Marahnya Seorang Alina

Alina bernapas lega karena jam kelas sudah selesai. Waktunya untuk Ia pulang dan beristirahat di rumah.

“Alina, kamu mau langsung pulang atau mampir dulu ke suatu tempat?” tanya Larasati.

“Aku langsung pulang, Laras. Mau istirahat, setelah itu belajar persiapan besok,” jawab Alina.

“Enak ya jadi kamu, bisa mengatur jadwal istirahat dan juga belajar. Sementara aku harus bekerja,” tutur Larasati.

“Laras, pernah tidak mendengar istilah kata urip iku sawang sinawang?” tanya Alina.

“Apa itu? Aku baru kali ini mendengar kalimat itu,” ujar Larasati penasaran.

“Carilah artinya di internet dan pahamilah maksud dari istilah itu,” ucap Alina dan pamit pulang meninggalkan Larasati yang nampak masih bingung.

Alina berjalan menuju area parkir, dengan niat agar bisa pulang dengan Hafiz. Karena menggunakan taksi membuatnya menjadi boros dan Alina tidak menyukai hal itu.

“Mas Hafiz sama siapa?” tanya Alina ketika melihat Hafiz sedang berdiri bersama seorang wanita yang kebetulan saat itu berdiri membelakanginya.

Dari kejauhan, terlihat jelas kalau Hafiz sedang tertawa. Tawa yang sebelumnya tidak pernah Alina lihat dari wajah dingin suaminya.

“Wanita itu lagi,” ucap Alina melihat Hafiz ternyata sedang berbincang dengan Fatimah.

Alina hanya bisa diam sambil memandangi keduanya yang kompak masuk ke dalam mobil dan akhirnya pergi menjauh dari area parkir kampus.

Bukannya sedih, Alina justru tertawa karena sudah menikah dengan pria yang ternyata menyukai wanita lain.

“Sudahlah, bukan urusanku juga. Biarkan saja mereka bersama,” ucap Alina yang tak ingin ambil pusing.

Alina akhirnya memilih untuk pulang menggunakan jasa tukang ojek dari pada menggunakan taksi yang jelas harganya jauh lebih mahal dari jasa tukang ojek.

Sepanjang perjalanan menuju rumah keluarga Sang suami, Alina terus saja berpikir mengenai hubungan Sang suami dengan wanita bernama Fatimah.

Ada kalanya Alina ingin marah dan ada kalanya Alina memilih untuk tak acuh dengan keduanya. Akan tetapi, Alina sadar diri. Ia tidak bisa memaksa takdir yang sudah datang padanya dan memutuskan untuk terus berjalan ke depan seperti air yang mengalir mengikuti arus.

***

Alina akhirnya tiba di rumah dan ternyata kedua mertuanya belum juga kembali. Alina yang memang sudah mengantuk, memutuskan untuk tidur lebih dulu.

“Mbok Yem,” ucap Alina menyapa Mbok Yem yang tengah duduk seorang diri di ruang tamu.

“Mbak Alina mau Mbok buatkan makan siang?” tanya Mbok Yem sambil beranjak dari kursi.

“Tidak usah, Mbok. Mbok istirahat saja, saya masih kenyang,” jawab Alina.

Alina pun pamit masuk ke dalam kamar untuk segera beristirahat.

“Sebaiknya Aku tidur dan setelah itu belajar sebentar, kemudian mandi sebelum turun menemui Ayah dan juga Ibu,” ucap Alina seraya memejamkan matanya.

Belum sampai 10 menit Alina tidur, rupanya Hafiz telah kembali. Alina yang memang belum tidur nyenyak, akhirnya terbangun mendengar suara langkah kaki Hafiz yang cukup berisik.

“Cepat sekali pulangnya,” tutur Alina yang masih dengan posisi terlentang seraya memeluk guling.

“Memangnya Aku harus pulang jam berapa?” tanya Hafiz sambil melepaskan pakaiannya.

Alina tak menjawab dan malah kembali melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu.

“Apakah Noe dan kawan-kawan mengganggu kamu?” tanya Hafiz penasaran.

“Kenapa memangnya? Lagipula, mereka bukan urusan Mas,” jawab Alina yang terdengar cukup kesal.

“Terserah kamu mau dekat dengan siapapun. Asal, kamu harus tahu batasan. Bagaimanapun, kita tetap harus menjaga nama baik keluarga,” pungkas Hafiz.

Pada saat Alina ingin membalas ucapan Hafiz, rupanya Hafiz sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi. Yang mana ucapan Hafiz menurut Alina adalah menyudutkan dirinya sebagai seorang istri.

Alina yang sudah terlanjur kesal, pada akhirnya memilih untuk keluar dari kamar dan mencari ruangan lain yang bisa digunakan untuknya beristirahat.

“Mbok, apakah kamar tamu boleh dipakai?” tanya Alina.

“Tentu saja boleh, Mbak Alina,” jawab Mbok Yem yang tak ingin bertanya alasan Alina mempertanyakan kamar tamu.

“Alina mau tidur sebentar di kamar tamu, Mbok. Kalau Mas Hafiz mencari Alina, bilang saja Alina tidak ingin diganggu,” terang Alina.

Mbok Yem hanya mengiyakan ucapan Alina dan kembali melanjutkan pekerjaannya yang sedang menyapu lantai.

“Dia pikir Aku wanita apaan? Pacaran saja Aku tidak pernah,” ucap Alina yang sudah merebahkan diri di tempat tidur kamar tamu.

Hafiz telah selesai membersihkan diri alias mandi dan tak melihat Alina di tempat tidur.

“Ke mana Alina? Apakah dia marah dengan ucapanku?”

Hafiz bergegas mengenakan pakaiannya dan setelah itu keluar kamar untuk mencari Alina yang entah pergi ke mana.

“Mbok, lihat Alina?” tanya Hafiz.

“Mbak Alina saat ini sedang tidur di kamar tamu dan berpesan kalau tidak ingin diganggu,” terang Mbok Yem menyampaikan apa yang sebelumnya Alina katakan.

Hafiz tak menggubris pesan tersebut, justru ia bergegas mendatangi Alina yang saat itu tengah tidur.

Hafiz masih ke dalam kamar tamu dengan niatan untuk membangunkan Alina. Akan tetapi, melihat Alina yang begitu terlelap, membuat Hafiz mengurungkan niatnya membangunkan Alina dan justru duduk di sofa seraya menunggu Alina bangun dari tidurnya.

“Mas Hafiz!” Alina terkejut dengan setengah berteriak, melihat Hafiz duduk menghadap dirinya dengan tatapan dingin.

Hafiz dengan santainya tersenyum melihat Alina yang terkejut karena dirinya.

“Mas bisa tersenyum setelah membuat Alina terkejut? Sepertinya Mas Hafiz sangat tak menyukai Alina. Kalau begitu, pulang kan saja Alina ke rumah orang tua Alina,” ucap Alina.

Hafiz terkejut melihat Alina yang nampak sangat marah. Ia tak menyangka ucapannya bisa membuat Alina semarah itu.

“Kenapa diam saja? Kalau Mas Hafiz semakin tak menyukai Alina, Alina bisa menerimanya. Tapi, kenapa mempersilakan Alina untuk dekat pria lain? Bahkan, pacaran saja Alina tidak pernah,” tegas Alina.

Alina kemudian turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar tamu dengan suara pintu yang cukup keras.

Seperti itulah Alina, Alina bisa dikatakan sebagai gadis yang lemah lembut. Akan tetapi, jika ada yang melukai harga dirinya, ia bisa marah hingga kemarahannya tak terkontrol.

“Mas minta maaf, Alina. Maaf karena ucapan Mas tadi membuat kamu marah,” ucap Hafiz yang telah menyadari kesalahannya.

Hafiz mencoba meraih tangan Alina, berharap Alina menerima maafnya. Akan tetapi, Alina tak menggubris maaf Hafiz dan justru mempercepat langkahnya untuk masuk ke dalam kamar Hafiz.

“Kamu mau ke mana?” tanya Hafiz melihat Alina yang sibuk memasukkan pakaian ke dalam koper.

“Cukup. Jangan cegah Alina untuk pulang ke rumah. Alina sudah cukup bersabar menghadapi sikap Mas yang sangat tak adil ini,” jawab Alina.

“Alina, Mas minta maaf ya. Anggap saja ucapan Mas yang tadi itu adalah ucapan tak waras,” tutur Hafiz.

Terpopuler

Comments

Maulana ya_Rohman

Maulana ya_Rohman

nah.... nah..... nah..... klimpungan sendiri kan.....🤔🤔🤔....
istri sendiri di CUEK in..... perempuan laen di SENYUM in.... 🤣🤣🤣🤣...
emang ya kau rada.... rada.... konslet jiwa X ya😤

2023-08-29

0

lihat semua
Episodes
1 Syukuran Kelulusan
2 Pertemuan Dua Keluarga
3 Alasan Pertemuan Dua Keluarga
4 Akhirnya Menikah
5 Jaga Batasan
6 Saling Acuh Tak Acuh
7 Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz
8 Hadiah Kecil Dari Mertua Tercinta
9 Melihat Suami Bersama Wanita Lain
10 Primadona Kampus
11 Marahnya Seorang Alina
12 Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan
13 Perhatian Kecil Hafiz Untuk Alina
14 Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang
15 Pulangnya Intan Alwi
16 Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar
17 Insiden Di Dapur
18 Fatimah Meminta Kejelasan Status
19 Hafiz Dinas Ke Yogyakarta
20 Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin
21 Serba Salah
22 Tragedi Truk Terbalik
23 Berhutang Budi Pada Sang Penyelamat
24 Alina Sama Sekali Tidak Diperhatikan
25 Fatimah Melihat Sang Penyelamat
26 Perjanjian 100 Hari
27 Datangnya Hafiz Tanpa Pemberitahuan
28 Sikap Alina Yang Mendadak Berubah
29 Berpisah Untuk Sementara Waktu
30 Makan Siang Bersama
31 Fatimah Tidak Ingin Melepaskan Hafiz
32 Melepas Penat Di Kota Malang
33 Hafiz Mulai Kagum Dengan Sosok Alina
34 Tak Ingin Berharap Banyak
35 Datang Menyapa Alina
36 Selamat Jalan Ibu Nur
37 Sikap Hafiz Mendadak Berubah
38 Mimpi Dibalik Perubahan Sikap Hafiz
39 Alina Ingin Bercerai
40 Berusaha Menjadi Suami Yang Baik
41 Banyak Mengucap Istighfar
42 Kami Adalah Suami Istri
43 Banyak Pro Dan Kontra
44 Fatimah Tak Bisa Menghubungi Hafiz
45 Hafiz Mulai Bingung Dengan Perasaannya
46 Akhirnya Ayah Ismail Siuman
47 Hafiz Terpaksa Mengusir Fatimah
48 Penjelasan Hafiz Pada Alina
49 Pertengkaran Tak Dapat Terelakkan
50 Fatimah Tak Rela Dan Takkan Merelakan Hafiz
51 Menjadi Suami Istri Seutuhnya
52 Hafiz Datang Menemui Fatimah Di Rumah Sakit
53 Cerai!!
54 Hafiz Dan Fatimah Pergi Bersama Mencari Alina
55 Alina Melihat Kedekatan Hafiz Dan Fatimah
56 Bagaikan Hilang Ditelan Bumi
57 Hafiz Mengungkapkan Hubungannya
58 Alina Menenangkan Diri Di Ponorogo
59 Hafiz Menyusul Alina Ke Ponorogo
60 Salah Paham Yang Terselesaikan
61 Fatimah Enggan Mengakui Kesalahannya
62 Alina Akhirnya Kembali Ke Jakarta
63 Berbadan Dua
64 Ibu Nunuk Datang Menemui Alina Dan Hafiz
65 Alina Dan Hafiz Memutuskan Menemui Fatimah
66 Kecelakaan Beruntun
67 Happy Ending
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Syukuran Kelulusan
2
Pertemuan Dua Keluarga
3
Alasan Pertemuan Dua Keluarga
4
Akhirnya Menikah
5
Jaga Batasan
6
Saling Acuh Tak Acuh
7
Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz
8
Hadiah Kecil Dari Mertua Tercinta
9
Melihat Suami Bersama Wanita Lain
10
Primadona Kampus
11
Marahnya Seorang Alina
12
Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan
13
Perhatian Kecil Hafiz Untuk Alina
14
Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang
15
Pulangnya Intan Alwi
16
Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar
17
Insiden Di Dapur
18
Fatimah Meminta Kejelasan Status
19
Hafiz Dinas Ke Yogyakarta
20
Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin
21
Serba Salah
22
Tragedi Truk Terbalik
23
Berhutang Budi Pada Sang Penyelamat
24
Alina Sama Sekali Tidak Diperhatikan
25
Fatimah Melihat Sang Penyelamat
26
Perjanjian 100 Hari
27
Datangnya Hafiz Tanpa Pemberitahuan
28
Sikap Alina Yang Mendadak Berubah
29
Berpisah Untuk Sementara Waktu
30
Makan Siang Bersama
31
Fatimah Tidak Ingin Melepaskan Hafiz
32
Melepas Penat Di Kota Malang
33
Hafiz Mulai Kagum Dengan Sosok Alina
34
Tak Ingin Berharap Banyak
35
Datang Menyapa Alina
36
Selamat Jalan Ibu Nur
37
Sikap Hafiz Mendadak Berubah
38
Mimpi Dibalik Perubahan Sikap Hafiz
39
Alina Ingin Bercerai
40
Berusaha Menjadi Suami Yang Baik
41
Banyak Mengucap Istighfar
42
Kami Adalah Suami Istri
43
Banyak Pro Dan Kontra
44
Fatimah Tak Bisa Menghubungi Hafiz
45
Hafiz Mulai Bingung Dengan Perasaannya
46
Akhirnya Ayah Ismail Siuman
47
Hafiz Terpaksa Mengusir Fatimah
48
Penjelasan Hafiz Pada Alina
49
Pertengkaran Tak Dapat Terelakkan
50
Fatimah Tak Rela Dan Takkan Merelakan Hafiz
51
Menjadi Suami Istri Seutuhnya
52
Hafiz Datang Menemui Fatimah Di Rumah Sakit
53
Cerai!!
54
Hafiz Dan Fatimah Pergi Bersama Mencari Alina
55
Alina Melihat Kedekatan Hafiz Dan Fatimah
56
Bagaikan Hilang Ditelan Bumi
57
Hafiz Mengungkapkan Hubungannya
58
Alina Menenangkan Diri Di Ponorogo
59
Hafiz Menyusul Alina Ke Ponorogo
60
Salah Paham Yang Terselesaikan
61
Fatimah Enggan Mengakui Kesalahannya
62
Alina Akhirnya Kembali Ke Jakarta
63
Berbadan Dua
64
Ibu Nunuk Datang Menemui Alina Dan Hafiz
65
Alina Dan Hafiz Memutuskan Menemui Fatimah
66
Kecelakaan Beruntun
67
Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!