Fatimah Meminta Kejelasan Status

Malam Hari.

Ponsel Hafiz berbunyi, ketika Hafiz sedang menyempatkan diri membaca buku miliknya. Hafiz perlahan meraih ponselnya dan melihat layar ponselnya yang ternyata itu adalah Fatimah.

Sebelum menerima telepon dari Fatimah, Hafiz terlebih dulu menoleh ke arah Alina, untuk memastikan bahwa istrinya sudah tidur nyenyak.

Kenapa Fatimah menelpon ku di jam malam seperti ini? (Batin Hafiz)

Hafiz perlahan berjalan mendekati pintu dan melangkah keluar.

“Assalamu'alaikum, Kamu sudah tidur, Fiz?” tanya Fatimah dari balik telepon.

“Wa'alaikumsalam, Aku belum tidur. Ada apa Im?” tanya Hafiz.

“Aku baru saja bermimpi buruk, Hafiz. Bisakah kita bertemu sebentar?” tanya Fatimah mengajak Hafiz bertemu malam itu.

“Malam ini?” tanya Hafiz memastikan.

“Aku sangat membutuhkan mu, Hafiz. Jika tidak malam ini, sepertinya aku tidak akan bisa tidur,” ucap Fatimah.

Tanpa pikir panjang, Hafiz mengiyakan ajakan Fatimah dan bergegas pergi untuk saling bertemu.

“Baiklah, Imah. Sebentar lagi aku pergi menemuimu,” tutur Hafiz pada Fatimah.

Hafiz kembali masuk ke dalam kamar dengan niatan untuk mengganti pakaiannya.

“Mas Hafiz mau kemana?” tanya Alina yang tiba-tiba terjaga karena suara berisik Hafiz.

Hafiz terkejut, hingga baju yang berada di tangannya terlepas.

“Mas ada urusan mendadak,” jawab Hafiz seraya memungut pakaian miliknya yang tergeletak di lantai.

“Urusan mendadak apa, Mas? Alina ingin ikut, sekalian beli nasi goreng di luar sana,” tutur Alina yang ingin pergi bersama dengan suaminya.

Alina yakin bahwa ada yang Hafiz sembunyikan darinya. Karena gelagat Hafiz malam itu cukup mencurigakan.

“Besok kamu kuliah, lebih baik kamu kembali tidur. Mas juga tidak lama, paling lambat 1 jam baru kembali.”

“Baiklah, kalau memang begitu ya mau bagaimana lagi? Cepatlah kembali dan tolong belikan Alina nasi goreng,” ujar Alina.

Alina kembali memejamkan matanya, sementara Hafiz bergegas mengganti pakaiannya.

Setelah selesai ganti pakaian, Hafiz melenggang pergi untuk segera menemui Fatimah.

***

Fatimah duduk seorang diri di kursi taman, sesekali ia menoleh ke arah sekitar untuk melihat apakah Hafiz sudah tiba ataukah belum.

“Fatimah!” Hafiz berlari kecil menghampiri Fatimah yang duduk seorang diri di kursi taman.

Fatimah segera beranjak dari duduknya dan berlari ke dalam peluk Hafiz.

“Ada apa, Imah? Kamu kelihatannya sangat sedih,” ucap Hafiz yang juga membalas pelukan Fatimah.

“Hafiz, apakah kamu masih menyayangiku?” tanya Fatimah memastikan.

“Kenapa kamu bertanya begitu, Imah? Apakah ada hal yang membuatmu ragu?”

“Aku bermimpi buruk, Hafiz. Aku bermimpi bahwa ada wanita lain yang merebutmu dariku. Aku sangat takut, Hafiz. Bagaimana jika kamu tergoda dan meninggalkan diriku?”

Fatimah menangis dipelukan Hafiz, ia sangat takut dengan mimpi buruk tersebut.

“Jangan menangis wanita manisku, kamu tidak perlu menangis hanya karena mimpi burukmu itu,” ucap Hafiz seraya membelai lembut rambut Fatimah yang tertutup hijab.

“Lalu, aku harus apa? Tidak bisakah kamu menghilangkan rasa sedih ku ini?”

“Aku harus apa agar kamu berhenti menangis, Imah?” tanya Hafiz.

“Temui Ibuku, Hafiz. Katakan pada Ibuku bahwa kamu ingin menikahi ku.”

Hafiz reflek melepaskan pelukannya dan melangkah mundur mendengar keinginan Fatimah. Ia tidak bisa langsung mengabulkan keinginan Fatimah yang meminta sebuah pernikahan sakral tersebut.

“Ada apa, Fiz? Kenapa kamu terlihat sangat terkejut? Apakah hubungan kita selama ini, sama sekali tak berarti bagimu? Bukankah kamu pernah mengatakan bahwa dirimu sangat mencintaiku?”

Hafiz belum siap untuk memberitahu Fatimah tentang dirinya yang telah memiliki istri. Perjodohan dirinya dengan Alina, tak banyak diketahui oleh para rekannya, termasuk Fatimah.

“Kenapa kamu terlihat kaget begitu, Fiz? Apakah kamu sudah tidak memiliki perasaan untukku? Ataukah ada wanita lain yang berhasil membuatmu jatuh cinta?”

Fatimah terlihat sangat kecewa dengan sikap Hafiz yang sepertinya tidak ingin mengabulkan keinginannya untuk menikah.

“Aku minta kamu jangan berpikir yang tidak-tidak, Imah. Besok aku ada urusan yang membuatku pergi ke Yogyakarta, jadi tolong untuk tidak berpikiran yang aneh-aneh tentang diriku. Ayo kita pulang, sebaiknya aku mengantarkan kamu pulang,” ucap Hafiz seraya merangkul pundak Fatimah.

Fatimah hanya diam seraya mengikuti langkah kaki Hafiz yang membawanya pergi menjauh dari area taman.

“Jangan sedih ya wanita manisnya aku,” ucap Hafiz menghibur Fatimah agar tidak lagi menangis.

“Kamu seharusnya tahu penyebab mengapa aku begini, Fiz. Ku harap kamu segera membuktikan perkataan mu padaku dan kejelasan hubungan kita,” pungkas Fatimah.

***

Alina perlahan membuka matanya, ketika mendengar suara Hafiz yang terus memanggil namanya.

“Alina, bangun. Ini nasi goreng yang kamu minta,” ucap Hafiz membangunkan Alina.

“Mas Hafiz beli berapa?” tanya Alina sambil mengucek matanya.

“Beli sebungkus,” jawab Hafiz sambil meletakkan nasi goreng tersebut di atas meja.

“Untuk Mas Hafiz mana?”

“Mas masih kenyang, Alina. Sebaiknya kamu segera makan nasi goreng ini, setelah itu tidurlah untuk menghadapi kelas besok pagi.”

Alina yang memang sangat lapar, perlahan turun dari tempat tidurnya.

“Urusan Mas sudah selesai? Kenapa Mas terlihat gelisah begitu?” tanya Alina menyadari bahwa tampang Hafiz saat itu terlihat cukup gelisah.

“Sudah jangan banyak bicara, habiskan makananmu dan cepatlah tidur,” balas Hafiz yang terdengar cukup risih dengan pertanyaan Alina.

“Alina berbuat salah ya Mas? Kenapa Mas terlihat sinis begitu?” tanya Alina kesal.

Bukannya menjawab, Hafiz justru masuk ke dalam kamar mandi dengan suara pintu yang ditutup cukup keras.

Sepertinya Mas Hafiz baru saja bertemu dengan Fatimah. Apakah mereka sedang bertengkar? Sepertinya begitu. (Batin Alina)

Di dalam kamar mandi, Hafiz tengah membasuh wajahnya dengan cukup kasar. Permintaan Fatimah terus saja terngiang-ngiang dipikirannya, ia ingin sekali segera menikahi Fatimah. Akan tetapi, dirinya sudah berstatus sebagai suami dari seorang Alina Putri. Tidak mungkin baginya untuk menceraikan Alina dan tidak mungkin baginya untuk melepaskan sosok dari Fatimah, kekasih hati Hafiz Alwi.

“Mas, apakah masih lama? Alina ingin buang air kecil,” ucap Alina seraya mengetuk pintu kamar mandi.

Hafiz keluar dari kamar mandi dengan memberikan tatapan tak suka.

Melihat tatapan mata Hafiz padanya, Alina hanya bisa diam. Hatinya cukup sakit, namun ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Lagipula, hubungannya dengan Hafiz hanya sebatas perjodohan.

“Alina, kamu menghabiskan nasi goreng yang Mas beli?” tanya Hafiz tanpa ingin melihat wajah Alina.

“Ya. Apa ada masalah?” tanya Alina sebelum masuk ke dalam kamar mandi.

Ketika Hafiz ingin membalas pertanyaan Alina, Alina sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar mandi.

Sebenarnya Aku ini ada salah apa dengan Mas Hafiz? Kenapa tadi dia memberikan tatapan seperti itu padaku? (Batin Alina)

Alina tersenyum kecut seraya menatap dirinya di cermin. Ia merasa bahwa sikap Hafiz padanya semakin menyebalkan.

Terpopuler

Comments

Khairul Azam

Khairul Azam

ini alin bego ta apa yg kq gak ada curiga sama suai

2025-03-30

0

Maulana ya_Rohman

Maulana ya_Rohman

😢😢😢😢😢😢🤧....
knp gak di lepaskan slh 1 nya😟😟😟😟...
aku gak rela kalau Alina di madu😩😩😩😩😩
knp up nya sering ngadat ya thor😢🤧...
pdhl sering ngintipin..👀👀👀

2023-10-04

0

lihat semua
Episodes
1 Syukuran Kelulusan
2 Pertemuan Dua Keluarga
3 Alasan Pertemuan Dua Keluarga
4 Akhirnya Menikah
5 Jaga Batasan
6 Saling Acuh Tak Acuh
7 Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz
8 Hadiah Kecil Dari Mertua Tercinta
9 Melihat Suami Bersama Wanita Lain
10 Primadona Kampus
11 Marahnya Seorang Alina
12 Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan
13 Perhatian Kecil Hafiz Untuk Alina
14 Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang
15 Pulangnya Intan Alwi
16 Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar
17 Insiden Di Dapur
18 Fatimah Meminta Kejelasan Status
19 Hafiz Dinas Ke Yogyakarta
20 Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin
21 Serba Salah
22 Tragedi Truk Terbalik
23 Berhutang Budi Pada Sang Penyelamat
24 Alina Sama Sekali Tidak Diperhatikan
25 Fatimah Melihat Sang Penyelamat
26 Perjanjian 100 Hari
27 Datangnya Hafiz Tanpa Pemberitahuan
28 Sikap Alina Yang Mendadak Berubah
29 Berpisah Untuk Sementara Waktu
30 Makan Siang Bersama
31 Fatimah Tidak Ingin Melepaskan Hafiz
32 Melepas Penat Di Kota Malang
33 Hafiz Mulai Kagum Dengan Sosok Alina
34 Tak Ingin Berharap Banyak
35 Datang Menyapa Alina
36 Selamat Jalan Ibu Nur
37 Sikap Hafiz Mendadak Berubah
38 Mimpi Dibalik Perubahan Sikap Hafiz
39 Alina Ingin Bercerai
40 Berusaha Menjadi Suami Yang Baik
41 Banyak Mengucap Istighfar
42 Kami Adalah Suami Istri
43 Banyak Pro Dan Kontra
44 Fatimah Tak Bisa Menghubungi Hafiz
45 Hafiz Mulai Bingung Dengan Perasaannya
46 Akhirnya Ayah Ismail Siuman
47 Hafiz Terpaksa Mengusir Fatimah
48 Penjelasan Hafiz Pada Alina
49 Pertengkaran Tak Dapat Terelakkan
50 Fatimah Tak Rela Dan Takkan Merelakan Hafiz
51 Menjadi Suami Istri Seutuhnya
52 Hafiz Datang Menemui Fatimah Di Rumah Sakit
53 Cerai!!
54 Hafiz Dan Fatimah Pergi Bersama Mencari Alina
55 Alina Melihat Kedekatan Hafiz Dan Fatimah
56 Bagaikan Hilang Ditelan Bumi
57 Hafiz Mengungkapkan Hubungannya
58 Alina Menenangkan Diri Di Ponorogo
59 Hafiz Menyusul Alina Ke Ponorogo
60 Salah Paham Yang Terselesaikan
61 Fatimah Enggan Mengakui Kesalahannya
62 Alina Akhirnya Kembali Ke Jakarta
63 Berbadan Dua
64 Ibu Nunuk Datang Menemui Alina Dan Hafiz
65 Alina Dan Hafiz Memutuskan Menemui Fatimah
66 Kecelakaan Beruntun
67 Happy Ending
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Syukuran Kelulusan
2
Pertemuan Dua Keluarga
3
Alasan Pertemuan Dua Keluarga
4
Akhirnya Menikah
5
Jaga Batasan
6
Saling Acuh Tak Acuh
7
Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz
8
Hadiah Kecil Dari Mertua Tercinta
9
Melihat Suami Bersama Wanita Lain
10
Primadona Kampus
11
Marahnya Seorang Alina
12
Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan
13
Perhatian Kecil Hafiz Untuk Alina
14
Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang
15
Pulangnya Intan Alwi
16
Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar
17
Insiden Di Dapur
18
Fatimah Meminta Kejelasan Status
19
Hafiz Dinas Ke Yogyakarta
20
Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin
21
Serba Salah
22
Tragedi Truk Terbalik
23
Berhutang Budi Pada Sang Penyelamat
24
Alina Sama Sekali Tidak Diperhatikan
25
Fatimah Melihat Sang Penyelamat
26
Perjanjian 100 Hari
27
Datangnya Hafiz Tanpa Pemberitahuan
28
Sikap Alina Yang Mendadak Berubah
29
Berpisah Untuk Sementara Waktu
30
Makan Siang Bersama
31
Fatimah Tidak Ingin Melepaskan Hafiz
32
Melepas Penat Di Kota Malang
33
Hafiz Mulai Kagum Dengan Sosok Alina
34
Tak Ingin Berharap Banyak
35
Datang Menyapa Alina
36
Selamat Jalan Ibu Nur
37
Sikap Hafiz Mendadak Berubah
38
Mimpi Dibalik Perubahan Sikap Hafiz
39
Alina Ingin Bercerai
40
Berusaha Menjadi Suami Yang Baik
41
Banyak Mengucap Istighfar
42
Kami Adalah Suami Istri
43
Banyak Pro Dan Kontra
44
Fatimah Tak Bisa Menghubungi Hafiz
45
Hafiz Mulai Bingung Dengan Perasaannya
46
Akhirnya Ayah Ismail Siuman
47
Hafiz Terpaksa Mengusir Fatimah
48
Penjelasan Hafiz Pada Alina
49
Pertengkaran Tak Dapat Terelakkan
50
Fatimah Tak Rela Dan Takkan Merelakan Hafiz
51
Menjadi Suami Istri Seutuhnya
52
Hafiz Datang Menemui Fatimah Di Rumah Sakit
53
Cerai!!
54
Hafiz Dan Fatimah Pergi Bersama Mencari Alina
55
Alina Melihat Kedekatan Hafiz Dan Fatimah
56
Bagaikan Hilang Ditelan Bumi
57
Hafiz Mengungkapkan Hubungannya
58
Alina Menenangkan Diri Di Ponorogo
59
Hafiz Menyusul Alina Ke Ponorogo
60
Salah Paham Yang Terselesaikan
61
Fatimah Enggan Mengakui Kesalahannya
62
Alina Akhirnya Kembali Ke Jakarta
63
Berbadan Dua
64
Ibu Nunuk Datang Menemui Alina Dan Hafiz
65
Alina Dan Hafiz Memutuskan Menemui Fatimah
66
Kecelakaan Beruntun
67
Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!