“Dasar bocah,” celetuk Hafiz melihat Alina yang telah kabur darinya.
Hafiz cukup kesal dengan sikap kekanak-kanakan Alina yang menurutnya sangat tidak cocok dengan dirinya, seorang Hafiz Sang Dosen.
“Hafiz, Alina!” panggil Ibu Nur.
“Iya Bu,” jawab Hafiz sambil melangkah menuju pintu.
“Alina mana?” tanya Ibu Nur karena tak melihat Alina di dalam kamar.
“Alina baru saja keluar kamar, Bu,” jawab Hafiz apa adanya.
“Cepat cari Alina, Ibu ingin menunjukkan sesuatu,” ucap Ibu Nur meminta Hafiz mencari Alina dan membawa Alina padanya.
Hafiz mengiyakan ucapan Sang Ibu dan bergegas mencari Alina yang entah berada di mana.
Semua ruangan sudah Hafiz masuki, namun Alina belum juga ditemukan.
“Ayah melihat Alina?” tanya Hafiz pada Ayah Ismail yang sedang duduk di kursi teras depan rumah.
“Alina sedang beli siomay di tempat Pak Budi,” jawab Ayah Ismail sambil menunjuk ke arah luar pagar rumah.
Hafiz mendengus kesal dan berlari kecil menyusul Alina.
“Kecap nya tambah dikit lagi ya Pak,” tutur Alina menunggu siomay pesanannya.
“Siap!” seru Pak Budi penjual Siomay yang rumahnya berada tepat di depan rumah keluarga Hafiz.
Hafiz datang menghampiri Alina dengan tatapan dingin. Sementara Alina acuh tak acuh dengan kedatangan Hafiz.
“Nyusul istrinya ya Mas?” tanya Pak Budi menggoda Hafiz yang masih menjadi pengantin baru.
“Iya, Pak,” jawab Hafiz seraya tersenyum.
“Putri Bapak si Siti menangis mendengar kabar Mas Hafiz nikah sama Mbak cantik ini,” terang Pak Budi.
Maklum saja, siapa yang tidak suka dengan sosok Hafiz yang tampan dan juga seorang Dosen di salah satu universitas. Hampir semua orang tua yang memiliki anak gadis di daerah itu menginginkan menantu seperti Hafiz. Nasib, Hafiz telah menikah dengan Alina yang tentu saja bibit, bobot dan bebet nya setara dengan keluarga besar Hafiz.
“Bapak ini bisa saja,” celetuk Hafiz yang habis bisa tertawa mendengar ucapan Pak Budi.
Alina sama sekali tidak terganggu dengan ucapan Pak Budi. Toh, hubungannya dengan Hafiz karena sebuah perjodohan yang mengharuskan dirinya menikah dengan Hafiz.
“Terima kasih, Pak,” ucap Alina dan kembali berlari menjauh dari Hafiz.
“Alina!” panggil Hafiz sambil berlari mengejar Alina.
“Mas Hafiz apa-apaan?” tanya Alina karena tiba-tiba saja sepasang tangan Hafiz mendarat mulus ke perutnya.
“Sorry,” ucap Hafiz buru-buru melepaskan Alina.
“Jangan mentang-mentang kita sudah nikah Mas seenaknya menyentuh Alina,” oceh Alina kesal.
“Aku sama sekali tidak sengaja. Kamu kalau tidak mau dipegang, makanya diam dan jangan lari dariku,” balas Hafiz dan memberitahu Alina untuk segera menemui Ibu Nur.
Ayah Ismail yang sedang duduk di kursi teras depan rumah, memanggil keduanya dari kejauhan untuk segera masuk ke dalam rumah.
“Kalian kenapa berdiri di situ? Cepat masuk ke dalam!” panggil Ayah Ismail.
Ayah Ismail sama sekali tidak bisa mendengar perbincangan keduanya, karena itulah ia meminta keduanya untuk segera masuk ke dalam rumah.
“Kalian kalau mau mesra-mesraan jangan di situ. Kasihan tetangga yang lihat,” ucap Ayah Ismail pada keduanya yang hendak masuk ke dalam rumah.
Alina dan Hafiz hanya memberikan senyum kepada Ayah Ismail sambil terus melangkah masuk.
“Alina dari mana saja? Ayo ikut Ibu!” Ibu Nur dengan sangat antusias menarik tangan Alina membawanya masuk ke dalam kamar.
“Mau apa ya Bu?” tanya Alina bingung.
“Jangan banyak tanya, pokoknya ikut saja,” balas Ibu Nur.
Sampailah mereka di dalam kamar dan saat itu juga Ibu Nur meminta Sang Menantu duduk di tepi ranjang.
“Terima kasih ya Alina cantik, karena sudah mau menerima perjodohan kami para orang tua. Sebagai ucapan terima kasih Ibu, Ibu ada sesuatu untuk Alina,” ucap Ibu Nur dan memperlihatkan sebuah gelang cantik dengan liontin putih berbentuk hati.
“Ibu, gelang ini cantik sekali. Alina rasa gelang ini tidak cocok diberikan kepada Alina,” tutur Alina menolak secara halus gelang pemberian Sang Ibu Mertua.
“Tolong jangan pernah menolak pemberian Ibu ya Alina,” pinta Ibu Nur yang terlihat sedih mendengar penolakan Alina.
Alina akhirnya menerima gelang cantik tersebut. Ibu Nur pun akhirnya tersenyum bahagia.
“Cantik sekali,” puji Ibu Nur setelah menyematkan gelang tersebut ke tangan Alina.
“Terima kasih, Ibu,” ucap Alina yang lega melihat senyum manis Sang Ibu Mertua.
Tak dapat dipungkiri, Alina merasa sangat nyaman dan juga bahagia mendapatkan sosok mertua yang luar biasa baiknya. Yang tentu saja sosok mertua seperti Ibu Nur dan Ayah Ismail, adalah sosok mertua yang sangat diidam-idamkan semua menantu.
“Alina boleh meluk Ibu?” tanya Alina meminta izin.
Ibu Nur menangis terharu seraya memeluk Alina Sang Menantu.
Beberapa Jam Kemudian.
Alina yang sedang menata pakaiannya untuk dimasukkan ke dalam almari pakaian tiba-tiba saja terganggu dengan suara dering ponsel milik Hafiz.
“Jangan sentuh ponselku!”
Suara Hafiz mengejutkan Alina dan saat itu juga Alina melangkah mundur. Sementara Hafiz mengambil ponselnya dan berjalan menuju balkon kamar.
“Siapa juga yang ingin menyentuh ponsel Mas Hafiz,” gumam Alina.
Alina melirik sekilas Hafiz yang begitu serius dengan si penelepon.
“Mas sudah makan, imah. Kamu jangan lupa minum obat,” ucap Hafiz pada si penelepon.
Imah? Apakah itu wanita yang bernama Fatimah? Cara bicaranya lembut sekali. (Batin Alina)
Alina menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan secara perlahan.
“Mas Hafiz!” Alina memanggil Hafiz setengah berteriak dan saat itu juga Hafiz mengakhiri sambungan telepon.
Hafiz datang menghampiri Alina, mengira sesuatu hal terjadi kepada istrinya.
“Kamu kenapa, Alina?” tanya Hafiz khawatir.
“Tidak ada apa-apa, tadi ada kecoa lewat,” jawab Alina dingin.
Setelah mengatakan hal itu, Alina masuk ke dalam kamar mandi dengan suara pintu yang ditutup cukup keras.
Hafiz pun berusaha menemukan kecoa yang dimaksud Alina dengan terheran-heran.
“Kecoa dari mana datangnya? Selama ini kamarku selalu bersih,” ucap Hafiz.
Sekitar 10 menit lamanya, Alina keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terbalut oleh handuk.
“Astaghfirullah,” ucap Hafiz terkejut melihat Alina dengan berani keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk.
“Mas kenapa istighfar? Bukankah kita sudah sah menjadi suami istri?” tanya Alina.
Alina sendiri sangat malu dengan tingkahnya itu yang menurutnya sangatlah murahan. Akan tetapi, Alina harus membuat jauh-jauh rasa malunya karena ia ingin membuat seorang Hafiz gelisah.
Hafizah mengatur napasnya dan buru-buru keluar kamar.
“Mas Hafiz!” panggil Alina ketika melihat Hafiz yang hendak keluar dari kamar.
Hafiz menarik napas dalam-dalam dan akhirnya keluar kamar tanpa menoleh sedikit ke arah Alina.
“Alina kamu menggelikan,” ucap Alina sambil mengunci pintu kamar dan berteriak jijik dengan kelakuannya yang sungguh tidak terduga itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 67 Episodes
Comments
Maulana ya_Rohman
demi untuk menarik perhatian Hafiz... tp gagal😟😟😟😢
2023-08-29
0