Asal-Usul Keluarga Mardani 7

"jangan di perdulikan nduk, terus saja melangkah. Sebentar lagi.."

Suara bu'de dasimah kembali menuntun Ratmi.

"Ratmi.. Ratmi, kembali lah nak.. Ibu rindu sekali pada mu."

Degh.

Kali ini Ratmi tidak mampu untuk melakukan langkah nya. Karena suara itu, terdengar persis seperti suara ibu nya.

"Ratmi.. Pulang nduk.!!"

Lirih suara itu kembali, kini dengan nada dan suara yang amat memilukan.

"i-ibu.."

Ratmi terdiam, dia hendak menoleh ke belakang, namun tiba-tiba tangan nya sudah di genggam oleh bu'de dasimah.

"kan bu'de sudah bilang, jangan menoleh lagi kebelakang, nduk"

ucap Bu'de dasimah, Ratmi terkejut bukan kepalang. Dari mana datang nya bu'de dasimah? Dan saat bu'de dasimah datang, suara-suara itu lenyap dan senyap. Kini hanya terdengar suara kicauan burung.

"bu'de, dimana rumah bu'de dasimah.?"

Tanya ratmi keheranan dengan kemunculan bu'de dasimah secara tiba-tiba.

"itu rumah bu'de, mari..."

Tunjuk bu'de dasimah pada sebuah gubuk kecil di depan mereka.

Gubuk itu amat sederhana, dan terlihat mulai rapuh.

Namun yang membuat Ratmi heran adalah, sedari tadi dia terus menatap kedepan. Namun tidak melihat gubuk dimana pun, namun kini gubuk tempat tinggal bu'de dasimah sudah berada tepat di hadapan nya.

"duduk dulu.."

Titah bu'de dasimah, Ratmi lantas duduk di sebuah bale (tempat duduk yang terbuat dari potongan bambu), yang terdapat di teras depan rumah. Sementara bu'de dasimah masuk ke dalam rumah.

Ratmi mengamati area sekitar, tidak ada siapapun, tidak ada hewan apapun. Jadi dari mana sumber suara-suara yang tadi Ratmi dengar..?

"silahkan nduk, minum dulu."

Bu'de dasimah datang membawa segelas air teh tawar dan sepiring singkong rebus yang masih mengeluarkan asap tipis.

Ratmi hanya mengangguk, dia sama sekali tidak menyentuh gelas yang bu'de dasimah sodorkan.

"Bu'de, kedatangan saya kemari..."

Ucap Ratmi, namun belum beres perkataan yang Ratmi ucapkan. Bu'de dasimah segera memotong nya.

"bu'de sudah tau, memang susah kehidupan kamu, nduk. Bu'de sudah tau, sejak kamu datang kesini dengan mas dan adik mu. Namun alih-alih mendapatkan perubahan hidup, malah malapetaka yang kamu dapat dari suami mu."

Ratmi menundukkan kepalanya, memang jalan nasib yang dia lalui amat berat, seolah-olah memang semesta tidak mengijinkan nya bahagia.

"terus sekarang mau mu bagaimana, nduk."

Tanya Bu'de dasimah kembali.

"aku ingin suami ku tunduk dengan ku, bu'de. Sejujurnya, sekarang aku tengah mengandung anak nya. Maka dari itu, aku ingin apapun yang aku ucapkan suamiku nurut dan patuh. Aku juga mau, mas Darso menceraikan semua istri-istrinya, aku ingin menjadi satu-satunya istri mas darso dan kekayaan suamiku sepenuhnya jadi milik ku."

Ucap Ratmi dengan suara menggebu-gebu. Dia sudah tidak tahan selalu hidup dalam dalam keterpurukan. Dia ingin menguasai juragan Darso beserta seluruh harta nya.

"tanang nduk, bu'de akan memberikan semua nya pada mu semuanya.."

Lirih bu'de dasimah.

Akhirnya bu'de dasimah meminta Ratmi masuk ke dalam rumah, karena hari mulai senja.

Sederhana. hanya itu kesan pertama yang Ratmi dapat saat melihat keadaan rumah bu'de dasimah.

"kamu sudah siap?"

Tanya bu'de dasimah kemudian.

Ratmi hanya menganggukan kepala nya dengan mantap.

"sekarang kamu harus bermalam disini. Waktu ritual cukup memakan waktu)"

"ritual...?"

ucap ratmi heran.

Dia tidak tahu bahwa semua itu butuh ritual.

"itu kamar mu, sebagai syarat pertama. Nanti malam jika ada yang mengetuk-ngetuk pintu kamar mu atau kamu mendengar suara aneh di luar kamar, jangan sampai kamu membuka pintu."

Ucap bu'de dasimah dengan suara serak nya yang khas.

Ratmi hanya terdiam, dia benar-benar merasa bingung atas pilihan nya untuk menemui bu'de dasimah.

Langit mulai gelap, Ratmi masuk ke dalam kamar. Sementara bu'de dasimah hanya menatap nya hingga Ratmi benar-benar menutup pintu kamar rapat-rapat.

Ada sebuah jam kecil usang di atas meja.

Ratmi merebahkan tubuh nya di atas kasur kapuk dia mencoba memejamkan mata, namun kedua mata nya tetap masih ingin berjaga.

Kini jam di meja sudah menunjukkan pukul 23.30 malam.

Berkali-kali Ratmi menuju arah pintu, dia menempelkan telinga nya pada daun pintu yang nampak reot itu. Dia berusaha mendengarkan suara apapun yang ada di balik pintu, dia penasaran dengan apa yang diucapkan oleh bu'de dasimah. Namun sayang di luar tetap hening.

"apa jangan-jangan bu'de dasimah hanya berbohong, untuk menakut-nakuti aku.?"

Batin Ratmi.

Ratmi kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur. Kini mata nya menatap lurus ke atas, dia mulai memikirkan dan membayangkan, ritual apa yang akan dia lakukan. Apa ini benar-benar akan berpengaruh di dalam kehidupan nya.

Srakk.. Srakk..

Ratmi terkejut, dia langsung segera meringsut menuju pojok ranjang.

Suara sapu lidi yang beradu dengan tanah, namun Sumber suara itu bukan datang dari luar rumah, melainkan dari luar kamar. Lebih tepatnya berada di depan pintu kamar yang Ratmi tempati.

Namun dari bawah pintu Ratmi tidak melihat bayangan apapun.

Kondisi ruang tamu lebih terang dari kamar nya, karena bu'de dasimah telah memasang dua buah lampu templok disana.

Kemudia suara itu berganti, kini di luar kamar terdengar amat ramai, seperti ada beberapa orang lelaki yang tengah mengobrol di iringi dengan tawa yang terbahak-bahak.

Bulu tengkuk Ratmi semakin meremang manakal suara tawa itu kini berganti dengan suara tangisan seorang perempuan.

Tangisan itu amat memilukan.

Sampai-sampai Ratmi pun turut merasakan kepedihan yang sedang di tangisi oleh wanita itu.

"Ratmi.... Hihihi.."

Degh.

Suara perempuan yang tadi menangis itu kini memanggil nama nya.

"nduk.. Keluar cah ayu, saya tahu kamu ada di dalam."

Ratmi menutup telinga nya dengan kedua telapak tangan, dia berusaha tidak mendengar suara yang terus memanggil nama nya itu.

Suara itu terus memanggil Ratmi berulang-ulang. seolah-olah suara itu terus mendekat ke arah nya.

Ratmi semakin takut, manakala suara-suara aneh itu hilang dan kini berganti dengan sebuah gedoran kuat di pintu.

Seolah seseorang sedang berusaha masuk ke dalam kamar.

"Ratmi... Buka..!!"

Bugh.. Bugh..

"mas.."

Lirih ratmi, karena suara yang baru saja memanggil nya itu adalah suara juragan Darso.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!