bugh bugh ...
"Mbak intan!!!" teriak Cahya yang melihat kedatangan intan secara tiba-tiba.
Mardani jatuh tersungkur ke tanah, sebab intan memukul nya menggunakan balok.
"Intan!!!" ucap tara dengan mata yang berbinar
intan membuka kupluk jubah hitam yang datang bersama Mardani tadi.
"bu'le Ratmi!!!" ucap tara
"Cahya, cepat lakukan!!" titah intan, sambil menyodorkan sebuah senapan.
"tapi.. Mbak.." mimik wajah Cahya lekas berubah, penuh kebimbangan.
"demi keamanan dan selamatan nya, bu'le asih juga mentari. Lekas Cahya, lakukan sekarang!!!"
Cahya mulai ngambil ancang-ancang, siap menemb*k Mardani dan Ratmi. Jantung nya berdegup sangat kencang, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
kini Mardani sudah sadar, setelah jatuh tersungkur saat di puk*L balok oleh intan.
"nak, Cahya. Bapak tidak bermaksud untuk Hajat ataupun menyakiti kamu, ibu dan mentari. Maafkan lah bapak, nak.!!" ucap Mardani dengan nada lirih
Cahya mulai menurunkan senapan itu.
"tidak, Cahya!! Jangan dengarkan bapak mu, sudah pasti dia akan melukai mu lagi. Jika kamu melepaskan nya." teriak intan dengan lantang
"tidak, nak. Bapak berjanji akan bertaubat, bapak tidak akan mengulangi nya lagi"
Cahya makin di serang ke bimbangan, dia tak tahu harus bagaimana.
"Tara.. mbak intan.."
"Cahya, lakukan lah demi keselamatan kamu, ibu dan adikmu Cahya." ucap tara
Duuaarrr Duuaarr ...
Darah segar keluar dari mulut Mardani dan ratmi, setelah nya Cahya tersungkur lemah tak berdaya di tanah.
Menatap sendu jasad bapak nya.
"maafkan aku, pak. Maafkan aku. Hikss hikss" Cahya menangis sejadi-jadinya.
"kita makamkan jasadnya, aku akan memanggil bapak ku. Kalian tunggu disini" titah Tara
gegas Tara pulang kerumahnya, guna memanggil pak'de Harjo untuk membantu memakamkan jasad Mardani dan bu'de Ratmi.
"percayalah, Cahya. Apa yang kamu lakukan sudah benar, untuk menghentikan pesugihan mereka selama ini. Membun*h iblis dan pengabdi nya" ucap intan, sambil memeluk erat adik sepupu nya itu.
dua puluh menit kemudian, Tara datang bersama dengan pak'de Harjo. Membawa cangkul untuk menggali kuburan, juga membawa kain kafan.
Tara juga membawa dua gerobak, untuk membawa jasad Mardani dan Ratmi.
Mereka memutuskan untuk mengubur nya, di pemakaman khusus. Yaa.. Bu'de Ratmi telah menyiapkan lahan khusus, untuk mengubur para korban tumbal mereka.
"Cahya, intan. Kalian memandikan jasad Ratmi, ya." titah pak'de Harjo
"baiklah, eyang." jawab intan
mereka mulai memandikan jenazah, saat mereka mengguyurkan satu gayung air. Terdengar kegaduhan di luar rumah, mulai dari suara gedoran pintu, suara seseorang menangis, suara-suara burung hantu berterbangan tepat di atas atap rumah.
"tetaplah fokus memandikan jenazah, jangan hiraukan kegaduhan di luar." ucap pak'de Harjo
Seluruh tubuh Cahya bergetar, jantung nya berdegup kencang tak beraturan.
Sampai akhirnya mereka selesai memandikan jenazah Mardani dan Ratmi.
"kita harus memakamkan nya sebelum tengah malam" ucap pak'de Harjo
Kini Tara dan pak'de harjo mulai menggali dua lubang kuburan, nampak sosok-sosok bayangan putih berterbangan di atas sambil tertawa melengking.
"sosok apa itu, eyang??" tanya Cahya tampak ketakutan
"mereka arwah, korban tumbal nya Mardani dan Ratmi. Mereka juga yang membuat kegaduhan di luar rumah tadi!!" jelas Harjo
Cahya bergidik ngeri melihat sosok-sosok itu.
Selesai memakamkan kedua jenazah, mereka mulai membacakan doa-doa.
"pak, maafkan Cahya yaa pak. aku juga sudah memaafkan semua kesalahan bapak, dan semoga Allah juga mengampuni perbuatan bapak" ucap Cahya yang tampak sangat terpukul
...****************...
Di kediaman pak'de Harjo, tampak bu'de Hartini dan asih tengah menunggu mereka kembali.
"itu mereka bu'de!!!" asih mulai merasa ada kelegaan di hati nya saat melihat putri pertama nya sudah kembali
"bagaimana, sayang??" tanya asih
namun Cahya enggan menjawab sama sekali, ia malah melenggang masuk begitu saja ke dalam rumah. Lalu menyandarkan punggungnya di kursi rotan milik Harjo.
"sudahlah, asih. Berikan waktu untuk Cahya" ucap pak'de Harjo sambil mengelus pundak keponakan nya.
Mereka berkumpul di ruang tamu, dari arah dapur terlihat Hartini membawa beberapa gelas teh hangat.
"sudah, nduk. Ikhlaskan semua, percayalah bahwa ini semua demi kebaikan dan keselamatan kalian juga" ucap bu'de Hartini sambil menyuguhkan minuman yang sudah ia buatkan.
asih terus memeluk putri-putri nya dengan erat.
"besok kita akan kembali ke kota ya?? Kerumah nenek." ucap asih sambil tersenyum ke Cahya
Namun Cahya hanya membalas dengan anggukan saja dan sedikit senyuman.
"lantas, kalian bagaimana?? Mau lanjut melangsungkan pernikahan kalian??" tanya Hartini sambil menatap senyum ke arah Tara dan intan
"Menikah??" sahut Cahya tiba-tiba
"iya, nduk. Mereka sempat ingin menikah dulu, namun Ratmi menolak mentah-mentah lamaran Tara." jelas Hartini
Tampak mimik wajah Cahya berubah.
"kalian menjalin hubungan??" tanya Cahya sedikit kepo
"memang nya kenapa??" sahut Tara dengan ketus
"nggak.. Gpp. Bu, aku tidur duluan yaa. Ibu jangan tidur malam-malam karna besok kita akan pulang pagi-pagi sekali" ucap Cahya
Semua menatap heran pada tingkah nya itu, tadi dia tampak murung bersedih. Namun seketika berubah saat mengatakan bahwa Tara memiliki hubungan dengan intan.
Cahya pun menyadari nya, seperti ada gejolak di hati nya, seperti ada rasa cemburu saat Hartini mengatakan tentang Tara dan intan.
Bagaimana, Cahya tidak menaruh hati pada lelaki tampan berkulit hitam manis dan mempunyai kumis tipis di atas bibir nya.
ketampanan dan kegagahan nya, telah berhasil mencuri hati Cahya. Namun ternyata Tara telah memiliki tambatan hati nya.
...****************...
Hari sudah pagi, sejak subuh Cahya sudah rapih. Padahal ibu nya masih repot membantu bu'de Hartini di dapur, dan mentari pun masih nyenyak dalam tidur nya.
Tara menyadari perubahan sikapnya Cahya.
"Cahya, kenapa kamu jam segini sudah rapih?? Bu'le asih aja masih sibuk di dapur kok, kamu ingin buru-buru pulang ke kota. Hahh??" ucap tara sambil mencubit pelan pipi tembem nya Cahya.
"IYA, aku sudah rindu dengan pacarku di kota" jawab Cahya dengan ketus
"PACAR??" Tanya Tara sambil terus menatap mata indah milik Cahya
"iya, kenapa??" lagi-lagi Cahya menjawab dengan ketus
kebersamaan Tara dengan Cahya di teras rumah, terlihat oleh intan. Intan pun merasakan perubahan sikapnya Cahya.
"kalian lagi ngobrol apa sih? Kok asyik banget." tanya intan sambil tersenyum tipis, padahal ia merasakan cemburu melihat Tara dan Cahya yang tampak dekat sekali.
"asyik apa nya?? Mbak, nanti kalau kalian menikah jangan lupa undang aku dan ibu yaa!!" jawab Cahya sambil tersenyum ke arah intan
"iya..!!" jawab intan dengan lembut
Intan memiliki paras yang anggun, intan bagaikan kembang desa.
Tiga puluh menit kemudian, asih dan kedua putri nya sudah rapih. Sudah siap berangkat ke kota, pulang kerumah orang tua nya asih.
"bu'de, pak'de. Aku pamit yaa, terimakasih sudah banyak membantu dan menolong kami. Terimakasih juga untuk Tara dan intan, telah membantu Cahya." ucap asih sambil mencium punggung tangan bu'de dan pak'de nya.
"eyang.. Tara, mbak intan. Terimakasih sudah membantu dan menolong keluarga ku!!! Nanti saat mbak intan dan Tara menikah, aku akan datang lagi kesini" ucap Cahya, namun ada rasa berat di dalam hatinya. Entah apa itu.
"hati-hati yaa nduk" ucap Hartini sambil mencium kening Cahya dan mentari.
Mobil jemputan sudah tiba.
"dadah.. Eyang.., dadah mas Tara dan mbak intan" ucap mentari sambil melambaikan tangan
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
neng ade
Cahaya harus ikhlaskan Tara menikah dngn Intan meskipun ada rasa di hati nya utk Tara ..
2024-02-18
0
Wahyu Rianto
bacanya nguras air mata bener nih🥲 sedih senang campur aduk
2023-10-10
1
estycatwoman
dah jadiin manten ajah thor
2023-08-10
2