Akhirnya Menikah

Semua keluarga telah berkumpul di rumah keluarga Alina untuk menyaksikan pernikahan Alina dan Hafiz yang terpaut 12 tahun itu.

Banyak dari mereka yang terkejut dengan pernikahan mendadak tersebut, karena Alina baru saja lulus sekolah.

Calon mempelai pria telah duduk di kursi pelaminan. Sementara Alina masih berada di kamarnya karena belum selesai berhias.

Ibu Desi pun bergegas menyusul Sang putri untuk segera menjemput Alina.

“MasyaAllah, cantik putri Ibu,” puji Ibu Desi melihat Alina mengenakan kebaya putri ciri khas putri Jawa.

Alina membalas pujian Sang Ibu dengan sebuah senyuman. Ia terlihat tenang, padahal sebenarnya hatinya begitu gelisah karena akan menjadi seorang istri.

“Pengantinnya sudah siap,” ucap Sang perias pengantin.

Ibu Nur rupanya menyusul, karena tak sabar ingin melihat Alina menjadi istri sah dari putra sulungnya.

“Ini benar Alina? Kamu tambah cantik nduk, Ibu saja pangling melihat kamu,” puji Ibu Nur.

Alina mengucapkan terima kasih atas pujian Ibu Nur dan mereka bertiga bersama melangkah menuju kursi akad sebelum duduk cantik di kursi pelaminan.

Hafiz menatap Alina dengan canggung dan kembali menundukkan pandangannya.

“Mas Hafiz,” sapa Alina lirih sesaat setelah ia duduk di sisi kiri Hafiz.

Hafiz tak membalas sapaan Alina dan justru menoleh ke arah lain. Melihat sikap Hafiz yang seperti itu padanya, Alina berpikir bahwa Hafiz sesedang gugup karena akan mengucapkan janji suci pernikahan.

“Ananda Hafiz sudah siap?” tanya Pak Penghulu.

“Iya,” jawab Hafiz singkat.

“Baiklah, kalau begitu ulangi ucapan saya,” ucap Pak Penghulu.

Hafiz menarik napas panjang sebelum mengucapkan kalimat sakral yang akan didengar oleh semua orang yang hadir di acara pernikahannya itu.

“Saya terima nikah dan kawinnya Alina Putri Binti Bahri dengan seperangkat alat sholat, uang tunai 20 juta dan logam mulia seberat 10 gram dibayar tunai,” ucap Hafiz dengan sekali tarikan napas.

Semua yang hadir berteriak sah setelah Hafiz mengucapkan kalimat sakral tersebut.

“Alhamdulillah!” seru para hadirin tamu undangan.

Ibu Nur memberi isyarat agar kedua mempelai saling bersalaman. Namun, keduanya nampak dingin satu sama lain.

“Alina,” ucap Ibu Desi sambil menggerakkan tangan Alina agar mencium punggung tangan Hafiz.

“Hafiz,” ucap Ibu Nur dan meminta Hafiz untuk mencium kening Alina.

“Hafiz tidak bisa, Bu,” balas Hafiz lirih.

“Hafiz, jangan membuat Ibu sedih dan menurut lah apa yang Ibu katakan,” tegas Ibu Nur.

Dengan terpaksa Hafiz akhirnya mencium kening Alina dan Alina nampak sangat terkejut ketika Hafiz tiba-tiba mencium keningnya.

“Ibu senang karena kalian akhirnya menikah. Ibu berharap kalian selalu bahagia sampai kakek nenek,” tutur Ibu Nur menangis terharu.

Kedua mempelai kemudian dipersilakan untuk duduk di kursi pelaminan sambil menikmati campur sari yang dinyanyikan oleh para sinden.

Mereka duduk berjauhan, yang mana hal itu membuat para tamu yang hadir cukup bingung. Tak sedikit pula yang berpendapat bahwa kedua mempelai menikah hasil dari perjodohan.

Alina sangat canggung duduk bersebelahan dengan Hafiz yang telah sah menjadi suaminya. Begitu juga sebaliknya, Hafiz pun sangat canggung dan juga bingung karena ternyata dirinya sudah memiliki istri yang usianya jauh dibawahnya.

Konsep pernikahan mereka adalah campuran, yaitu perpaduan adat Jawa dan modern. Hal itu tentu saja sudah disepakati oleh kedua belah pihak.

Dari sekian banyak tamu yang menghadiri pernikahan tersebut, tak ada satupun teman sekolah Alina. Alina memang sengaja tidak mengundang teman sekolah, karena menurut Alina bukannya datang. Teman sekolah justru akan mengejeknya karena buru-buru menikah dan bukannya melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi lagi.

“Alina, jangan memasang wajah sedih. Tersenyumlah! Akan banyak orang yang memotret kalian berdua dan duduknya jangan ada jarak begitu. Lebih dekat dan harus tersenyum bahagia,” tutur Ibu Desi.

Alina dan Hafiz akhirnya tersenyum mengikuti apa yang Ibu Desi katakan.

***

Malam Hari.

Pesta pernikahan akhirnya terselesaikan dengan lancar dan sempurna. Sudah waktunya bagi kedua mempelai untuk beristirahat di kamar pengantin.

Ibu Desi dan Ibu Nur sangat antusias mengantarkan sepasang pengantin baru itu menuju kamar pengantin mereka.

“Kalian berdua masuklah dan beristirahat lah,” ucap Ibu Nur dengan sangat antusias.

Alina dan Hafiz pun masuk ke dalam kamar yang ternyata sudah didekor seperti kamar pengantin pada umumnya.

Jika Alina menunjukkan ekspresi terkejut, lain hal dengan Hafiz yang memasang raut wajah datar.

Hafiz berjalan dengan langkah lebar menuju almari pakaian dan mengambil pakaian ganti untuknya. Kemudian, Hafiz masuk ke dalam kamar mandi begitu saja.

Alina justru bingung harus melakukan apa, karena ia sendiri sangat bingung dengan status barunya yang telah menjadi seorang istri.

“Sebaiknya aku duduk di sini saja,” ucap Alina yang duduk di sofa dengan masih mengenakan gaun pernikahan.

Hafiz telah selesai mandi dan melihat Alina yang sudah tertidur dengan masih mengenakan gaun pernikahan.

Melihat Alina yang tidur seperti itu, Hafiz memilih berpura-pura tak melihat dan justru bergegas ke tempat tidur.

“Tidak seharusnya mereka menyia-yiakan kelopak bunga mawar sebanyak ini,” ucap Hafiz sambil membersihkan kelopak bunga mawar yang berbentuk hati di atas ranjang tempat tidur.

Hafiz membersihkan kelopak bunga mawar tersebut sampai tak tersisa satu kelopak pun. Kemudian, Hafiz bergegas tidur tanpa membangunkan Alina yang masih terlelap akibat kelelahan di pesta pernikahan mereka.

Alina perlahan membuka matanya dan memperhatikan sekelilingnya yang cukup gelap, karena lampu utama kamar dimatikan dan hanya tersisa lampu kecil di atas nakas.

Perlahan Alina bangkit dari sofa untuk melihat jam pada waktu itu yang ternyata sudah menunjukkan pukul 3 pagi.

“Sudah jam segini dan aku masih mengenakan gaun yang super melelahkan ini,” gumam Alina.

Alina berteriak manakala ia mendengar suara dengkuran halus di atas tempat tidurnya. Ia lupa bahwa telah menikah dan telah memiliki suami.

“Siapa kamu?” tanya Alina sambil memegang vase bunga sebagai perlindungan diri.

Hafiz dengan cepat menghidupkan lampu utama dan menjelaskan bahwa dirinya adalah Hafiz.

Alina seketika itu meletakkan kembali Vase bunga miliknya dan meminta maaf atas tindakannya yang kurang sopan.

Mendengar permintaan maaf Alina, Hafiz hanya diam dan kembali melanjut tidurnya.

“Kenapa masih berdiri disitu? Cepat ganti pakaian dan beristirahat,” ucap Hafiz dengan nada ketus.

Alina pun berjalan menuju almari miliknya dan mengambil setelan piyama berwarna hitam.

“Mas Hafiz, bisa tolong bantuin Alina menurunkan resleting gaun ini?” tanya Alina yang terpaksa membuang malunya agar segera terlepas dari gaun yang rumit itu.

Hafiz akhirnya bangun dari tidurnya dan membantu Alina menurunkan resleting gaun.

“Tutup mata,” ucap Alina meminta Hafiz untuk tutup mata.

Baru saja Alina mengucapkan kalimat tersebut, rupanya Hafiz sudah kembali ke tempat tidur tanpa mengeluarkan sepatah katapun.

Episodes
1 Syukuran Kelulusan
2 Pertemuan Dua Keluarga
3 Alasan Pertemuan Dua Keluarga
4 Akhirnya Menikah
5 Jaga Batasan
6 Saling Acuh Tak Acuh
7 Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz
8 Hadiah Kecil Dari Mertua Tercinta
9 Melihat Suami Bersama Wanita Lain
10 Primadona Kampus
11 Marahnya Seorang Alina
12 Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan
13 Perhatian Kecil Hafiz Untuk Alina
14 Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang
15 Pulangnya Intan Alwi
16 Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar
17 Insiden Di Dapur
18 Fatimah Meminta Kejelasan Status
19 Hafiz Dinas Ke Yogyakarta
20 Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin
21 Serba Salah
22 Tragedi Truk Terbalik
23 Berhutang Budi Pada Sang Penyelamat
24 Alina Sama Sekali Tidak Diperhatikan
25 Fatimah Melihat Sang Penyelamat
26 Perjanjian 100 Hari
27 Datangnya Hafiz Tanpa Pemberitahuan
28 Sikap Alina Yang Mendadak Berubah
29 Berpisah Untuk Sementara Waktu
30 Makan Siang Bersama
31 Fatimah Tidak Ingin Melepaskan Hafiz
32 Melepas Penat Di Kota Malang
33 Hafiz Mulai Kagum Dengan Sosok Alina
34 Tak Ingin Berharap Banyak
35 Datang Menyapa Alina
36 Selamat Jalan Ibu Nur
37 Sikap Hafiz Mendadak Berubah
38 Mimpi Dibalik Perubahan Sikap Hafiz
39 Alina Ingin Bercerai
40 Berusaha Menjadi Suami Yang Baik
41 Banyak Mengucap Istighfar
42 Kami Adalah Suami Istri
43 Banyak Pro Dan Kontra
44 Fatimah Tak Bisa Menghubungi Hafiz
45 Hafiz Mulai Bingung Dengan Perasaannya
46 Akhirnya Ayah Ismail Siuman
47 Hafiz Terpaksa Mengusir Fatimah
48 Penjelasan Hafiz Pada Alina
49 Pertengkaran Tak Dapat Terelakkan
50 Fatimah Tak Rela Dan Takkan Merelakan Hafiz
51 Menjadi Suami Istri Seutuhnya
52 Hafiz Datang Menemui Fatimah Di Rumah Sakit
53 Cerai!!
54 Hafiz Dan Fatimah Pergi Bersama Mencari Alina
55 Alina Melihat Kedekatan Hafiz Dan Fatimah
56 Bagaikan Hilang Ditelan Bumi
57 Hafiz Mengungkapkan Hubungannya
58 Alina Menenangkan Diri Di Ponorogo
59 Hafiz Menyusul Alina Ke Ponorogo
60 Salah Paham Yang Terselesaikan
61 Fatimah Enggan Mengakui Kesalahannya
62 Alina Akhirnya Kembali Ke Jakarta
63 Berbadan Dua
64 Ibu Nunuk Datang Menemui Alina Dan Hafiz
65 Alina Dan Hafiz Memutuskan Menemui Fatimah
66 Kecelakaan Beruntun
67 Happy Ending
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Syukuran Kelulusan
2
Pertemuan Dua Keluarga
3
Alasan Pertemuan Dua Keluarga
4
Akhirnya Menikah
5
Jaga Batasan
6
Saling Acuh Tak Acuh
7
Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz
8
Hadiah Kecil Dari Mertua Tercinta
9
Melihat Suami Bersama Wanita Lain
10
Primadona Kampus
11
Marahnya Seorang Alina
12
Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan
13
Perhatian Kecil Hafiz Untuk Alina
14
Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang
15
Pulangnya Intan Alwi
16
Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar
17
Insiden Di Dapur
18
Fatimah Meminta Kejelasan Status
19
Hafiz Dinas Ke Yogyakarta
20
Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin
21
Serba Salah
22
Tragedi Truk Terbalik
23
Berhutang Budi Pada Sang Penyelamat
24
Alina Sama Sekali Tidak Diperhatikan
25
Fatimah Melihat Sang Penyelamat
26
Perjanjian 100 Hari
27
Datangnya Hafiz Tanpa Pemberitahuan
28
Sikap Alina Yang Mendadak Berubah
29
Berpisah Untuk Sementara Waktu
30
Makan Siang Bersama
31
Fatimah Tidak Ingin Melepaskan Hafiz
32
Melepas Penat Di Kota Malang
33
Hafiz Mulai Kagum Dengan Sosok Alina
34
Tak Ingin Berharap Banyak
35
Datang Menyapa Alina
36
Selamat Jalan Ibu Nur
37
Sikap Hafiz Mendadak Berubah
38
Mimpi Dibalik Perubahan Sikap Hafiz
39
Alina Ingin Bercerai
40
Berusaha Menjadi Suami Yang Baik
41
Banyak Mengucap Istighfar
42
Kami Adalah Suami Istri
43
Banyak Pro Dan Kontra
44
Fatimah Tak Bisa Menghubungi Hafiz
45
Hafiz Mulai Bingung Dengan Perasaannya
46
Akhirnya Ayah Ismail Siuman
47
Hafiz Terpaksa Mengusir Fatimah
48
Penjelasan Hafiz Pada Alina
49
Pertengkaran Tak Dapat Terelakkan
50
Fatimah Tak Rela Dan Takkan Merelakan Hafiz
51
Menjadi Suami Istri Seutuhnya
52
Hafiz Datang Menemui Fatimah Di Rumah Sakit
53
Cerai!!
54
Hafiz Dan Fatimah Pergi Bersama Mencari Alina
55
Alina Melihat Kedekatan Hafiz Dan Fatimah
56
Bagaikan Hilang Ditelan Bumi
57
Hafiz Mengungkapkan Hubungannya
58
Alina Menenangkan Diri Di Ponorogo
59
Hafiz Menyusul Alina Ke Ponorogo
60
Salah Paham Yang Terselesaikan
61
Fatimah Enggan Mengakui Kesalahannya
62
Alina Akhirnya Kembali Ke Jakarta
63
Berbadan Dua
64
Ibu Nunuk Datang Menemui Alina Dan Hafiz
65
Alina Dan Hafiz Memutuskan Menemui Fatimah
66
Kecelakaan Beruntun
67
Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!