Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin

Pagi Hari.

Alina akhirnya bangun dari tidurnya dan ketika hendak membangunkan Intan, rupanya Intan sudah tidak ada di kamar. Alina yang belum sepenuhnya sadar, seketika itu juga berlari keluar kamar untuk segera menemukan Intan.

Bruk!!

Alina yang asal berlari, tak sengaja menabrak kursi yang membuatnya jatuh ke lantai dengan posisi terlentang.

Ibu Nur dan Intan segera berlari menghampiri sumber suara yang diakibatkan oleh Alina.

“Alina!” Ibu Nur panik bukan main melihat menantunya yang sudah tergeletak di lantai.

“Mbak Alina!” Intan pun tak kalah panik ketika melihat Sang Kakak ipar yang nampak kesakitan.

“Sakit,” ucap Alina merintih kesakitan.

Rasa malu tak Alina pikirkan, karena yang ia rasakan saat itu adalah rasa sakit yang teramat di bagian pergelangan tangan kirinya.

Rupanya ketika jatuh, Posisi tangan kiri Alina berada dipinggang dan ketika jatuh tangan kirinya lah yang menahan tubuhnya.

“Apanya yang sakit, Nak Alina?” Ibu Nur perlahan membantu Alina bangkit dan meminta Intan untuk memanggil Mbok Yem di rumahnya.

Intan berlari pergi menuju rumah Mbok Yem untuk segera menyusul Mbok Yem ke rumah.

“Tangan Alina sakit sekali, Bu,” ucap Alina yang sudah berlinang air mata.

Alina tak menyangka, bahwa efek dari menabrak kursi membuat tangannya terkilir.

“Iya, Alina. Ibu bisa melihatnya, sebentar lagi Mbok Yem datang dan akan mengobati tangan Alina,” balas Ibu Nur pada Sang Menantu.

Ibu Nur perlahan membantu Alina untuk merebahkan diri di ranjang tempat tidur, seraya menunggu Mbok Yem yang sebelumnya telah dijemput oleh Intan.

Pagi itu, hanya ada Ibu Nur, Alina dan Intan di rumah. Sementara Ayah Ismail tidak ada di rumah, karena sedang ada dinas luar kota selama 5 hari.

“Ada apa, Bu?” tanya Mbok Yem yang baru saja tiba.

“Mbok, coba lihat tangan Alina. Sepertinya terkilir,” jawab Ibu Nur yang tak henti-hentinya membelai lembut rambut Alina.

Mbok Yem yang juga berpengalaman dibidang mijat memijat, saat itu juga menangani tangan Alina yang terkilir dengan pijatan legendaris nya.

Alina mengulum bibirnya menahan rasa sakit ditangannya, sekuat apapun Alina menahan diri untuk tidak menangis, pada akhirnya ia pun menangis kesakitan.

Setelah selesai ditangani, tangan Alina diperban untuk mengurangi aktivitas Alina yang berlebihan.

“Mbak Alina yang sabar ya, pasti tangan Mbak Alina bisa segera sembuh dan bisa beraktivitas seperti biasa,” ucap Intan.

“Intan, pagi ini kamu harus kembali ke Semarang. Melihat kondisi Aku ang seperti ini, sepertinya Aku tidak bisa mengantarkan kamu ke Bandara,” tutur Alina sedih.

Intan tertawa kecil melihat raut wajah Alina yang cukup menggemaskan ketika menampilkan raut wajah sedih.

“Kamu kenapa tertawa?” tanya Alina terheran-heran.

“Intan iri deh sama Mbak Alina. Bahkan ketika Mbak menangis pun, Mbak terlihat cantik,” jawab Intan.

Jawaban Intan cukup membuat Alina terhibur, Alina akhirnya menyadari bahwa Intan tulus padanya.

Ibu Nur datang menghampiri Alina seraya membawakan secangkir teh hangat untuk menantunya.

“Ibu tadi sudah bicara dengan Hafiz dan InsyaAllah Hafiz tiba di sini nanti sore,” ucap Ibu Nur sambil meletakkan teh buatannya di atas meja.

“Bukankah Mas Hafiz pulang besok, Bu?” tanya Alina.

Ibu Nur menjelaskan bahwa tugas Hafiz selesai nanti siang. Hafiz pulang lebih awal tentu saja atas permintaan Ibu Nur yang memberitahu Hafiz untuk segera pulang ke rumah, mengingat kondisi Alina yang sedang tidak baik-baik saja.

“Apakah Mas Hafiz sungguh mau pulang, Bu? Alina takut jika Mas Hafiz sibuk di sana dan buru-buru pulang karena masalah sepele seperti ini,” ujar Alina seraya memandangi tangannya yang terkilir.

Ibu Nur meminta Alina untuk tidak berpikir berlebihan, mau bagaimanapun Hafiz memang harus segera pulang.

“Ibu, sudah waktunya Intan pergi ke Bandara,” ucap Intan.

Setelah berunding sekitar 5 menit, akhirnya Alina tetap berada di rumah. Sementara Ibu Nur yang akan mengantarkan Intan sampai ke Bandara.

Alina dan Intan saling berpelukan, mereka saling menangis satu sama lain. Seakan-akan enggan untuk dipisahkan.

Melihat kedekatan Intan dan juga Alina, Ibu Nur menangis terharu. Padahal sebelumnya, Ibu Nur sedikit khawatir mengenai hubungan antara Putri kandungnya dan menantunya. Mengingat sikap dan sifat Intan yang susah berbaur dengan orang baru.

“Mbak, Intan pamit ya. Cepat sembuh ya,” ucap Intan.

“Kamu harus jaga kesehatan di sana ya Intan,” balas Alina.

***

Sore Hari.

Hafiz akhirnya kembali setelah 2 hari berada di Yogyakarta. Ketika bertatapan langsung dengan Alina, Alina bisa merasakan bahwa tak sedikitpun ada kekhawatiran pada tatapan Hafiz padanya.

“Bagaimana pekerjaan Mas selama di Yogyakarta?” tanya Alina.

“Baik,” jawab Hafiz ketus tanpa melihat Alina.

“Mas sudah makan?” tanya Alina berharap Hafiz bertanya balik padanya mengenai kondisi dirinya.

Bukannya menjawab, Hafiz justru meninggalkan Alina yang tengah terbaring di tempat tidur.

Melihat sikap Hafiz yang semakin dingin padanya, cukup membuat Alina sedih. Akan tetapi, Alina juga mengerti mengenai status dirinya dan Hafiz yang hanya menikah atas dasar perjodohan.

Kalau tahu begini, tidak seharusnya aku bertanya padanya. (Batin Alina)

“Hafiz, kamu sudah bertemu Alina di kamar?” tanya Ibu Nur yang sebenarnya sudah tahu bahwa Hafiz baru dari kamar.

“Sudah, Bu. Alina bahkan sedang tidur,” jawab Hafiz.

Ibu Nur tak lagi bertanya dan justru mempersilakan Putra sulungnya untuk makan.

“Hafiz masih kenyang, Bu. Tadi sudah makan di jalan,” jawab Hafiz.

“Benarkah? Ibu kira kamu akan makan di rumah.”

Setelah tiba di Bandara, rupanya Fatimah datang menjemput Hafiz dan sebelum pulang ke rumah, Hafiz dan Fatimah makan bersama di salah satu restoran masakan padang favorit mereka berdua.

“Bu, Hafiz mau keluar sebentar. Sebelum jam 9 Hafiz sudah pulang,” ucap Hafiz.

“Kamu sudah bilang Alina belum?” tanya Ibu Nur.

“Alina tadi masih tidur, Hafiz tidak tega membangunkan Alina,” jawab Hafiz berbohong.

“Ya sudah hati-hati. Nanti biar Ibu yang memberitahu Alina.”

Hafiz pun pergi dengan mobilnya, padahal ia baru tiba dan justru pergi tanpa ingin sedikitpun menemani Alina yang sedang sakit.

Alina memutuskan untuk keluar dari kamar dan melihat Hafiz yang pergi begitu saja tanpa memberitahu dirinya.

“Ternyata Alina sudah bangun, Hafiz baru saja pergi,” ucap Ibu Nur seraya berjalan menghampiri Alina yang berjalan mendekatinya.

Bangun? Aku bahkan tidak tidur. (Batin Alina)

“Mas Hafiz mau kemana, Bu? Bukankah Mas Hafiz baru saja sampai,” ucap Alina.

Ibu Nur seketika itu diam membisu, ia akhirnya tahu bahwa Hafiz telah berbohong padanya.

“Hafiz ada urusan penting, sudah jangan terlalu dipikirkan. Sebaiknya Nak Alina kembali istirahat di kamar,” tutur Ibu Nur.

Terpopuler

Comments

Maulana ya_Rohman

Maulana ya_Rohman

mundur ajah dari pernikahan itu... dri pada kau tersiksa batin😢😢🤧...
ikutan nyesek thor,😭😭😭😭😭😭

2023-10-06

0

lihat semua
Episodes
1 Syukuran Kelulusan
2 Pertemuan Dua Keluarga
3 Alasan Pertemuan Dua Keluarga
4 Akhirnya Menikah
5 Jaga Batasan
6 Saling Acuh Tak Acuh
7 Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz
8 Hadiah Kecil Dari Mertua Tercinta
9 Melihat Suami Bersama Wanita Lain
10 Primadona Kampus
11 Marahnya Seorang Alina
12 Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan
13 Perhatian Kecil Hafiz Untuk Alina
14 Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang
15 Pulangnya Intan Alwi
16 Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar
17 Insiden Di Dapur
18 Fatimah Meminta Kejelasan Status
19 Hafiz Dinas Ke Yogyakarta
20 Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin
21 Serba Salah
22 Tragedi Truk Terbalik
23 Berhutang Budi Pada Sang Penyelamat
24 Alina Sama Sekali Tidak Diperhatikan
25 Fatimah Melihat Sang Penyelamat
26 Perjanjian 100 Hari
27 Datangnya Hafiz Tanpa Pemberitahuan
28 Sikap Alina Yang Mendadak Berubah
29 Berpisah Untuk Sementara Waktu
30 Makan Siang Bersama
31 Fatimah Tidak Ingin Melepaskan Hafiz
32 Melepas Penat Di Kota Malang
33 Hafiz Mulai Kagum Dengan Sosok Alina
34 Tak Ingin Berharap Banyak
35 Datang Menyapa Alina
36 Selamat Jalan Ibu Nur
37 Sikap Hafiz Mendadak Berubah
38 Mimpi Dibalik Perubahan Sikap Hafiz
39 Alina Ingin Bercerai
40 Berusaha Menjadi Suami Yang Baik
41 Banyak Mengucap Istighfar
42 Kami Adalah Suami Istri
43 Banyak Pro Dan Kontra
44 Fatimah Tak Bisa Menghubungi Hafiz
45 Hafiz Mulai Bingung Dengan Perasaannya
46 Akhirnya Ayah Ismail Siuman
47 Hafiz Terpaksa Mengusir Fatimah
48 Penjelasan Hafiz Pada Alina
49 Pertengkaran Tak Dapat Terelakkan
50 Fatimah Tak Rela Dan Takkan Merelakan Hafiz
51 Menjadi Suami Istri Seutuhnya
52 Hafiz Datang Menemui Fatimah Di Rumah Sakit
53 Cerai!!
54 Hafiz Dan Fatimah Pergi Bersama Mencari Alina
55 Alina Melihat Kedekatan Hafiz Dan Fatimah
56 Bagaikan Hilang Ditelan Bumi
57 Hafiz Mengungkapkan Hubungannya
58 Alina Menenangkan Diri Di Ponorogo
59 Hafiz Menyusul Alina Ke Ponorogo
60 Salah Paham Yang Terselesaikan
61 Fatimah Enggan Mengakui Kesalahannya
62 Alina Akhirnya Kembali Ke Jakarta
63 Berbadan Dua
64 Ibu Nunuk Datang Menemui Alina Dan Hafiz
65 Alina Dan Hafiz Memutuskan Menemui Fatimah
66 Kecelakaan Beruntun
67 Happy Ending
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Syukuran Kelulusan
2
Pertemuan Dua Keluarga
3
Alasan Pertemuan Dua Keluarga
4
Akhirnya Menikah
5
Jaga Batasan
6
Saling Acuh Tak Acuh
7
Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz
8
Hadiah Kecil Dari Mertua Tercinta
9
Melihat Suami Bersama Wanita Lain
10
Primadona Kampus
11
Marahnya Seorang Alina
12
Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan
13
Perhatian Kecil Hafiz Untuk Alina
14
Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang
15
Pulangnya Intan Alwi
16
Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar
17
Insiden Di Dapur
18
Fatimah Meminta Kejelasan Status
19
Hafiz Dinas Ke Yogyakarta
20
Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin
21
Serba Salah
22
Tragedi Truk Terbalik
23
Berhutang Budi Pada Sang Penyelamat
24
Alina Sama Sekali Tidak Diperhatikan
25
Fatimah Melihat Sang Penyelamat
26
Perjanjian 100 Hari
27
Datangnya Hafiz Tanpa Pemberitahuan
28
Sikap Alina Yang Mendadak Berubah
29
Berpisah Untuk Sementara Waktu
30
Makan Siang Bersama
31
Fatimah Tidak Ingin Melepaskan Hafiz
32
Melepas Penat Di Kota Malang
33
Hafiz Mulai Kagum Dengan Sosok Alina
34
Tak Ingin Berharap Banyak
35
Datang Menyapa Alina
36
Selamat Jalan Ibu Nur
37
Sikap Hafiz Mendadak Berubah
38
Mimpi Dibalik Perubahan Sikap Hafiz
39
Alina Ingin Bercerai
40
Berusaha Menjadi Suami Yang Baik
41
Banyak Mengucap Istighfar
42
Kami Adalah Suami Istri
43
Banyak Pro Dan Kontra
44
Fatimah Tak Bisa Menghubungi Hafiz
45
Hafiz Mulai Bingung Dengan Perasaannya
46
Akhirnya Ayah Ismail Siuman
47
Hafiz Terpaksa Mengusir Fatimah
48
Penjelasan Hafiz Pada Alina
49
Pertengkaran Tak Dapat Terelakkan
50
Fatimah Tak Rela Dan Takkan Merelakan Hafiz
51
Menjadi Suami Istri Seutuhnya
52
Hafiz Datang Menemui Fatimah Di Rumah Sakit
53
Cerai!!
54
Hafiz Dan Fatimah Pergi Bersama Mencari Alina
55
Alina Melihat Kedekatan Hafiz Dan Fatimah
56
Bagaikan Hilang Ditelan Bumi
57
Hafiz Mengungkapkan Hubungannya
58
Alina Menenangkan Diri Di Ponorogo
59
Hafiz Menyusul Alina Ke Ponorogo
60
Salah Paham Yang Terselesaikan
61
Fatimah Enggan Mengakui Kesalahannya
62
Alina Akhirnya Kembali Ke Jakarta
63
Berbadan Dua
64
Ibu Nunuk Datang Menemui Alina Dan Hafiz
65
Alina Dan Hafiz Memutuskan Menemui Fatimah
66
Kecelakaan Beruntun
67
Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!