Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan

Alina menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur seraya menyadarkan dirinya bahwa apa yang ia lakukan adalah salah. Jika sampai dirinya pulang, kedua orang tuanya tentu saja sangat sedih sekaligus kecewa.

“Alina tidak ingin bicara dengan Mas,” ucap Alina.

Hafiz hanya bisa mengikuti keinginan Alina dan perlahan ingin pergi meninggalkan Alina seorang diri di dalam kamar.

“Assalamu'alaikum,” ucap Ayah Ismail dan Ibu Nur yang telah kembali.

“Wa'alaikumsalam,” jawab Hafiz seraya menghampiri kedua orang tuanya.

“Alina mana?” tanya Ibu Nur yang tak melihat Alina.

“Sedang di kamar, Bu. Sedang istirahat,” jawab Hafiz.

“Apa sedang tidur? Kalau sudah bangun, tolong berikan roti ini. Ini roti rasanya sangat enak, di dalamnya ada cokelat yang lumer dan bikin nagih,” ucap Ibu Nur yang sangat antusias bila nanti Alina memakan roti yang ia beli.

Ayah Ismail dan Ibu Nur bergegas masuk ke dalam kamar untuk beristirahat, setelah seharian bekerja.

“Mbok Yem mendengar pertengkaran kami?” tanya Hafiz lirih agar tak terdengar oleh kedua orang tuanya.

Mbok Yem mengangguk pelan, yang artinya ia mendengar pertengkaran antara Alina dan Hafiz.

“Tolong untuk tidak menceritakan pertengkaran kami kepada Ayah dan Ibu,” pinta Hafiz.

Mbok Yem menjelaskan bahwa dirinya tidak akan pernah menceritakan pertengkaran tersebut dan memilih untuk melupakannya.

Hafiz bernapas lega mendengar penjelasan Mbok Yem dan tak lupa mengucapkan terima kasih.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam, sementara Alina belum juga keluar dari kamar. Untungnya, Ibu Nur maupun Ayah Ismail tidak memaksa Alina untuk keluar dari kamar.

“Hafiz, istri kamu sakit? Apa sudah makan?” tanya Ibu Nur.

“Ibu jangan khawatir ya,” jawab Hafiz dan bergegas masuk ke dalam kamar seraya membawa roti isi cokelat dan susu hangat.

Di dalam kamar, rupanya Alina sudah bangun dari tidurnya yang cukup panjang. Dan saat itu, Alina sedang berada di dalam kamar mandi.

Hafiz pun memutuskan untuk berada di dalam kamar menunggu Alina selesai dari kamar mandi.

“Alina, makan lah. Kamu dari tadi siang sampai malam belum makan,” ucap Hafiz pada Alina yang sudah keluar dari kamar mandi.

Alina hanya menggelengkan kepalanya sambil terus melangkah menuju tempat tidur.

“Kamu masih marah ya sama Mas?” tanya Hafiz.

Hafiz sangat bingung menghadapi sikap Alina, karena sebelumnya pun dirinya tidak pernah menghadapi wanita yang sedang ngambek. Bahkan, Hafiz merasa bahwa hanya Alina lah yang membuatnya bingung tujuh keliling.

Hafiz naik ke tempat tidur mencoba membujuk Alina agar mau makan. Bukannya luluh, Alina justru pindah tempat tidur. Yaitu, tidur di sofa.

“Assalamu'alaikum, Intan. Kapan kamu pulang? Bukannya kata kamu malam ini pulang?” tanya Hafiz yang sedang berbicara dengan Sang Adik.

Setelah hampir 5 menit perbincangan keduanya melalui telepon, Hafiz pun mengakhiri panggilan telepon tersebut. Kemudian, fokus membujuk Alina yang terus saja diam.

“Jangan ganggu Alina, kalau sampai Mas ganggu Alina lagi. Malam ini juga Alina akan pulang,” ucap Alina yang posisinya saat itu membelakangi Hafiz.

Saat itu juga Hafiz memutuskan untuk diam, mengikuti keinginan Alina.

Keesokan Pagi.

Pagi-pagi buta Alina sudah berangkat ke kampus, hal itu sengaja Alina lakukan untuk menghindari Hafiz.

Perkataan Hafiz kemarin masih membekas dibenaknya dan entah kenapa Alina merasa kalau Hafiz memang tak pernah menganggap pernikahan tersebut terjadi.

Sesampainya di kampus, Alina memutuskan untuk segera masuk ke kelas. Padahal pagi itu kampus bisa dikatakan masih sangat sepi.

Alina masuk ke dalam kelas yang masih kosong sambil mendengarkan musik untuk menghempaskan keheningan di kelas itu.

“Alina,” ucap seorang pria sambil menepuk punggung Alina.

Alina pun menoleh mendengar namanya dipanggil.

Saat tahu siapa pria yang memanggil namanya, seketika itu juga Alina memutar mata jengah.

“Masih marah?” tanya Hafiz sambil berjalan mendekati Alina.

Alina tetap bungkam dan melangkah mundur, menjauh dari Hafiz.

“Alina,” ucap Larasati dengan suara yang cukup nyaring.

Larasati memandangi Alina dan Hafiz dengan penuh curiga.

“Pak Hafiz ngapain ke sini?” tanya Larasati terheran-heran.

“Ada barang yang tertinggal kemarin, memang Bapak tidak boleh datang ke kelas ini?” tanya Hafiz sambil melangkah pergi.

Ucapan Hafiz tidaklah salah, maka dari itu kecurigaan Larasati hilang begitu saja.

“Alina, kamu kok tumben berangkat sepagi ini?” tanya Larasati penasaran.

“Aku juga tidak tahu,” jawab Alina seraya tertawa.

“Mumpung masih sepi, boleh dong minta ajarin rumus yang kemarin?”

“Kamu bawa bukunya? Ayo Aku ajarin sampai bisa!” seru Alina.

Hafiz berjalan menuju ruang Dosen dan ketika hendak masuk ke dalam, seorang wanita memanggil dirinya.

“Hafiz!” panggil wanita berkerudung kuning kecokelatan.

Hafiz menoleh seraya tersenyum ketika tahu bahwa wanita berkerudung itu adalah Fatimah.

“Ibuku membuat bolu kukus cukup banyak dan membagikannya untukmu,” ucap Fatimah sambil menyerahkan kotak bekal berisi bolu kukus.

“Imah, kamu tidak perlu repot-repot,” balas Hafiz seraya menerima bolu kukus pemberian Fatimah.

“Repot bagaimana? Arah tempat ku mengejar searah dengan kampus. Jangan lupa dihabiskan ya, nanti siang Aku akan datang lagi.”

Fatimah pun pergi dengan memberikan senyum terbaiknya dan dibalas oleh Hafiz dengan sebuah lambaian tangan.

Tak diduga Alina lagi-lagi melihat suaminya tersenyum dengan wanita bernama Fatimah. Namun, kali ini Alina terlihat acuh tak acuh dengan keduanya.

“Alina, kok malah bengong? Ayo temani Aku ke area parkir, uangku tertinggal di jok motor,” ucap Larasati sambil menarik tangan Alina.

Setelah menemani Larasati mengambil uang, Alina meminta Larasati untuk pergi ke kelas terlebih dahulu. Sementara dirinya ada urusan penting dengan Hafiz.

“Kamu yakin ke ruang dosen sendirian? Tidak perlu Aku temani?” tanya Larasati memastikan.

“Tidak perlu, lagipula Aku hanya sebentar,” jawab Alina.

Alina kemudian melangkahkan kakinya menuju ruang dosen untuk menghampiri suaminya.

“Alina, kamu sudah tidak marah dengan Mas?” tanya Hafiz ketika melihat Alina yang sudah berdiri di hadapannya.

“Saya hanya minta sama Mas Hafiz untuk menjaga sikap dan juga ucapan selama kita masih berstatus suami istri,” tegas Alina.

Setelah mengatakan kalimat tersebut, Alina pergi dengan penuh percaya diri. Untungnya, percakapan keduanya tidak didengar oleh dosen yang lain.

“Hai, kamu Alina ya?” tanya seorang pria yang mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna hijau hitam.

“Ya, ada apa ya Kak?” tanya Alina.

Pria itu tersenyum dan membagikan sebuah brosur kepada Alina. Kemudian, meminta Alina untuk mengikuti salah satu kegiatan kampus yang diadakan setiap tahunnya.

“Terima kasih, Kak,” ucap Alina.

Alina tidak terlalu menghiraukan ucapan pria itu, karena yang ia pikirkan saat itu adalah segera sampai ke kelas.

“Cantik banget,” puji pria itu ketika melihat Alina secara dekat.

Terpopuler

Comments

Maulana ya_Rohman

Maulana ya_Rohman

knp macet up nya ya🤔🤔🤔🤔

2023-09-11

0

Maulana ya_Rohman

Maulana ya_Rohman

kok blm up lagi thor🤔🤔🤔🤔🤔🤔

2023-09-05

0

Maulana ya_Rohman

Maulana ya_Rohman

knp sam istri sendiri cuek bebek.... sma Fatimah senyumin ajah😤😤😤😤😤

2023-08-31

0

lihat semua
Episodes
1 Syukuran Kelulusan
2 Pertemuan Dua Keluarga
3 Alasan Pertemuan Dua Keluarga
4 Akhirnya Menikah
5 Jaga Batasan
6 Saling Acuh Tak Acuh
7 Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz
8 Hadiah Kecil Dari Mertua Tercinta
9 Melihat Suami Bersama Wanita Lain
10 Primadona Kampus
11 Marahnya Seorang Alina
12 Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan
13 Perhatian Kecil Hafiz Untuk Alina
14 Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang
15 Pulangnya Intan Alwi
16 Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar
17 Insiden Di Dapur
18 Fatimah Meminta Kejelasan Status
19 Hafiz Dinas Ke Yogyakarta
20 Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin
21 Serba Salah
22 Tragedi Truk Terbalik
23 Berhutang Budi Pada Sang Penyelamat
24 Alina Sama Sekali Tidak Diperhatikan
25 Fatimah Melihat Sang Penyelamat
26 Perjanjian 100 Hari
27 Datangnya Hafiz Tanpa Pemberitahuan
28 Sikap Alina Yang Mendadak Berubah
29 Berpisah Untuk Sementara Waktu
30 Makan Siang Bersama
31 Fatimah Tidak Ingin Melepaskan Hafiz
32 Melepas Penat Di Kota Malang
33 Hafiz Mulai Kagum Dengan Sosok Alina
34 Tak Ingin Berharap Banyak
35 Datang Menyapa Alina
36 Selamat Jalan Ibu Nur
37 Sikap Hafiz Mendadak Berubah
38 Mimpi Dibalik Perubahan Sikap Hafiz
39 Alina Ingin Bercerai
40 Berusaha Menjadi Suami Yang Baik
41 Banyak Mengucap Istighfar
42 Kami Adalah Suami Istri
43 Banyak Pro Dan Kontra
44 Fatimah Tak Bisa Menghubungi Hafiz
45 Hafiz Mulai Bingung Dengan Perasaannya
46 Akhirnya Ayah Ismail Siuman
47 Hafiz Terpaksa Mengusir Fatimah
48 Penjelasan Hafiz Pada Alina
49 Pertengkaran Tak Dapat Terelakkan
50 Fatimah Tak Rela Dan Takkan Merelakan Hafiz
51 Menjadi Suami Istri Seutuhnya
52 Hafiz Datang Menemui Fatimah Di Rumah Sakit
53 Cerai!!
54 Hafiz Dan Fatimah Pergi Bersama Mencari Alina
55 Alina Melihat Kedekatan Hafiz Dan Fatimah
56 Bagaikan Hilang Ditelan Bumi
57 Hafiz Mengungkapkan Hubungannya
58 Alina Menenangkan Diri Di Ponorogo
59 Hafiz Menyusul Alina Ke Ponorogo
60 Salah Paham Yang Terselesaikan
61 Fatimah Enggan Mengakui Kesalahannya
62 Alina Akhirnya Kembali Ke Jakarta
63 Berbadan Dua
64 Ibu Nunuk Datang Menemui Alina Dan Hafiz
65 Alina Dan Hafiz Memutuskan Menemui Fatimah
66 Kecelakaan Beruntun
67 Happy Ending
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Syukuran Kelulusan
2
Pertemuan Dua Keluarga
3
Alasan Pertemuan Dua Keluarga
4
Akhirnya Menikah
5
Jaga Batasan
6
Saling Acuh Tak Acuh
7
Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz
8
Hadiah Kecil Dari Mertua Tercinta
9
Melihat Suami Bersama Wanita Lain
10
Primadona Kampus
11
Marahnya Seorang Alina
12
Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan
13
Perhatian Kecil Hafiz Untuk Alina
14
Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang
15
Pulangnya Intan Alwi
16
Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar
17
Insiden Di Dapur
18
Fatimah Meminta Kejelasan Status
19
Hafiz Dinas Ke Yogyakarta
20
Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin
21
Serba Salah
22
Tragedi Truk Terbalik
23
Berhutang Budi Pada Sang Penyelamat
24
Alina Sama Sekali Tidak Diperhatikan
25
Fatimah Melihat Sang Penyelamat
26
Perjanjian 100 Hari
27
Datangnya Hafiz Tanpa Pemberitahuan
28
Sikap Alina Yang Mendadak Berubah
29
Berpisah Untuk Sementara Waktu
30
Makan Siang Bersama
31
Fatimah Tidak Ingin Melepaskan Hafiz
32
Melepas Penat Di Kota Malang
33
Hafiz Mulai Kagum Dengan Sosok Alina
34
Tak Ingin Berharap Banyak
35
Datang Menyapa Alina
36
Selamat Jalan Ibu Nur
37
Sikap Hafiz Mendadak Berubah
38
Mimpi Dibalik Perubahan Sikap Hafiz
39
Alina Ingin Bercerai
40
Berusaha Menjadi Suami Yang Baik
41
Banyak Mengucap Istighfar
42
Kami Adalah Suami Istri
43
Banyak Pro Dan Kontra
44
Fatimah Tak Bisa Menghubungi Hafiz
45
Hafiz Mulai Bingung Dengan Perasaannya
46
Akhirnya Ayah Ismail Siuman
47
Hafiz Terpaksa Mengusir Fatimah
48
Penjelasan Hafiz Pada Alina
49
Pertengkaran Tak Dapat Terelakkan
50
Fatimah Tak Rela Dan Takkan Merelakan Hafiz
51
Menjadi Suami Istri Seutuhnya
52
Hafiz Datang Menemui Fatimah Di Rumah Sakit
53
Cerai!!
54
Hafiz Dan Fatimah Pergi Bersama Mencari Alina
55
Alina Melihat Kedekatan Hafiz Dan Fatimah
56
Bagaikan Hilang Ditelan Bumi
57
Hafiz Mengungkapkan Hubungannya
58
Alina Menenangkan Diri Di Ponorogo
59
Hafiz Menyusul Alina Ke Ponorogo
60
Salah Paham Yang Terselesaikan
61
Fatimah Enggan Mengakui Kesalahannya
62
Alina Akhirnya Kembali Ke Jakarta
63
Berbadan Dua
64
Ibu Nunuk Datang Menemui Alina Dan Hafiz
65
Alina Dan Hafiz Memutuskan Menemui Fatimah
66
Kecelakaan Beruntun
67
Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!