Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar

Alina telah menyelesaikan kelasnya dan tiba waktunya untuk Alina pulang bersama Sang suami.

“Mas menunggu lama ya?” tanya Alina yang baru saja masuk ke dalam mobil.

Alina sengaja membuat Hafiz menunggu dirinya, hal itu dikarenakan Alina harus mencari waktu sepi untuknya masuk ke dalam mobil Hafiz. Alina tidak ingin ada orang lain yang melihatnya, terlebih lagi para mahasiswi yang menyukai sosok suaminya itu.

“Tidak,” jawab Hafiz singkat dan perlahan pergi meninggalkan area kampus.

“Mas, malam ini Alina masih ingin tidur di rumah Alina. Boleh, 'kan?” tanya Alina.

“Boleh, Mas juga akan ikut tidur di sana.”

“Terima kasih ya Mas,” ucap Alina seraya tersenyum.

Hafiz yang kala itu sedang menyetir, mendadak menghentikan laju mobilnya dan meminta Alina untuk segera bersembunyi.

“Alina, cepat menunduk dan jangan berhenti sebelum Mas memintanya!” perintah Hafiz.

Alina tanpa pikir panjang mengikuti perintah Hafiz, namun sebelum menunduk Alina menoleh ke arah sekitar yang rupanya ada sosok Fatimah.

Hafiz terlihat gelisah ketika kembali mengemudikan mobilnya, seakan takut jika Fatimah sampai mengetahui bahwa Hafiz semobil dengan Alina.

“Sudah,” ucap Hafiz.

Alina kembali dengan posisi duduknya dan dengan rait wajah sedih.

“Memangnya siapa tadi, Mas? Kenapa Alina harus bersembunyi?” tanya Alina.

“Bukan siapa-siapa,” jawab Hafiz yang terus mengemudikan mobilnya, tanpa melirik sedikitpun ke arah Alina yang nampak sangat sedih.

Mas Hafiz terlihat sangat mencintai wanita itu. Apa yang harus Aku lakukan? Tidak mungkin Aku meminta cerai. (Batin Alina)

***

Hafiz dan Alina akhirnya tiba di rumah, kedatangan mereka disambut dengan senyum bahagia dari orang tua Hafiz.

Ibu Nur dengan ramah menghampiri Alina yang baru turun dari mobil dan memeluknya dengan hangat.

“Mas Hafiz!” Intan berlari menghampiri Hafiz dan memeluknya dengan erat. “Mas Hafiz kenapa lama sekali? Intan sangat merindukan Mas,” ucap Intan yang terlihat sangat manja.

“Sudah, jangan diperpanjang. Sekarang Mas sudah ada di sini, ayo beri salam pada Mbak Alina!” perintah Hafiz.

Intan menoleh ke arah Alina, namun masih dengan posisi memeluk Hafiz.

“Mas Hafiz kok bisa dapat istri secantik Mbak Alina? Pasti Mbak Alina dipaksa ya sama Mas?” tanya Intan setengah berbisik.

Hafiz hanya tersenyum kecil mendengar penuturan dari Sang Adik.

“Hallo, Mbak Alina,” ucap Intan menyapa Alina.

“Hallo juga Intan, kamu ternyata lebih cantik daripada yang di foto,” puji Alina.

Intan tentu saja sangat senang dipuji, seketika itu ia merasa cocok dengan sosok Kakak iparnya itu.

“Mas Hafiz, Mbak Alina boleh ya Intan pinjam sebentar?” tanya Intan.

Hafiz mengiyakan dan betapa senangnya Intan ketika diperbolehkan Sang Kakak untuk membawa Alina pergi ke kamarnya.

Melihat Intan yang cepat sekali akrab dengan Alina, membuat Ayah Ismail dan Ibu Nur bernapas lega. Karena yang mereka tahu, Intan cukup sulit beradaptasi dengan orang baru.

“Mbak Alina suka warna apa?” tanya Intan yang tak henti-hentinya menggandeng tangan Alina.

“Semua warna Mbak suka, tapi Mbak paling suka warna biru muda,” jawab Alina.

Mendengar jawaban Alina, seketika itu Intan menghentikan langkahnya. Dan didetik selanjutnya, gadis muda berusia 15 tahun itu melompat kegirangan.

Alina hanya bisa terdiam, seraya menatap Adik iparnya dengan penuh keheranan.

“Ternyata warna kesukaan kita sama, Mbak. Mbak Alina harus menjadi bestfriend nya Intan,” ucap Intan dan kembali melanjutkan langkah mereka menuju kamar.

Alina mencoba tersenyum manis dan berusaha menjadi pendengar yang baik, barangkali Intan akan bercerita panjang lebar yang entah apa isinya.

“Mbak Alina duduk di sini dulu ya, Intan ada sesuatu untuk Mbak,” ucap Intan mempersilakan Alina duduk di sofa kamarnya.

Intan berjalan menuju meja belajar dan mengambil sebuah kotak berwarna biru muda. Kemudian, memberikan kotak tersebut pada Alina.

“Mbak Alina harus membukanya,” ucap Intan.

Alina perlahan membuka kotak tersebut dan tersenyum lebar ketika melihat yupi berbentuk bunga yang ukuran cukup besar serta tebal.

“Yupi ini buat Mbak Alina, tapi jangan dimakan sekaligus. Nanti gigi Mbak Alina sakit,” tutur Intan yang cukup perhatian.

“Terima kasih, Intan. Karena Mbak tidak mempersiapkan apapun, tolong terima jam tangan Mbak ya,” ucap Alina seraya melepaskan jam miliknya yang harganya cukup mahal.

Mulut Intan terbuka lebar melihat Alina yang dengan santainya memberikan jam tangan yang harganya cukup mahal.

“Mbak Alina serius memberikan Intan jam tangan ini? Intan rasa ini berlebihan,” ujar Intan menolak dengan halus pemberian Alina.

“Ambilah, Intan. Kamu tidak mau ya karena sudah dipakai Mbak? Bagaimana kalau besok Mbak belikan yang baru?”

“Astaghfirullah, jangan Mbak. Baiklah, jam tangan ini Intan terima. Terima kasih Mbak, semoga cepat diberikan momongan,” pungkas Intan.

Deg!

Alina terkejut dengan ucapan Intan yang mendo'akan dirinya untuk cepat memiliki seorang bayi. Padahal tak sedikitpun Hafiz mau menyentuhnya.

“Terima kasih Intan atas do'anya, semoga Allah segera mengabulkan,” balas Alina.

Beberapa Jam Kemudian.

Alina dan Intan tak kunjung keluar dari kamar, hal itu membuat Hafiz akhirnya menghampiri keduanya. Yang mana ternyata kedua gadis cantik itu tengah tertidur pulas dengan saling berhadapan.

Bagaimana bisa mereka berdua langsung sedekat ini? (Batin Hafiz)

Hafiz tentu saja cukup heran dengan hubungan keduanya, yang baru saja bertemu dan justru sudah sangat akrab.

“Mas Hafiz,” ucap Alina lirih dengan mata yang belum terbuka sempurna.

“Sudah hampir malam, bukankah Alina ingin pulang ke rumah?”

Alina turun perlahan dari tempat tidur dan ternyata hal itu membangunkan Intan.

“Mbak dan Mas mau ke mana?” tanya Intan.

Hafiz menjelaskan bahwa dirinya dan Alina tidak tidur di rumah itu, melainkan tidur di rumah orang tua Alina. Intan yang mendengar hal itu hanya bisa menganggukan kepalanya dan meminta Alina untuk tidur bersamanya di lain hari.

Alina dengan senang hati mengiyakan permintaan Intan dan akhirnya pamit untuk segera pergi.

“Alina, ini ada sedikit makanan untuk orang rumah. Jangan lupa dihabiskan ya,” ucap Ibu Nur.

“Terima kasih, Bu. Alina dan orang rumah pasti akan menghabiskan makanan ini,” balas Alina.

Keduanya pun masuk ke dalam mobil, Ibu Nur, Ayah Ismail dan juga Intan melambaikan tangan mereka pada mobil yang perlahan pergi meninggalkan area rumah.

“Kamu dan Intan berbicara apa saja di dalam kamar?” tanya Hafiz penasaran.

“Bukannya tidak ingin menjawab rasa penasaran Mas Hafiz, tapi ini pembicaraan yang hanya khusus dibicarakan oleh wanita,” jawab Alina.

“Baiklah, Mas tidak akan bertanya lagi.”

Alina tersenyum kecil seraya menyandarkan kepalanya di sisi jendela.

“Intan cantik ya Mas,” tutur Alina yang lagi-lagi memuji kecantikan Adik iparnya.

“Kamu juga cantik kok,” celetuk Hafiz.

Terpopuler

Comments

Maulana ya_Rohman

Maulana ya_Rohman

knp blm up juga thor😟😟😟😟😟

2023-09-28

0

Maulana ya_Rohman

Maulana ya_Rohman

aku kecewa sekali sma Hafiz😢😢😢🤧... istri sendiri gak fi jaga perasaannya... 😟😟😢🤧

2023-09-26

0

lihat semua
Episodes
1 Syukuran Kelulusan
2 Pertemuan Dua Keluarga
3 Alasan Pertemuan Dua Keluarga
4 Akhirnya Menikah
5 Jaga Batasan
6 Saling Acuh Tak Acuh
7 Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz
8 Hadiah Kecil Dari Mertua Tercinta
9 Melihat Suami Bersama Wanita Lain
10 Primadona Kampus
11 Marahnya Seorang Alina
12 Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan
13 Perhatian Kecil Hafiz Untuk Alina
14 Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang
15 Pulangnya Intan Alwi
16 Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar
17 Insiden Di Dapur
18 Fatimah Meminta Kejelasan Status
19 Hafiz Dinas Ke Yogyakarta
20 Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin
21 Serba Salah
22 Tragedi Truk Terbalik
23 Berhutang Budi Pada Sang Penyelamat
24 Alina Sama Sekali Tidak Diperhatikan
25 Fatimah Melihat Sang Penyelamat
26 Perjanjian 100 Hari
27 Datangnya Hafiz Tanpa Pemberitahuan
28 Sikap Alina Yang Mendadak Berubah
29 Berpisah Untuk Sementara Waktu
30 Makan Siang Bersama
31 Fatimah Tidak Ingin Melepaskan Hafiz
32 Melepas Penat Di Kota Malang
33 Hafiz Mulai Kagum Dengan Sosok Alina
34 Tak Ingin Berharap Banyak
35 Datang Menyapa Alina
36 Selamat Jalan Ibu Nur
37 Sikap Hafiz Mendadak Berubah
38 Mimpi Dibalik Perubahan Sikap Hafiz
39 Alina Ingin Bercerai
40 Berusaha Menjadi Suami Yang Baik
41 Banyak Mengucap Istighfar
42 Kami Adalah Suami Istri
43 Banyak Pro Dan Kontra
44 Fatimah Tak Bisa Menghubungi Hafiz
45 Hafiz Mulai Bingung Dengan Perasaannya
46 Akhirnya Ayah Ismail Siuman
47 Hafiz Terpaksa Mengusir Fatimah
48 Penjelasan Hafiz Pada Alina
49 Pertengkaran Tak Dapat Terelakkan
50 Fatimah Tak Rela Dan Takkan Merelakan Hafiz
51 Menjadi Suami Istri Seutuhnya
52 Hafiz Datang Menemui Fatimah Di Rumah Sakit
53 Cerai!!
54 Hafiz Dan Fatimah Pergi Bersama Mencari Alina
55 Alina Melihat Kedekatan Hafiz Dan Fatimah
56 Bagaikan Hilang Ditelan Bumi
57 Hafiz Mengungkapkan Hubungannya
58 Alina Menenangkan Diri Di Ponorogo
59 Hafiz Menyusul Alina Ke Ponorogo
60 Salah Paham Yang Terselesaikan
61 Fatimah Enggan Mengakui Kesalahannya
62 Alina Akhirnya Kembali Ke Jakarta
63 Berbadan Dua
64 Ibu Nunuk Datang Menemui Alina Dan Hafiz
65 Alina Dan Hafiz Memutuskan Menemui Fatimah
66 Kecelakaan Beruntun
67 Happy Ending
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Syukuran Kelulusan
2
Pertemuan Dua Keluarga
3
Alasan Pertemuan Dua Keluarga
4
Akhirnya Menikah
5
Jaga Batasan
6
Saling Acuh Tak Acuh
7
Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz
8
Hadiah Kecil Dari Mertua Tercinta
9
Melihat Suami Bersama Wanita Lain
10
Primadona Kampus
11
Marahnya Seorang Alina
12
Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan
13
Perhatian Kecil Hafiz Untuk Alina
14
Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang
15
Pulangnya Intan Alwi
16
Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar
17
Insiden Di Dapur
18
Fatimah Meminta Kejelasan Status
19
Hafiz Dinas Ke Yogyakarta
20
Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin
21
Serba Salah
22
Tragedi Truk Terbalik
23
Berhutang Budi Pada Sang Penyelamat
24
Alina Sama Sekali Tidak Diperhatikan
25
Fatimah Melihat Sang Penyelamat
26
Perjanjian 100 Hari
27
Datangnya Hafiz Tanpa Pemberitahuan
28
Sikap Alina Yang Mendadak Berubah
29
Berpisah Untuk Sementara Waktu
30
Makan Siang Bersama
31
Fatimah Tidak Ingin Melepaskan Hafiz
32
Melepas Penat Di Kota Malang
33
Hafiz Mulai Kagum Dengan Sosok Alina
34
Tak Ingin Berharap Banyak
35
Datang Menyapa Alina
36
Selamat Jalan Ibu Nur
37
Sikap Hafiz Mendadak Berubah
38
Mimpi Dibalik Perubahan Sikap Hafiz
39
Alina Ingin Bercerai
40
Berusaha Menjadi Suami Yang Baik
41
Banyak Mengucap Istighfar
42
Kami Adalah Suami Istri
43
Banyak Pro Dan Kontra
44
Fatimah Tak Bisa Menghubungi Hafiz
45
Hafiz Mulai Bingung Dengan Perasaannya
46
Akhirnya Ayah Ismail Siuman
47
Hafiz Terpaksa Mengusir Fatimah
48
Penjelasan Hafiz Pada Alina
49
Pertengkaran Tak Dapat Terelakkan
50
Fatimah Tak Rela Dan Takkan Merelakan Hafiz
51
Menjadi Suami Istri Seutuhnya
52
Hafiz Datang Menemui Fatimah Di Rumah Sakit
53
Cerai!!
54
Hafiz Dan Fatimah Pergi Bersama Mencari Alina
55
Alina Melihat Kedekatan Hafiz Dan Fatimah
56
Bagaikan Hilang Ditelan Bumi
57
Hafiz Mengungkapkan Hubungannya
58
Alina Menenangkan Diri Di Ponorogo
59
Hafiz Menyusul Alina Ke Ponorogo
60
Salah Paham Yang Terselesaikan
61
Fatimah Enggan Mengakui Kesalahannya
62
Alina Akhirnya Kembali Ke Jakarta
63
Berbadan Dua
64
Ibu Nunuk Datang Menemui Alina Dan Hafiz
65
Alina Dan Hafiz Memutuskan Menemui Fatimah
66
Kecelakaan Beruntun
67
Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!