Pertemuan Dua Keluarga

3 Hari Kemudian.

Pagi-pagi buta Alina sudah dibangunkan untuk membantu Ibu Desi memasak di dapur. Padahal sebelumnya, Alina tidak diperbolehkan untuk memasak karena Ibu Desi ingin Alina belajar dan terus belajar.

“Alina sayang, tolong kupas bawang merah dan bawang putih ini. Nanti siang kita kedatangan tamu penting,” ucap Ibu Desi pada Alina yang tampak masih mengantuk.

“Baik, Bu.” Alina segera melakukan apa yang diucapkan Ibunya tanpa ingin bertanya siapa tamu yang datang tersebut.

Alina melakukannya dengan senang hati, karena akhirnya ia bisa menyentuh dunia perdapuran.

“Bu, Alina sudah mengupas semua bawang ini. Apa ada bahan lain yang bisa Alina lakukan lagi?” tanya Alina bersemangat.

“Alina bisa mengiris bawang yang sudah dikupas tadi?” tanya Ibu Desi.

“Bisa. Alina tentu saja bisa melakukannya,” jawab Alina dan menunjukkan skillnya dalam mengiris bawang.

Ibu Desi cukup terkejut melihat Alina yang pandai mengiris bawang.

“Kamu bisa melakukannya, Nak? Sejak kapan? Perasaan kamu tidak pernah turun dapur,” ucap Ibu Desi terheran-heran.

Alina tertawa mendengar ucapan Ibu Desi yang terheran-heran hanya karena dirinya bisa mengiris bawang.

“Hanya mengiris bawang saja Ibu sampai terheran-heran begini? Alina pernah melihat Ibu memasak dan Alina sering melihat tutorial memasak di YouTube. Jadi, hal seperti ini bagi Alina tidaklah sulit,” ungkap Alina.

Ibu Desi cukup terkesan dengan jawaban Alina dan memuji kepintaran Alina dalam dunia masak.

Setelah hampir 3 jam berkutat di dapur, Alina memutuskan untuk mandi. Karena pada saat itu dirinya tengah datang bulan.

Sementara Ibu Desi, sedang sibuk mengepel lantai dapur setelah memasak beberapa menu makanan untuk calon besannya.

***

Siang Hari.

Alina sedikit heran dengan pakaian yang dikenakan oleh kedua orang tuanya. Ayah Bahri mengenakan baju batik dan Ibu Desi mengenakan kebaya Jawa, padahal tidak berpergian keluar rumah.

“Ayah dan Ibu kenapa berpakaian seperti ini? Apakah tamu kita ini sangat penting?” tanya Alina terheran-heran.

“Alina, kamu sekarang pergi ke kamar dan pakai kebaya yang sudah Ibu siapkan. Jangan lupa, kamu harus berhias. Setidaknya gunakan bedak dan pewarna bibir,” perintah Ibu Desi.

Alina semakin bingung dan pada akhirnya menuruti perintah Sang Ibu.

“Kebaya berwarna biru muda ini ternyata cocok denganku,” ucap Alina yang sudah mengenakan kebaya pemberian Sang Ibu.

Saat Alina tengah sibuk merias dirinya, rupanya keluarga dari Hafiz Alwi telah datang.

Ayah Bahri dan Ibu Desi menyambut kedatangan mereka dengan penuh suka cita.

“Assalamu'alaikum,” ucap mereka bertiga.

“Wa'alaikumsalam, silakan masuk,” balas Ayah Bahri dan Ibu Desi mempersilakan mereka untuk segera masuk ke dalam.

Orang tua Alina cukup terkesima dengan tampang wajah Hafiz yang ternyata sangat tampan. Jauh berbeda ketika terakhir mereka bertemu.

“Ini benar Hafiz?” tanya Ibu Desi memastikan.

“Iya Bu, saya Hafiz,” jawab Hafiz.

Alina berjalan menghampiri kedua orang tuanya di ruang tamu dan saat itu juga semua mata tertuju kepada Alina yang nampak cantik mengenakan kebaya berwarna biru muda yang membuat sosok Alina semakin menawan.

“Alina, salim sama tamu kita,” ucap Ayah Bahri.

Alina dengan patuh menyalami mereka, termasuk juga dengan Hafiz.

“Hafiz, kamu ingat dengan Alina?” tanya Ibu Nur pada putra sulungnya.

“Sedikit,” jawab Hafiz singkat.

Ayah Ismail menepuk bahu Hafiz seraya membisikkan sesuatu yang akhirnya membuat Hafiz tersenyum.

“Alina, sini duduk dekat Ibu,” ucap Ibu Nur yang tak lain Ibu kandung Hafiz.

Alina menoleh memandangi wajah kedua orang tuanya yang memberi isyarat agar dirinya segera duduk dekat Ibu Nur.

Sebenarnya siapa mereka? (Batin Alina)

Alina duduk tepat di sisi kanan Ibu Nur tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Sementara Hafiz duduk di sisi kiri Ibu Nur yang juga diam seribu bahasa.

“Kalian kenapa diam saja? Atau ada yang ingin kalian dua bicarakan tanpa kami?” tanya Ibu Nur pada Alina dan juga Hafiz.

Alina menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal dan meminta izin untuk pergi dari ruang tamu.

“Maaf semuanya, Alina izin ke belakang dulu,” ucap Alina.

Alina berlari kecil meninggalkan ruang tamu dan tak sengaja dirinya menabrak kursi didepannya.

Bruk!! Alina menabrak kursi itu dengan cukup keras dan membuat para orang tua terkejut, begitu juga dengan Hafiz.

“Tenang saja, Alina baik-baik saja,” ucap Alina sambil melebarkan senyum manis dan kembali melanjutkan langkahnya menuju toilet.

Ibu Nur khawatir dengan Alina dan memutuskan menyusul Alina yang pergi menuju toilet.

“Bu Nur mau menggunakan toilet juga?” tanya Alina sesaat setelah keluar dari toilet.

“Nak Alina baik-baik saja? Apakah ada yang sakit?” tanya Ibu Nur.

“Bu Nur tidak usah mengkhawatirkan Alina, lagipula Alina sering menabrak kursi maupun meja,” jawab Alina.

Ibu Nur tertawa mendengar jawaban Alina seakan-akan calon menantunya sedang mengajaknya bersenda gurau.

“Kalian berdua sangat cocok,” ucap Ibu Nur yang mengambil kesimpulan bahwa Alina dan putranya sangat cocok jika sudah menjadi suami istri.

“Cocok apanya ya Bu?” tanya Alina bingung.

“Bukan apa-apa, ayo kita ke depan. Ada hal lain yang harus kita bicarakan,” ajak Ibu Nur sambil merangkul lengan Alina.

Entah kenapa, Alina merasa bahwa Ibu Nur sepertinya sangat dekat padanya. Padahal, Alina baru bertemu dengan Ibu Nur ketika acara syukuran kelulusan 3 hari yang lalu. Itupun mereka hanya menyapa dan tidak ada obrolan hal lain.

Alina memutuskan untuk duduk dekat dengan Ibunya dan meminta penjelasan mengenai tamu yang hadir di siang hari itu.

Bukannya mendapatkan jawaban, Ibu Desi justru meminta Alina tetap bersikap manis didepan tamu.

“Sudah waktunya makan siang, sebaiknya kita makan siang terlebih dahulu sebelum membahas hal yang lebih serius lagi,” ucap Ayah Bahri.

Ibu Desi berjalan beriringan dengan Ibu Nur, sementara para pria berjalan lebih dulu dan menyisakan Alina di belakang.

“Tadi yang memasak ini saya dan Alina loh, semoga kalian suka. Termasuk Nak Hafiz,” terang Ibu Desi.

“Ibu jangan berlebihan, yang masak tadi itu Ibu dan Alina hanya menyiapkan bumbunya saja,” ungkap Alina.

Hafiz lebih banyak menunduk, bahkan tak ada niatan untuk melirik Alina. Sementara Alina, terus saja memperhatikan Hafiz yang terus menunduk diam.

Pertemuan dua keluarga itu dimulai dengan obrolan ringan dan setelah itu makan siang bersama.

“Alina kenapa makannya sedikit?” tanya Ibu Nur ketika melihat porsi makan Alina yang sangat sedikit.

“Alina sedang diet?” tanya Ayah Ismail.

Alina hanya tersenyum kecil mendapat pertanyaan dari keduanya. Entah kenapa Alina merasa bahwa hari itu dirinya terus saja diperhatikan oleh Ayah Ismail maupun Ibu Nur.

“Uhuk.. uhuk..” Alina tersedak ketika tak sengaja matanya bertatapan langsung dengan Hafiz.

Tatapan Hafiz begitu dalam dan mampu membuat Alina menjadi salah tingkah.

Episodes
1 Syukuran Kelulusan
2 Pertemuan Dua Keluarga
3 Alasan Pertemuan Dua Keluarga
4 Akhirnya Menikah
5 Jaga Batasan
6 Saling Acuh Tak Acuh
7 Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz
8 Hadiah Kecil Dari Mertua Tercinta
9 Melihat Suami Bersama Wanita Lain
10 Primadona Kampus
11 Marahnya Seorang Alina
12 Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan
13 Perhatian Kecil Hafiz Untuk Alina
14 Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang
15 Pulangnya Intan Alwi
16 Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar
17 Insiden Di Dapur
18 Fatimah Meminta Kejelasan Status
19 Hafiz Dinas Ke Yogyakarta
20 Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin
21 Serba Salah
22 Tragedi Truk Terbalik
23 Berhutang Budi Pada Sang Penyelamat
24 Alina Sama Sekali Tidak Diperhatikan
25 Fatimah Melihat Sang Penyelamat
26 Perjanjian 100 Hari
27 Datangnya Hafiz Tanpa Pemberitahuan
28 Sikap Alina Yang Mendadak Berubah
29 Berpisah Untuk Sementara Waktu
30 Makan Siang Bersama
31 Fatimah Tidak Ingin Melepaskan Hafiz
32 Melepas Penat Di Kota Malang
33 Hafiz Mulai Kagum Dengan Sosok Alina
34 Tak Ingin Berharap Banyak
35 Datang Menyapa Alina
36 Selamat Jalan Ibu Nur
37 Sikap Hafiz Mendadak Berubah
38 Mimpi Dibalik Perubahan Sikap Hafiz
39 Alina Ingin Bercerai
40 Berusaha Menjadi Suami Yang Baik
41 Banyak Mengucap Istighfar
42 Kami Adalah Suami Istri
43 Banyak Pro Dan Kontra
44 Fatimah Tak Bisa Menghubungi Hafiz
45 Hafiz Mulai Bingung Dengan Perasaannya
46 Akhirnya Ayah Ismail Siuman
47 Hafiz Terpaksa Mengusir Fatimah
48 Penjelasan Hafiz Pada Alina
49 Pertengkaran Tak Dapat Terelakkan
50 Fatimah Tak Rela Dan Takkan Merelakan Hafiz
51 Menjadi Suami Istri Seutuhnya
52 Hafiz Datang Menemui Fatimah Di Rumah Sakit
53 Cerai!!
54 Hafiz Dan Fatimah Pergi Bersama Mencari Alina
55 Alina Melihat Kedekatan Hafiz Dan Fatimah
56 Bagaikan Hilang Ditelan Bumi
57 Hafiz Mengungkapkan Hubungannya
58 Alina Menenangkan Diri Di Ponorogo
59 Hafiz Menyusul Alina Ke Ponorogo
60 Salah Paham Yang Terselesaikan
61 Fatimah Enggan Mengakui Kesalahannya
62 Alina Akhirnya Kembali Ke Jakarta
63 Berbadan Dua
64 Ibu Nunuk Datang Menemui Alina Dan Hafiz
65 Alina Dan Hafiz Memutuskan Menemui Fatimah
66 Kecelakaan Beruntun
67 Happy Ending
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Syukuran Kelulusan
2
Pertemuan Dua Keluarga
3
Alasan Pertemuan Dua Keluarga
4
Akhirnya Menikah
5
Jaga Batasan
6
Saling Acuh Tak Acuh
7
Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz
8
Hadiah Kecil Dari Mertua Tercinta
9
Melihat Suami Bersama Wanita Lain
10
Primadona Kampus
11
Marahnya Seorang Alina
12
Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan
13
Perhatian Kecil Hafiz Untuk Alina
14
Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang
15
Pulangnya Intan Alwi
16
Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar
17
Insiden Di Dapur
18
Fatimah Meminta Kejelasan Status
19
Hafiz Dinas Ke Yogyakarta
20
Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin
21
Serba Salah
22
Tragedi Truk Terbalik
23
Berhutang Budi Pada Sang Penyelamat
24
Alina Sama Sekali Tidak Diperhatikan
25
Fatimah Melihat Sang Penyelamat
26
Perjanjian 100 Hari
27
Datangnya Hafiz Tanpa Pemberitahuan
28
Sikap Alina Yang Mendadak Berubah
29
Berpisah Untuk Sementara Waktu
30
Makan Siang Bersama
31
Fatimah Tidak Ingin Melepaskan Hafiz
32
Melepas Penat Di Kota Malang
33
Hafiz Mulai Kagum Dengan Sosok Alina
34
Tak Ingin Berharap Banyak
35
Datang Menyapa Alina
36
Selamat Jalan Ibu Nur
37
Sikap Hafiz Mendadak Berubah
38
Mimpi Dibalik Perubahan Sikap Hafiz
39
Alina Ingin Bercerai
40
Berusaha Menjadi Suami Yang Baik
41
Banyak Mengucap Istighfar
42
Kami Adalah Suami Istri
43
Banyak Pro Dan Kontra
44
Fatimah Tak Bisa Menghubungi Hafiz
45
Hafiz Mulai Bingung Dengan Perasaannya
46
Akhirnya Ayah Ismail Siuman
47
Hafiz Terpaksa Mengusir Fatimah
48
Penjelasan Hafiz Pada Alina
49
Pertengkaran Tak Dapat Terelakkan
50
Fatimah Tak Rela Dan Takkan Merelakan Hafiz
51
Menjadi Suami Istri Seutuhnya
52
Hafiz Datang Menemui Fatimah Di Rumah Sakit
53
Cerai!!
54
Hafiz Dan Fatimah Pergi Bersama Mencari Alina
55
Alina Melihat Kedekatan Hafiz Dan Fatimah
56
Bagaikan Hilang Ditelan Bumi
57
Hafiz Mengungkapkan Hubungannya
58
Alina Menenangkan Diri Di Ponorogo
59
Hafiz Menyusul Alina Ke Ponorogo
60
Salah Paham Yang Terselesaikan
61
Fatimah Enggan Mengakui Kesalahannya
62
Alina Akhirnya Kembali Ke Jakarta
63
Berbadan Dua
64
Ibu Nunuk Datang Menemui Alina Dan Hafiz
65
Alina Dan Hafiz Memutuskan Menemui Fatimah
66
Kecelakaan Beruntun
67
Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!