Setelah mengetahui surat tersebut Zet pun langsung berlari menuju istana Axtrasia untuk bertemu dengan Rose..
Sesampai nya di ruangan Rose Zet menendang pintu dengan keras "TUAN PUTRI MAAFKAN ATAS KETERLAMBATAN SAYA!!!" teriak Zet sambil menendang pintu
Lalu pintu yang Zet tendang tadi mengenai Rose dan Rose tertimpa pintu tersebut.
"Hm? tuan putri anda dimana?" tanya Zet yang bingung
Tiba tiba Zet mendengar suara yang merintih di bawah kaki nya "Ukhukk.... Ze... Zett jangan injak pintunya."
"Tuan putri?" tanya Zet sambil melihat kebawah
Zet tersentak kaget melihat Rose tertimpa pintu yang ia injak "WAHHHH TUAN PUTRI!! MAAFKAN SAYAA, SAYA TIDAK TAHU KALAU TUAN PUTRI DISANA."ucap Zet yang panik dan langsung membantu Rose menyingkirkan pintu tersebut.
"MAAF TUAN PUTRI MAAFFF." ucap Zet sambil membanting kepala nya berkali kali.
"Tidak apa apa kok Zet, lain kali kau harus menghilangkan kebiasaan mu yang suka mendobrak pintu, Ini sudah yang kedua kalinya loh." ucap Rose sambil melirik ke arah pintu yang di dobrak Zet.
"BAIKK AKAN SAYA LAKSANAKAN!!! habisnya tuan putri bilang aku harus datang cepat!" ucap Zet yang bersemangat.
Rose menghela nafas dan berkata "Aku tidak menyuruh mu untuk datang cepat, aku hanya menyuruh mu sebaiknya datang saat kau sudah selesai libur!"
"Permintaan anda sifat nya WAJIB DILAKSANAKAN DENGAN CEPAT!!."
Rose yang mendengar itu malah cemberut.
"Ahhh yaa, jadi ada perlu apa tuan putri memanggil ku?." tanya Zet yang penasaran.
Rose menghela nafas dan menjawab "Sebenarnya besok aku harus pergi ke kota perdagangan untuk melakukan rapat"
"Jadi anda ingin aku mengawal anda begitu?."
"Benar tapi aku ingin adikmu dan Felix itu ikut."
"Heh? anda kenal Felix? atau lebih tepat nya Shadow?" tanya Zet.
"Aku mengenal nya saat kemarin bertemu saat kereta kuda di serang, jadi ku pikir dia bisa di percaya.."
"Hmmm jadi karena insiden yang waktu itu ya?, hmm memang benar sih waktu itu ada salah satu prajurit yang berkhianat tapi kenapa harus Felix, kan bisa yang lain?" tanya Zet yang penasaran.
"Sudahlah, ikuti saja perintah ku. Jika semisal dia tidak mau ikut, bujuk dia dengan ini" ucap Rose sambil memberikan kantong.
Zet bingung saat melihat nya dan bertanya "Hmmm apa ini?"
"Itu adalah kantong berisi 35 koin emas, gunakan itu saat Felix tidak mau menerima tawarannya"
Zet tersentak kaget mendengar nya bertanya "Bukan kah untuk sekelas petualang atau tentara bayaran, itu terlalu mahal?"
"Yap aku tahu kalau ini terlalu mahal tapi apapun yang terjadi aku ingin Felix ikut dalam perjalanan ini, dan aku yakin kalau Felix adalah orang buta uang.."
Walau agak bingung, tapi Zet tetap melakukan nya dan pergi dari istana mencari ku..
*****
Di tempat tinggal Lunox....
"NIH! pakai ini dulu!" ucap Lunox sambil menyodorkan pakaian yang rapi.
Aku mengambil pakaian itu dan mengecek nya "Ee.. aku harus pakai ini? "
Lunox heran saat melihat ku "Kenapa? kau tidak suka?"
"Bukan nya aku tidak suka, tapi.. aku yakin pakaian nya sesak. Dan aku yakin pakaian yang kau gunakan itu juga sesak.." ucap ku yang tidak menyukai pakaian sesak.
"Lah? terus pakaian yang kau gunakan itu, tidak sesak apa? pakaian mu tebal, gelap dan panjang. Apa kau tidak gerah atau sesak?" tanya Lunox yang bingung.
Aku diam sejenak dan menjawab "Tidak, aku malah menyukai pakaian ini. Pakaian ini hangat dan tidak membuat ku sesak"
"Apa pakaian mu itu terisi sihir?" batin Lunox yang merasa aneh dengan pakaian ku.
"Sudah sudah! cepat mandi dan ganti pakaian mu! kau bau darah! letakkan pakaian kotor mu di sini lalu nanti akan ku suruh pelayan ku untuk mencuci pakaian mu!" ucap Lunox sambil menyodorkan sebuah keranjang rotan pada ku.
"A.ah.. baiklah, kalau begitu aku pergi sekarang.." ucap ku sambil mengambil keranjang itu dan pergi dari sana, aku berhenti sejenak dan berbalik "Kamar mandi dimana?" tanya ku yang bingung.
Lunox menatap ku dengan tatapan suram "Kau ini..."
*****
"Bagaimana cara bertemu dengan Ratu?" batin ku sambil membasuh badan ku dengan air bersih di kamar mandi yang cukup mewah.
Aku diam sejenak menatap bayangan ku yang berada di air yang bersih "Aku sudah menggunakan kekuatan nya sekali dan itu cukup kuat, jika aku tidak membayar nya, aku bisa di pastikan mati.."
"Jika aku bisa menggunakan kekuatan nya, itu berarti aku masih berkontrak dengan nya. Tapi yang jadi masalah.. bukan kah Ratu itu berada di game?" batin ku yang semakin bingung.
Saat aku berpikir keras, aku teringat sesuatu kalau aku memiliki sebuah skill yang mampu membuat skill.
"Ah! kenapa aku memikirkan kontrak? aku yang membuat kekuatan itu dengan skill ku sendiri tanpa bantuan Ratu jadi seharus nya aku bisa menggunakan kekuatan itu sesuka hati ku kan? lagian Ratu juga berada di dunia game. Mana mungkin dia akan keluar dari dunia game lalu berlari ke arah ku dan ingin membunuh ku?" batin ku dengan santai.
"Kalau kekuatan Ratu bisa ku copy dan Kusatta Zangeki salah satu skill di game OPEN RPG bisa aku tiru disini, itu arti nya seluruh kekuatan Shadow Knight bisa ku copy dan ku aplikasikan disini kan?"
Aku tersenyum lebar mengetahui itu "Hebat, dengan begini dunia baru akan lahir..." batin ku yang tersenyum senang.
"Apa para Sloven bisa di bangkitkan disini? jika bisa, itu akan sangat bagus! benar benar bagus..."
Felix tidak tahu dan tidak sadar kalau dunia yang ia tempati adalah dunia OPEN RPG, dimana para Sloven, legenda, dewa dan dewi yang berasal dari OPEN RPG ada di dunia itu. Namun Felix tidak menyadari nya.
Di suatu ruang hampa... "Cih.. dasar ksatria kecil tidak tahu diri, berani nya dia mengatakan itu?" ucap seorang wanita yang kesal mendengar perkataan ku tadi..
"Puaha! segar nya!!" ucap ku yang selesai mandi dan memakai pakaian mandi, aku mengelap rambut ku yang basah di suatu kamar kosong sambil berkaca .
"Sejak aku datang kemari, aku memang belum mandi sih. Karena di penginapan sendiri tidak ada semacam kamar mandi"
Aku diam sejenak menatap bayangan ku yang muncul di cermin "Di lihat lagi, tubuh ini benar benar keren. Bahkan postur tubuh nya benar benar sempurna, Apa pemilik asli tubuh ini suka sekali berolahraga?" batin ku sambil mengecek badan ku.
Aku memakai pakaian yang diberikan oleh Lunox kemudian berjalan keluar dari kamar, saat aku baru saja dari kamar. Aku melihat Lunox sedang bersandar dinding seperti menunggu sesuatu.
"Ah, kau akhir nya keluar" ucap Lunox yang menyadari diri ku keluar dari kamar.
Aku sedikit terkejut melihat itu "Heh? ada apa kau menunggu ku di luar?"
"A..APA MAKSUD MU HAH?! aku menunggu mu itu hanya untuk bertanya apa baju mu pas atau tidak! itu saja!" ucap Lunox yang tersipu malu.
Aku tertawa kecil melihat itu "Baiklah baiklah, tenang saja baju nya pas kok!" ucap ku sambil tersenyum, kami berdua berjalan menuju ruang tamu..
Lunox diam sejenak melihat wajah ku "Shadow, kau ini. Walau sudah ganti pakaian tetap saja api yang ada di wajah mu tidak menghilang. Itu arti nya api itu kebal terhadap air..."
"Jika kita berada berbicara berdua, kau panggil saja aku Felix. Gunakan panggilan Shadow jika berada di tempat umum, yah Kurasa api nya tidak bisa menghilang, bagaimana apa aku sudah seperti bangsawan?" tanya ku yang penasaran terhadap penampilan ku.
Lunox menghela nafas mendengar jawaban ku "Aku tidak tahu kenapa kau tiba tiba mengganti identitas mu menjadi Shadow, memang nya kenapa dengan Felix?"
"Ini agar aku bisa bergerak dengan mudah!" ucap ku sambil mengambil katana ku yang di letakkan di atas lemari
Lunox berpikir sejenak melihat ku yang memasang kembali katana ku di pinggang belakang ku.
"Hmm, kurasa akan semakin jelas jika wajah mu terlihat. Tapi bisa kah kau bersikap seperti bangsawan?" ucap Lunox sambil duduk di sofa yang berada di ruang tamu.
Aku tersentak dan berkata "Bangsawan?, tunggu sebentar ya.."
Aku mencoba sebisa ku untuk mengganti nada suara "Ekhem, ekhem.. Selamat pagi, salam sejahtera Nyonya dari keluarga Sentinel, Lunox Sentinel. Bagaimana kabar anda? apa anda sudah sarapan?" tanya ku dengan sopan sambil sedikit menundukkan badan ku,
Lunox ternganga melihat sikap ku yang berubah 180 derajat dari bajingan ke sopan santun
"B..Bagaimana cara nya dia melakukan itu dalam waktu singkat? kekuatan yang tinggi dan tahu sopan santun para bangsawan. Tidak salah lagi, dia pasti berasal dari keluarga bangsawan. Tapi aku tidak pernah mendengar marga Fortune atau keluarga Fortune.." batin Lunox yang bingung.
"Fel, apa kau ini dari keluarga bangsawan? kau sudah sangat kuat bahkan di level 1.." tanya Lunox yang penasaran.
"Tidak, aku bukan dari keluarga bangsawan. Aku hanya seorang anak muda biasa yang tinggal di desa dari barat dan tidak mengetahui kedua orang tua ku siapa.." jawab ku sambil menyiapkan teh.
Lunox yang mendengar itu menjadi semakin penasaran "Memang nya, kau ini anak buangan?"
Aku menyodorkan segelas teh hangat kepada Lunox dan menjawab "Mana ku tahu, tapi orang yang merawat ku bilang kalau kedua orang tua ku sudah meninggal saat aku masih sangat kecil.."
Lunox yang mendengar nya jadi merasa bersalah "M..maaf, aku tidak tahu itu"
Aku tertawa kecil melihat Lunox yang merasa bersalah "Tenang saja, aku sudah terbiasa dengan itu"
"Ada kemungkinan kalau Fortune bukan nama marga nya. Bisa di pastikan kedua orang tua Felix adalah seorang bangsawan kelas atas, kedua orang tua nya meninggal saat berada di barat. Tempat yang paling berbahaya, tapi aku tidak pernah mendengar bangsawan yang tinggal di barat.." batin Lunox yang semakin bingung memikirkan nya.
"Fel, apa aku boleh tahu? siapa yang merawat mu?" tanya Lunox sambil menyeruput teh tersebut.
"Ah, dia adalah seorang iblis!" jawab ku sambil tersenyum.
Lunox yang mendengar itu tersentak kaget "PFFTT!!!"
"Ukhuk ukhuk, apa? iblis?!" Tanya Lunox yang tidak percaya.
"Yah, dia merawat ku dan mengajarkan ku cara memakai sihir element kegelapan"
"Memang benar sih, manusia mana yang mau mempelajari sihir element haram itu? dan manusia mana yang memiliki element haram itu kecuali orang yang di depan ku ini? aku seharus nya tidak heran jika dia di rawat oleh iblis." batin Lunox.
"Lalu? bagaimana kabar iblis itu sekarang?"
Aku diam sambil menatap ke luar jendela dan menjawab "Dia juga sudah tiada, desa nya di serang oleh monster dan hanya aku lah yang selamat dari kejadian itu.."
Lunox tersentak mendengar nya "M..maaf... aku tidak tahu.."
"Tidak apa apa, aku sudah terbiasa dengan itu" jawab ku dengan nada lemas.
"Walau aku tidak tahu wajah nya, tapi.. sekali lihat aku tahu kalau dia cukup bersedih atas kejadian itu. Ini juga salah ku karena sudah bertanya sesuatu yang sensitif, bagaimana cara ku menghibur nya?" batin Lunox yang merasa tidak enak.
"CIHUYYY!!" teriak Zet sambil membuka pintu, ia baru saja kembali dari istana dan langsung pulang menuju rumah.
"Kakak, bisa tidak kalau membuka pintu itu biasa saja?" tanya Lunox yang terkejut saat Zet membuka pintu.
"Maaf, maaf. Felix kemana pakaian mu biasa nya?" tanya Zet sambil menoleh kepada ku yang sedang berdiri di samping Lunox yang sedang duduk di sofa.
"Cerita nya panjang, tapi inti nya pakaian Felix ini kotor karena darah" ucap Lunox sambil menunjuk ke arah ku.
Aku hanya tersenyum sambil melambaikan tangan ku ke arah Zet.
"Kebetulan Felix berada di sini, ada sesuatu yang ingin ku bicarakan" ucap Zet sambil duduk di samping Lunox.
"Hmm?"
Zet kemudian menjelaskan kenapa ia mencari ku. Zet ingin aku ikut mengawal Rose, tentu saja ada bayaran yang di tawarkan.
Aku berpikir sejenak mendengar itu "Hmm.. bagaimana ya..."
"Bagaimana? apa kau menyetujui nya?" tanya Zet sambil melepas helm nya.
"Aku akan setuju jika di beri 65 gold.." jawab ku sambil tersenyum.
Zet dan Lunox yang mendengar itu terkejut.
"65? bukan kah itu kebanyakan?" tanya Lunox yang terkejut.
"I..itu benar, bukan kah 35 Gold itu sudah cukup??" tanya Zet.
Aku menghela nafas lalu merapihkan baju ku sedikit "Hmm.. bagaimana ya, masalah nya yang akan ku kawal itu penerus kerajaan Axtrasia. Apa keselamatan tuan putri hanya sampai 35 Gold saja?" tanya ku sambil tersenyum.
Zet yang mendengar itu memasang wajah muram dan berkata "Ukh... kau benar.."
"Baiklah baiklah, akan ku bayar sesuai keinginan mu. Besok pagi kita akan berangkat, jadi kau siapkan diri mu ya?" ucap Zet sambil memegang dahi nya.
Aku tersenyum senang mendengar nya "Baik lah~ ku tunggu bayaran nya.."
"Karena kau sudah di sini, bagaimana kalau kau menginap saja disini? kebetulan rumah ini memiliki banyak kamar kosong.." Tawar Zet kepada ku.
"Wah, tawaran yang menarik. Suatu kehormatan bisa menginap di sini, kalau begitu saya pergi mencari udara segar terlebih dahulu" Ucap ku dengan sopan sambil berjalan keluar dari sana.
"I..itu benar benar Felix?" tanya Zet kepada Lunox dan terlihat Zettidak percaya.
Lunox hanya menghela nafas dan mengangguk.
Bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 285 Episodes
Comments