Pak'de Harjo dan Cahya lekas keluar rumah, ingin melihat langsung apakah benar itu Mbah Jambrong.
Nampak Pepohonan bergoyang sangat kencang, hingga semakin lama semakin terlihat yang tengah berusaha datang ke arah mereka.
Bruaaaakkkk !!!
Beberapa pohon roboh, terhempas kan oleh Mbah Jambrong yang datang dengan kekuatan yang nampak lemah.
Suara deru nafas nya persis seperti suara deru air sungai yang deras. Tatapan matanya melemah, tetapi masih menampakkan sorot mata yang tajam.
Pak'de Harjo dan Cahya mundur beberapa langkah ke belakang, memegangi korek api yang sudah siap menyulut sumbu di samping nya.
cermin-cermin sudah siap untuk memantulkan cahaya.
saat Mbah Jambrong bangkit dari duduknya, pak'de Harjo lekas jalan tepat di tengah-tengah api yang mengelilingi sisi nya.
Lalu dia mengangkat tangan ke atas, memberi isyarat dua orang di belakang nya yaitu bu'de Hartini dan asih.
Mbah Jambrong mulai berjalan mendekati Cahya, denyut jantung nya berdegup kencang.
lantas pak'de Harjo mengacungkan satu jari tangan nya, lalu nyusul satu jari nya, dan..
"MULAI !!!" Teriak pak'de Harjo
Bu'de Hartini dan asih segera menghidupi satu persatu api dengan bergantian. Lalu senter baterai juga ikut dia nyalakan, dengan di arahkan ke cermin yang sudah di susun.
Cahaya dari senter yang membias dari cermin itu, menabrak api yang menyala. Terus terbias ke satu cermin, ke cermin yang lain. Terakhir, terbias ke arah Mbah Jambrong yang berdiri hendak menerkam Cahya.
Seketika itu juga, Auman dari Mbah Jambrong terdengar kencang. Tangannya berusaha menutupi sinar senter yang membias itu. Bias nya terasa panas, sehingga membuat langkah Mbah Jambrong tak seimbang.
Tanah bergetar, sepadan dengan pijakan kaki nya yang menghentak-hentak.
Cahya berusaha mengimbangi diri, sembari tersenyum senang. Mbah Jambrong takut akan cahaya, itu sebabnya warga desa Setu bodas selalu takut keluar rumah pada malam hari. Karna Mbah Jambrong akan keluar dari sarangnya jika langit sudah gelap.
Cahya sungguh heran, kapan pak'de Harjo menyiapkan semua ini. Lalu kenapa dia merancang hal ini, apakah pak'de Harjo tidak yakin sepenuh nya kalau Cahya dan Tara akan berhasil memusnahkan sarang Mbah Jambrong.
Pak'de Harjo lekas menghampiri Cahya, yang tengah terduduk di tanah.
"eyang menyiapkan dan merancang semua ini, sebab tidak cukup jika hanya sarang nya saja yang di musnahkan. firasat eyang sudah mengatakan, kalau Mbah Jambrong akan mencari mu kesini setelah sarang nya di bakar." ucap pak'de Harjo sambil mengelus lembut rambut cahya
"terimakasih eyang" jawab Cahya dan langsung memeluk pak'de Harjo
Hartini dan asih tersenyum lega, karna semua rencana yang telah di rancang saat Cahya dan Tara pergi ke rumah Mardani untuk membakar sarang Mbah Jambrong telah berhasil.
Mereka semua kembali masuk ke dalam rumah.
Hartini, kembali mengobati luka Tara akibat terkena anak panah tadi.
Asih membuatkan minum untuk anaknya, lalu mendekap erat tubuh Cahya.
"eyang bilang, kalau eyang tau dimana keberadaan mentari?" tanya Cahya
"nduk.. sini keluar, semua sudah aman"
Mentari keluar dari ruangan kamar tengah, yang merupakan kamar Tara. Wajahnya nampak sumringah, melihat kakak nya selamat.
"tariii..." ucap Cahya dengan nada lirih
"mbak.." sahut mentari dan langsung memeluk kakak nya itu
"Bu, kita pulang saja yuk ke rumah nenek di kota" ucap Cahya dengan air mata yang berlinang
"iya sayang, kita akan pulang ke rumah nenek" sahut asih dan langsung memeluk erat putri-putri nya itu
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
neng ade
Alhamdulillah.. semua nya udh berhasil di dimusnahkan.. tapi aku masih penasaran dngn Tara dan Intan .. apakah mereka sepasang kekasih ??
2024-02-18
0
Zuhril Witanto
sungguh mendebarkan
2024-01-18
0
Zuhril Witanto
itu alasannya gak boleh keluar malam
2024-01-18
0