Makin dekat dirinya di lantai 2 tangga darurat, makin jelas Elvino mendengar suara itu.
Teriakan yang muncul sekali dalam 3 detik ini mirip dengan suara wanita yang cempreng dan nyaring.
Pintu tangga darurat di lantai 2 ini telah hancur, dan menyatu dengan lantai yang bertanah dan berdebu. Elvino hanya perlu keluar dari ruang tangga darurat dan masuk ke dalam lantai 2.
Cahaya gelang dinyalakan, Elvino menggenggam senjatanya dengan erat, perlahan masuk ke lorong di lantai 2.
Saat dia menjulurkan kepalanya, dia melihat beberapa zombie berjalan dan merangkak ke suatu arah di lorong bagian kanan.
Menoleh ke kiri lorong, dia tidak melihat apa-apa selain lorong kotor dan gelap diisi oleh berbagai barang rusak.
Elvino mengetahui ini, semua zombie harusnya bergerak menuju sumber suara wanita yang meminta pertolongan.
'Kalau begitu, aku harus menghabisi zombie-zombie ini sambil mengikuti arah mereka pergi,' gumam Elvino dalam hatinya.
Setelah membuat rencana ini, dia bergegas menuju zombie paling belakang barisan.
Mengikuti pengetahuan di ingatannya, dia mengalirkan energi yang disebut stamina untuk mempraktikkan ilmu pedang sihirnya.
Long Magic Sword bergetar mengeluarkan cahaya biru muda yang samar-samar, lantas Elvino melambaikan pedangnya secara vertikal ke arah barisan zombie seraya berkata, "Tebasan Maut!"
Namun, saat pedang itu diayunkan, ujung bilah menyangkut di langit-langit lorong.
Semburan energi biru muda keluar dari bilah pedangnya, memotong zombie di depannya bersama dengan langit-langit lorong.
Srattt!
Melihat ini, Elvino bergeming sembari melihat sebuah garis potongan pedangnya yang berhasil membelah langit lorong dan juga zombie-zombie di jarak 10 meter dari tempatnya berdiri.
Dia berhasil membunuh belasan zombie dalam sekali ayunan pedangnya, tetapi dia juga berhasil memotong lantai 3.
Begitu mendongak ke atas, dia bisa melihat langit lorong yang ada di lantai 3 yang remang-remang.
Zombie-zombie yang tidak masuk ke dalam jangkauan serangan Elvino dengan sigap berjalan menghampiri Elvino dengan kedua tangannya melambai ingin meraih Elvino di kejauhan.
Elvino menggelengkan kepalanya, kembali fokus untuk membunuh zombie-zombie lemah ini semua.
Sekarang dia tahu hal apa yang tidak perlu dilakukan. Pedang panjangnya tidak cocok digunakan untuk menebas di lorong ini yang sempit.
Satu-satunya cara menggunakan pedang ini adalah dengan menusuk.
"Hehe, aku akan membunuh kalian semua! Rasakan ini, Tusukan Maut!"
Dengan antusias, Elvino berlari ke arah rombongan zombie sembari mengarahkan pedangnya ke depan.
Bilah Long Magic Sword kembali memancarkan cahaya biru lalu Elvino mendorong pedangnya ke depan.
Swooshh!
Energi biru muda yang berbentuk bilah pedang tersebut terbang cepat menuju belasan zombie.
Zombie-zombie ini tetap berjalan tanpa tahu dirinya akan mati.
Kraah!
Ujung energi berbentuk huruf V yang tajam membelah tubuh zombie dengan kecepatan yang tinggi.
Tidak hanya memotong, melainkan menghancurkan tubuh zombie menjadi beberapa bagian.
Merasa kurang puas, Elvino mengeluarkan sekali lagi tusukan energinya ke arah gerombolan zombie.
"Terima tusukan mautku, Zombie Jelek!"
Duar!
Pada saat ini, di salah satu kamar hotel, terlihat seorang wanita yang terbaring dengan pakaian yang berantakan.
Pintu kamarnya telah hancur berantakan oleh sesuatu yang meledak di luar kamar.
Wanita langsung duduk di atas lantai dengan keadaan yang bingung dan pusing. Menggelengkan kepalanya untuk mencoba menghilangkan efek pusing di kepalanya.
Sosok wanita ini terlihat sangat seksi meski pakaian di tubuhnya telah robek, yaitu terdiri dari kaos lengan pendek yang punya sobekan besar menampilkan benda bulat dan besar di dalamnya, dan rok yang sobek tak karuan, memperlihatkan gundukan putih mulus yang melengkung sempurna.
"Apa yang meledak tadi?" Membuka matanya dengan mulut cemberut, wanita ini bertanya-tanya tentang apa yang barusan terjadi.
Sebelumnya, dia terhempas dari balik pintu saat menahan serbuan para zombie yang hendak masuk ke dalam kamarnya.
Tiba-tiba saja muncul ledakan yang hebat dan membuat dirinya terpelanting ke dalam kamar.
Ledakan itu membuatnya pusing hingga dirinya sulit untuk berdiri yang diakibatkan benturan bongkahan pintu yang menabrak kepalanya.
Memegang kepalanya, wanita ini merasa dirinya punya tonjolan di kepala, dan itu sakit saat disentuh.
Tepat ketika dia melihat ke arah pintu keluar, sesosok manusia berdiri tegap menghadapnya.
Dilihatnya lebih jelas, wanita ini menemukan bahwa manusia tersebut adalah seorang pria yang tak mengenakan pakaian atasnya.
Menunjukkan tubuh penuh otot yang indah dan memberi kesan kuat.
Glup!
Tanpa sadar wanita ini menelan ludahnya ketika melihat pria ini.
Namun, di detik berikutnya dia tersadar akan sesuatu. Dia dengan panik dan bergegas berusaha untuk menjauh sambil sesekali melirik untuk mengawasi pria ini.
Wanita cantik tersebut sadar dirinya tidak memakai baju yang utuh akibat ledakan tadi. Pria ini bisa menyerangnya kapan saja karena tubuhnya.
Adanya pria ini, wanita tersebut langsung berpikir bahwa zombie-zombie di luar telah berhasil dilenyapkan, dan dia juga mempunyai kecurigaan bahwa orang inilah yang menciptakan ledakan di lorong.
Saat wanita ini mencoba menjauh, pria tersebut mengambil langkah ke depan masuk ke dalam kamar.
Melihat gerakan dari pria asing itu, wanita tersebut menjadi panik dan berkata penuh ketakutan, "Tolong, biarkan aku pergi, aku tidak punya sesuatu yang berharga!"
Seolah tidak mendengar, pria ini terus berjalan dan akhirnya berdiri tepat di depannya.
"Apakah ini kamar nomor tiga belas?"
Suara pria yang penuh maskulinitas dan magnetis terdengar oleh telinga wanita itu.
Dalam sekejap wanita tersebut terdiam dan menatap wajah dari pria yang datang ini.
Pria itu adalah Elvino, dia melihat zombie berkumpul di depan kamar ini. Jadi, dia memusnahkan zombie-zombie tersebut dengan ilmu pedang sihirnya yang masih butuh adaptasi dalam penggunaannya.
Dia tidak sengaja membuat ledakan saat membantai gerombolan zombie itu.
Sekarang Elvino mencoba untuk menahan rasa tegang di bagian bawah tubuhnya. Melihat sosok wanita di hadapannya ini yang tampak seksi dan menggoda, membuat Fredick ingin bangun.
Demi Misi Sistem, dia rela menahan libidonya agar tidak meletus dan menyerang wanita ini.
"Benar, ini kamar nomor tiga belas. Aku sudah menjawabnya, tolong jangan lakukan sesuatu yang jahat padaku! Aku mohon!" balas kecantikan ini dengan intonasi suara yang gamang dan wajah yang pucat karena takut.
Elvino diam tak langsung merespons ucapan wanita ini, dia masih berdiri diam mengamati sosok dari wanita cantik tersebut.
Wanita punya fitur wajah oval yang mirip dengan orang Indonesia, tetapi punya kulit putih. Rambut hitam panjang sebahu yang diikat kuda, pupil mata hitam khas orang Indonesia.
Hal yang membuat Elvino tertarik adalah tubuh wanita yang sangat mencerminkan kata indah.
Tubuh seksi dengan pakaian yang compang-camping, beberapa bagian tubuh yang mulus dan bersih itu terlihat jelas, terlebih di bagian bawah dari wanita ini, itu berwarna pink.
Saat Elvino melihat-lihat tubuh wanita tersebut, wanita ini tahu tatapan mata Elvino mengarah ke mana, dan dia langsung menutupi bagian tubuhnya yang intim dan privasi menggunakan kedua tangannya.
Melihat gerakan wanita ini, Elvino menjadi canggung dan terbatuk. "Uhuk!"
Perilaku Elvino yang lancang tadi membuat wanita tersebut malu sekaligus marah, tetapi dia tidak bisa marah karena pria ini membawa senjata yang mengancamnya.
"Aku datang ke sini untuk menyelamatkan kamu. Ya ... sekarang kamu selamat," kata Elvino menggaruk-garuk kepalanya dengan kikuk.
"Eh?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments
Dewa~jodoh
kurasa tadi bukan fredick dah namanya...
2023-07-26
2
Kelvin
Waktunya Membangun Harem😁😂
2023-07-10
3