Episode 12

Saat menjelajahi wilayah Naga, Pangeran Andi dan Ely menemukan tempat-tempat menarik lainnya. Mereka menemukan desa peri yang indah, dengan rumah-rumah kecil yang terbuat dari bunga dan daun.

Selain itu, mereka juga menemukan gua raksasa di mana troll hidup. Trol-trol itu memiliki tubuh yang besar dan kuat, dengan kulit yang tebal dan perisai alam yang hebat. Pangeran Andi dan Ely belajar tentang kekuatan mereka yang luar biasa dalam pertempuran.

Namun, mereka juga belajar bahwa trol-trol itu tidak suka terusik dan agak agresif. Maka dari itu, Pangeran Andi dan Ely memilih untuk tidak mengganggu mereka.

Kemudian, mereka menemukan danau ajaib yang indah di mana para peri sering berkumpul. Danau ini dikelilingi oleh pepohonan raksasa dan sinar matahari yang disinari ke permukaan air. Pangeran Andi dan Ely merasa damai saat berada di sana, dan merasa bahwa tempat itu memancarkan keajaiban yang luar biasa.

Akhirnya, Pangeran Andi dan Ely menemukan kubah kristal besar yang menakjubkan, di mana kristal yang berkilauan dan berwarna-warni menghiasi dinding dan langit-langit. Mereka merasa seperti berada di dunia lain saat berada di dalamnya, dan mendengar suara nyanyian yang menenangkan.

Selain itu, mereka melihat ada sebuah pedang menancap pada sebuah altar.

“Andi, sepertinya itu pedang legendaris milik pahlawan yang pernah ayahku ceritakan," kata Ely.

Pangeran Andi mendekati pedang tersebut dan melihat ada tulisan di atasnya. "Pedang ini hanya akan diberikan kepada orang yang memiliki hati yang jujur dan bersih, yang dapat menggunakan kekuatannya dengan bijaksana," terbaca pada tulisan tersebut.

Pangeran Andi menyentuh pedang itu dengan lembut, dan tiba-tiba pedang itu terlepas dari altar dan melayang di udara. Mereka berdua terpukau saat melihat kehebatan pedang itu. Pedang itu memancarkan cahaya biru keperakan yang terang, dan mereka merasa tenang saat di bawah cahaya itu.

"Tampaknya pedang ini hanya bisa digunakan oleh orang yang memiliki kedamaian di dalam hatinya," kata Ely sambil mengamatinya dengan penuh kekaguman.

Mereka berdua diam sejenak untuk merenungkan kehebatan pedang itu dan menikmati ketenangan di dalam kubah kristal. Kemudian, Pangeran Andi tiba-tiba mendengar pedang tersebut bicara. “Tuan, kau adalah Pahlawan selanjutnya!"

Pangeran Andi terkejut mendengar suara pedang itu dan memandangnya dengan penuh keheranan. "Pahlawan selanjutnya?" ulangnya dengan ragu.

"Iya, tuan," jawab pedang itu dengan suara perlahan namun tegas. "Hanya orang yang memiliki kedamaian di dalam hatinya yang bisa mempergunakanku. Dan melalui cahaya ku yang terang ini, aku merasakan kedamaian dan keberanian dalam dirimu."

Pangeran Andi merasa hatinya dipenuhi perasaan campur aduk. Di satu sisi, dia merasa terhormat dan terpanggil untuk menjadi pahlawan berikutnya, tetapi di sisi lain, dia merasa takut dan ragu apakah dirinya layak untuk tanggung jawab tersebut.

"Saya hanya seorang pangeran biasa, apa yang bisa saya lakukan sebagai pahlawan?" ucap Pangeran Andi dengan suara yang serak.

"Tidak ada yang biasa pada dirimu, Pangeran Andi. Kehadiranmu di sini adalah takdir yang diramalkan. Kamu memiliki kekuatan yang belum terungkap dan tugas yang tak terduga. Kamu akan menjadi harapan bagi banyak orang, dan pedang ini akan menjadi alatmu dalam menjalankan perjalananmu," kata pedang itu dengan meyakinkan.

Ely melihat Pangeran Andi dengan penuh keyakinan. "Aku percaya padamu, Andi. Kamu memiliki kebaikan dan keberanian yang luar biasa. Jika memang ini takdirmu, maka bersikaplah sesuai panggilan hatimu."

Pangeran Andi menghela napas dalam-dalam dan menatap pedang itu dengan tekad yang baru muncul di matanya. Dia menggenggam pegangan pedang dengan mantap, merasakan energi yang memancar darinya. Dia tahu, peran sebagai pahlawan bukanlah tugas yang mudah, tetapi dia siap untuk menghadapinya.

"Demi kedamaian dan keadilan, aku akan menerima takdir ini. Aku akan menjadi Pahlawan yang kalian percayai," ucap Pangeran Andi dengan suara penuh tekad.

Pedang itu memberi tanda persetujuan dengan cahaya biru yang semakin terang. Pangeran Andi dan Ely saling berpegangan tangan, mereka siap membawa cahaya kedamaian dan keberanian ke dunia yang membutuhkannya.

Kemudian, Pangeran Andi dan Ely kembali ke Desa Hutan Suci menunggangi Serigala Fenrir. Mereka berdua ingin menceritakan soal pedang ini kepada penduduk Desa Elfin dan Paman Ken, mentornya Andi.

Kedatangan Pangeran Andi dan Ely di Desa Hutan Suci disambut dengan antusiasme oleh penduduk. Pangeran Andi memberi isyarat kepada Ely untuk memberikan pedang itu kepada Paman Ken. Penduduk desa memandang pedang tersebut dengan penuh kagum dan rasa harap. Paman Ken meraih pedang itu dengan hati-hati, mengamati setiap goresan dan detail yang ada.

"Kalian semua, penduduk Desa Hutan Suci, saya membawa kabar yang luar biasa. Pedang ini, yang ditemukan oleh Pangeran Andi, adalah pedang pahlawan sejati. Dan sekarang, Pangeran Andi telah menerima takdirnya sebagai Pahlawan," kata Paman Ken dengan suara penuh kebanggaan.

Penduduk desa bersorak kegirangan, bertepuk tangan, dan berteriak memberikan selamat kepada Pangeran Andi. Mereka merasa bangga memiliki seorang pahlawan yang berniat membawa kedamaian dan keadilan ke desa mereka.

Pangeran Andi memandang wajah-wajah yang penuh harap dan semangat di antara kerumunan. Ia merasakan energi positif yang mengalir di dalam dirinya. Ia tahu bahwa tanggung jawabnya sebagai pahlawan sejati tidak boleh dianggap enteng.

"Dalam peran baruku sebagai Pahlawan, saya berjanji untuk melindungi dunia, termasuk Desa Hutan Suci dari ancaman apa pun. Keadilan dan kedamaian akan kembali mengalir di sini," ucap Pangeran Andi dengan suara lantang.

Kerumunan penduduk desa bertambah semangat dan memberikan tepuk tangan meriah. Pangeran Andi menoleh kepada Ely, teman baiknya yang telah selalu mendukungnya.

"Tanpa bantuanmu, Ely, mungkin aku tidak akan pernah mengetahui takdirku ini. Aku berterima kasih atas keberanianmu dan keyakinanmu padaku," ujar Pangeran Andi dengan tulus.

Ely tersenyum bangga, "Tidak ada yang lebih aku inginkan daripada melihatmu menjalani takdirmu dengan penuh keberanian dan kebaikan, Andi. Aku akan selalu ada di sampingmu, mendukungmu sepanjang perjalanan ini."

Kabar tentang Pangeran Andi akan menjadi Pahlawan karena telah mendapatkan pedang legendaris akhirnya sampai ke Kerajaan Irisiana. Raja Elliot, ayahnya Andi, segera meminta Andi untuk kembali.

"Andi, berita tentang peran barumu sebagai Pahlawan telah mencapai telingaku. Aku sangat bangga padamu," ucap Raja Elliot dengan tulus saat Pangeran Andi tiba di istana.

"Terima kasih, Ayah. Aku siap untuk mengemban tanggung jawab ini dengan sepenuh hati," jawab Andi dengan rasa hormat.

Raja Elliot menganggukkan kepala puas, "Sangat baik, Andi. Dunia ini membutuhkan seorang Pahlawan yang bisa melindungi dan membawa keadilan. Saya yakin kamu akan mampu melakukannya."

Dalam beberapa hari, Andi menjalani persiapan untuk menjalankan tugas barunya. Raja Elliot mengumpulkan para penyihir kerajaan untuk memberikan kekuatan dan perlindungan ekstra pada pedang legendaris yang akan diberikan pada Andi.

Sesaat sebelum berangkat, Andi bertemu dengan ibunya di ruang hadiah kerajaan. Sang ratu menggenggam tangan Andi dengan erat.

"Andi, perjalananmu yang akan datang mungkin akan penuh dengan bahaya dan rintangan. Tapi ingatlah, kamu memiliki keberanian dan kebaikan hati yang tidak akan pernah padam," kata ibunya dengan penuh keyakinan.

Andi tersenyum, "Terima kasih, Ibunda. Aku akan mengingat kata-katamu ini. Aku yakin dengan dukunganmu, aku bisa menghadapi apa pun yang mendatang."

Dengan pedang legendaris di tangan dan semangat yang membara dalam hati, Pangeran Andi siap menghadapi perjalanan yang menantang dan menghormati kepercayaan yang diberikan padanya.

Bersambung.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!