Meski sekarang Putra berada di kantor, tapi pikirannya tidak fokus. Padahal pekerjaannya begitu sangat menumpuk, tapi lagi-lagi sebuah nama terlintas di pikirannya.
"Salwa, Alfi, dan Ibu. Bagaimana kabarnya?" Putra bertanya pada dirinya sendiri, karena memang sudah lama tidak memberi kabar pada keluarganya di kampung.
Putra pun kembali mengusap wajahnya. Ada setitik rasa lelah yang terlihat jelas, tapi Putra sendiri mengabaikan karena pekerjaannya sudah menumpuk.
Sedangkan di lain tempat.
Salwa hari ini lebih banyak diam dan sepertinya malam kemarin, adalah malam yang tidak pernah diinginkan. Hingga Mila yang penasaran memilih bertanya karena takut jika Salwa mengalami sesuatu..
"Sal, kamu kenapa? Apa Tuan berbuat yang tidak pantas padamu?" tanya Mila karena ia yakin jika berubahnya sikap, semua itu pasti ada sangkut pautnya kepergiannya untuk menghadiri pesta ulang tahun, yang dirayakan oleh rekan kerja majikannya tersebut.
"Tuan tidak pernah berbuat di luar batas," ucap Salwa yang tidak ingin jika Mila berasumsi seakan dirinya menjadi korban dari Hans.
"Lantas kenapa kamu murung?" tanya Mila karena semenjak pagi hingga siang, Salwa lebih banyak diam dan irit bicara.
"Tidak ada apa-apa Mil, kamu tenang saja." Mila tahu jika Salwa sedang berbohong kepadanya, karena terlihat jelas dari raut wajahnya.
"Sal, aku tahu jika kamu berbohong. Apa salahnya berbagi kesah jika kamu menganggap bahwa aku temanmu," ucap Mila dan ia pun mencoba mendesak siapa tahu dengan begitu Salwa mengaku.
"Salwa, aku temanmu dan terus berusaha menjadi teman yang selalu ada buatmu."
Seketika Salwa memeluk Mila dengan sesenggukan. Peristiwa semalam membuatnya begitu sangat membenci Haikal, lelaki yang pernah menjanjikan kebahagiaan 11 tahun lalu.
"Aku ingin pulang ke kampung lagi Mil, aku merasa di sini sudah tidak lagi yang perlu diharapkan." Bingung, itulah yang terjadi pada Mila, ketika dirinya tidak tahu soal apa yang sedang terjadi pada Salwa.
"Sal, apa ada orang yang berbuat jahat?" tanya Mila memastikan.
"Tidak ada, aku hanya ingin pulang dan akan memulai kehidupan baru di kampung." Jawab Salwa dengan suara bergetar.
"Kamu bohong Sal, aku tahu jika kamu sedang ada masalah!" kata Mila penuh penuh penekanan.
"Mil, kamu tahu kan, anakku sudah lama tidak sekolah dan dia juga pasti sudah banyak ketinggalan pelajaran." Salwa pun mencoba menghindar dari apa yang dan inilah alasan tepat untuk menyampaikannya.
"Ya sudah, jika semua itu yang terbaik buat kamu. Aku pun gak bisa menahan dan terus menyuruhmu untuk bertahan di di sini," kata Mila ketika Salwa yakin jika ingin pulang, tapi sebelum itu. Dirinya akan meminta cerai pada Haikal karena ia sendiri memilih menyerah, ketika pengorbanannya sama sekali tidak dihargai.
"Ya sudah, jika kamu butuh apa-apa bisa menghubungiku." Mila pun tersenyum dan mengusap pundak Salwa.
Malam hari, ketika Salwa dan Alfi sudah istirahat. Mila sengaja menemui Hans untuk mengatakan jika Salwa akan pergi dan memilih pulang kampung.
"Apa kamu serius?" tanya Hans dan jari-jarinya kini berhenti bermain di atas 𝘒𝘦𝘺𝘣𝘰𝘢𝘳𝘥.
"Iya Tuan, saya juga tidak tahu alasan yang sebenarnya apa. Tetapi, saya tahu jika masalah yang dihadapi oleh Salwa terlihat berat." Mendengar itu, Hans mencoba berpikir ulang akan apa yang terjadi pada Salwa.
"Baiklah, terima kasih tentang informasi yang kamu berikan. Saya akan mencoba bertanya langsung pada Salwa," ucap Hans pada Mila dan wanita itu pun keluar ruangan.
"Aku yakin jika ada sesuatu yang ditutupi oleh Salwa, tapi siapa suaminya? Mengapa semuanya membuat aku semakin ingin tahu." Hans pun terus memikirkan soal Salwa, di mana perempuan yang sudah beberapa minggu ini berada di rumahnya. Tiba-tiba saja memutuskan untuk kembali ke rumahnya di kampung.
Malam yang kian larut, semakin membuat Hans merasakan kantuk. Ia pun melihat jam di dinding dan benar saja, jika sekarang sudah pukul satu dini hari.
Bergelut dengan pekerjaan, di tambah pikirannya yang tiba-tiba tertuju pada Salwa, membuatnya tidak tahu jika sekarang sudah tengah malam.
Keesokan paginya. Saat Salwa tengah menemani Alfi yang tiba-tiba mendadak sakit. Hans pun tidak sengaja mendengarkan Salwa bergumam.
"Mas, mungkin kamu akan merasa senang ketika melihat aku mengalah. Andai kamu tahu jika anak kita sedang sakit, apakah di hatimu masih punya rasa kasihan? Aku rasa tidak. Semua sudah berubah dan tidak akan seperti dulu," gumam Salwa dengan sesekali di elusnya pucuk kepala Alfi.
"Tuhan, pertemukan aku dengan Mas Putra, agar aku bisa melepaskan derita yang selama ini telah dititipkan padaku. Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku menyerah," gumamnya lagi dan hal itu tidak luput dari pendengaran Hans, yang berada di luar pintu.
"Putra! Kenapa aku semakin penasaran sosok suami Salwa, jika benar dia berada di sekitarku. Aku akan memberinya pelajaran," batin Hans dengan kedua tangan terkepal.
"Tuan!" Salwa tidak sengaja melihat Hans, jadilah ia menegur untuk bertanya.
"Tuan, ada apa?" tanya Salwa dan Hans pun masih bersikap biasanya. Meski di dalam hatinya sedang bertanya-tanya soal wanita yang bertanya padanya sekarang.
"Buatkan saya kopi dan jangan lupa sama cemilannya." Hans pun akhirnya menjawab asal, karena tidak mau jika Salwa sampai curiga di mana, dirinya tidak sengaja,menguping ketika Salwa berbicara sendiri.
"Tuan, tapi …." Salwa menjeda kalimatnya karena tangannya tengah di pegang oleh Alfi dengan begitu erat.
"Biarkan saya yang menjaga, kamu pergilah ke dapur dan buatkan bubur juga untuk Alfi. Biar nanti setelah dokter memeriksa bisa segera makan!" perintah Hans pada Salwa.
"Baik, Tuan." Inilah yang membuat Salwa enggan untuk mengatakan siapa orang yang dimaksud. Kebaikan yang diterima membuatnya mengalah dengan keadaan.
Salwa sudah berdiri dengan cara perlahan dan Hans pun tanpa ragu, langsung menggantikan posisi Salwa sebelumnya.
Sedangkan Hans sendiri sudah duduk dan ia pun menyipitkan matanya. Ketika melihat kertas putih layaknya foto, tapi dengan keadaan terbalik tepat berada di samping tangan Alfi.
"Apa ini?" dengan rasa penasaran, Hans pun mengambil dan membalikkan foto tersebut.
Degh.
Mata Hans membelalak sempurna ketika foto tersebut mirip dengan seseorang, yang sangat ia kenal. Bahkan potret tersebut adalah sosok dari anggota keluarganya.
"Tidak, apa aku hanya salah menafsirkan? Tetapi, lelaki iki mirip dengan …." Kalimat menggantung karena sebuah panggilan dari Salwa.
"Salwa, ada apa?" tanya Hans dan dengan hati-hati mengambil foto tersebut untuk dapat mencari tahu, akan sosok lelaki yang ada di gambar itu.
"Ada Mbak Mira dan suaminya datang," ucap Salwa.
"Iya, nanti akan saya temui. Kamu lanjutkan membuat kopi karena saya butuh tenaga," ucap Hans dengan pikiran yang kacau dan belum sempat meneliti gambar tersebut, tapi keponakanya datang.
"Iya, Tuan."
Setelah itu Salwa pergi dan akan kembali ke dapur. Melanjutkan perintah yang diberikan pada majikannya. Namun, siapa sangka, pada saat tangannya ingin mengambil kain lap. Sebuah tangan langsung menahannya hingga sebuah tarikan kasar terjadi.
Mata keduanya bertemu, dengan hati yang dipenuhi amarah, Salwa menatap sosok itu dengan tajam. "Lepaskan tanganmu!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 50 Episodes
Comments
Rini Antika
km tidak perlu memikirkan mereka lg, km jg selama ini sudah senang" tanpa memikirkan mereka
2023-08-18
0