"tugas mu belum tuntas semua, Cahya. Kamu harus memusnahkan para sekte sesat itu." ucap pak'de Harjo
bola mata Cahya sedikit membulat.
"maksud eyang, aku harus membunuh bapak dan juga eyang Ratmi?"
"hheemm.." jawab nya singkat sambil mengangguk kepala nya
"tidak.. Bagaimana aku bisa membunuh bapak ku sendiri?" tolak Cahya yang nampak ada kesedihan di mata nya.
"tapi, kamu harus melakukan nya nduk. Sebab, mereka bisa membangkitkan kembali Mbah Jambrong" sahut bu'de Hartini
"lakukan lah, mbak. Demi aku dan ibu" ucap mentari sambil memeluk Cahya
"berikan aku waktu untuk berfikir" jawab Cahya, lantas ia bangkit dari duduk nya. Lalu masuk ke kamar yang telah di siapkan oleh Hartini.
"asih, yang harus melakukan itu adalah Cahya sendiri. Cepatlah ambil keputusan, agar kalian bisa hidup aman di kota nanti" ucap pak'de Harjo
Asih masih terdiam.
"bu'le, biar nanti aku yang bicarakan hal ini dengan Cahya." ucap tara
Asih hanya menganggukkan kepalanya.
Cahya tampak sedang berbaring di atas kasur kapuk, tengah memikirkan apa yang di katakan oleh eyang nya itu.
Bagaimana mungkin, ia harus menghabisi nyawa bapak kandung nya sendiri. Namun itu semua demi keselamatan dirinya, adik dan ibu nya.
Cahya pun, tidak habis pikir mengapa bapak nya melakukan hal yang di laknat oleh tuhan. Untuk keperluan apa bapak nya, melakukan pesugihan.
Saking penat nya, semalaman Cahya harus berusaha menyelamatkan ibu nya dan harus keluar dari rumah jahanam itu. Ia tampak tertidur pulas, hingga petang.
"mbak.. mbak Cahya, bangun mbak!!!" ucap mentari membangunkan kakak nya itu
"heemmm..." jawab Cahya singkat
"sudah hampir sore mbak"
Cahya lekas bangkit dari tempat tidur, saat Cahya ingin ke dapur. Ia melihat Tara tengah menyendiri di teras rumah nya. Cahya mencoba menghampiri Tara.
"ngapain sore-sore bengong? Ke sambet nanti" ucap Cahya
"sudah kenyang istirahat nya?" tanya Tara
"hemm.." jawab Cahya singkat
"Tara.. Kalau eyang Harjo adalah eyang ku, itu artinya kamu pak'de ku?" ucap Cahya sambil tersenyum meledek.
"ehh.. Aku ini masih muda, kok di panggil pak'de" jawab Tara malu-malu
"lantas.. Aku panggil kamu apa?"
"cukup panggil aku, Tara. Kita keliling desa yuk?" ajak Tara sambil tersenyum
"tapi.. Kaki mu kan lagi sakit"
"sudah enakan kok, yukk!!!" ajak Tara sambil menarik lengan Cahya
"izin sama eyang dan ibu ku dulu"
"Bu.. Bu'le asih.. Aku ajak Cahya keliling sebentar yaa Bu.."
"iya.. Jangan sampai malam yaa" jawab Hartini
Lantas Tara langsung mengajak Cahya berkeliling kampung, rumah Tara tepat di perbatasan desa Setu bodas dengan desa merpati. Namun rumah Tara, masuk ke daerah kawasan desa merpati.
Desa merpati tak kalah indah dengan desa Setu bodas, namun desa merpati lebih kebanyakan lahan sawah Tinimbang hutan.
Warga desa merpati tampak ramah-ramah.
"bapak ku, di kenal baik di desa ini. Jadi hampir seluruh warga disini, mengenal ku."
"oh iya, Cahya. Satu hal yang perlu kamu tahu, aku bukan lah anak kandung bapak ku"
Pembicaraan Tara barusan, membuat mata Cahya sedikit membulat. Manakala ia terkejut dengan pengakuan Tara.
"aku adalah anak dari korban tumbal pak Mardani, bahkan aku pun hampir menjadi tumbal nya juga. Tapi.. bapak Harjo, telah menyelamatkan aku. Saat itu usia ku tujuh tahun"
"maafkan atas semua perbuatan bapak ku, Tara. karna perbuatan nya, kamu kehilangan orangtua mu" ucap Cahya sambil menundukkan kepalanya
"saat aku menempati rumah itu, aku bertemu dengan intan yang sedang bermain boneka di halaman rumah nya. Seiring berjalan nya waktu, kita sempat bermain bersama setiap hari di taman rumah itu, sebelum akhirnya orangtua ku mat* mengenaskan"
"lalu.. Setelah kejadian itu, kalian terus terjalin baik?" tanya Cahya yang penasaran dengan hubungan Tara dan intan.
"tidak... Kami selalu sembunyi-sembunyi jika ingin bertemu, sebab bu'le Ratmi membenci aku dan juga bapak Harjo karna telah menyelamatkan aku dari tragedi itu"
tidak terasa mereka berjalan sudah sangat jauh, hingga mereka hampir memasuki hutan. Namun saat sedang asyik mengobrol tiba-tiba.
"Aakkkhhh!!!!"
Cahya tampak bergelantung di atas pohon besar, dengan kaki terikat sebelah.
"JEBAKAN!!! Ini jebakan, Cahya."
"tolong.. Tolong aku.. Tara" Cahya nampak sangat panik
"tenang.. Kamu tenang dulu yaa.."
Saat Tara ingin mengeluarkan sebuah belati guna untuk memotong tali yang mengikat kaki Cahya, namun ternyata Tara pun kena jebakan itu.
"aakkhhh... Sialan" teriak Tara
Dari dalam hutan, tampak seorang berjubah hitam itu datang membawa sebuah gol*k.
"hahaha... Hahaha..."
Ternyata seorang berjubah hitam itu tidak sendiri, dia berdua. Dua-duanya menggunakan jubah hitam, itu sudah pasti anak buah Mardani.
"kamu, dengan bapak mu itu sama. Sama-sama selalu ikut campur urusan orang" ucapnya sambil membuka kupluk nya itu
"BAPAKKK!!!" Ternyata itu mardani
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
neng ade
semoga setelah kejadian ini Cahaya bisa cepat ambil keputusan utk membunuh bpk nya agar Mardani bisa ikut musnah juga demi utk keselamatan ibu dan adik juga
2024-02-18
0
Zuhril Witanto
mardani
2024-01-18
0