahut Aulia.
"Iya, Kak. Kak Bayu yang akan biayai sekolah Gani." jawab Gani.
"Iya, Mbak. Saya akan bantu untuk urus sekolah Gani. Sejak pertama saya kenal dia, saya sudah merasa kalau anak ini sebenarnya pintar, jadi sayang kalau sampai putus sekolah." jelas Bayu.
"Makasih, Mas. Memang dia anak pintar." jawab Aulia.
Mereka ngobrol-ngobrol sampai sore hari. Untuk ngaji diadakan habis maghrib. Bayu dan Aulia masih menemani Gani sampai acara selesai. Tak lama kemudian para tetangga berdatangan untuk mengikuti acara tesebut.
Sekitaran hampir dua jam acara ngaji itu berlangsung. Setelah selasai Bayu kembali membantu membereskan tempat tersebut. Setelah selesai Bayu dan Aulia pamit pulang. Gani sementara ditemani tetangga dekat rumahnya.
Bayu dan Aulia meninggalkan rumah Gani. Kini mereka menuju rumah singgah tempat anak-anak jalanan berkumpul. Setelah sampai tempat itu, Bayu menghentikan mobilnya.
"Makasih Mas Bayu, karena sudah mengantar saya." ucap Aulia.
"Sama-sama Mbak." jawab Bayu.
"Kalau Mas Bayu langsung pulang, silahkan. Saya juga langsung pulang." jawab Aulia.
"Oh iya, Mbak. Boleh minta nomor telponnya, buat nanti kalau saya butuh apa-apa soal Gani." ucap Bayu.
"Iya, Mas." jawab Aulia sambil mengeluarkan ponselnya.
Lalu mereka bertukar nomor telpon. Setelah pamitan, Bayu kembali masuk mobil untuk pulang. Demikian pula dengan Aulia, dia mengambil motornya kedalam sebuah bangunan kecil yang biasanya dibuat berteduh anak-anak.
Mereka akhirnya berpisah dan kembali kerumahnya masing-masing. Dalam perjalanan pulang, Bayu mulai memikirkan soal Gani. Dia akan membicarakan hal ini sama kedua orang tuanya.
Setelah menghabiskan setengah jam diperjalanan, akhirnya Bayu sampai juga dirumah. Dia memarkirkan mobilnya langsung ke garasi. Dengan ringan langkah dia memasuki rumah.
"Kok baru pulang, Bay?" ucap Mamanya yang lagi duduk didepan TV.
Bayu menghempaskan tubuhnya duduk dikursi dekat Papa dan Mamanya. Kebiasaan dari orang tuanya kalau dia belum pulang, selalu menunggu diruang tengah sambil menonoton TV.
"Tadi Bayu habis Takziah, Ma?" jawab Bayu pelan.
"Siapa yang meninggal?" tanya Bu Santy.
"Neneknya, Gani!" jawab Bayu.
"Inalilahiwainaillahi rojiun." ucap Pak Ridwan dan Bu Santy.
"Ma, Pa. Bayu mau menyampaikan sesuatu. Bayu punya keinginan untuk membantu sekolahnya, Gani. Dia kini sebatang kara, Pa. Makanya Bayu ingin menangkatnya sebagai anak asuh, Bayu." jelas Bayu.
Pak Ridwan dan Bu Santy saling pandang. Bayu tetap diam dan menunggu reaksi kedua orang tuanya. Setelah itu Pak Ridwan mengulas senyum kecil.
----------------------------------
Next.....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 123 Episodes
Comments
Raya Ningsih
good job bayu
2021-10-04
0