Bab 11: Menginterogasi Tiga Wanita

Dengan kondisi mereka seperti ini, tak mampu lagi untuk bertarung melawan Elvino, mau tak mau mereka melakukan sebuah negosiasi kepada Elvino agar mereka selamat dari tangan Elvino.

Ketika lawan menampilkan sisi kelembutannya, mereka tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini demi hidupnya sendiri.

Mereka bertiga menjadi senang mendengar ucapan Elvino.

Wanita yang menjawab pertanyaan awal dari Elvino tadi menatap Elvino dengan harapan di wajahnya. Pupil mata dari wanita tersebut membesar, dan dia melirik teman-temannya yang masih bersandar lemah pada dinding tembok.

Sebuah janji yang ditawarkan Elvino kepada mereka adalah apa yang mereka harapkan.

Kesempatan ini takkan mereka sia-siakan.

Wanita tersebut tidak takut Elvino berbohong karena dia punya asumsi bahwa pria di depannya ini tidaklah kejam dan sadis terhadap mereka yang adalah seorang wanita. Untuk buktinya sudah bisa dilihat dengan jelas, pria ini menggendong seorang wanita dengan aman tanpa terluka.

Lagi pula, dia punya rencana kedua untuk bisa selamat dari kesalahan konyol mereka bertiga.

Meski rencana kedua ini konyol baginya, tetapi demi keselamatan teman-temannya, dia rela untuk melakukannya.

"Aku berjanji aku akan menjawab pe–pertanyaan darimu dengan jujur," ucap wanita tersebut dengan wajah yang serius dan dapat dipercaya.

Elvino tersenyum melihat respons salah satu wanita yang menyerangnya barusan. Wanita ini cukup penurut.

"Kalau begitu, aku bertanya tentang asalmu terlebih dahulu." Elvino berdiri di depan mereka bertiga dengan pandangan yang dingin tanpa ekspresi, kemudian dia bertanya, "Dari mana kalian bertiga datang?"

"Kami datang dari Jakarta Pusat dan berkunjung ke sini untuk mencari makanan yang tersisa," jawab wanita tersebut dengan lancar sembari menahan rasa sakit di tubuhnya.

"Apakah di tim kalian hanya ada tiga orang anggota?"

"Tidak, kami merupakan kelompok yang datang dari pemukiman kecil yang tersembunyi di sekitar Jakarta Pusat. Kami keluar dari pemukiman untuk terus bertahan hidup dengan menjelajah di luar."

Berdiri dan mendengarkan dengan tenang, Elvino mengingat informasi ini di kepalanya sembari melihat ekspresi dari wajah wanita tersebut, sama sekali tidak terlihat ada ekspresi yang aneh dan mencurigakan.

Kemungkinan besar, wanita ini menjawab dengan jujur.

Namun, Elvino tidak bisa mempercayainya begitu saja.

Dengan ujung pedang panjang di tangannya mengarah ke leher wanita tersebut, Elvino berkata dengan suara yang mengancam, "Kamu bisa bertanggung jawab akan ucapanmu sendiri?"

"Ya–ya! Aku bisa bertanggung jawab atas ucapanku tadi!"

Wanita itu menjadi panik melihat ujung pedang Elvino yang bersinar dingin.

Krisis hidup dan mati ia rasakan saat ini, dan dia bergidik penuh ketakutan . Keringat dingin turun dari dahinya, wanita tersebut menatap Elvino dengan rasa cemas yang tinggi.

Melihat tanggapan wanita tersebut, Elvino segera menarik pedangnya dan kembali menatap santai wanita di depannya.

Untuk sementara waktu, ucapan yang keluar dari mulut wanita ini Elvino anggap benar dan dia percayai.

Bertanya kepada Lusi tentang kebenaran dari perkataan wanita ini pun percuma karena Lusi sendiri tidak pernah keluar dari area gedung mall ini dan gedung hotel.

Otomatis dia tidak tahu benar atau tidaknya jawaban dari wanita ini.

Setelah beberapa pertanyaan Elvino ajukan, wanita tersebut menjawabnya cukup lancar dan dengan gelagat yang normal.

Selama wanita tersebut menjawab semua pertanyaannya, Elvino tidak menemukan mimik dan ekspresi wajah yang mencurigakan darinya.

Informasi yang bisa Elvino dapatkan adalah dunia ini memang hampir serupa dengan Bumi tempat asalnya.

Hanya saja sejarah dan jalur waktu dunia ini berbeda dengan adanya zombie datang.

Selain itu, dia juga mengetahui ada banyak sekali pemukiman yang tersembunyi di dunia ini. Di Kota Jakarta mungkin ada belasan atau puluhan pemukiman yang berdiri.

Umumnya, tempat-tempat pemukiman tersebut dibuat di gedung-gedung hancur dan perumahan-perumahan kecil.

Dan fakta yang membuatnya Elvino senang adalah wanita ini bilang di pemukiman asalnya sudah lama tidak melihat seorang pria sejak setengah tahun yang lalu.

Pemukiman mereka sudah tidak ada pria yang hidup, semuanya adalah seorang wanita.

Begitu lama mereka keluar dari dari pemukiman, dia belum pernah melihat seorang pria yang berkeliaran di reruntuhan kota ini.

Selalu saja dia menemukan kelompok wanita atau wanita sendiri.

Mereka bertiga ada seorang kelompok yang sudah menjarah banyak barang survivor lainnya atau orang yang masih bertahan hidup di situasi yang berbahaya ini.

Secara moral, ketiga wanita ini adalah orang yang jahat.

Namun, kembali mengingat kondisi dunia yang seperti ini, hal tersebut memang boleh saja dilakukan.

Elvino bingung harus memilih membebaskan mereka dan akan merugikan orang lain atau membunuh mereka.

Tepat ketika Elvino merenung diam untuk menimbang-nimbang pilihannya, suara dingin mekanis terdengar di dalam kepalanya.

[Melihat ada lebih dari 3 orang wanita di sekitar tuan rumah, Sistem membukakan fitur Harem Party!]

[Harem Party adalah fitur yang membuat tuan rumah mendapatkan keuntungan dari setiap anggota yang masuk ke dalam tim berupa hadiah acak.]

Alis mata Elvino terangkat melihat layar tipis melayang di depannya.

Setelah membaca isi dari pengingat ini, Elvino terkejut sekaligus senang, semburan rasa bahagia meletus di dalam hatinya.

Sistem membuka fitur Harem Party yang memberikan banyak manfaat untuknya.

Mengerutkan kening, sekarang Elvino bingung dengan cara merekrut wanita untuk bisa masuk ke dalam anggota Harem Party miliknya. "Omong-omong, bagaimana caraku memasukkan mereka ke dalam Harem Party?"

[Ding! Tuan Rumah diharuskan melakukan hal *piiip* ke setiap wanita yang ingin direkrut!]

"Sungguh? Aku harus berbuat itu dengan wanita yang akan aku masukkan ke dalam tim?" Elvino terkejut dan bertanya kembali dalam hatinya untuk memastikan perkataan Sistem.

[Benar, Anda benar, Tuan Rumah.]

Glup!

Elvino menatap Lusi di sebelahnya dan terus bergerak melihat ketiga wanita yang bersandar lemah di di dinding supermarket.

Tidak ada yang bisa ia pilih, mau tidak mau dia harus melakukan hal tersebut untuk mendapatkan hadiah dari Sistem.

Asumsi Elvino, Sistem akan memberinya hadiah yang luar biasa seperti sebelum-sebelumnya. Sangat disayangkan jika ia melewatinya.

Dengan pilihan di dalam hatinya, Elvino mengambil langkah ke depan untuk mendekati ketiga wanita yang sempat menyerangnya tadi untuk melakukan sesuatu.

Jika dipandang lebih lama, ketiga wanita ini tidak buruk. Mereka masih terlihat baik dengan wajah yang bisa dibilang cantik.

Apabila dinilai dengan poin, ketiganya mendapatkan kecantikan di sekitar 8 poin. Masing-masing dari mereka punya sisi kecantikan tersendiri.

Secara keseluruhan, Elvino menyukai penampilan mereka bertiga dan Elvino tidak keberatan wanita-wanita ini menjadi anggota Harem Party miliknya.

Terlebih lagi, Elvino bisa melihat tubuh mereka yang cukup seksi dengan bagian depan dan belakang cukup berisi.

"Bolehkah kami pergi sekarang? Aku sudah menjawab semua pertanyaan kamu."

"Ya, tentu saja kamu dan teman-temanmu boleh pergi."

Mendengar pertanyaan wanita tersebut, Elvino mengangguk dan tersenyum sambil berjongkok tepat di depan wanita tersebut.

Jarak antara Elvino dan wanita ini sangat dekat hanya terpisah belasan cm saja.

"Terima kasih banyak!"

Segera wanita ini mencoba untuk berdiri dan pergi dari hadapan Elvino.

Akan tetapi, ketika wanita ini ingin berdiri, sebuah bilah pedang berhenti tepat di depan dahinya, membuat wanita ini mematung dan terpana.

"Kalian boleh pergi dariku setelah pensiun menjadi wanitaku."

"???"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!