"aakkhh.. Kamu gimana sih" ucap tara sedikit kesal
"kamu tau nggak, itu salah satu cara untuk mengakhiri pesugihan mereka. Dengan cara membakar sarang yang menjadi tempat bersemayam nya Mbah Jambrong, lalu b*nuh orang pertama yang sudah melakukan perjanjian itu dengan Mbah Jambrong. Untuk meyakinkan bahwa memang tali perjanjian itu sudah terputus" tegas Tara
"yaa aku minta minta maaf, aku benar-benar lupa saking panik nya"
"kalau gitu kita bawa Bu asih dulu, kerumah ku. Setelah itu kita balik lagi kerumah itu, kita masih ada waktu empat jam lagi" ucap tara
Cahya tidak paham kenapa Tara begitu tulus membantu nya, Siapa sebenarnya Tara,
Mereka sampai di pemukiman penduduk, kini tampak sebuah rumah panggung di hadapan ya.
Tok Tok Tok . . .
"assalamualaikum.. Bu.. Pak.." ucap tara
Krriieett...
"waalaikumsallam.." seorang wanita paruh baya memakai pakaian kebaya khas zaman dahulu, membukakan pintu.
"ya Allah, Bu asih." ucap nya
"Bu, Bu asih kaki nya terkilir. Kesandung bebatuan" Jawab Tara
"yowis, ibu ambil minyak urut dulu. tolong kamu buatkan minum untuk Bu asih dan nak Cahya"
"maaf Bu, kami harus kembali lagi kerumah itu. Sebab lupa membakar ranjang jati nya" jawab Tara
"bagaimana bisa, kalian lupa" jawab seseorang
Seseorang itu ialah pak'de misterius tadi.
" pak'de "
"ini bapak ku, Cahya." jawab Tara
"cepat kalian kembali ke rumah itu, bawa barang-barang ini untuk senjata kalian"
Ucap pak'de Harjo, menyodorkan sekaleng cairan bahan bakar untuk membakar ranjang jati itu. Kemudian ada serbuk cabai sekantung kecil, entah untuk apa. Dan sebuah senapan.
"cepat, waktu kalian tinggal sedikit. kalau sampai ranjang jati yang jadi sarang persembunyian iblis itu, belum juga di musnah kan. Dia akan murka dan membuat porak-poranda di desa ini, dan membunuh siapa saja yang membantu keluarga Mardani."
"baiklah, pak. Kami pamit, kembali ke rumah itu lagi" ucap tara
"yaa, berhati-hati lah dalam melangkah. Jangan gegabah dan cepatlah kembali"
Kini Tara dan Cahya, kembali lagi ke rumah Mardani.
...****************...
"Aakkhhh . . Bodoh, kalian semua" teriak Mardani
"maaf, ndoro tuan. ndoro nyonya, berhasil kabur sebab di bantu oleh ndoro putri dan teman lelaki nya." ucap anak buah Mardani, yang merupakan komplotan berjubah hitam
"teman lelaki?" ucap Mardani, sambil menyipitkan mata nya
"cari lelaki itu beserta anakku, Cahya. seret mereka ke sini" titah Mardani
"baik, tuan"
pasukan berjubah hitam, membubarkan diri dan berpencar mencari Cahya dan juga Tara.
"sudah aku tebak, kalau mas Harjo lah. Yang turut campur dalam hal ini" ucap bu'de ratmi yang tiba-tiba datang dari arah depan Mardani.
Mardani punya ruangan khusus di ruang bawah tanah, ruangan itu sangat luas. Dekorasi nya bak istana kerajaan.
Yaa, memang Mardani adalah keturunan bangsawan keraton.
bu'de Ratmi dan pak'de harjo, merupakan kakak dari alm bapak nya Mardani. Dan Mardani adalah keponakan bu'de Ratmi.
...****************...
kini Tara dan Cahya sudah sampai di dekat gerbang rumah Mardani. Namun, banyak pasukan berjubah hitam yang berjaga di depan gerbang. Hal itu menyulitkan mereka untuk memasuki rumah.
"sial" ucap tara
"kalau gitu, kita lewat jalan samping. Lalu biar aku yang manjat naik ke atas, kamu cukup tunggu di bawah." ucap tara
"tapi.. Tara" ucap Cahya yang nampak tegang
"tapi kenapa? jangan bilang kamu takut?" ucap tara yang meledek.
"nggak.. Aku gak takut" jawab Cahya dengan malu.
Tara mendekati Cahya, lalu mengelus lembut rambut nya.
"percaya sama aku, bahwa semua akan baik-baik aja. Kamu tunggu disini, biar aku yang bakar sarang iblis itu. Pegang senapan ini, tembak siapapun yang mencoba menangkap mu" ucap tara untuk menenangkan hati Cahya
"baiklah, kalau gitu kamu hati-hati" jawab Cahya sambil tersenyum malu
"eehh.. Kamu jangan ge'er yaa, mentang-mentang aku pegang kepala nya. Kamu langsung salting"
"iikkhhh... Dasar nyebelin" gerutu Cahya
Tara mulai memanjat tembok pembatas rumah Mardani.
"ingat, tetap sembunyi dan selalu berhati-hati" ucap tara
dia mulai lompat masuk ke pekarangan samping rumah Mardani, kemudian ia bergegas manjat ke jendela kamar mentari.
"seperti nya itu teman nya ndoro putri" teriak salah seorang anak buah Mardani di bawah sana
"tangkap dia" teriak yang lain
...****************...
"kamu.. Cahya kan?" ucap pelan, seorang gadis nan anggun yang berdiri di belakang Cahya
"ka.. Kamu.. Kamu siapa? Jangan mendekat atau aku tembak kamu" jawab Cahya dengan ekspresi wajah yang tegang
"aku, intan."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
neng ade
oo kadi bu de Ratmi itu keponakan nya pak Mardani
2024-02-18
0
neng ade
duuhh tegang banget.. jadi bu de Ratmi dan pak Mariano itu kakak beradik ya thor
2024-02-18
0
Zuhril Witanto
sebenarnya ada hubungan apa Bu Ratmi dan mardani
2024-01-18
0