Episode 9

Saat ini, Pangeran Andi merasa kebingungan saat mendapat tantangan dari gadis Elf bernama Ely. Mereka berada di Hutan Elvin, suatu tempat yang penuh dengan misteri dan keindahan alam.

Pihak Akademi sedang mengadakan praktik di alam terbuka untuk melatih kemampuan siswa dalam menghadapi situasi nyata. Ely, dengan wajah ceria dan mata berbinar, berkata pada Pangeran Andi, "Pangeran Andi, apakah kamu berani menerima tantanganku di dalam hutan ini?"

Pangeran Andi tersenyum dan menjawab, "Tentu saja, Ely. Saya selalu siap menghadapi tantangan apapun, apalagi jika itu akan membantu saya tumbuh dan berkembang. Jadi, apa tantangannya?"

Ely menyeringai puas sambil mengeluarkan sebuah daun surat dari kantongnya. "Tantangan kita hari ini adalah menemukan dan melalui Jembatan Terlarang. Jembatan itu hanya akan muncul saat mentari terbenam dan kita harus menyeberanginya sebelum fajar kembali."

Pangeran Andi memandang Jembatan Terlarang yang mengintimidasi di kejauhan. Jembatan itu terbuat dari kayu tua dengan jalur sempit dan terletak di atas jurang yang dalam. Namun demikian, Pangeran Andi tidak gentar. "Ayo kita mulai tantangan ini, Ely. Saya yakin kita bisa melakukannya dengan baik."

Dengan penuh semangat, mereka melangkah menuju Jembatan Terlarang. Mereka harus melewati hutan lebat yang gelap dan menakutkan. Namun, Pangeran Andi dan Ely saling memberikan dukungan satu sama lain.

Setelah mencapai puncak bukit, mereka akhirnya melihat Jembatan Terlarang yang terhampar di depan mereka. Mereka merasakan aura magis yang misterius dari jembatan itu. Hanya berbekal tekad dan keberanian, mereka memasuki jembatan tersebut.

Pada awalnya, Pangeran Andi merasa sedikit tidak seimbang di atas jembatan tersebut. Namun, dia menggunakan keahliannya dalam ilmu bela diri untuk menjaga keseimbangan tubuhnya. Ia memberi saran pada Ely untuk fokus dan menjaga konsentrasi.

Mereka berjalan perlahan dengan langkah pasti, mengukur setiap langkah mereka dengan hati-hati. Angin malam berhembus kencang, membuat jembatan bergoyang-goyang. Tetapi, mereka tidak putus asa dan terus maju.

Setelah melewati waktu yang sangat lama dengan tantangan dan kesulitan, akhirnya mereka berdua berhasil mencapai ujung jembatan saat fajar mulai menyingsing. Mereka merasa bangga dan bahagia telah menyelesaikan tantangan ini.

Ely memandang Pangeran Andi dengan penuh kekaguman, "Pangeran Andi, kamu sangat hebat! Aku merasa terinspirasi oleh semangat dan ketenanganmu di tengah tantangan ini."

Pangeran Andi tersenyum dan menjawab, "Terima kasih, Ely. Kita berhasil melewati tantangan ini berkat kerjasama dan keberanian kita bersama. Saya juga belajar banyak dari kekuatanmu sebagai seorang Elf. Ini adalah pengalaman berharga yang tidak akan terlupakan."

Namun, seekor monster Ogre tiba-tiba muncul dan ingin menyerang mereka. Pangeran Andi segera memanggil Fenrir, hewan magis familiarnya, dan Peri Aurora agar membantunya.

Di tempat lain, murid-murid lainnya juga sedang berhadapan dengan monster Ogre. Mereka saling berkoordinasi dan bekerja sama untuk melawan monster tersebut. Dengan kekuatan dan strategi yang terpadu, mereka pun berhasil mengalahkan monster Ogre dan menyelamatkan diri. Mereka semua merasa bangga dengan hasil yang mereka capai dan merasa semakin kuat sebagai tim.

Kembali ke tempat Pangeran Andi yang saat ini menghadapi lima monster Ogre. Serigala Fenrir dan Peri Aurora sudah datang. Lalu, dia juga mengajak Elf Ely untuk mensuport dari belakang menggunakan senjata magis busur panahnya.

“Baiklah, Fenrir, ayo serang!" ujar Pangeran Andi.

Fenrir, Aurora, dan Ely bersiap-siap untuk melawan lima monster Ogre yang mengancam. Pangeran Andi dengan pedangnya, Fenrir dengan giginya yang tajam, Aurora dengan sihir kekuatan esnya, dan Ely dengan busur panah magisnya. Mereka bersiap untuk menghadapi serangan Ogre-ogre tersebut.

Pangeran Andi memberikan isyarat kepada Fenrir untuk mengejutkan para Ogre dengan serangan pertama. Fenrir meluncur ke depan dengan kecepatan yang mengagumkan, cakar-cakarnya menyambar salah satu Ogre membuatnya terguling ke belakang. Serigala tersebut bergerak dengan lincah, terus menyerang tanpa henti, memberikan ruang bagi Pangeran Andi untuk bertempur.

Sementara itu, Aurora menerjunkan dirinya ke udara dan dengan lihainya mengeluarkan sihir kekuatan es yang membekukan sebagian besar tubuh Ogre. Es menutupi tubuh mereka, membekukan gerakan mereka dan menjaga mereka jauh dari Pangeran Andi.

Dengan situasi yang terkendali, Ely mulai meluncurkan panah-panah magisnya dari belakang. Panah-panah tersebut melayang dengan cepat menuju Ogre-ogre yang tersisa, mengenai sasaran dengan akurasi yang luar biasa. Panah-panah tersebut melesat tepat pada sasaran, menghujam tubuh Ogre-ogre dan menyebabkan rasa sakit yang tak tertahankan.

Pangeran Andi memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyerang Ogre-ogre yang telah terbebani oleh serangan Fenrir, Aurora, dan Ely. Dengan gerakan yang terampil dan lincah, Pangeran Andi menebas dan menyerang Ogre-ogre dengan penuh semangat dan kekuatan. Pedangnya berputar-putar, melukai dan mengalahkan Ogre-ogre dengan cepat.

Setelah pertempuran yang sengit, mereka berhasil mengalahkan semua Ogre dan menghancurkan ancaman yang ada. Pangeran Andi, Fenrir, Aurora, dan Ely saling melemparkan senyum kemenangan.

"Pertarungan yang luar biasa, teman-teman!" kata Pangeran Andi dengan bangga.

Semua setuju dan sorak-sorai kegembiraan terdengar di antara mereka.

Akhirnya, pihak Akademi meminta semua muridnya untuk kembali ke Akademi dan berkumpul karena ada pasukan Ogre yang lebih besar yang sedang mendekat ke arah sekolah mereka.

Para murid Akademi segera berhimpun di tengah lapangan, siap untuk menghadapi pasukan Ogre yang lebih kuat. Pangeran Andi mencoba tenang dan memperhatikan situasi dengan cermat. Fenrir, yang ahli dalam pertempuran fisik, siap memimpin serangan. Aurora, dengan keahliannya dalam sihir penyembuhan, bersiap-siap untuk memberikan pertolongan kepada rekan-rekannya yang terluka. Ely, yang lincah dan tangkas, siap menjadi mata-mata dan menyediakan informasi berharga tentang gerakan musuh.

Tanpa waktu yang cukup untuk membuat rencana yang matang, mereka harus segera bertindak. Pangeran Andi mengangkat pedangnya dan memberikan instruksi kepada teman-temannya.

"Kita harus menjaga komunikasi dan kerjasama yang baik. Fenrir, pimpin serangan dari depan. Aurora, prioritaskan para luka dan tetap dekat denganku. Ely, sampaikan kepada kami apapun informasi yang kau temukan. Kita harus tetap waspada dan saling melindungi."

Tim itu menganggukkan kepala sebagai tanda persetujuan dan bersiap-siap menghadapi pasukan Ogre. Suasana tegang tercipta di sekeliling mereka, tetapi semangat juang para murid tidak pernah pudar. Mereka percaya bahwa dengan kerjasama dan kepercayaan satu sama lain, mereka bisa mengatasi bahaya yang ada di hadapan mereka.

Saat pasukan Ogre semakin mendekat, terdengar pun, teriakan perang mereka yang mengejutkan. Pangeran Andi, Fenrir, Aurora, dan Ely saling memandang sejenak, sinyal bahwa mereka harus siap bertempur. Mereka bersiap-siap melancarkan serangan, mempertahankan kehormatan Akademi dan melindungi orang-orang yang mereka cintai.

“Semuanya, kita harus tetap bersatu dan bertarung dengan gigih. Kita adalah pasukan terbaik di Akademi ini, dan kita tidak akan membiarkan Ogre menghancurkan tempat yang kita cintai,” ujar Pangeran Andi dengan tegas.

Aria mengangguk setuju, “Benar sekali, Pangeran Andi. Kita memiliki keberanian dan kekuatan untuk menghadapi mereka. Jangan biarkan ketakutan merasuki hati kita, kita harus berdiri teguh dan melawan mereka dengan segala yang kita miliki.”

Marie menambahkan dengan penuh semangat, “Kita juga harus ingat bahwa kita tidak sendirian. Di belakang kita ada ratusan siswa dan guru yang membantu kita. Mereka mempercayai kita untuk melindungi mereka, dan kita tidak akan mengecewakan mereka!”

Ely, dengan wajah penuh tekad, berkata, “Kalau begitu, mari kita maju dan tunjukkan kekuatan kita! Tak seorang pun akan bisa menghentikan pasukan Ogre yang kuat jika kita tidak bersatu dan berjuang bersama. Kita adalah teman dan saudara se-akademi, kita bisa melakukannya!”

Dengan semangat yang membara, keempat pahlawan ini berbaris ke medan perang dengan senjata mereka yang sudah mengkilap di tangan. Mereka bersatu, siap melindungi Akademi dan orang-orang yang mereka cintai dari ancaman pasukan Ogre.

Teriakan perang mereka yang memenuhi langit, menjadi bukti keberanian dan keteguhan hati mereka. Dengan kekuatan mereka yang bersatu, mereka merangsek maju dan menerjang pasukan Ogre dengan semangat yang meluap-luap.

Samantha mengatakan, pasukan Ogre ini sepertinya adalah kiriman Raja Iblis yang diperintahkan untuk menyerang Akademi Sihir dan Pedang.

Bersambung.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!