Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang

Setelah mengantarkan Alina pulang untuk beristirahat karena sakit, Hafiz pun bergegas pergi kembali ke kampus.

“Mas langsung ke kampus? Bagaimana jika ada orang yang melihat kita saat di area parkir tadi?” tanya Alina pada Hafiz yang hendak pergi.

“Mereka tidak akan mengira kalau kita memiliki hubungan. Sekarang beristirahatlah dan jangan lupa minum obat,” balas Hafiz yang sudah memegang gagang pintu.

Alina sedikit kecewa dengan perkataan Hafiz. Entah kenapa, hati kecilnya mengatakan bahwa dirinya ingin sekali jika ada orang yang tahu mengenai hubungannya dengan Hafiz, Sang Suami. Akan tetapi, kenyataannya berbanding terbalik dengan sikap santai Hafiz.

Hafiz pun bergegas pergi meninggalkan Alina tanpa menoleh sedikitpun ke arah Sang istri.

Sikap Mas Hafiz padaku terlihat sangat kaku. Berbanding terbalik ketika bersama wanita itu. (Batin Alina)

Ternyata Hafiz tidak langsung pergi ke kampus, melainkan pergi menuju sekolah tempat di mana Fatimah mengajar.

“Imah, kamu di mana? Aku sudah sampai di depan sekolah,” ucap Hafiz melalui sambungan telepon.

“Kamu tunggu sebentar ya, Aku sebentar lagi menghampirimu,” jawab Fatimah.

Tak berselang lama, Fatimah berlari masuk ke dalam mobil Hafiz dengan tersenyum bahagia.

“Aku kira kamu lupa dengan janji kita untuk makan siang bersama,” ucap Fatimah sambil memberikan bekal makanan yang sebelumnya telah ia persiapkan untuk Hafiz.

“Apa ini, Imah?” tanya Hafiz.

“Aku tahu kalau kamu belum sarapan, Fiz. Maka dari itu aku sengaja memasak makanan untukmu dan barulah nanti siang kita pergi ke rumah masakan padang kesukaan kita,” terang Fatimah begitu antusias.

“Imah, kamu kenapa sangat suka membuat dirimu repot?”

Fatimah tertawa santai mendengar pertanyaan Hafiz.

“Jika itu kamu, Aku bersedia setiap saat direpotkan,” jawab Fatimah seraya tersenyum.

Hafiz memperhatikan wajah Fatimah yang nampak sangat manis, namun perlahan muncul wajah Alina.

“Astaghfirullah,” ucap Hafiz sambil memalingkan wajahnya.

“Kamu kenapa, Fiz?” tanya Fatimah sambil menyentuh lengan Hafiz.

“Aku langsung ke kampus ya Imah, nanti siang aku akan datang menjemputmu,” ucap Hafiz.

Fatimah tersenyum kecil dan pada akhirnya keluar dari mobil.

***

Siang Hari.

Seperti yang sudah dijanjikan Hafiz pada Fatimah, siang itu juga Hafiz pergi menjemput Fatimah untuk makan siang bersama.

Bekal sarapan yang Fatimah siapkan untuknya, sama sekali tidak Hafiz sentuh. Dikarenakan ia masih kenyang dan agar Fatimah tidak sedih, Hafiz sengaja memberikan bekal makanan tersebut ke salah satu rekannya.

“Hafiz, kamu mau ke mana? Ayo ikut makan siang bersama!” seorang wanita yang usianya lebih tua 2 tahun dari Hafiz mengajaknya untuk makan siang bersama di kantin.

“Lain kali saja, Mbak Hana. Aku ada urusan penting,” jawab Hafiz.

Hafiz buru-buru pergi menuju sekolah tempat di mana Fatimah mengejar dan sesampainya di depan gerbang sekolah, rupanya Fatimah telah berdiri menunggu kedatangan Hafiz.

“Hafiz!” Fatimah melambaikan tangannya ketika melihat mobil Hafiz yang hampir dekat dengannya.

“Ayo masuk, Imah!” seru Hafiz.

“Aku kira kamu lupa dengan janji kita.”

Hafiz mengatakan bahwa dirinya tidak akan pernah lupa dengan janji yang telah mereka buat.

Fatimah sangat senang mendengar jawaban Hafiz dan tanpa sadar ia bersandar dibahu Hafiz.

“Hidupku akan lebih bahagia bila setiap hari melihatmu, Fiz. Maaf ya, beberapa waktu lalu aku sengaja menjauh darimu,” ucap Fatimah penuh sesal.

“Kamu tidak perlu minta maaf, Imah,” balas Hafiz.

Hafiz perlahan mengemudikan mobil menuju rumah makan masakan padang yang jaraknya cukup jauh. Memakan waktu 15 menit menuju tempat tersebut.

Di saat yang bersamaan, Alina tidak bisa tidur dengan nyenyak di kamar. Ia merasa bahwa tidur membuatnya malas untuk melakukan kegiatan yang lebih positif lainnya.

“Mbak Alina butuh sesuatu?” tanya Mbok Yem ketika melihat Alina yang sudah turun dari kamar.

“Tidak, Mbok Yem. Saya hanya ingin mencari udara segar diluar,” jawab Alina.

Alina pun duduk seorang diri di teras depan rumah seraya menatap layar ponselnya.

Cukup lama Alina duduk diam, sampai akhirnya Ibu Desi menghubunginya.

Alina segera mengangkat panggilan Sang Ibu dan tanpa sadar dirinya menangis. Mendengar tangisan Alina, tentu saja Ibu Desi terkejut sekaligus khawatir.

“Kamu kenapa, sayang? Kenapa menangis?” tanya Ibu Desi.

“Alina kangen Ibu dan juga Ayah. Nanti malam tolong jemput Alina ya,” jawab Alina.

Alina bukanlah anak gadis yang cengeng, bahkan sejak kecil Alina dikenal sebagai anak gadis yang periang. Mendengar jawaban Alina, saat itu juga Ibu Desi mengakhiri panggilan telepon dan bergegas menyusul Alina.

Bagaimana ini? Ibu sepertinya langsung menuju ke sini. (Batin Alina)

***

Setelah menghabiskan waktu makan siang bersama, Hafiz mengantar kembali Fatimah ke sekolah.

“Fiz, boleh minta tolong?” tanya Fatimah sebelum keluar dari mobil.

“Minta tolong apa, Imah?” tanya Hafiz.

“Ibuku dari kemarin menanyakan kamu, bisakah kamu sore ini mampir ke rumah?” tanya Fatimah.

Hafiz terdiam sejenak, jika sebelumnya ia akan langsung mengiyakan. Lain halnya dengan saat itu, banyak pertimbangan yang harus ia pikirkan mengenai permintaan Fatimah padanya.

“Kamu kenapa, Hafiz? Jika sore ini kamu tidak bisa datang, maka lain hari saja,” pungkas Fatimah dengan santai.

Karena Hafiz tak kunjung menjawab, akhirnya Fatimah memutuskan untuk turun dari mobil tanpa sepatah katapun.

Fatimah sangat berharap Hafiz memahami diamnya, namun Hafiz malah pergi seakan-akan menganggap bahwa Fatimah sangat santai dengan ucapannya.

Hafiz sedikit berbeda dari biasanya, aku bahkan hampir lupa dengan tutur katanya yang biasanya ia ucapkan padaku. (Batin Fatimah)

***

Malam Hari.

“Kamu kenapa baru pulang, Hafiz? Ayah dan Ibu sudah mencoba menghubungi kamu, tapi kenapa nomor kamu tidak aktif?” tanya Ibu Nur pada putranya.

“Maaf, Bu. Ponsel Hafiz sengaja dinonaktifkan, karena teman-teman Hafiz sebelumnya selalu menghubungi Hafiz,” jawab Hafiz.

“Jadi, kamu belum tahu kalau Alina malam ini tidak tidur di sini?” tanya Ayah Ismail.

Hafiz terkejut bukan main, ia sama sekali tidak tahu bahwa Sang istri tidak tidur di rumah.

“Melihat dari reaksi kamu, Ayah sudah menduganya. Apa kalian bertengkar?” tanya Ayah Ismail.

“Ayah dan Ibu jangan salah paham dulu. Kami sama sekali tidak bertengkar, pagi tadi Hafiz bahkan mengantarkan Alina pulang ke rumah ini karena kondisi Alina yang cukup tidak sehat,” ungkap Hafiz.

“Benarkah begitu? Sekarang kamu pergi, datangi Alina. Bila perlu kamu tidur di rumah keluarga Alina!” perintah Ayah Ismail.

Tanpa pikir panjang, Hafiz mengiyakan perintah tersebut dan bergegas pergi menemui Alina.

“Ayah, Ibu. Hafiz langsung pergi saja, di sana masih ada beberapa setelan pakaian Hafiz. Assalamu'alaikum.”

“Wa'alaikumsalam,” balas keduanya.

“Hati-hati di jalan, Hafiz. Kabari Ibu jika sudah sampai,” ucap Ibu Nur.

Terpopuler

Comments

Maulana ya_Rohman

Maulana ya_Rohman

up lagi thor

2023-09-21

1

Maulana ya_Rohman

Maulana ya_Rohman

up nya ngadat lagi thor....😢😢🤧
kejem sekali kau Hafis 😭😭😭.... gak punya hati sekali kau😭😭😭😭😭🤧

2023-09-20

1

lihat semua
Episodes
1 Syukuran Kelulusan
2 Pertemuan Dua Keluarga
3 Alasan Pertemuan Dua Keluarga
4 Akhirnya Menikah
5 Jaga Batasan
6 Saling Acuh Tak Acuh
7 Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz
8 Hadiah Kecil Dari Mertua Tercinta
9 Melihat Suami Bersama Wanita Lain
10 Primadona Kampus
11 Marahnya Seorang Alina
12 Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan
13 Perhatian Kecil Hafiz Untuk Alina
14 Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang
15 Pulangnya Intan Alwi
16 Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar
17 Insiden Di Dapur
18 Fatimah Meminta Kejelasan Status
19 Hafiz Dinas Ke Yogyakarta
20 Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin
21 Serba Salah
22 Tragedi Truk Terbalik
23 Berhutang Budi Pada Sang Penyelamat
24 Alina Sama Sekali Tidak Diperhatikan
25 Fatimah Melihat Sang Penyelamat
26 Perjanjian 100 Hari
27 Datangnya Hafiz Tanpa Pemberitahuan
28 Sikap Alina Yang Mendadak Berubah
29 Berpisah Untuk Sementara Waktu
30 Makan Siang Bersama
31 Fatimah Tidak Ingin Melepaskan Hafiz
32 Melepas Penat Di Kota Malang
33 Hafiz Mulai Kagum Dengan Sosok Alina
34 Tak Ingin Berharap Banyak
35 Datang Menyapa Alina
36 Selamat Jalan Ibu Nur
37 Sikap Hafiz Mendadak Berubah
38 Mimpi Dibalik Perubahan Sikap Hafiz
39 Alina Ingin Bercerai
40 Berusaha Menjadi Suami Yang Baik
41 Banyak Mengucap Istighfar
42 Kami Adalah Suami Istri
43 Banyak Pro Dan Kontra
44 Fatimah Tak Bisa Menghubungi Hafiz
45 Hafiz Mulai Bingung Dengan Perasaannya
46 Akhirnya Ayah Ismail Siuman
47 Hafiz Terpaksa Mengusir Fatimah
48 Penjelasan Hafiz Pada Alina
49 Pertengkaran Tak Dapat Terelakkan
50 Fatimah Tak Rela Dan Takkan Merelakan Hafiz
51 Menjadi Suami Istri Seutuhnya
52 Hafiz Datang Menemui Fatimah Di Rumah Sakit
53 Cerai!!
54 Hafiz Dan Fatimah Pergi Bersama Mencari Alina
55 Alina Melihat Kedekatan Hafiz Dan Fatimah
56 Bagaikan Hilang Ditelan Bumi
57 Hafiz Mengungkapkan Hubungannya
58 Alina Menenangkan Diri Di Ponorogo
59 Hafiz Menyusul Alina Ke Ponorogo
60 Salah Paham Yang Terselesaikan
61 Fatimah Enggan Mengakui Kesalahannya
62 Alina Akhirnya Kembali Ke Jakarta
63 Berbadan Dua
64 Ibu Nunuk Datang Menemui Alina Dan Hafiz
65 Alina Dan Hafiz Memutuskan Menemui Fatimah
66 Kecelakaan Beruntun
67 Happy Ending
Episodes

Updated 67 Episodes

1
Syukuran Kelulusan
2
Pertemuan Dua Keluarga
3
Alasan Pertemuan Dua Keluarga
4
Akhirnya Menikah
5
Jaga Batasan
6
Saling Acuh Tak Acuh
7
Tinggal Di Rumah Keluarga Hafiz
8
Hadiah Kecil Dari Mertua Tercinta
9
Melihat Suami Bersama Wanita Lain
10
Primadona Kampus
11
Marahnya Seorang Alina
12
Jaga Sikap Dan Jaga Ucapan
13
Perhatian Kecil Hafiz Untuk Alina
14
Hafiz Menemani Fatimah Makan Siang
15
Pulangnya Intan Alwi
16
Untuk Pertama Kalinya Bertemu Adik Ipar
17
Insiden Di Dapur
18
Fatimah Meminta Kejelasan Status
19
Hafiz Dinas Ke Yogyakarta
20
Sikap Hafiz Yang Semakin Dingin
21
Serba Salah
22
Tragedi Truk Terbalik
23
Berhutang Budi Pada Sang Penyelamat
24
Alina Sama Sekali Tidak Diperhatikan
25
Fatimah Melihat Sang Penyelamat
26
Perjanjian 100 Hari
27
Datangnya Hafiz Tanpa Pemberitahuan
28
Sikap Alina Yang Mendadak Berubah
29
Berpisah Untuk Sementara Waktu
30
Makan Siang Bersama
31
Fatimah Tidak Ingin Melepaskan Hafiz
32
Melepas Penat Di Kota Malang
33
Hafiz Mulai Kagum Dengan Sosok Alina
34
Tak Ingin Berharap Banyak
35
Datang Menyapa Alina
36
Selamat Jalan Ibu Nur
37
Sikap Hafiz Mendadak Berubah
38
Mimpi Dibalik Perubahan Sikap Hafiz
39
Alina Ingin Bercerai
40
Berusaha Menjadi Suami Yang Baik
41
Banyak Mengucap Istighfar
42
Kami Adalah Suami Istri
43
Banyak Pro Dan Kontra
44
Fatimah Tak Bisa Menghubungi Hafiz
45
Hafiz Mulai Bingung Dengan Perasaannya
46
Akhirnya Ayah Ismail Siuman
47
Hafiz Terpaksa Mengusir Fatimah
48
Penjelasan Hafiz Pada Alina
49
Pertengkaran Tak Dapat Terelakkan
50
Fatimah Tak Rela Dan Takkan Merelakan Hafiz
51
Menjadi Suami Istri Seutuhnya
52
Hafiz Datang Menemui Fatimah Di Rumah Sakit
53
Cerai!!
54
Hafiz Dan Fatimah Pergi Bersama Mencari Alina
55
Alina Melihat Kedekatan Hafiz Dan Fatimah
56
Bagaikan Hilang Ditelan Bumi
57
Hafiz Mengungkapkan Hubungannya
58
Alina Menenangkan Diri Di Ponorogo
59
Hafiz Menyusul Alina Ke Ponorogo
60
Salah Paham Yang Terselesaikan
61
Fatimah Enggan Mengakui Kesalahannya
62
Alina Akhirnya Kembali Ke Jakarta
63
Berbadan Dua
64
Ibu Nunuk Datang Menemui Alina Dan Hafiz
65
Alina Dan Hafiz Memutuskan Menemui Fatimah
66
Kecelakaan Beruntun
67
Happy Ending

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!