"Jangan pergi, aku ingin memberi tahu kamu sesuatu yang penting."
Elvino membujuk Cinta supaya tidak pergi darinya karena ada suatu kepentingan yang harus mereka lakukan.
Mendengar permohonan Elvino satu ini, Cinta menahan hatinya untuk tetap tenang dan membiarkan Elvino menariknya kembali ke hadapannya.
"Apa yang ingin kamu beri tahu kepadaku?" tanya Cinta yang tak sabaran.
Menatap mata Cinta dengan tenang, Elvino menghela napas, dan berkata dalam, "Aku satu-satunya pria yang ada di dunia ini. Kamu tidak akan bisa menemukan pria lain, bahkan jika kamu pergi ke ujung dunia."
Mendengar ini, Cinta menatap Elvino penuh kejutan, tubuhnya tersentak sambil berjalan mundur ke belakang.
Perkataan yang keluar dari mulut Elvino seakan menjawab pertanyaannya yang selalu ia pikirkan di dalam kepala.
Selama perjalanan menyelesaikan misi dari markas, Cinta berpikir kaum pria telah punah, mungkin tidak ada lagi di Pulau Jawa.
Pasalnya, dia sudah mencari ke banyak tempat dan hasilnya nihil. Sama sekali Cinta menemuka pria, satu pun tidak pernah bertemu.
Kebanyakan di pemukiman hanya ada wanita dari kalangan usia, anak kecil, remaja, dewasa, dan tua.
Tidak ada satu pun dari mereka adalah seorang pria.
Ada pun, itu pria jadi-jadian, wanita yang berpura-pura sebagai pria dengan penampilan yang mirip pria. Akan ketahuan dari tampilan luar saja dalam sekali lihat. Mudah untuk dibedakan.
Sebagian wanita di dunia ini memiliki moralitas yang rendah. Dunia ini sudah mengalami degradasi besar-besaran hampir hancur sehingga tidak heran jika ada fenomena aneh di mana-mana yang tidak masuk akal.
Pemukiman dan yang lainnya banyak ditemukan wanita yang aneh, Cinta nyaris menyerah, tetapi dia tetap berpegang teguh dengan janjinya yang akan menyelesaikan misi ini.
Dengan kalimat Elvino yang keluar, Cinta tersadar bahwa sifatnya tadi di luar kontrol. Seharusnya, dia tidak seperti itu.
Lagi pula, ini pertama kali mereka bertemu, tidak sepatutnya dia cemburu dan kecewa.
Wajah kecewa yang diperlihatkan oleh Cinta langsung berubah. Di dalam hatinya dia memilih untuk tetap mempertahankan pilihannya menjadi wanita Elvino.
Meskipun ini sangat acak, dia harus tetap melakukannya.
Semua ini demi dirinya dan yang lain.
Sorot mata Cinta tertuju pada kedua mata Elvino yang dalam, mengabaikan pandangan mata Lusi dan lainnya.
Di dalam bidang penglihatannya sekarang, hanya ada wajah Elvino yang tampan.
Sambil menatap Elvino, hati Cinta berubah-ubah menimbang sekali lagi keputusan terakhirnya.
Setelah menjadi wanita Elvino, sulit untuk dirinya kabur karena dari perkelahian yang mereka lakukan, Cinta mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa kekuatan Elvino berada di atasnya, bahkan jauh sekali.
Maka dari itu, keputusan ini bagaikan keputusan hidup dan mati. Dia benar-benar harus memilih yang tepat agar tidak menyesal.
"Baik, aku ingin menjadi wanitamu, tetapi ingat untuk tidak kasar pada wanita, aku sangat benci pria kasar," ucap Cinta dengan intonasi suara yang ditekan.
Elvino mengangguk kejam sambil tersenyum senang di wajahnya. Setelah itu, Elvino menarik Cinta ke pelukannya. Tak hanya Cinta, Lusi dan yang lainnya satu per satu masuk ke dalam pelukannya.
Wanita-wanita ini memiliki tubuh yang terbilang agak kecil. Apabila dibandingkan, tubuh Elvino ini besar, ditambah dengan ototnya yang mengagumkan.
Terlihat wajah wanita-wanita ini terkejut pada awalnya, tetapi lambat laun ekspresi mereka semua berubah menjadi senang dengan tubuhnya yang rileks.
[Ding! Misi berhasil diselesaikan!]
[Hadiah telah diberikan!]
Memeluk mereka dengan lembut, ujung mulut Elvino terangkat naik, membentuk senyuman bahagia.
Bagaimana tidak, mendapatkan 5 wanita cantik dengan tubuh panas dan menggoda hanya dalam kurun waktu kurang dari 1 hari.
Setelah keputusan Cinta menjadi wanita Elvino dibuat, mereka semua berjalan keluar dari mall dan pergi ke suatu tempat.
"Tampaknya, gedung di sana masih bagus." Elvino berdiri di tempat parkir depan mall, menunjuk sebuah gedung di arah selatan.
Semua wanitanya melirik ke arah yang ditunjuk oleh telunjuk Elvino, terdapat sebuah gedung tinggi yang masih berdiri kokoh, tetapi bisa dilihat ada beberapa kerusakan di luar bangunan.
Gedung tersebut masih bisa dikatakan bagus jika diamati dari kejauhan.
"Kita mau ke sana?" Lusi bertanya kepada Elvino.
Elvino mengangguk, menundukkan wajahnya sedikit untuk menatap Lusi, dan menjawab, "Tujuan kita ke sana, bagaimana menurutmu?"
"Aku terserah kamu, aku akan mengikutimu."
Lusi tidak bisa menentukan ini karena dia benar-benar tidak tahu.
Tangan Elvino mencubit pelan wajah Lusi dan dia tersenyum.
Menoleh ke samping kiri dan kanan untuk melihat wanita yang lainnya, Elvino meminta pendapat wanita yang lain.
Usai melirik gedung di kejauhan, Cinta memiliki pendapat pribadi dan dia berkata, "Boleh saja. Namun, melihat jaraknya yang cukup jauh, kita harus bergerak cepat sebelum hari makin sore."
"Benar, kita harus mencari tujuan alternatif agar tidak bingung ke mana kita akan pergi jika malam sudah mendahului," Bulan menambahkan sesuai dengan pendapat yang ia punya.
Kana dan Mika memiliki premis pendapat yang sama dengan Cinta dan Bulan.
Mendengar semua pendapat mereka, Elvino segera mengambil kesimpulan, dan dia memutuskan untuk pergi ke gedung tersebut melalui gedung-gedung sebelumnya.
Untuk bisa ke gedung yang menjadi tujuan utama mereka, harus melewati berbagai gedung dalam ukuran dan tinggi yang bermacam-macam.
Dengan kesepakatan yang mereka buat, mereka bergegas menyebrangi jalan raya besar untuk ke gedung lainnya.
Banyak sekali zombie di jalan raya ini, mereka hanya membiarkannya dan berlari masuk ke dalam sebuah gedung yang berukuran lebih kecil dan pendek dari gedung sebelumnya.
Setibanya di dalam sana, mereka membersihkan zombie-zombie yang tinggal di dalam gedung, tepatnya di lantai satu saja.
Mereka hanya menumpang lewat melalui gedung ini.
Selain Lusi, wanita lainnya membantu Elvino dalam membereskan zombie yang ada dengan senjata mereka sendiri.
Tidak menyangka mereka cukup kuat melawan puluhan monster bersama-sama. Elvino terasa terbantu atas kontribusi mereka berempat.
Sementara itu, Lusi hanya diam di belakang Elvino sambil memegang tongkat kayu.
Elvino tidak menganggap Lusi beban karena dia menyukai wanita cantik ini. Suatu saat dia akan mengajari Lusi bertarung.
Mungkin wanita yang lain bisa mengajarkan Lusi melawan zombie.
Hal yang masih membuat Cinta dan wanita lainnya takjub kepada Elvino adalah kekuatannya yang besar.
Membunuh zombie level 1 bagai membunuh semut yang kecil saking mudahnya.
Keterampilan Magic Sword yang dikeluarkan Elvino sangat mempesona, membuat mereka ingin memiliki keterampilan yang sama juga.
Sayangnya, Elvino belum bisa mengajari mereka ilmu itu.
Dikarenakan Magic Sword Skill bukan untuk manusia biasa, ada persyaratan yang dipenuhi untuk bisa mempelajari kemampuan tersebut.
Setelah melewati gedung itu, mereka semua bergerak ke gedung lainnya yang memiliki ukuran lebih kecil.
Sampai pada akhirnya, mereka sudah melewati 5 gedung yang cukup luas dalam waktu kura dari 5 jam.
Terpaksa mereka harus menetap di salah satu gedung lantaran hari sudah malam dan mereka butuh tempat berlindung serta istirahat.
Untungnya, Elvino dan yang lain menemukan satu gedung yang tidak terlalu besar, tetapi bertipe hotel dan terdapat banyak kamar.
Di salah satu kamar, mereka semua berkumpul untuk siap beristirahat.
Elvino duduk di atas ranjang yang sudah dibersihkan menatap kelima wanita yang berdiri berbaris di depan tidurnya.
"Sekarang, aku benar-benar ingin memastikan keputusan kalian. Aku tidak mau kalian menjadi wanitaku karena paksaan. Apakah kalian benar-benar mau menjadi wanitaku yang sesungguhnya? Jika jawabannya iya, artinya kalian siap menerima permintaanku tentang hal itu."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments