Ratmi sudah sah menjadi istri ke enam dari juragan Darso, dan Dito pun akan menikah dengan Karlina.
Dengan maksud sambil menjaga kakak perempuan nya yaitu Ratmi. sebab, Harjo dan Hartini di usir dari desa Setu bodas.
Harjo berpesan, agar Dito terus perhatikan dan menjaga Ratmi.
Harjo pun tidak tahu harus kemana. Sebab, ingin pulang ke desa inggit pun tidak lagi punya uang saku.
Akhirnya Hartini berinisiatif mengajak Harjo ke rumah orang tua Hartini di desa sebelah, desa merpati.
...****************...
Satu tahun telah berlalu, kini Ratmi tengah mengandung anak juragan Darso.
Namun kabar baik itu belum di ketahui juragan Darso.
Selama hidup bersama dengan suami nya, Ratmi sering mendapatkan kekerasan fisik dan kekerasan *****al.
Hari-hari Ratmi selanjutnya amat kelabu, memang juragan Darso selalu mencukupi semua kebutuhan Ratmi.
Namun dirinya bak burung di sangkar emas, terlebih sikap tempramental juragan Darso.
Suatu hari Ratmi tengah duduk di tepi sungai, dia memang sering kesan jika rindu dengan ibu dan bapak nya di desa Inggit. Entah bagaimana kabarnya, Dito sang adik pun tidak tahu bagaimana keadaan nya padahal jarak rumah mereka amat dekat.
namun Dito tak pernah berkunjung menjumpai Ratmi, selama ini.
Air mata tidak dapat di bendung lagi, Ratmi menangis sejadi-jadinya. Membenamkan wajahnya di Antara lipatan kedua tangan nya di atas lutut.
Hingga sebuah sentuhan lembut menyentuh pundaknya.
Ratmi menoleh, siapa pemilik lengan yang terasa hangat itu.
Seorang perempuan tua paruh baya, berkebaya hitam lusuh. Rambut yang seluruh nya sudah memutih itu terlihat acak-acakan.
Mengerikan, kesan pertama kali saat Ratmi melihat wajah nenek tersebut.
"nduk.. Sampean kenapa?"
Tanya nenek tua itu dengan nada suara serak.
Ratmi hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dia tidak bisa sebarang berbicara pada orang yang tidak dia kenal.
"bu'de tahu, memang susah. Hidup kadang tidak adil."
ucap nenek tua itu sembari ikut duduk di sebelah Ratmi yang mulai menangis kembali.
"bu'de punya jalan keluar nya buat kamu, apa kamu mau?"
Seketika Ratmi menoleh pada nenek tua itu. Kedua matanya berbinar, namun ada keraguan di dalam hati nya.
Seolah mengerti dengan isi hati Ratmi, si nenek tertawa terkekeh-kekeh melihat Ratmi yang hanya diam tak menjawab.
"yasudah, pikiran saja dulu. Yang pasti bu'de akan membuat hidup mu bahagia, memiliki kekuasaan dan di pandang, bahkan berlimpah harta. Kalau kamu sudah siap cari saja bu'de, ya. Rumah bu'de ada disana.. Nama bu'de, bu'de dasimah."
Ratmi hanya mengangguk, dia akan mempertimbangkan tawaran nenek tersebut.
Setelah nenek tua itu menghilang, Ratmi yang memang sedang tidak fokus, hanya menganggap bahwa bu'de dasimah pergi tanpa dia ketahui.
Sementara Ratmi masih duduk di tepian sungai, hari ini juragan Darso bagian bergilir padanya. Didalam hati Ratmi, ia sungguh ketakutan karena pasti juragan Darso memukul nya lagi.
Hingga akhirnya, mau tidak mau dia harus kembali pulang. Ketidak beradaan dia di rumah malah semakin membuat juragan Darso murka.
Benar saja, belum sampai Ratmi dirumah, juragan Darso telah menanti nya di ambang pintu sembari kedua tangan nya bertolak pinggang.
Tatapan matanya nyalang, bibir nya sedari tadi terus meracau tidak jelas.
"dari mana saja kamu, hah.?"
Ratmi hanya terdiam dan menundukkan wajahnya, meskipun dia menjawab itu tidak akan membuat juragan darso tidak akan memukulinya.
"suami pulang itu bukannya di sambut, dandan yang cantik, ini malah keluar.. Mendatangi lelaki lain ya kamu..?"
Bentak juragan Darso.
"jawab..."
Juragan Darso semakin murka.
Lantas menarik lengan Ratmi dengan kasar menuju dalam rumah.
Bahkan hal itu di ketahui oleh nyonya sari, namun ia pun tak bisa berbuat apapun.
Hingga tubuh Ratmi yang semakin kurus membentur sebuah meja kayu jati di ruang tamu.
Ratmi hanya diam tidak melakukan apapun, dia hanya bisa menangis sembari menahan sakit di sekujur tubuh nya.
Bugh..!!
Sebuah pukulan mengenai wajah cantik Ratmi, rasa nyeri yang teramat dalam ia rasakan di wajah nya.
"akkhh... Mas!!"
teriak Ratmi sembari memegangi wajahnya yang memar, hingga akhirnya Ratmi jatuh tak sadarkan diri.
Juragan Darso nampak panik melihat kondisi Ratmi yang tak sadarkan diri, tidak biasanya dia menyakiti Ratmi sampai seperti itu.
"sari.. Urus dia"
Titah juragan Darso, meminta nyonya sari mengurus Ratmi.
Ratmi di bopong ke dalam kamar oleh beberapa anak buah juragan darso, lalu di baringkan di atas ranjang kasur.
Ratmi terbaring lemah tak berdaya.
"malang sekali nasib mu, Ratmi."
ucap nyonya sari, sambil mengkompres luka memar di wajah Ratmi.
juragan Darso, dia entah kemana. Setelah melakukan kekerasan terhadap Ratmi, ia lantas pergi begitu saja.
...****************...
Harjo telah menikah dengan Hartini, mereka hidup tentram di kediaman rumah orang tua Hartini.
Pekerja Harjo sehari-hari mengurus kebun dan sawah milik sang mertua.
Namun Hartini belum di karuniai buah hati.
"dek, bagaimana kabar adik-adik ku, ya. Terlebih kabar orang tua ku, dikampung."
Ucap Harjo dengan suara lirih.
"mas, anak nya pak'de lasiran bekerja di perkebunan juragan Darso. Kita bisa minta tolong beliau untuk mencari tahu kabar Ratmi dan Dito, setelah kita dapat kabar nya kita akan pulang ke desa mas. Desa Inggit.!!"
jawab Hartini dengan nada suara lembut.
Hartini memang wanita yang lemah lembut, mencintai Harjo dengan sepenuh hati dan apa ada nya.
"baiklah, terimakasih ya dek.!!"
Ucap Harjo sambil mengusap lembut ujung kepala Hartini.
Hartini mencoba mendatangi rumah pak'de lasiran, yang merupakan tetangga nya.
Tok tok tok
"assalamualaikum.. Pak'de lasiran"
"waalaikumsallam.. Tunggu sebentar"
Ucap seseorang di balik pintu,
"Hartini.. Mari masuk nduk"
Ajak seorang wanita paruh baya yang merupakan istri pak'de lasiran.
Hartini duduk di bale (kursi panjang yang terbuat dari potongan bambu)
Rumah yang sederhana, bahkan lantai nya pun masih berupa tanah merah.
Dari arah dapur, bu'de Uncut membawa segelas teh yang masih mengeluarkan asap tipis.
"ini minum nya, nduk."
Bu'de Uncut menyuguhkan teh nya untuk Hartini.
"terimakasih bu'de, apa pak'de ada dirumah?"
"pak'de mu sedang ke kebun sama Hamzah, ada perlu apa, nduk."
"sebenarnya, aku perlu nya dengan Hamzah bu'de. Apa Hamzah masih bekerja di desa Setu bodas?"
Tanya Hartini.
"masih, tapi saat ini dia sedang ambil cuti, nduk."
jawab bu'de Uncut sambil mengunyah kapur sirih.
"assalamualaikum.."
"waalaikumsallam.. Nah, kebetulan. Pas banget, mereka pulang."
Jawab bu'de Hartini sambil tersenyum.
"Hartini.. Kamu sendiri aja? Suami mu gak ikut?"
tanya Hamzah
"tidak, dia sedang ke kebun. Hamzah, aku ada perlu dengan mu. Bisa kita bicara berdua.?"
Jawab Hartini yang nampak serius, hingga Hamzah mengerutkan keningnya.
"mari.. Kita duduk di teras."
Ajak Hamzah
Mereka duduk di teras rumah pak'de lasiran, duduk beralaskan tikar anyaman.
"jadi begini, Hamzah. Adiknya suamiku, merupakan istri ke enam juragan Darso. Apakah selama ini kamu pernah melihat beliau?"
ucap Hartini yang membuka obrolan.
"maksud mu, nyonya Ratmi?"
"iya, benar. Kamu pernah melihat nya? Bagaimana keadaan nya saat ini?"
Jawab Hartini, berharap mendapatkan kabar baik tentang Ratmi.
"iya, beberapa kali aku melihat nya. Tapi.."
Hamzah menghentikan ucapan nya.
"tapi kenapa Hamzah?"
Tanya Hartini yang mulai deg-degan, khawatir dapat kabar buruk tentang nya.
"di-dia.. Nampak semakin kurus, pernah sekali aku nampak beliau tengah melamun di tepian sungai."
seketika tubuh Hartini terasa lemas, walaupun Ratmi hanya sekedar adik ipar. Namun iya menganggap seperti adik sendiri.
"apa yang harus aku katakan dengan mas Harjo, dia pasti sangat khawatir jika tau kondisi Ratmi saat ini."
ucap Hartini dalam hati.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Zuhril Witanto
kasian nasib Ratmi
2024-01-18
0
Zuhril Witanto
apa nenek2 ini yang ngajak Ratmi menjalani pesugihan
2024-01-18
0