Hafiz Dinas Ke Yogyakarta

Keesokan Pagi.

Alina baru saja mendapat kabar bahwa Sang suami akan pergi ke Yogyakarta selama 2 hari. Sebagai seorang istri yang menikah karena sebuah perjodohan, Alina sama sekali tidak ambil pusing.

“Apakah hanya 2 hari saja? Lebih dari 2 juga tidak masalah,” ucap Alina dengan santai.

Hafiz tidak ingin banyak bicara dengan Alina, ia cukup diam mendengar apapun yang dikatakan oleh Alina.

Ibu Desi dan Ayah Bahri menghampiri keduanya untuk pamit pergi bekerja.

“Nak Hafiz hati-hati ya selama di Yogyakarta, jaga kesehatan terutama makannya dijaga,” ucap Ibu Desi.

“Iya Bu, Saya akan terus mengingat pesan Ibu,” balas Hafiz.

Setelah Ayah dan Ibu Desi pergi ke kantor, Hafiz dan Alina pun berangkat ke kampus. Namun, mereka berangkat secara terpisah. Hafiz ke kampus menggunakan kendaraan pribadinya dan Alina menggunakan jasa tukang ojek pengkolan.

“Alina!” Larasati berlari kecil menghampiri Alina yang baru saja turun dari motor.

“Hai,” ucap Alina menyapa Larasati.

“Kamu kenapa, Alina? Kelihatannya kamu sangat lelah, seperti orang yang kekurangan waktu istirahat.” Bagian kantung mata Alina terlihat jelas bahwa dirinya kelelahan kurang tidur.

Alina mengiyakan dan menjelaskan bahwa dirinya semalaman suntuk tidak tidur karena belajar.

Mendengar penjelasan Alina, Larasati cukup terkejut. Karena gadis pintar seperti Alina saja rupanya sangat semangat belajar.

“Kamu memang pantas diacungi jempol,” ucap Larasati seraya mengangkat kedua jempol tangannya searah dada.

“Laras, hari ini aku sedang tidak ingin bicara. Aku harap kamu bisa mengerti dan tidak tersinggung dengan keinginan ku ini,” tutur Alina.

Larasati cukup bisa memaklumi permintaan Alina dan segera menutup mulutnya rapat-rapat.

Siang Hari.

Jam kelas telah berakhir, Alina bergegas pergi ke rumah mertuanya dikarenakan Intan Sang adik ipar ingin mengajaknya pergi bermain di salah satu mal.

“Assalamu'alaikum,” ucap Alina sebelum masuk ke dalam rumah keluarga Sang suami.

“Wa'alaikumsalam, Mbak Alina kenapa lama sekali?” tanya Intan yang ternyata sudah berpakaian rapi dengan rambut yang dikucir kuda.

“Benarkah? Aku rasa tidak lama. Di mana Ayah dan Ibu?” tanya Alina yang tak melihat mertuanya.

“Ayah dan Ibu masih di kantor. Apakah Mas Hafiz sudah pergi ke Yogyakarta?” tanya Intan yang sebelumnya mendapat kabar bahwa Hafiz akan pergi ke Yogyakarta selama 2 hari.

“Sudah, jam 11 tadi,” jawab Alina.

“Kita pergi sekarang bagaimana, Mbak Alina? Mumpung masih jam 2 siang,” ujar Intan.

“Baiklah, Ayo kita pergi!” seru Alina.

Mereka berdua pergi dengan menggunakan taksi onlineonline untuk menuju ke mal yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah.

“Besok Intan sudah kembali ke Semarang,” ucap Intan pada Alina.

“Besok? Kenapa cepat sekali, Intan?” tanya Alina.

“Mbak Alina jangan sedih dong, kalau sudah waktunya Alina akan kembali lagi.”

Selama berada diperjalanan menuju mal, mereka terus saja berbincang-bincang. Hingga akhirnya mereka tiba di mal yang dituju.

“Mbak Alina mau beli apa? Biar Intan yang bayar,” ucap Intan.

Alina tahu bahwa Intan tak mungkin kekurangan uang, secara mereka berasal dari keluarga yang berpunya. Akan tetapi, Alina menolak keinginan Intan dan justru menawarkan diri untuk membayar semua apapun yang Intan inginkan.

“Mbak Alina serius mau membayar apapun yang Intan ingin?”

“Apa Aku kelihatan bercanda ya?” tanya Alina sambil mengeluarkan kartu kredit miliknya.

“Karena Mbak Alina inginnya begitu, baiklah. Terima kasih mbak iparku yang cantik!” seru Intan penuh semangat.

Intan sangat bersemangat, ia menarik tangan Alina menuju store pakaian.

“Mbak, coba deh lihat dress warna hitam ini. Kalau Intan pakai, cocok apa tidak?” tanya Intan yang perhatiannya tertuju pada dress warna hitam yang panjang selutut Intan.

“Apapun yang kamu pakai, Aku rasa semuanya cocok,” jawab Alina.

Intan tersenyum penuh kebanggaan mendengar jawab Alina yang membuat semakin menggebu-gebu.

“Kalau begitu, Intan ambil yang ini ya Mbak,” tutur Intan.

“Iya Intan, apa ada dress yang lain yang mau kamu bawa pulang?” tanya Alina sambil mengeluarkan kartu kredit miliknya.

“Mbak bisa saja!” seru Intan penuh semangat.

***

Malam Hari.

Hafiz tersenyum kecil melihat foto kiriman Fatimah yang sedang berpose jelek. Melihat wajah Fatimah yang seperti itu, membuat Hafiz semakin menyukai Fatimah Sang pujaan hati tercinta.

Tidak afdol kalau aku tidak melakukan video call. (Batin Hafiz)

Karena jam masih menunjukkan pukul 9 malam, Hafiz memutuskan untuk melakukan panggilan video. Ia ingin melihat wajah Fatimah sebelum tidur dan melanjutkan aktivitasnya esok hari.

“Assalamu'alaikum, manisku,” ucap Hafiz menyapa Fatimah.

“Wa'alaikumsalam, gantengku!” seru Fatimah yang juga menyapa Hafiz.

“Kamu sedang apa, Im? Bagaimana di sekolah hari ini?”

“Semua berjalan lancar seperti biasanya, Fiz. Bagaimana pekerjaan mu di Yogyakarta? Apakah semuanya berjalan lancar?” tanya Fatimah penasaran.

“Ada sedikit kendala dan untungnya aku bisa mengatasinya,” jawab Hafiz.

Mereka terus berbincang-bincang, hingga waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam.

“Hafiz, sudah jam 12 malam. Aku harus segera tidur, bukankah kamu juga harus tidur?” tanya Fatimah yang sudah sangat mengantuk.

“Ya sudah, ayo kita tidur bersama manisku,” balas Hafiz mengakhiri panggilan telepon.

Hafiz tersenyum bahagia seraya meletakkan ponselnya diatas nakas.

Malam itu Hafiz sangat bahagia, karena bisa berbincang-bincang dan bersenda gurau dengan Fatimah. Tak sedikitpun dirinya memikirkan Alina yang jelas-jelas sudah menikah dengannya.

Di sisi lain.

Alina masih terjaga dan sangat sulit memejamkan matanya, sudah jam 12 malam Sang suami belum juga memberi kabar.

Aku sangat tahu jelas bagaimana hubunganku dengan Mas Hafiz. Tapi kenapa, sampai jam segini pun dia tidak memberi kabar? (Batin Alina)

Alina berpikir cukup keras malam itu, sampai akhirnya ia menduga bahwa yang Hafiz hubungi memang bukan dirinya. Melainkan, wanita bernama Fatimah itu.

“Mbak Alina kenapa belum tidur?” tanya Intan yang tiba-tiba terjaga.

“Mungkin sebentar lagi Aku tidur,” jawab Alina yang terus memandangi langit-langit kamar Intan.

“Mbak pasti merindukan Mas Hafiz ya? Mbak tenang saja, lusa Mas sudah pulang dan Mbak Intan tidak perlu sedih begini,” ucap Alina.

Kamu tidak tahu apa-apa, Intan. Bahkan, Ayah dan Ibumu pun tak tahu bagaimana hubunganku yang sebenarnya dengan Mas Hafiz. (Batin Alina)

“Yey.. Kok malah bengong? Ayo Mbak, cepat tidur. Besok Intan harus bangun pagi-pagi untuk berangkat ke Semarang,” tutur Intan.

Alina hanya bisa menghela napasnya dan perlahan memejamkan matanya.

“Mbak Alina yakin nih mau tidur?” tanya Intan ketika melihat Alina yang sudah memejamkan matanya.

“Iya, Intan. Ayo tidur, Mbak sudah sangat mengantuk,” ujar Alina mengajak Intan untuk kembali tidur.

“Selamat tidur Mbak Alina, semoga memimpikan Mas Hafiz,” balas Intan seraya tertawa kecil.

Terpopuler

Comments

Maulana ya_Rohman

Maulana ya_Rohman

😢😢😢😢🤧.... harus di timpuk kpala nya hafiz dulu... biar sadar kalau Alina "istri yang tak di harap kan" .. malah ter abay kan...😭😭😭

2023-10-05

0

lihat semua
Episodes
1 Syukuran Kelulusan
2 Pertemuan Dua Keluarga
3 Alasan Pertemuan Dua Keluarga
4 Akhirnya Menikah
5 Jaga Batasan
6 Saling Acuh Tak Acuh
7 Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz
8 Hadiah Kecil Dari Mertua Tercinta
9 Melihat Suami Bersama Wanita Lain
10 Primadona Kampus
11 Marahnya Seorang Alina
12 Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan
13 Perhatian Kecil Hafiz Untuk Alina
14 Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang
15 Pulangnya Intan Alwi
16 Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar
17 Insiden Di Dapur
18 Fatimah Meminta Kejelasan Status
19 Hafiz Dinas Ke Yogyakarta
20 Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin
21 Serba Salah
22 Tragedi Truk Terbalik
23 Berhutang Budi Pada Sang Penyelamat
24 Alina Sama Sekali Tidak Diperhatikan
25 Fatimah Melihat Sang Penyelamat
26 Perjanjian 100 Hari
27 Datangnya Hafiz Tanpa Pemberitahuan
28 Sikap Alina Yang Mendadak Berubah
29 Berpisah Untuk Sementara Waktu
30 Makan Siang Bersama
31 Fatimah Tidak Ingin Melepaskan Hafiz
32 Melepas Penat Di Kota Malang
33 Hafiz Mulai Kagum Dengan Sosok Alina
34 Tak Ingin Berharap Banyak
35 Datang Menyapa Alina
36 Selamat Jalan Ibu Nur
37 Sikap Hafiz Mendadak Berubah
38 Mimpi Dibalik Perubahan Sikap Hafiz
39 Alina Ingin Bercerai
40 Berusaha Menjadi Suami Yang Baik
41 Banyak Mengucap Istighfar
42 Kami Adalah Suami Istri
43 Banyak Pro Dan Kontra
44 Fatimah Tak Bisa Menghubungi Hafiz
45 Hafiz Mulai Bingung Dengan Perasaannya
46 Akhirnya Ayah Ismail Siuman
47 Hafiz Terpaksa Mengusir Fatimah
48 Penjelasan Hafiz Pada Alina
49 Pertengkaran Tak Dapat Terelakkan
50 Fatimah Tak Rela Dan Takkan Merelakan Hafiz
51 Menjadi Suami Istri Seutuhnya
52 Hafiz Datang Menemui Fatimah Di Rumah Sakit
53 Cerai!!
54 Hafiz Dan Fatimah Pergi Bersama Mencari Alina
55 Alina Melihat Kedekatan Hafiz Dan Fatimah
56 Bagaikan Hilang Ditelan Bumi
57 Hafiz Mengungkapkan Hubungannya
58 Alina Menenangkan Diri Di Ponorogo
59 Hafiz Menyusul Alina Ke Ponorogo
60 Salah Paham Yang Terselesaikan
61 Fatimah Enggan Mengakui Kesalahannya
62 Alina Akhirnya Kembali Ke Jakarta
63 Berbadan Dua
64 Ibu Nunuk Datang Menemui Alina Dan Hafiz
65 Alina Dan Hafiz Memutuskan Menemui Fatimah
66 Kecelakaan Beruntun
67 Happy Ending
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Syukuran Kelulusan
2
Pertemuan Dua Keluarga
3
Alasan Pertemuan Dua Keluarga
4
Akhirnya Menikah
5
Jaga Batasan
6
Saling Acuh Tak Acuh
7
Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz
8
Hadiah Kecil Dari Mertua Tercinta
9
Melihat Suami Bersama Wanita Lain
10
Primadona Kampus
11
Marahnya Seorang Alina
12
Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan
13
Perhatian Kecil Hafiz Untuk Alina
14
Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang
15
Pulangnya Intan Alwi
16
Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar
17
Insiden Di Dapur
18
Fatimah Meminta Kejelasan Status
19
Hafiz Dinas Ke Yogyakarta
20
Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin
21
Serba Salah
22
Tragedi Truk Terbalik
23
Berhutang Budi Pada Sang Penyelamat
24
Alina Sama Sekali Tidak Diperhatikan
25
Fatimah Melihat Sang Penyelamat
26
Perjanjian 100 Hari
27
Datangnya Hafiz Tanpa Pemberitahuan
28
Sikap Alina Yang Mendadak Berubah
29
Berpisah Untuk Sementara Waktu
30
Makan Siang Bersama
31
Fatimah Tidak Ingin Melepaskan Hafiz
32
Melepas Penat Di Kota Malang
33
Hafiz Mulai Kagum Dengan Sosok Alina
34
Tak Ingin Berharap Banyak
35
Datang Menyapa Alina
36
Selamat Jalan Ibu Nur
37
Sikap Hafiz Mendadak Berubah
38
Mimpi Dibalik Perubahan Sikap Hafiz
39
Alina Ingin Bercerai
40
Berusaha Menjadi Suami Yang Baik
41
Banyak Mengucap Istighfar
42
Kami Adalah Suami Istri
43
Banyak Pro Dan Kontra
44
Fatimah Tak Bisa Menghubungi Hafiz
45
Hafiz Mulai Bingung Dengan Perasaannya
46
Akhirnya Ayah Ismail Siuman
47
Hafiz Terpaksa Mengusir Fatimah
48
Penjelasan Hafiz Pada Alina
49
Pertengkaran Tak Dapat Terelakkan
50
Fatimah Tak Rela Dan Takkan Merelakan Hafiz
51
Menjadi Suami Istri Seutuhnya
52
Hafiz Datang Menemui Fatimah Di Rumah Sakit
53
Cerai!!
54
Hafiz Dan Fatimah Pergi Bersama Mencari Alina
55
Alina Melihat Kedekatan Hafiz Dan Fatimah
56
Bagaikan Hilang Ditelan Bumi
57
Hafiz Mengungkapkan Hubungannya
58
Alina Menenangkan Diri Di Ponorogo
59
Hafiz Menyusul Alina Ke Ponorogo
60
Salah Paham Yang Terselesaikan
61
Fatimah Enggan Mengakui Kesalahannya
62
Alina Akhirnya Kembali Ke Jakarta
63
Berbadan Dua
64
Ibu Nunuk Datang Menemui Alina Dan Hafiz
65
Alina Dan Hafiz Memutuskan Menemui Fatimah
66
Kecelakaan Beruntun
67
Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!