Saling Acuh Tak Acuh

Seminggu sudah Hafiz berada di rumah keluarga Alina dan hubungan keduanya tidak memiliki kemajuan sedikitpun. Justru, hubungan keduanya semakin jauh karena selama seminggu itu keduanya tak berbicara sepatah katapun.

Jika mereka berbicara, itupun hanya di depan orang tua saja. Selebihnya, mereka memilih diam seribu bahasa.

Ayah Bahri dan Ibu Desi tak terlalu memusingkan hubungan keduanya, karena mereka yakin seiring berjalan waktu, keduanya akan jatuh cinta satu sama lain.

“Mas, Alina izin pergi siang ini untuk menemui Bu Wiwik, guru Alina,” ucap Alina meminta izin Hafiz.

“Ya,” balas Hafiz singkat.

Alina menghela napasnya dan mengambil tas selempang berwarna hitam miliknya yang tergantung. Kemudian, ia mengisi tasnya dengan ponsel dan dompet.

Alina pun keluar dari kamarnya untuk segera pergi menemui Ibu Wiwik.

“Alina, kamu mau kemana udah rapi begini?” tanya Sang Ibu.

“Alina ada janji dengan Bu Wiwik karena ada hal yang mau Alina bahas perkara beasiswa yang akan Alina ambil untuk melanjutkan study Alina,” terang Alina.

“Kamu pergi sendirian? Kok tidak diantar suamimu?” tanya Ibu Desi.

“Mas Hafiz tadi berniat untuk mengantarkan Alina, Ibu. Namun, Alina menolaknya,” jawab Alina berbohong.

“Mas antar Alina sekarang ya,” ucap Hafiz yang tiba-tiba muncul.

Alina menoleh dengan kaget melihat Hafiz yang sudah berganti pakaian dan memutuskan untuk mengantarkan dirinya.

“Ya sudah, kalian hati-hati ya di jalan,” sahut Ibu Desi.

Keduanya pun bergegas pergi untuk menemui Ibu Wiwik.

“Mas tidak perlu mengantarkan Alina. Lagipula, Alina bisa sendiri,” ujar Alina.

Seperti biasa, Hafiz akan diam seribu bahasa. Seakan tak mendengar apa yang Alina katakan.

“Mas, kita pergi ke rumah Bu Wiwik ya. Di jalan merdeka nomor 187,” terang Alina.

“Ya,” balas Hafiz singkat.

Ponsel milik Hafiz tiba-tiba saja berbunyi, Alina reflek menoleh ponsel tersebut yang bertuliskan nama “Fatimah”

“Assalamu'alaikum, iya Fatimah. Kamu di mana?” tanya Hafiz dengan suara yang sangat lembut.

Alina bahkan terkejut mendengar suara Hafiz yang sebelumnya tidak pernah dia dengar.

Hafiz mengakhiri panggilan telepon tersebut dan menepikan mobilnya secara tiba-tiba.

“Kamu pergi sendiri bisa, 'kan?” tanya Hafiz.

Alina terdiam sejenak, rasanya ia ingin tetap berada di dalam mobil.

“Bisa,” jawab Alina sambil menundukkan kepalanya.

Alina akhirnya turun dari mobil, padahal jarak menuju rumah Ibu Wiwik tidak sampai 200 meter.

Hafiz kembali mengemudikan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi yang mana hal itu membuat Alina kesal.

Siapa wanita bernama Fatimah itu? Apakah dia teman Mas Hafiz? Atau, apakah dia sedang mengalami kesulitan sehingga Mas Hafiz menurunkan ku begitu saja? (Batin Alina)

Banyak pertanyaan yang memenuhi isi kepala Alina. Namun, Alina bisa apa? Ia hanyalah seorang istri dari hasil perjodohan para orang tua.

“Ojek, Mbak?” tanya tukang ojek yang datang menghampiri Alina.

“Tolong antar saya ke jalan merdeka nomor 187 ya Pak!” pinta Alina sambil menaiki motor.

“Siap Mbak!” seru tukang ojek.

Sore Hari.

Hafiz lebih dulu sampai di rumah keluarga Alina dan rupanya Alina belum juga kembali. Hal itu, membuat kedua orang tua Alina mempertanyakan keberadaan Alina pada Hafiz yang sebelumnya mengantarkan Alina pergi menemui Ibu Wiwik.

“Alina mana, Nak Hafiz? Bukankah kalian tadi pergi bersama?” tanya Ayah Bahri.

Hafiz bingung harus menjawab apa, karena di sini dirinyalah yang bersalah.

“Assalamu'alaikum,” ucap Alina yang sudah berada di belakang Hafiz.

Mereka bertiga dengan kompak menoleh ke arah Alina.

“Wa'alaikumsalam,” sahut mereka.

“Alina tadi turun untuk membeli martabak telur di depan gang dan meminta Mas Hafiz untuk pulang duluan,” terang Alina.

Ayah dan Ibu hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar keterangan Alina.

“Ayah dan Ibu wajib coba martabak telur yang Alina beli di depan gang, rasanya dijamin bikin Ayah sama Ibu ketagihan,” ucap Alina sambil melangkah masuk ke dalam rumah.

Hafiz berjalan membuntuti Alina yang terus melangkahkan kaki menuju dapur.

“Mas kenapa mengikuti Alina sampai ke dapur?” tanya Alina sambil mengambil piring untuk meletakkan martabak telur yang ia beli di depan gang.

“Mana ponselmu?” tanya Hafiz.

Alina mengeluarkan ponselnya dan saat itu juga Hafiz mengambil ponsel tersebut.

“Apa kata sandinya?” tanya Hafiz.

“2209,” jawab Alina.

Hafiz berhasil membuka sandi ponsel Alina dan memasukkan nomor telepon miliknya.

“Simpan nomor ku,” ucap Hafiz dan melenggang pergi.

Alina acuh tak acuh dengan sikap Hafiz dan kembali memasukan ponselnya ke dalam saku celana. Kemudian, bergegas membawa martabak telur yang ia beli ke ruang depan agar bisa dinikmati oleh kedua orang tuanya.

“Alina, bagaimana beasiswa kamu?” tanya Ibu Desi ketika Alina sudah berada di ruang tamu membawa martabak telur.

“Alhamdulillah semuanya berjalan lancar, Ibu. Tapi, Alina masih bingung mengambil kampus yang mana. Soalnya, 3 kampus yang Alina ajukan semuanya menerima Alina,” jawab Alina bingung.

“Alina, pilih saja kampus terdekat ya sekiranya tidak jauh dari rumah,” ucap Ibu Desi.

“Dari 3 kampus itu, sebenarnya Alina sudah memilih kampus yang menurut Alina cocok. Do'akan Alina ya Bu, semoga semuanya berjalan lancar,” balas Alina.

“Iya sayang, Ibu pasti akan mendo'akan yang terbaik untuk kesayangan Ibu ini,” sahut Ibu Desi.

Ayah Bahri ikut mendo'akan kesuksesan putri tunggalnya dan berharap apa yang dicita-citakan Sang putri bisa terwujud.

“Ayah sama Ibu jangan lupa dimakan ya martabak telur yang Alina beli ini. Kalau perlu, habiskan dan jangan ada yang tersisa. Alina sekarang mau ke kamar, mau mandi sekalian ganti baju,” ucap Alina dan berlalu pergi.

Alina masuk ke dalam kamar dan melihat Hafiz yang sedang ganti pakaian. Dengan cepat Alina berbalik badan karena tidak ingin melihat apa yang tidak seharusnya ia lihat.

“Aku sudah selesai,” ucap Hafiz.

Alina kembali melanjutkan langkahnya tanpa ingin berbicara ataupun sekedar menyapa Hafiz.

“Cari apa?” tanya Hafiz ketika melihat Alina yang sibuk mencari sesuatu.

Alina tak menjawab, ia terus mencari barang miliknya.

Tak berselang lama, Alina menemukan jedai rambut miliknya.

“Sudah ketemu?” tanya Hafiz.

“Sudah,” jawab Alina dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi sambil membawa pakaiannya.

Hafiz acuh tak acuh dengan sikap Alina. Baginya Alina hanya seorang anak SMA yang tidak cocok untuk dijadikan seorang istri karena usia mereka yang terpaut cukup jauh.

Tak berselang lama Alina keluar dari kamar mandi dan sudah berpakaian lengkap.

“Mas bisa duduk tempat lain tidak? Alina mau mengeringkan rambut,” ucap Alina dengan rambut yang masih terbalut handuk.

Hafiz pun pindah dan memberikan tempat duduk tersebut untuk Alina.

“Terima kasih,” ucap Alina sambil mengambil Hair dryer miliknya yang ia simpan di dalam nakas.

Terpopuler

Comments

Maulana ya_Rohman

Maulana ya_Rohman

di intipin, tp blm di lanjut lagi 🤦🏻‍♀️

2023-08-14

0

Maulana ya_Rohman

Maulana ya_Rohman

k3napa up nya lama sekali ya thor🤔🤔🤔

2023-08-12

0

Maulana ya_Rohman

Maulana ya_Rohman

doubel up donk thor😢😢😢😢😢

2023-08-10

0

lihat semua
Episodes
1 Syukuran Kelulusan
2 Pertemuan Dua Keluarga
3 Alasan Pertemuan Dua Keluarga
4 Akhirnya Menikah
5 Jaga Batasan
6 Saling Acuh Tak Acuh
7 Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz
8 Hadiah Kecil Dari Mertua Tercinta
9 Melihat Suami Bersama Wanita Lain
10 Primadona Kampus
11 Marahnya Seorang Alina
12 Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan
13 Perhatian Kecil Hafiz Untuk Alina
14 Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang
15 Pulangnya Intan Alwi
16 Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar
17 Insiden Di Dapur
18 Fatimah Meminta Kejelasan Status
19 Hafiz Dinas Ke Yogyakarta
20 Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin
21 Serba Salah
22 Tragedi Truk Terbalik
23 Berhutang Budi Pada Sang Penyelamat
24 Alina Sama Sekali Tidak Diperhatikan
25 Fatimah Melihat Sang Penyelamat
26 Perjanjian 100 Hari
27 Datangnya Hafiz Tanpa Pemberitahuan
28 Sikap Alina Yang Mendadak Berubah
29 Berpisah Untuk Sementara Waktu
30 Makan Siang Bersama
31 Fatimah Tidak Ingin Melepaskan Hafiz
32 Melepas Penat Di Kota Malang
33 Hafiz Mulai Kagum Dengan Sosok Alina
34 Tak Ingin Berharap Banyak
35 Datang Menyapa Alina
36 Selamat Jalan Ibu Nur
37 Sikap Hafiz Mendadak Berubah
38 Mimpi Dibalik Perubahan Sikap Hafiz
39 Alina Ingin Bercerai
40 Berusaha Menjadi Suami Yang Baik
41 Banyak Mengucap Istighfar
42 Kami Adalah Suami Istri
43 Banyak Pro Dan Kontra
44 Fatimah Tak Bisa Menghubungi Hafiz
45 Hafiz Mulai Bingung Dengan Perasaannya
46 Akhirnya Ayah Ismail Siuman
47 Hafiz Terpaksa Mengusir Fatimah
48 Penjelasan Hafiz Pada Alina
49 Pertengkaran Tak Dapat Terelakkan
50 Fatimah Tak Rela Dan Takkan Merelakan Hafiz
51 Menjadi Suami Istri Seutuhnya
52 Hafiz Datang Menemui Fatimah Di Rumah Sakit
53 Cerai!!
54 Hafiz Dan Fatimah Pergi Bersama Mencari Alina
55 Alina Melihat Kedekatan Hafiz Dan Fatimah
56 Bagaikan Hilang Ditelan Bumi
57 Hafiz Mengungkapkan Hubungannya
58 Alina Menenangkan Diri Di Ponorogo
59 Hafiz Menyusul Alina Ke Ponorogo
60 Salah Paham Yang Terselesaikan
61 Fatimah Enggan Mengakui Kesalahannya
62 Alina Akhirnya Kembali Ke Jakarta
63 Berbadan Dua
64 Ibu Nunuk Datang Menemui Alina Dan Hafiz
65 Alina Dan Hafiz Memutuskan Menemui Fatimah
66 Kecelakaan Beruntun
67 Happy Ending
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Syukuran Kelulusan
2
Pertemuan Dua Keluarga
3
Alasan Pertemuan Dua Keluarga
4
Akhirnya Menikah
5
Jaga Batasan
6
Saling Acuh Tak Acuh
7
Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz
8
Hadiah Kecil Dari Mertua Tercinta
9
Melihat Suami Bersama Wanita Lain
10
Primadona Kampus
11
Marahnya Seorang Alina
12
Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan
13
Perhatian Kecil Hafiz Untuk Alina
14
Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang
15
Pulangnya Intan Alwi
16
Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar
17
Insiden Di Dapur
18
Fatimah Meminta Kejelasan Status
19
Hafiz Dinas Ke Yogyakarta
20
Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin
21
Serba Salah
22
Tragedi Truk Terbalik
23
Berhutang Budi Pada Sang Penyelamat
24
Alina Sama Sekali Tidak Diperhatikan
25
Fatimah Melihat Sang Penyelamat
26
Perjanjian 100 Hari
27
Datangnya Hafiz Tanpa Pemberitahuan
28
Sikap Alina Yang Mendadak Berubah
29
Berpisah Untuk Sementara Waktu
30
Makan Siang Bersama
31
Fatimah Tidak Ingin Melepaskan Hafiz
32
Melepas Penat Di Kota Malang
33
Hafiz Mulai Kagum Dengan Sosok Alina
34
Tak Ingin Berharap Banyak
35
Datang Menyapa Alina
36
Selamat Jalan Ibu Nur
37
Sikap Hafiz Mendadak Berubah
38
Mimpi Dibalik Perubahan Sikap Hafiz
39
Alina Ingin Bercerai
40
Berusaha Menjadi Suami Yang Baik
41
Banyak Mengucap Istighfar
42
Kami Adalah Suami Istri
43
Banyak Pro Dan Kontra
44
Fatimah Tak Bisa Menghubungi Hafiz
45
Hafiz Mulai Bingung Dengan Perasaannya
46
Akhirnya Ayah Ismail Siuman
47
Hafiz Terpaksa Mengusir Fatimah
48
Penjelasan Hafiz Pada Alina
49
Pertengkaran Tak Dapat Terelakkan
50
Fatimah Tak Rela Dan Takkan Merelakan Hafiz
51
Menjadi Suami Istri Seutuhnya
52
Hafiz Datang Menemui Fatimah Di Rumah Sakit
53
Cerai!!
54
Hafiz Dan Fatimah Pergi Bersama Mencari Alina
55
Alina Melihat Kedekatan Hafiz Dan Fatimah
56
Bagaikan Hilang Ditelan Bumi
57
Hafiz Mengungkapkan Hubungannya
58
Alina Menenangkan Diri Di Ponorogo
59
Hafiz Menyusul Alina Ke Ponorogo
60
Salah Paham Yang Terselesaikan
61
Fatimah Enggan Mengakui Kesalahannya
62
Alina Akhirnya Kembali Ke Jakarta
63
Berbadan Dua
64
Ibu Nunuk Datang Menemui Alina Dan Hafiz
65
Alina Dan Hafiz Memutuskan Menemui Fatimah
66
Kecelakaan Beruntun
67
Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!