Wanita ini tertegun saat mendengar ucapan pria ini yang bersaksi bahwa dia datang untuk menyelamatkannya.
Jelas, ucapan pria ini sulit dipercaya, di dunia ini tidak mungkin ada orang baik yang menyelematkan orang secara cuma-cuma.
Pasti ada maksud dan tujuan tertentu.
Melihat wanita ini yang diam tak berbicara, Elvino fokus kembali menatap dan menikmati pemandangan tubuh dari wanita ini.
Namun, situasi saat ini tidak mengizinkannya berlama-lama memandang keindahan dunia karena beberapa suara zombie terdengar dari luar kamar.
Kraahh!
Tidak menunggu lama, beberapa Walker Zombie berjalan masuk ke dalam kamar dengan cakar dan taring yang siap menerkam.
Memalingkan kepala untuk melihat ke arah belakang, zombie-zombie ini masuk tanpa ada rasa takut kepada Elvino yang memegang pedang panjang.
Wanita ini tertegun saat melihat Elvino bergerak, dia sudah terlepas dari renungannya saat suara zombie muncul.
Saat sekarang ini, wanita tersebut bergeming dengan pandangan mata terfokus ke tubuh belakang Elvino yang kuat.
Saat berikutnya, Elvino berjalan maju ke arah yang berlawanan, menghampiri 6 Walker Zombie yang berjalan beriringan.
Dengan pedang di tangan kanannya yang menyala sinar biru muda, beberapa ayunan pedang dikeluarkan oleh Elvino, segera tebasan energi yang kecil dalam jumlah banyak menyerbu zombie-zombie.
Di dalam kamar ini cukup luas untuk Elvino melakukan tebasan horizontal meski harus berhati-hati.
Dalam sekejap, gerombolan Walker Zombie terpotong menjadi beberapa bagian, dan potongan dagingnya tergeletak di lantai dekat pintu.
Menyaksikan penampilan Elvino membunuh zombie-zombie membuat wanita tersebut terjatuh ke dalam keterkejutannya.
Apa yang dia duga benar, orang ini sudah pasti pelaku yang menciptakan ledakan di depan pintunya.
Baru pertama kalinya wanita cantik ini melihat sesuatu yang ajaib seperti yang ditampilkan oleh Elvino. Dia merasa sedang berada di dunia yang berbeda.
"Kamu ingin pergi denganku? Atau tetap di sini?"
Suara Elvino membuat wanita ini kembali tersadar, mengangkat kepalanya melihat Elvino yang berdiri di depan sambil menatap wajahnya.
Ekspresi wanita ini tampak bimbang, dia tenggelam dalam pikirannya, memikirkan pilihan yang akan dia buat.
Termenung diam sesaat, wanita ini berpikir di dalam hatinya, 'Di sini sudah tak ada lagi makanan, satu-satunya bisa tetap hidup dengan berpindah tempat, tetapi aku tidak yakin bisa bertahan sendirian lebih lama lagi. Jika pergi dengan pria ini, aku takut dia berbuat jahat padaku meski saat ini dia terlihat baik. Tidak tahu bagaimana manusia berubah, bisa saja di beberapa jam kemudian dia berubah. Sial! Aku sangat bingung.'
Elvino menggelengkan kepalanya melihat wanita yang penuh perhitungan ini.
Omong-omong, Elvino tidak suka menunggu, dia berbalik dan hendak meninggalkan wanita ini.
Walaupun dia memiliki otak yang bajingan, dia masih punya moralitas, dia tidak akan memaksa orang lain untuk keinginannya sendiri.
Akan tetapi, begitu dia melangkah ke arah pintu, suara Sistem dan suara wanita ini terdengar di telinganya hampir bersamaan.
[Ding! Tuan Rumah diharuskan membawa wanita ini sepanjang perjalanan Anda menemukan wanita yang lain.]
"Tunggu, aku akan ikut bersamamu!"
Elvino diam berdiri sesaat ketika mendengar kedua suara itu, kemudian dia mengangguk, menoleh untuk melihat wanita yang ada di belakang.
"Ikuti aku," ucap Elvino dengan suara yang tenang agak sedikit dingin.
Di permukaan wajahnya, dia terlihat santai dan damai, berbeda dengan hatinya yang sudah menggebu-gebu ingin menyicip wanita ini.
'Akhirnya! Sebentar lagi aku keluar dari lingkaran pria perjaka' teriak Elvino di dalam hatinya.
Kesempatan inilah yang ditunggu-tunggu Elvino, dia benar-benar tidak sabar untuk melakukan hal itu dengan wanita, terlebih wanita ini punya tubuh yang panas bak lava di gunung berapi.
[Ding! Misi Berhasil Diselesaikan!]
[Hadiah telah diberikan.]
Mendengar pengingat baru dari Sistem, kegembiraan menyerbu di hatinya.
Dia punya 1 kali kesempatan untuk undian peran dan 1 kali undian acak. Undian Acak ini serupa dengan Undian Peran dan Undian Senjata, hadiahnya lebih condong ke barang-barang yang diperlukan untuk sehari-hari, entah makanan, minuman, dan pakaian.
Namun, dia tidak akan menggunakan kesempatan tersebut untuk sekarang. Di hotel ini masih belum aman dan mereka harus mencari tempat tinggal sementara.
Setelah itu, Elvino berjalan keluar dari kamar nomor 13 bersama wanita yang masih belum ia ketahui namanya.
Di dalam kamar nomor 13 terdapat beberapa sampah makanan plastik yang Elvino lihat, dan beberapa kantung plastik yang lusuh.
Asumsi Elvino, sampah itu berasal dari wanita ini.
Di lorong lantai 2, mereka berjalan sembari mengintip dan mengawasi area sekitar.
Wanita ini tak berbicara sejak awal ikut dengan Elvino, hanya berjalan di belakang Elvino sembari menutupi lubang-lubang yang ada di pakaiannya.
Melihat tidak ada monster di lantai 2 ini, Elvino berencana untuk langsung pergi ke lantai dasar atau lantai 1 berharap ada zombie yang ingin dia bunuh.
Begitu keduanya pergi ke tangga darurat, tiba-tiba wanita ini yang membuntutinya di belakang menyentuh tangan kiri Elvino dan mengucapkan sesuatu.
"Jangan ke lantai bawah, ada banyak zombie di sana, aku pernah ke sana dua hari yang lalu."
Elvino berhenti berjalan, dia membalikkan badan, menatap wanita itu dengan satu alis yang terangkat. "Aku tidak peduli. Aku harus membunuh mereka untuk keselamatan kita."
"Tapi, itu terlalu berbahaya." Terlihat wajah wanita ini tampak cemas dan ketakutan.
Tangan Elvino terulur, dia memegang dagu wanita ini dan berkata, "Percayakan padaku, aku akan menghilangkan hal berbahaya itu hanya untukmu."
Pupil wanita itu melebar sekilas dan muncul noda kemerahan di pipinya. Wanita ini sama sekali belum siap menerima godaan dari Elvino yang angat mendadak.
Sejujurnya, Elvino sendiri pun terkejut dengan dirinya, tidak tahu mengapa dia bisa melakukan itu.
Dengan cepat tangan Elvino melepaskan dagu kecil wanita ini, dan dia memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan ekspresi malunya.
Melihat tingkah Elvino yang berubah, membuat wanita tersebut merasa bingung. Tanda tanya muncul di kepalanya.
"Um ... kalau kamu takut, kamu boleh diam di belakangku atau bersembunyi di tangga darurat ini, di sini aman," ucap Elvino yang menekan rasa malunya.
Mendengar ucapan Elvino, wajah wanitanya ikut berubah dan dia menjadi bingung kembali.
Elvino menggelengkan kepalanya tanpa daya, wanita ini benar-benar sangat perhitungan.
Tanpa menunggu jawaban wanita tersebut, Elvino langsung menuruni tangga.
Melihat ini, wanita itu menjadi panik dan dia berkata dengan suara yang khawatir, "Aku ikut denganmu, jangan tinggalkan aku!"
Mengangkat sedikit kepalanya ke atas, melirik wanita ini dan membalas, "Jangan jauh-jauh dariku, usahakan tetap berdiri satu meter di belakangku."
"Baik, aku mengerti." Wanita ini mengangguk cepat menunjukkan dirinya paham dengan perintah Elvino.
"Anu, bisakah kita berkenalan sebelum masuk ke dalam?"
Baru saja Elvino ingin keluar, dia menahan tubuhnya lantaran perkataan wanita ini.
Elvino tersenyum dan mengangguk "Tentu."
Berikutnya, Elvino mengulurkan tangannya ke depan. "Namaku Elvino Zane."
Melirik tangan Elvino yang terlihat kuat, wanita ini tampak ragu untuk bersalaman. Akhirnya, wanita ini menyentuh tangan Elvino dan berjabat tangan.
"Namaku Lusiana Gina. Salam kenal ...."
"Salam kenal."
Setelahnya, mereka berdua masuk ke dalam lantai dasar hotel yang terlihat gelap dengan pencahayaan yang minim.
Mata Elvino sudah terbiasa dan masih sedikit bisa melihat beberapa zombie berdiri diam di lobi hotel yang luas.
Sebelum bergerak lebih jauh, Elvino memberi isyarat kepada Lusi untuk berhati-hati sembari menunjuk ke arah lantai.
Di lantai banyak sekali barang-barang rusak yang mampu membuat suara. Zombie-zombie di dunia ini tidak buta dan tuli, mereka bisa melihat dan juga mendengar sesuatu di sekitarnya.
Oleh sebabnya, mereka harus pergi dengan cara sembunyi-sembunyi untuk tidak menarik banyak perhatian zombie.
Setelah melihat respons Lusi yang memberi tanda dirinya mengerti.
Elvino dan Lusi mulai bergerak menuju ke meja resepsionis yang tidak jauh dari mereka.
Krek!
Suara kayu yang patah terdengar di lobi yang sunyi ini.
Mengalihkan pandangannya ke belakang, Elvino melihat Lusi yang menginjak satu batang kayu rapuh di lantai.
Lusi menjadi pucat dan dia memandang Elvino dengan wajah yang bersalah.
"Maaf ...."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 31 Episodes
Comments
Pairin Ahmad
lumayan Thor... up terus
2023-07-30
2