Jaga Batasan

Pagi Hari.

Para orang tua tersenyum lebar ketika melihat Alina dan Hafiz yang baru tiba di ruang makan. Mereka mendengar teriakan Alina semalam, berpikir bahwa keduanya sedang melakukan hal yang seharusnya dilakukan oleh sepasang pengantin baru.

“Alina, bagaimana tidur kamu? Nyenyak apa tidak?” Ibu Nur

Alina tak langsung menjawab pertanyaan Sang Ibu Mertua yang justru membuat Ibu Nur semakin senang.

“Tidak usah dijawab, Ibu sudah tahu,” ucap Ibu Nur.

Ibu Nur tersenyum lebar seraya menepuk bahu Hafiz berulang kali.

“Good job,” ujar Ibu Nur.

Hafiz hanya diam sambil mengisi piringnya dengan nasi dan juga lauk.

Seusai sarapan bersama, Hafiz pamit pergi karena ada urusan penting yang harus ia kerjakan. Ibu Nur dan Ayah Ismail meminta Hafiz untuk pergi mengajak Alina sekalian mendekatkan keduanya agar semakin dekat.

“Alina di rumah saja,” ucap Alina.

Beberapa jam sebelumnya.

Hafiz bangun dari tidurnya lebih awal dari pada biasanya, ia turun dari tempat tidur dan berniat membasuh muka.

Alina yang saat itu masih tidur, akhirnya terbangun karena mendengar suara air yang cukup berisik.

“Aku masih ngantuk,” ucap Alina sambil berjalan menuju kamar mandi dengan mata yang belum terbuka sempurna.

Ketika Alina hendak masuk ke dalam kamar mandi, ia terkejut karena yang ia sentuh bukanlah pintu kamar mandi. Melainkan, bagian perut Hafiz.

“Maaf,” ucap Alina reflek menjauh.

Hafiz menatap dingin Alina dan melanjutkan langkahnya ke sofa.

Melihat Hafiz yang sangat dingin dan terkesan cuek, membuat Alina sedikit kesal. Meski begitu, Alina hanya bisa diam dan memutuskan untuk lanjut tidur.

“Ketika tidak ada Ayah dan Ibu, aku harap kamu jaga batasan,” ucap Hafiz yang sedang berkutat dengan laptop miliknya.

Alina mengernyitkan keningnya mendengar ucapan Hafiz.

“Mas Hafiz bicara dengan Alina?” tanya Alina yang sudah berada di atas tempat tidur.

“Ya,” jawab Hafiz singkat tanpa ingin melihat Alina.

Alina mengiyakan apa yang suaminya katakan, meskipun sebenarnya Alina sangat keberatan dengan ucapan Hafiz padanya.

***

Ibu Nur menepuk bahu Alina yang tertangkap sedang melamun.

“Nak Alina melamun?” tanya Ibu Nur.

Alina tersenyum kecil dan menjelaskan bahwa dirinya tidak bisa ikut dengan Hafiz. Namun, alasan Alina tidaklah kuat dan Ibu Nur terus mendorong Alina untuk ikut bersama Hafiz.

Melihat wajah Ibu mertua yang sangat antusias, dengan terpaksa Alina mengiyakan.

“Tunggu apa lagi? Kalian berdua pergi lah,” ucap Ibu Nur.

Alina dan Hafiz pun bergegas pergi ke tempat yang akan Hafiz tuju.

Selama di dalam mobil, keduanya saling menutup diri satu sama lain. Tak ada pembicaraan selama menuju ke tempat tujuan.

Karena suasana dalam mobil yang semakin canggung, Alina pun memilih untuk tidur selama perjalanan.

Ketika Alina sedang tidur, tangan kanan Alina tak sengaja bergerak dan bersentuhan dengan tangan Hafiz yang sedang memegang handbrake.

Anak ini kenapa tidur tidak bisa diam. (Batin Hafiz)

Hafiz memilih mengabaikan Alina dan menambah kecepatan laju mobil menuju SPBU.

“Isi full ya Mas,” ucap Hafiz pada pengawai SPBU.

Suara Hafiz yang cukup lantang pada akhirnya membangunkan Alina. Akan tetapi, Alina memilih memejamkan matanya dan berharap kembali tidur.

“Terima kasih,” ucap Hafiz dan kembali mengemudikan mobilnya menuju lokasi.

Setibanya di lokasi, Hafiz pergi begitu saja. Tanpa ada niatan membangunkan Alina ataupun mengajak Alina pergi bersamanya.

“Hafiz, kamu apa kabar? Sudah seminggu kamu tidak ada kabar,” ucap Mahesa salah satu teman Hafiz.

“Seminggu belakangan ini aku sangat sibuk,” jawab Hafiz dan bersalaman dengan kelima temannya.

“Aku dengar Fatimah pindah sekolah, Hafiz. 2 hari yang lalu dia pergi mencarimu dan ternyata kamunya tidak ada,” terang Jefry.

“Benarkah? Kenapa kalian tidak ada yang memberitahu ku? Lalu, Fatimah pindah ke sekolah mana?” tanya Hafiz penasaran.

“Kalau tidak salah, Fatimah pindah di SD cempaka putih. Lebih dekat dari kampus tempatmu mengajar daripada tempat dia yang sebelumnya,” terang Jefry.

Alina yang masih berada di dalam mobil, perlahan membuka matanya dan ternyata Hafiz sudah hilang entah kemana. Alina mencoba membuka pintu mobil, namun Alina tidak bisa membukanya.

“Mas Hafiz kenapa tidak membangunkanku?” tanya Alina panik.

Alina mencoba menghubungi nomor telepon Hafiz, namun ia lupa bahwa dirinya tak pernah menyimpan apalagi meminta nomor telepon suaminya.

“Tidak mungkin aku meminta nomor telepon Mas Hafiz sama Ayah dan Ibu,” ucap Alina bermonolog.

1 jam kemudian, Hafiz datang dengan membawa minuman dingin untuk Alina.

“Minumlah,” ucap Hafiz sambil meletakkan minuman dingin tersebut begitu saja.

“Terima kasih. Maaf, kalau boleh tahu Mas Hafiz dari mana? Kenapa Alina tidak dibangunkan?” tanya Alina lirih.

“Ayah dan Ibu akan bertanya kita kemana. Kamu jawab saja kalau kita habis dari caffe menemui temanku,” pungkas Hafiz yang lagi-lagi tak melihat lawan bicaranya.

Cukup lama Alina diam, sampai akhirnya Alina terpaksa mengiyakan perkataan Hafiz padanya.

Hafiz kembali menyalakan mesin mobilnya dan bergegas kembali ke rumah mertuanya.

Rumah Keluarga Alina.

Sesampainya di rumah, rupanya orang tua dari Hafiz telah kembali ke rumah mereka. Meninggalkan Hafiz seorang diri di rumah keluarga Alina.

“Nak Hafiz, orang tuamu meminta kamu untuk tinggal di sini selama seminggu. Sebagai orang tua dari Alina, tentu saja kami sangat senang,” ucap Ayah Bahri.

Hafiz sebenarnya tak setuju dengan keinginan orang tuanya, akan tetapi Hafiz juga tidak bisa menentang keinginan orang tuanya dan membuat Hafiz terpaksa melaksanakan keinginan Ayah dan Ibunya.

“Bagaimana jalan-jalan hari ini? Kenapa kalian kelihatannya lesu?” tanya Ibu Desi.

“Lesu bagaimana, Ibu? Alina hari ini kurang sehat dan Mas Hafiz mengantuk,” jawab Alina menutupi kecurigaan Sang Ibu.

“Kalian sudah makan siang? Bagaimana kalau kalian makan dulu, baru setelah itu kalian istirahat di kamar,” tutur Ibu Desi.

“Alina dan Mas Hafiz sudah makan, Ibu,” terang Alina dan permisi pergi ke kamar.

Setibanya di kamar, Hafiz mempertanyakan alasan Alina yang mengatakan bahwa Sang istri sudah makan. Padahal, Alina belum makan selama pergi bersama dengannya.

“Kenapa kamu berkata seperti itu pada Ibu?” tanya Hafiz tanpa ingin menatap mata Alina.

“Lalu, Mas Hafiz mau Alina berkata jujur pada Ibu kalau Alina dikunci sama Mas di dalam mobil?” tanya Alina yang berdiri membelakangi Hafiz.

Hafiz diam seribu bahasa dan malah naik ke tempat tidur.

“Alina akan menjaga batasan sesuai keinginan Mas Hafiz,” ucap Alina sebelum masuk ke dalam kamar mandi.

Alina membasuh wajahnya sambil menata hatinya yang kesal karena sikap Hafiz. Jika bukan karena perjodohan yang sudah diatur oleh orang tuanya sejak lama, Alina tentu saja tidak menerima Hafiz sebagai suaminya.

Terpopuler

Comments

Ig nr.lynaaa20

Ig nr.lynaaa20

wahhhhh seruuuuu

2024-03-15

0

Maulana ya_Rohman

Maulana ya_Rohman

s3moga gak ada saling menyakiti hati merka masing²...🤧😢😢😢

2023-08-05

0

lihat semua
Episodes
1 Syukuran Kelulusan
2 Pertemuan Dua Keluarga
3 Alasan Pertemuan Dua Keluarga
4 Akhirnya Menikah
5 Jaga Batasan
6 Saling Acuh Tak Acuh
7 Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz
8 Hadiah Kecil Dari Mertua Tercinta
9 Melihat Suami Bersama Wanita Lain
10 Primadona Kampus
11 Marahnya Seorang Alina
12 Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan
13 Perhatian Kecil Hafiz Untuk Alina
14 Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang
15 Pulangnya Intan Alwi
16 Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar
17 Insiden Di Dapur
18 Fatimah Meminta Kejelasan Status
19 Hafiz Dinas Ke Yogyakarta
20 Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin
21 Serba Salah
22 Tragedi Truk Terbalik
23 Berhutang Budi Pada Sang Penyelamat
24 Alina Sama Sekali Tidak Diperhatikan
25 Fatimah Melihat Sang Penyelamat
26 Perjanjian 100 Hari
27 Datangnya Hafiz Tanpa Pemberitahuan
28 Sikap Alina Yang Mendadak Berubah
29 Berpisah Untuk Sementara Waktu
30 Makan Siang Bersama
31 Fatimah Tidak Ingin Melepaskan Hafiz
32 Melepas Penat Di Kota Malang
33 Hafiz Mulai Kagum Dengan Sosok Alina
34 Tak Ingin Berharap Banyak
35 Datang Menyapa Alina
36 Selamat Jalan Ibu Nur
37 Sikap Hafiz Mendadak Berubah
38 Mimpi Dibalik Perubahan Sikap Hafiz
39 Alina Ingin Bercerai
40 Berusaha Menjadi Suami Yang Baik
41 Banyak Mengucap Istighfar
42 Kami Adalah Suami Istri
43 Banyak Pro Dan Kontra
44 Fatimah Tak Bisa Menghubungi Hafiz
45 Hafiz Mulai Bingung Dengan Perasaannya
46 Akhirnya Ayah Ismail Siuman
47 Hafiz Terpaksa Mengusir Fatimah
48 Penjelasan Hafiz Pada Alina
49 Pertengkaran Tak Dapat Terelakkan
50 Fatimah Tak Rela Dan Takkan Merelakan Hafiz
51 Menjadi Suami Istri Seutuhnya
52 Hafiz Datang Menemui Fatimah Di Rumah Sakit
53 Cerai!!
54 Hafiz Dan Fatimah Pergi Bersama Mencari Alina
55 Alina Melihat Kedekatan Hafiz Dan Fatimah
56 Bagaikan Hilang Ditelan Bumi
57 Hafiz Mengungkapkan Hubungannya
58 Alina Menenangkan Diri Di Ponorogo
59 Hafiz Menyusul Alina Ke Ponorogo
60 Salah Paham Yang Terselesaikan
61 Fatimah Enggan Mengakui Kesalahannya
62 Alina Akhirnya Kembali Ke Jakarta
63 Berbadan Dua
64 Ibu Nunuk Datang Menemui Alina Dan Hafiz
65 Alina Dan Hafiz Memutuskan Menemui Fatimah
66 Kecelakaan Beruntun
67 Happy Ending
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Syukuran Kelulusan
2
Pertemuan Dua Keluarga
3
Alasan Pertemuan Dua Keluarga
4
Akhirnya Menikah
5
Jaga Batasan
6
Saling Acuh Tak Acuh
7
Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz
8
Hadiah Kecil Dari Mertua Tercinta
9
Melihat Suami Bersama Wanita Lain
10
Primadona Kampus
11
Marahnya Seorang Alina
12
Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan
13
Perhatian Kecil Hafiz Untuk Alina
14
Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang
15
Pulangnya Intan Alwi
16
Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar
17
Insiden Di Dapur
18
Fatimah Meminta Kejelasan Status
19
Hafiz Dinas Ke Yogyakarta
20
Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin
21
Serba Salah
22
Tragedi Truk Terbalik
23
Berhutang Budi Pada Sang Penyelamat
24
Alina Sama Sekali Tidak Diperhatikan
25
Fatimah Melihat Sang Penyelamat
26
Perjanjian 100 Hari
27
Datangnya Hafiz Tanpa Pemberitahuan
28
Sikap Alina Yang Mendadak Berubah
29
Berpisah Untuk Sementara Waktu
30
Makan Siang Bersama
31
Fatimah Tidak Ingin Melepaskan Hafiz
32
Melepas Penat Di Kota Malang
33
Hafiz Mulai Kagum Dengan Sosok Alina
34
Tak Ingin Berharap Banyak
35
Datang Menyapa Alina
36
Selamat Jalan Ibu Nur
37
Sikap Hafiz Mendadak Berubah
38
Mimpi Dibalik Perubahan Sikap Hafiz
39
Alina Ingin Bercerai
40
Berusaha Menjadi Suami Yang Baik
41
Banyak Mengucap Istighfar
42
Kami Adalah Suami Istri
43
Banyak Pro Dan Kontra
44
Fatimah Tak Bisa Menghubungi Hafiz
45
Hafiz Mulai Bingung Dengan Perasaannya
46
Akhirnya Ayah Ismail Siuman
47
Hafiz Terpaksa Mengusir Fatimah
48
Penjelasan Hafiz Pada Alina
49
Pertengkaran Tak Dapat Terelakkan
50
Fatimah Tak Rela Dan Takkan Merelakan Hafiz
51
Menjadi Suami Istri Seutuhnya
52
Hafiz Datang Menemui Fatimah Di Rumah Sakit
53
Cerai!!
54
Hafiz Dan Fatimah Pergi Bersama Mencari Alina
55
Alina Melihat Kedekatan Hafiz Dan Fatimah
56
Bagaikan Hilang Ditelan Bumi
57
Hafiz Mengungkapkan Hubungannya
58
Alina Menenangkan Diri Di Ponorogo
59
Hafiz Menyusul Alina Ke Ponorogo
60
Salah Paham Yang Terselesaikan
61
Fatimah Enggan Mengakui Kesalahannya
62
Alina Akhirnya Kembali Ke Jakarta
63
Berbadan Dua
64
Ibu Nunuk Datang Menemui Alina Dan Hafiz
65
Alina Dan Hafiz Memutuskan Menemui Fatimah
66
Kecelakaan Beruntun
67
Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!