Part 2

"Gimana pacar mau datang sendiri kalau loe nya aja gak mau berubah penampilan"

"kan gak semua cowok lihat fisik kan?" Luna sambil melambaikan tangan agar Riska pergi dari meja nya dan kembali bekerja, karena sudah waktu nya bekerja.

Riska akhir nya kalah lagi untuk hari ini membujuk Luna berubah penampilan entah sudah berapa kali di coba, hasil nya selalu gagal total.

Telepon di samping meja Luna berdering... "Dengan Luna, Ada yang bisa Saya bantu"

Terdengan suara berat khas orang sudah berumur tentu saja atasan luna pak Morgan. "Halo Luna, ke ruangan saya sekarang ya"

"Baik Pak" Luna sambil berjalan ke lantai 5 ruangan pak Morgan

"Untung ada Lift di ini kantor, kalau gak bisa mati naik turun tiap hari dari lantai 3 ke lantai 5" Luna mengerutu di dalam lift yang kebetulan tidak ada orang saat ini.

Setiba nya di ruangan pak Morgan, Luna sedikit menyergit setelah di jelaskan oleh pak Morgan kalau pria di samping nya itu adalah anak didik nya dulu di kantor cabang di indonesia. dan minta Luna mengantarkan nya keliling kantor sambil di antarkan ke bagian nya Wakil CEO.

kebetulan Pak Morgan CEO di sini, tapi tidak ada yang tau siapa asli pemilik dari perusahaan ini. Pak Morgan masih di gaji d sini, tapi berkuasa karena dia ada saham plus masih saudara jauh dari pemilik perusahaan.

Jalur orang dalam selalu masih mendarah daging sampai saat ini, Luna yang tamatan universitas bergengsi saja, susah payah di terima di perusahaan ini. ini langsung di terima dengan posisi lumayan lagi. pikir Luna dalam hati

"Baik pak, mari saya antar kan. Maaf sebelum nya dengan siapa ya??"

"Panggil saja Rendy" sambil berjalan terlebih dahulu melewati Luna

"Tidak Sopan". itu lah satu kalimat yang terucap pertama kali di kepala Luna melihat Rendy.

setelah mengantarkan Rendy berkeliling, Luna kembali ke ruangan nya di lantai 3, tidak terasa sudah mau jam istirahat saja sehabis mengantar orang dalam. Riska sudah menangkirng di meja Luna dengan Lunch Box nya.

"Ehh ehh ada anak baru ya? cakep gak? siapa nama nya? sifat nya gimana? watak nya gimana, ayoo ibu HRD cerita dong.... penasaran nih gue"

"Tampang ya Oke, Rendy, sifat nya? gak Sopan titik." Luna duduk dengan frustasi karena capek.

Riska hanya ber-Oh dengan mulut terbuka saja tanpa bersuara. karena kalau sudah tau tidak sopan berarti tidak masuk dalam daftar pertemanan Riska.

Tiba-tiba telepon berdering lagi di meja Luna, padahal ini jam makan siang. siapa yang menganggu ketenangan sesaat dua orang yang sedang makan ini.

"Halo Luna, bisa tolong kemari, saya mau tanya struktur organisasi kantor kita ini" Rendy berucap di seberang sana.

"Baik Pak, tapi apakah bisa nanti setelah saya makan sebentar?" Luna memutar bola mata nya malas meladeni.

"Okey 15 minutes" telepon langsung di tutup oleh Rendy

"Ishhh kalau gue yang masukin udh ku suruh pulang ini orang, gak tau jam istirahat apa ya. malesin banget deh" Luna sedikit menutup telepon dengan tenaga, sampai Riska terkejut.

"Sabar Bestie... kenapa? anak baru ye? bagian nya apa sih sampai bisa nyuruh loe gitu"

"Wakil CEO" Luna berucap.

"Wahh gak bisa berkata-kata deh gue kalau begitu.. masih butuh gaji dari sini huhuhu...." Riska bercanda agar Luna tidak terlalu jengkel.

.

.

.

Rendy Pov

"Apaan sih ini PT, kok ada karyawan culun gini, gak mood banget lihat nya". Rendy kecewa

Jauh banget dari ekspektasi Rendy sebelum berangkat dari Indonesia kemari. Rendy sebenarnya masih tidak mau kemari, tetapi karena paksaan orang tua nya agar bisa dapat warisan.

Mau tidak mau dia harus mencoba bekerja di sini, dengan status karyawan bukan langsung di kenalkan sebagai anak dari pemilik perusahaan kakek nya ini.

Rendy terkenal dengan bad boy nya gonta ganti pacar setiap 1 minggu, bahkan ada yang hanya beberapa jam saja. karena dia bossy orang nya. dia hanya suka menghambur-hamburkan uang di Bar, bermain wanita, mabuk-mabukan.

"Mending ini cewek culun gue kerjain aja biar gak betah di sini, biar gak merusak pemandangan di sini deh".

tidak lama dia menelepon Luna agar ke ruangan nya untuk menjelaskan struktur organisasi yang jelas-jelas tidak ada faedah nya bagi dia.

"Masuk aja, nah tolong jelaskan struktur organisasi kita d sini apa-apa saja, sama divisi yang terkait, siapa yang menjadi kepala di tiap divisi ya"

Luna dengan sigap menjelaskan dengan penuh antusias, tapi Rendy malah tidak terlalu fokus karena sambil bermain laptop di depan wajah nya.

"Ohhh begitu ya.. okey, terus bisa gak kamu besok penampilan di ubah ya. sakit mata saya lihat nya" Rendy masih bermain laptop tanpa menatap Luna sama sekali dari awal penjelasan.

"Maaf pak, maksud bapak bagaimana ya? Luna menghentikan langsung penjelasan nya yang di potong di pertengahan penjelasan nya.

"Paham kan apa yang ku ucapkan? ganti penampilan, style, fashion, gitu aja masa gak bisa ngerti sih." Rendy langsung menutup laptop nya dengan malas. karena Luna tampak seperti tidak setuju dengan ucapan nya.

.

.

.

Luna Pov

Coba gue punya kekuatan mengutuk orang ya, udah ku kutuk orang di depan gue satu ini. Luna jengkel bukan kepalang karena lawan bicara nya saat ini tidak fokus dengan apa yang di terangkan nya.

Kalau tidak mau di terangkan harus nya bisa menyuruh nya untuk kembali ke ruangan Luna. Luna dengan sabar sambil menahan amarah masih berusaha menjelaskan.

Tetapi tiba-tiba ada celetukan dari orang ini untuk merubah style nya. memang apa masalah nya dengan fashion nya saat ini. selama dia bekerja 5 tahun di sini tidak ada yang pernah komplain dengan penampilan nya kecuali Riska sohib nya.

"Maaf pak untuk style saya, seperti nya tidak ada yang pernah mempermasalahkan nya sampai dengan saat ini. bahkan Pak Morgan tidak ada masalah"

"Itu masalah bagiku, karena aku jadi gak mood bekerja dan konsentrasi." Rendy bertopang dagu.

"kalau tidak bisa, bagaimana kalau aku saja yang bawakan baju lengkap dengan dalaman nya besok, asal kamu ikut aku sepulang kerja nanti"

Luna tanpa menjawab langsung pergi dari ruangan yang sudah serasa mau menampar cowok itu. di lirik nya cowok itu untuk terakhir kali nya dengan tatapan penuh benci juga menghina.

"Riska gue mau ngajuin resign aja deh" Luna langsung ke tempat Riska yang masih selantai dengan dirinya, hanya beda ruangan saja.

"Loh.. what happen bestie ku sayang? cerita sini dengan kakak imut ini. sini duduk sini...." Riska menepuk kursi di sambar nya asal di dekat nya.

"loe tau gak itu cowok anak baru itu, bukan cuma gak sopan tapi bajingan juga. masa minta gue ganti style, terus kalau gak bisa dia mau bantuin asal hari ini gue ngikutin dia abis pulang kerja. emang nya gue cewek apaan coba" Luna mengipas2 muka nya yang sedikit menjadi panas karena emosi.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!