Pulangnya Intan Alwi

Rumah Keluarga Alina

Ketika Hafiz baru saja turun dari mobil, rupanya Sang Ayah Mertua sudah menunggunya di depan pintu rumah. Jantung Hafiz seketika itu berdetak kencang, ia cukup takut dengan sosok pria berumur 45 tahun itu.

“Assalamu'alaikum,” ucap Hafiz seraya menyalami tangan Ayah Bahri.

“Wa'alaikumsalam,” jawab Ayah Bahri sambil menepuk pundak Hafiz dan mempersilakan Sang Menantu untuk masuk ke dalam.

Hafiz tanpa pikir panjang masuk ke dalam dan ketika sudah duduk manis di sofa, barulah Hafiz meminta maaf karena datang terlambat dan tidak mengetahui bahwa Alina pulang ke rumah.

Ayah Bahri tidak marah sedikitpun, karena ia sangat memaklumi pekerjaan serta kesibukan Sang Menantu.

“Hafiz, kamu yang tenang. Ayah paham apa yang kamu katakan, lebih baik kamu beristirahatlah di kamar. Alina mungkin belum tidur,” ujar Ayah Bahri.

Hafiz tersenyum lega dan pamit untuk segera masuk ke dalam kamar menghampiri Alina.

“Mas Hafiz kenapa ke sini?” tanya Alina yang cukup terkejut melihat Hafiz masuk ke dalam kamar.

Hafiz meminta Alina untuk bicara pelan, karena ia tidak ingin mertuanya mendengar ucapan mereka berdua.

“Alina marah ya sama Mas? Kenapa tidak bilang kalau tidur di sini?” tanya Hafiz lirih.

“Maksud kedatangan Mas ke sini apa? Menyusul Alina pulang ke rumah Mas Hafiz?” tanya Alina sambil menarik selimut mengisyaratkan bahwa dirinya enggan untuk pulang ke rumah keluarga Hafiz.

“Tidak. Justru Mas ingin tidur di sini sama kamu,” jawab Hafiz sambil berjalan mendekat.

Alina hanya diam mendengar jawaban Hafiz, sementara Hafiz sudah naik ke tempat tidur.

“Kamu sudah makan?” tanya Hafiz.

Alina menjawab pertanyaan Hafiz dengan sebuah anggukan seraya turun dari tempat tidur.

“Kamu mau ke mana, Alina? Ngapain bawa bantal segala?” Hafiz menatap Alina dengan terheran-heran.

“Alina tidak ingin tidur seranjang dengan Mas. Maka dari itu Alina tidur di kasur bawah,” ucap Alina sambil menarik kasur sorong.

“Jangan, biar Mas saja tidur di kasur bawah. Sekarang Alina naik ya,” balas Hafiz dengan lembut.

“Ok,” sahut Alina singkat da merekapun saling bertukar tempat tidur.

Hafiz menghela napasnya yang tak beraturan seraya mencoba berpikir tenang.

“Mau berapa hari menginap di sini?” tanya Hafiz.

“Kenapa memangnya? Mas tidak betah berlama-lama di sini? Atau bagaimana?” Alina cukup kesal dengan pertanyaan Hafiz.

Hafiz mencoba menjelaskan dengan baik, bahwa dirinya siap-siap saja jika Alina ingin tinggal di rumah itu selama beberapa hari ke depan.

Mendengar penjelasan Hafiz, Alina tersenyum kecil. Rupanya Hafiz masih memiliki hati sebagai seorang suami.

“Alina beristirahatlah dulu, Mas ingin mandi dulu.”

Selagi Hafiz mandi, Alina menyibukkan diri menatap layar ponselnya. Ia terlihat sangat serius, rupanya gadis cantik itu tengah belajar.

Alina memiliki target untuk mendapatkan nilai yang sempurna dan mendapat gelar cumlaude di kampusnya. Bagaimanapun, Ia harus membuat orang-orang disekitarnya bangga terhadap dirinya.

Sampai Alina selesai belajar pun, Habis tak kunjung keluar dari kamar mandi dan hal itu cukup mencurigakan. Alina khawatir jika suaminya itu pingsan di dalam kamar mandi.

Ketika Alina hendak turun dari tempat tidur, Hafiz telah selesai mandi dan hanya mengenakan handuk. Alina yang tak sengaja menoleh, seketika itu memalingkan pandangannya.

“Kenapa belum tidur?” tanya Hafiz pada Alina yang masih saja terjaga.

“Ini sebentar lagi juga tidur,” jawab Alina yang kembali merebahkan tubuhnya dan dengan cepat menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

Hafiz tersenyum kecil melihat tingkah Alina dan buru-buru mengenakan pakaiannya, karena udara malam itu cukup dingin.

“Alina, kamu sudah tidur?” tanya Hafiz pada Alina yang masih menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

Alina tak menjawab, yang artinya bahwa gadis cantik itu telah tidur.

Saat Hafiz hendak merebahkan tubuhnya di kasur, ponselnya berbunyi dan rupanya Sang adik lah yang menelpon dirinya.

“Assalamu'alaikum, Intan,” ucap Hafiz pada Sang Adik.

“Wa'alaikumussalam, Mas Hafiz di mana? Intan baru saja tiba di rumah,” tutur Intan.

Hafiz menjelaskan bahwa dirinya belum bisa kembali menemui Intan, karena ia harus bermalam di rumah keluarga Alina. Intan sedikit kecewa dengan penjelasan Hafiz dan meminta Hafiz untuk segera kembali besok pagi.

“InsyaAllah ya Intan,” ucap Hafiz dan mengakhiri panggilan telepon.

***

Intan yang baru saja berkomunikasi dengan Hafiz, nampak sangat sedih. Ia ingin sekali menemui Hafiz dan berbagi cerita selama dirinya bersekolah di semarang.

“Sudah jangan sedih, lagipula Mas Hafiz sudah memiliki istri,” ucap Ibu Nur.

“Kenapa Ayah dan Ibu tidak memberitahu Intan, kalau Mas Hafiz sudah menikah?” tanya Intan kecewa.

“Kami bukan tidak ingin memberitahu kamu, Intan sayang. Tapi, di hari pernikahan Mas Hafiz dan Mbak Alina kamu sedang ada ujian sekolah,” ungkap Ayah Ismail.

“Apakah istri Mas Hafiz cantik? Cantik mana Intan dengan dia?” tanya Intan penasaran.

“Kalian berdua sama-sama cantik,” jawab Ibu Nur.

Intan tiba-tiba saja menangis, ia kesal mendengar jawaban Ibunya.

“Ibu harus pilih salah satu,” tegas Intan.

Ibu Nur tersenyum dan mengatakan bahwa Intan lah yang lebih cantik daripada Alina.

Mendengar hal itu, Intan tak lagi menangis dan memutuskan untuk beristirahat.

Ibu Nur dan Ayah Ismail hanya bisa menghela napas melihat sikap Intan yang tidak berbeda jauh dari sebelumnya.

“Putri kita kapan ya Mas menjadi dewasa? Sudah umur 15 tahun, tapi manjanya seperti anak SD,” tutur Ibu Nur.

“Kita harus banyak berdo'a dan banyak sabar menghadapi sikap Intan,” balas Ayah Ismail.

***

Keesokan Pagi.

Alina perlahan membuka matanya setelah Hafiz membuka jendela kamar dan sinar matahari pagi menyentuh kulit Alina.

“Bangun, sudah waktunya untuk mandi,” ucap Hafiz pada Alina.

“Mas Hafiz sudah mandi?” tanya Alina melihat Hafiz yang sudah rapi.

“Sudah, sekarang pergilah mandi. Kita harus segera sarapan dan berangkat ke kampus.”

“Apakah kita akan berangkat bersama?” tanya Alina memastikan.

“Tentu saja, Ayah dan Ibu akan curiga kalau kita tidak berangkat bersama,” jawab Hafiz.

Sebelum Alina pergi mandi, Hafiz memberitahukan Alina bahwa Adiknya sudah kembali ke rumah. Mendengar hal itu, Alina cukup senang dan penasaran dengan sosok adik iparnya.

“Apakah Alina boleh bertemu dengan Intan?” tanya Alina sangat antusias.

“Sepulang dari kampus, kita akan pulang untuk menemui Intan.”

Alina tersenyum senang, ia tak sabar ingin bertatap muka langsung dengan adik iparnya. Alina berharap bahwa dirinya dan Intan bisa menjadi teman baik.

Sesaat setelah Alina masuk ke dalam kamar mandi, Hafiz pun bergegas menghampiri orang tuanya yang sedang bersantai di ruang keluarga. Hafiz ingin berbincang-bincang kecil sebelum mereka sarapan bersama.

Episodes
1 Syukuran Kelulusan
2 Pertemuan Dua Keluarga
3 Alasan Pertemuan Dua Keluarga
4 Akhirnya Menikah
5 Jaga Batasan
6 Saling Acuh Tak Acuh
7 Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz
8 Hadiah Kecil Dari Mertua Tercinta
9 Melihat Suami Bersama Wanita Lain
10 Primadona Kampus
11 Marahnya Seorang Alina
12 Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan
13 Perhatian Kecil Hafiz Untuk Alina
14 Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang
15 Pulangnya Intan Alwi
16 Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar
17 Insiden Di Dapur
18 Fatimah Meminta Kejelasan Status
19 Hafiz Dinas Ke Yogyakarta
20 Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin
21 Serba Salah
22 Tragedi Truk Terbalik
23 Berhutang Budi Pada Sang Penyelamat
24 Alina Sama Sekali Tidak Diperhatikan
25 Fatimah Melihat Sang Penyelamat
26 Perjanjian 100 Hari
27 Datangnya Hafiz Tanpa Pemberitahuan
28 Sikap Alina Yang Mendadak Berubah
29 Berpisah Untuk Sementara Waktu
30 Makan Siang Bersama
31 Fatimah Tidak Ingin Melepaskan Hafiz
32 Melepas Penat Di Kota Malang
33 Hafiz Mulai Kagum Dengan Sosok Alina
34 Tak Ingin Berharap Banyak
35 Datang Menyapa Alina
36 Selamat Jalan Ibu Nur
37 Sikap Hafiz Mendadak Berubah
38 Mimpi Dibalik Perubahan Sikap Hafiz
39 Alina Ingin Bercerai
40 Berusaha Menjadi Suami Yang Baik
41 Banyak Mengucap Istighfar
42 Kami Adalah Suami Istri
43 Banyak Pro Dan Kontra
44 Fatimah Tak Bisa Menghubungi Hafiz
45 Hafiz Mulai Bingung Dengan Perasaannya
46 Akhirnya Ayah Ismail Siuman
47 Hafiz Terpaksa Mengusir Fatimah
48 Penjelasan Hafiz Pada Alina
49 Pertengkaran Tak Dapat Terelakkan
50 Fatimah Tak Rela Dan Takkan Merelakan Hafiz
51 Menjadi Suami Istri Seutuhnya
52 Hafiz Datang Menemui Fatimah Di Rumah Sakit
53 Cerai!!
54 Hafiz Dan Fatimah Pergi Bersama Mencari Alina
55 Alina Melihat Kedekatan Hafiz Dan Fatimah
56 Bagaikan Hilang Ditelan Bumi
57 Hafiz Mengungkapkan Hubungannya
58 Alina Menenangkan Diri Di Ponorogo
59 Hafiz Menyusul Alina Ke Ponorogo
60 Salah Paham Yang Terselesaikan
61 Fatimah Enggan Mengakui Kesalahannya
62 Alina Akhirnya Kembali Ke Jakarta
63 Berbadan Dua
64 Ibu Nunuk Datang Menemui Alina Dan Hafiz
65 Alina Dan Hafiz Memutuskan Menemui Fatimah
66 Kecelakaan Beruntun
67 Happy Ending
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Syukuran Kelulusan
2
Pertemuan Dua Keluarga
3
Alasan Pertemuan Dua Keluarga
4
Akhirnya Menikah
5
Jaga Batasan
6
Saling Acuh Tak Acuh
7
Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz
8
Hadiah Kecil Dari Mertua Tercinta
9
Melihat Suami Bersama Wanita Lain
10
Primadona Kampus
11
Marahnya Seorang Alina
12
Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan
13
Perhatian Kecil Hafiz Untuk Alina
14
Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang
15
Pulangnya Intan Alwi
16
Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar
17
Insiden Di Dapur
18
Fatimah Meminta Kejelasan Status
19
Hafiz Dinas Ke Yogyakarta
20
Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin
21
Serba Salah
22
Tragedi Truk Terbalik
23
Berhutang Budi Pada Sang Penyelamat
24
Alina Sama Sekali Tidak Diperhatikan
25
Fatimah Melihat Sang Penyelamat
26
Perjanjian 100 Hari
27
Datangnya Hafiz Tanpa Pemberitahuan
28
Sikap Alina Yang Mendadak Berubah
29
Berpisah Untuk Sementara Waktu
30
Makan Siang Bersama
31
Fatimah Tidak Ingin Melepaskan Hafiz
32
Melepas Penat Di Kota Malang
33
Hafiz Mulai Kagum Dengan Sosok Alina
34
Tak Ingin Berharap Banyak
35
Datang Menyapa Alina
36
Selamat Jalan Ibu Nur
37
Sikap Hafiz Mendadak Berubah
38
Mimpi Dibalik Perubahan Sikap Hafiz
39
Alina Ingin Bercerai
40
Berusaha Menjadi Suami Yang Baik
41
Banyak Mengucap Istighfar
42
Kami Adalah Suami Istri
43
Banyak Pro Dan Kontra
44
Fatimah Tak Bisa Menghubungi Hafiz
45
Hafiz Mulai Bingung Dengan Perasaannya
46
Akhirnya Ayah Ismail Siuman
47
Hafiz Terpaksa Mengusir Fatimah
48
Penjelasan Hafiz Pada Alina
49
Pertengkaran Tak Dapat Terelakkan
50
Fatimah Tak Rela Dan Takkan Merelakan Hafiz
51
Menjadi Suami Istri Seutuhnya
52
Hafiz Datang Menemui Fatimah Di Rumah Sakit
53
Cerai!!
54
Hafiz Dan Fatimah Pergi Bersama Mencari Alina
55
Alina Melihat Kedekatan Hafiz Dan Fatimah
56
Bagaikan Hilang Ditelan Bumi
57
Hafiz Mengungkapkan Hubungannya
58
Alina Menenangkan Diri Di Ponorogo
59
Hafiz Menyusul Alina Ke Ponorogo
60
Salah Paham Yang Terselesaikan
61
Fatimah Enggan Mengakui Kesalahannya
62
Alina Akhirnya Kembali Ke Jakarta
63
Berbadan Dua
64
Ibu Nunuk Datang Menemui Alina Dan Hafiz
65
Alina Dan Hafiz Memutuskan Menemui Fatimah
66
Kecelakaan Beruntun
67
Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!