Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz

Pagi Hari.

Ibu Nur dan Ayah Ismail datang berkunjung ke rumah keluarga Alina, dengan niat untuk mengajak Alina tinggal di rumah mereka. Mereka berharap Alina mau diboyong ke rumah untuk sementara waktu.

“Alina,” ucap Ibu Nur menyapa menantunya seraya memeluk Sang menantu.

“Ibu apa kabar?” tanya Alina yang juga memeluk Sang Ibu Mertua.

“Alhamdulillah baik. Bagaimana dengan suamimu? Apakah dia nampak kaku?” tanya Ibu Nur penasaran.

Alina hanya tersenyum mendengar pertanyaan Ibu Nur.

Ibu Desi datang menghampiri keduanya yang hanya berdiri di depan teras rumah.

“Kenapa malah berdiri di depan? Ayo masuk!” Ibu Desi menggandeng tangan keduanya untuk segera duduk manis di ruang tamu.

Mereka bertiga pun duduk di ruang tamu, sementara para pria duduk di ruang keluarga.

“Nak Alina, boleh Ibu tanya sesuatu?” tanya Ibu Nur Sang Mertua.

“Silakan, Ibu ingin bertanya apa?” tanya Alina yang duduk ditengah para Ibu.

“Kalau untuk sementara ini, bagaimana jika Alina tinggal di rumah kami? Di sana Alina tidak perlu khawatir, semua kebutuhan Alina akan kami cukupi,” terang Ibu Nur sambil merangkul pundak Sang Menantu.

Apa? Bagaimana bisa Aku tinggal di rumah keluarga Mas Hafiz? Sedangkan hubunganku dengannya tak baik. (Batin Alina)

“Alina keberatan ya dengan ajakan Ibu?” tanya Ibu Nur yang masih merangkul pundak Alina.

“Alina mau, Bu,” jawab Alina yang keluar begitu saja dari mulutnya.

Ibu Nur tersenyum lebar seraya memeluk Alina. Sementara Ibu Desi sedikit keberatan dengan ajakan dari Sang Besan. Akan tetapi, Ibu Desi memilih untuk tetap tenang karena bagaimanapun Alina sudah menjadi seorang istri sekaligus menantu.

“Desi, kamu tidak keberatan to?” tanya Ibu Nur.

“Sedikit, tapi tidak masalah. Lagipula, kami bisa main ke rumah besan,” jawab Ibu Desi seraya tertawa.

Para pria kemudian datang dan ikut bergabung di ruang tamu.

“Mas Hafiz, Alina boleh minta tolong?” tanya Alina pada Hafiz yang hendak duduk.

“Apa?” tanya Hafiz.

Alina tersenyum dan menggandeng tangan Hafiz menuju kamar.

Para orang tua hanya bisa tersenyum melihat kedekatan putra putri mereka.

“Alina, kenapa kamu mengajakku ke kamar? Apa yang ingin kamu lakukan?” tanya Hafiz sambil menepis tangan Alina yang sebelumnya menggandeng tangannya.

“Ibu Nur meminta Alina untuk tinggal di rumah keluarga Mas Hafiz. Apakah ini salah satu keinginan Mas?” tanya Alina penasaran.

Hafiz tertawa mendengar pertanyaan Alina yang cukup menggelikan telinganya.

“Apa kamu sedang bergurau? Atau kamu memang sedang mengalami gangguan jiwa?”

Setelah mengatakan kalimat itu, Hafiz pergi meninggalkan Alina dan kembali bergabung dengan para orang tua.

“Hafiz, mana Alina?” tanya Ibu Nur ketika melihat putranya kembali seorang diri tanpa ada Alina yang mengikuti.

“Sebentar lagi Alina juga ke sini, Bu,” jawab Hafiz.

Tak berselang lama Alina datang dengan senyum diwajahnya.

***

Beberapa jam kemudian.

Alina telah selesai mengemasi pakaiannya yang akan dibawa menuju kediaman keluarga Hafiz. Entah kenapa, Alina merasa cukup senang karena akan tinggal di rumah keluarga barunya. Meskipun, Hafiz menunjukkan raut wajah kurang bersahabat.

“Sini, biar aku saja,” ucap Hafiz menarik koper milik Alina dan membawanya menuju mobil.

Alina tak berkomentar ataupun mengucapkan terima kasih. Ia memilih diam daripada harus berbicara kepada Hafiz.

Koper dan barang keperluan Alina telah masuk ke dalam mobil. Saatnya bagi Alina untuk berpamitan pada kedua orang tuanya.

“Ayah, Ibu. Alina pamit ya,” ucap Alina dengan mata berkaca-kaca.

Ibu Desi hanya menganggukkan kepalanya sambil menahan air mata untuk melepas kepergian Alina yang akan tinggal di rumah keluarga barunya.

Mereka berpelukan satu sama lain dan akhirnya berpisah untuk sementara waktu.

Selama perjalanan menuju rumah keluarga Hafiz, Alina banyak diam dan hanya menunduk sedih.

“Alina kenapa diam saja?” tanya Ibu Nur.

“Alina mengantuk, Bu,” jawab Alina berbohong.

Ibu Desi mempersilakan Alina untuk tidur dan tanpa pikir panjang Alina bergegas memejamkan matanya.

Meskipun Alina sebenarnya tidak mengantuk, akan tetapi Alina terus saja memejamkan matanya berharap kantuk segera datang padanya.

Hampir setengah jam, akhirnya Alina bisa terlelap dan tak sengaja kepalanya menyender di bahubahu Hafiz.

Hafiz menunjukkan gerakan tubuh tak suka dan tanpa pikir panjang, Hafiz memindahkan kepala Alina agar menyender di pintu mobil.

***

Tibalah mereka di kediaman keluarga Hafiz dan saat itu juga Hafiz membangunkan Alina.

Alina terbangun dan reflek mendorong tubuh Hafiz yang dikiranya ingin berbuat hal yang tidak-tidak.

“Jangan dekat,” ucap Alina pada Hafiz.

Untungnya di dalam mobil itu hanya menyisakan mereka berdua, karena Ayah dan Ibu sudah lebih dulu keluar dari mobil.

“Kamu berpikir apa tentangku? Aku hanya ingin membangunkan mu karena kita sudah sampai,” terang Hafiz dan bergegas keluar.

Alina menghela napas panjang dan perlahan turun untuk menyusul Hafiz yang lebih dulu masuk ke dalam rumah.

Rumah ini ternyata cukup luas dari yang kubayangkan. (Batin Alina)

“Awww.” Alina tak sengaja menabrak punggung Hafiz yang berada di depannya.

“Perhatikan langkahmu, Alina,” ucap Hafiz sambil setengah menoleh.

“Maaf,” balas Alina lirih dan bergegas melangkah mundur sebanyak 3 kali.

Hafiz hanya membalas ucapan Alina dengan deheman dan kembali melanjutkan langkahnya masuk ke dalam kamar.

“Selama tinggal di kamar ini, kita akan tidur seranjang. Tapi, tetap harus ada batasannya,” terang Hafiz sambil menunjuk ke arah tempat tidur miliknya.

“Masalah tempat tidur, Alina lebih baik tidur di bawah saja,” balas Alina yang enggan tidur seranjang dengan Hafiz.

“Jangan banyak bicara, lakukan saja apa yang Aku katakan,” tegas Hafiz.

Alina terdiam sejenak, sambil berpikir mengenai dirinya dan Hafiz yang akan tidur seranjang dari kurun waktu yang entah berapa lama.

“Tidak usah banyak berpikir,” celetuk Hafiz sambil berjalan keluar kamar setelah meletakkan koper milik Alina.

Alina yang kesal yang bisa melampiaskan kemarahannya dengan cara memukuli bantal Hafiz sambil membayangkan wajah Hafiz yang teramat menjengkelkan.

“Dari pria menjengkelkan, menyebalkan, jelek dan egois,” ucap Alina sambil terus memukul bantal.

“Teruskan saja, Aku mendengar semuanya,” ucap Hafiz yang sudah berdiri di tengah pintu dengan posisi melipat tangan di depan dada.

“Akhh!” Alina terkejut dan reflek melempar bantal menjauh dari dirinya.

Hafiz berjalan tegap ke arah Alina dan Alina pun reflek melangkah mundur hingga tubuh keduanya saling bersentuhan dan hanya menyisakan jarak pandang kurang dari 10 cm.

“Pukulah Aku seperti kamu memukul bantal itu. Jika itu membuat emosi mu tersalurkan dengan baik,” ucap Hafiz lirih.

Alina hanya bisa diam sambil menunduk ketakutan.

“Kenapa diam?” tanya Hafiz pada Alina.

“Maaf,” ucap Alina dan sekuat tenaga mendorong Hafiz agar menjauh darinya. Kemudian, Alina berlari secepat mungkin menjauh dari Hafiz.

Terpopuler

Comments

Maulana ya_Rohman

Maulana ya_Rohman

lanjut lagi thor......
sekarang jarang up nya ya thor🤔🤔🤔🤔

2023-08-28

0

lihat semua
Episodes
1 Syukuran Kelulusan
2 Pertemuan Dua Keluarga
3 Alasan Pertemuan Dua Keluarga
4 Akhirnya Menikah
5 Jaga Batasan
6 Saling Acuh Tak Acuh
7 Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz
8 Hadiah Kecil Dari Mertua Tercinta
9 Melihat Suami Bersama Wanita Lain
10 Primadona Kampus
11 Marahnya Seorang Alina
12 Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan
13 Perhatian Kecil Hafiz Untuk Alina
14 Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang
15 Pulangnya Intan Alwi
16 Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar
17 Insiden Di Dapur
18 Fatimah Meminta Kejelasan Status
19 Hafiz Dinas Ke Yogyakarta
20 Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin
21 Serba Salah
22 Tragedi Truk Terbalik
23 Berhutang Budi Pada Sang Penyelamat
24 Alina Sama Sekali Tidak Diperhatikan
25 Fatimah Melihat Sang Penyelamat
26 Perjanjian 100 Hari
27 Datangnya Hafiz Tanpa Pemberitahuan
28 Sikap Alina Yang Mendadak Berubah
29 Berpisah Untuk Sementara Waktu
30 Makan Siang Bersama
31 Fatimah Tidak Ingin Melepaskan Hafiz
32 Melepas Penat Di Kota Malang
33 Hafiz Mulai Kagum Dengan Sosok Alina
34 Tak Ingin Berharap Banyak
35 Datang Menyapa Alina
36 Selamat Jalan Ibu Nur
37 Sikap Hafiz Mendadak Berubah
38 Mimpi Dibalik Perubahan Sikap Hafiz
39 Alina Ingin Bercerai
40 Berusaha Menjadi Suami Yang Baik
41 Banyak Mengucap Istighfar
42 Kami Adalah Suami Istri
43 Banyak Pro Dan Kontra
44 Fatimah Tak Bisa Menghubungi Hafiz
45 Hafiz Mulai Bingung Dengan Perasaannya
46 Akhirnya Ayah Ismail Siuman
47 Hafiz Terpaksa Mengusir Fatimah
48 Penjelasan Hafiz Pada Alina
49 Pertengkaran Tak Dapat Terelakkan
50 Fatimah Tak Rela Dan Takkan Merelakan Hafiz
51 Menjadi Suami Istri Seutuhnya
52 Hafiz Datang Menemui Fatimah Di Rumah Sakit
53 Cerai!!
54 Hafiz Dan Fatimah Pergi Bersama Mencari Alina
55 Alina Melihat Kedekatan Hafiz Dan Fatimah
56 Bagaikan Hilang Ditelan Bumi
57 Hafiz Mengungkapkan Hubungannya
58 Alina Menenangkan Diri Di Ponorogo
59 Hafiz Menyusul Alina Ke Ponorogo
60 Salah Paham Yang Terselesaikan
61 Fatimah Enggan Mengakui Kesalahannya
62 Alina Akhirnya Kembali Ke Jakarta
63 Berbadan Dua
64 Ibu Nunuk Datang Menemui Alina Dan Hafiz
65 Alina Dan Hafiz Memutuskan Menemui Fatimah
66 Kecelakaan Beruntun
67 Happy Ending
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Syukuran Kelulusan
2
Pertemuan Dua Keluarga
3
Alasan Pertemuan Dua Keluarga
4
Akhirnya Menikah
5
Jaga Batasan
6
Saling Acuh Tak Acuh
7
Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz
8
Hadiah Kecil Dari Mertua Tercinta
9
Melihat Suami Bersama Wanita Lain
10
Primadona Kampus
11
Marahnya Seorang Alina
12
Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan
13
Perhatian Kecil Hafiz Untuk Alina
14
Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang
15
Pulangnya Intan Alwi
16
Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar
17
Insiden Di Dapur
18
Fatimah Meminta Kejelasan Status
19
Hafiz Dinas Ke Yogyakarta
20
Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin
21
Serba Salah
22
Tragedi Truk Terbalik
23
Berhutang Budi Pada Sang Penyelamat
24
Alina Sama Sekali Tidak Diperhatikan
25
Fatimah Melihat Sang Penyelamat
26
Perjanjian 100 Hari
27
Datangnya Hafiz Tanpa Pemberitahuan
28
Sikap Alina Yang Mendadak Berubah
29
Berpisah Untuk Sementara Waktu
30
Makan Siang Bersama
31
Fatimah Tidak Ingin Melepaskan Hafiz
32
Melepas Penat Di Kota Malang
33
Hafiz Mulai Kagum Dengan Sosok Alina
34
Tak Ingin Berharap Banyak
35
Datang Menyapa Alina
36
Selamat Jalan Ibu Nur
37
Sikap Hafiz Mendadak Berubah
38
Mimpi Dibalik Perubahan Sikap Hafiz
39
Alina Ingin Bercerai
40
Berusaha Menjadi Suami Yang Baik
41
Banyak Mengucap Istighfar
42
Kami Adalah Suami Istri
43
Banyak Pro Dan Kontra
44
Fatimah Tak Bisa Menghubungi Hafiz
45
Hafiz Mulai Bingung Dengan Perasaannya
46
Akhirnya Ayah Ismail Siuman
47
Hafiz Terpaksa Mengusir Fatimah
48
Penjelasan Hafiz Pada Alina
49
Pertengkaran Tak Dapat Terelakkan
50
Fatimah Tak Rela Dan Takkan Merelakan Hafiz
51
Menjadi Suami Istri Seutuhnya
52
Hafiz Datang Menemui Fatimah Di Rumah Sakit
53
Cerai!!
54
Hafiz Dan Fatimah Pergi Bersama Mencari Alina
55
Alina Melihat Kedekatan Hafiz Dan Fatimah
56
Bagaikan Hilang Ditelan Bumi
57
Hafiz Mengungkapkan Hubungannya
58
Alina Menenangkan Diri Di Ponorogo
59
Hafiz Menyusul Alina Ke Ponorogo
60
Salah Paham Yang Terselesaikan
61
Fatimah Enggan Mengakui Kesalahannya
62
Alina Akhirnya Kembali Ke Jakarta
63
Berbadan Dua
64
Ibu Nunuk Datang Menemui Alina Dan Hafiz
65
Alina Dan Hafiz Memutuskan Menemui Fatimah
66
Kecelakaan Beruntun
67
Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!