Bab 10: Penyerangan Mendadak

Tidak ada respons sama sekali setelah Elvino mengeluarkan suara. Di supermarket ini tetap sunyi dan sepi.

Di kejauhan Elvino dan Lusi dapat melihat rak yang terjatuh dengan barang-barang berceceran di lantai.

Sangat mustahil untuk angin menghempaskan rak yang menjajakan barang-barang. Di sini tertutup, tidak ada angin yang masuk.

Kemungkinan besar ada sesuatu yang mendorongnya hingga terjatuh, entah siapa pelakunya.

Tatapan mata Elvino yang tajam tetap terfokus ke arah rak yang roboh tersebut sesekali melihat ke arah sekitar rak untuk menemukan pelakunya.

"Keluarlah! Atau aku yang bergerak mencari kalian!"

Suara Elvino terdengar menggelegar hingga ke sudut area supermarket.

Masih dengan reaksi yang sama, tidak ada yang menyahut dan merespons ucapan Elvino.

Lusi yang berdiri di samping Elvino sudah cemas sejak suara rak yang jatuh begitu keras. Sebagai orang yang tak punya kemampuan bela diri tentunya dia khawatir dengan keselamatannya.

Ketika tahu perkataannya diabaikan, Elvino segera bertindak untuk membuat sesuatu yang menjatuhkan rak keluar dari persembunyiannya.

Dengan pedang panjang di tangan kanannya yang mengeluarkan cahaya biru, sebuah gelombang energi yang tipis terbang ke arah rak yang berdiri di dekat rak yang roboh.

Energi yang terkonsentrasi tersebut menghancurkan rak dan meledak dalam skala kecil.

Duar!

Barang-barang yang ada di rak terhempas ke segala arah, rak yang berdiri terjungkal dan jatuh seperti rak yang ada di sebelahnya.

Suara ledakan tersebut merambat hingga ke area yang lain dan lorong-lorong yang banyak toko.

Lusi menutup telinganya secara spontan begitu mendengar ledakan dari serangan Elvino.

Tap! Tap! Tap!

Berikutnya, sebuah suara langkah kaki yang banyak terdengar di telinga mereka berdua. Langkah kaki yang berbunyi ini seharusnya tidak berasal dari 1 orang saja, melainkan ada beberapa orang yang berjalan bersamaan.

Wajah Elvino menjadi serius, pedang di tangannya kembali diselimuti sinar biru siap untuk menyerang.

Tanpa sadar Lusi mencubit celana Elvino saking cemas dirinya mendengar suara langkah kaki yang terus mendekat.

Mata Elvino dan Lusi bergerak ke arah sumber suara langkah kaki tersebut yang berasal dari arah yang lain.

Munculnya suara langkah kaki ini tidak hanya berasal dari satu arah, tetapi ada 3 arah.

Mengetahui ini, Elvino segera menggendong Lusi di tangan kirinya dan memasang postur siap bertarung.

"Serang mereka!"

Tiba-tiba teriakan terdengar dari arah belakang Elvino, kemudian Elvino melihat 2 orang wanita berlari dari balik rak di dua arah menuju ke tempatnya.

Elvino juga mengetahui bahwa ada 3 orang yang sedang ingin menyerangnya.

Swooshh!

Terlihat sebuah pisau terbang melesat dengan cepat dari arah depan membidik Elvino yang berdiri memasang sikap bertarung.

Dengan refleks dan gerakan yang cepat, Elvino mengayunkan pedangnya untuk memblokir pisau yang terbang.

Klang!

Setelah itu, Elvino berjalan cepat ke arah salah satu wanita yang berlari menuju dirinya berniat untuk melawan Elvino secara langsung.

Tanpa basa-basi mereka bertemu dan siap untuk berkonfrontasi dengan serangan yang akan diluncurkan.

Wanita ini tiba-tiba mengangkat kakinya menendang ke titik lutut kiri Elvino dalam gerakan yang cukup cepat.

Namun, di mata Elvino gerakan ini tak lebih cepat dari tendangan anak kecil.

Dengan begitu, Elvino sedikit menekukkan lututnya dan mengencangkan otot-otot kakinya untuk menahan tendangan ini.

Krak!

Alih-alih Elvino yang menjerit, suara rintihan dari seorang wanita terdengar jelas usai suara tulang patah keluar.

"Kamu tak boleh bergerak."

Melihat wanita ini yang terbaring di depannya, Elvino mengambil rak kecil di dekatnya dan meletakkannya di atas tubuh wanita tersebut.

Selanjutnya, sebuah serangan tiba-tiba mendarat di punggung Elvino diiringi suara pukulan yang teredam.

Tubuh Elvino tetap berdiri tegak tanpa terdorong sedikit pun dari serangan ini.

Segera dia berbalik sembari melayangkan tendangan samping kepada wanita yang meninju punggungnya dari belakang.

Bug!

Wanita kedua yang menyerang Elvino terhempas jauh dan menabrak rak di kejauhan hingga terjatuh miring.

Terbaring di lantai, wanita ini terluka setelah ditendang oleh Elvino dalam sekali serangan, dan darah merah keluar dari mulut kecilnya.

"Sialan! Rasakan ini!"

Seorang wanita yang lainnya tiba-tiba muncul di samping Elvino, dia melompat tinggi sembari mengarahkan bilah pisau yang memantulkan cahaya dingin ke atas kepala Elvino.

Lagi-lagi kecepatan refleks dari tubuh Elvino cukup cepat, Elvino berpindah dengan satu langkah kaki ke samping dan berhasil menghindari tusukan pisau dari wanita tersebut.

Wanita ini terkejut melihat serangannya gagal dilakukan. Dia mendarat di lantai dengan wajah yang kebingungan sembari memegang pisau menggunakan kedua tangannya.

Sebelum wanita ini sempat bereaksi, Elvino menendangnya dan membuat wanita tersebut terpental menabrak etalase kaca penyimpanan daging.

Setelah melakukan semua itu, Elvino diam sesaat untuk mendengar suara yang ada di sekitarnya. Elvino memastikan tak ada lagi wanita yang mendadak menyerangnya tanpa sebab.

Lebih dari 1 menit Elvino berdiri diam dan memperhatikan area sekitar, dia akhirnya kembali bergerak dengan Lusi yang memeluk lehernya dengan erat.

Untungnya, leher Elvino kuat menahan pelukan Lusi. Dia tidak begitu terganggu dengan Lusi yang memeluk tubuhnya penuh ketakutan.

Elvino berjalan menuju wanita pertama yang menyerangnya. Dengan cepat tangan Elvino menyambar kerah baju wanita tersebut dan membawanya ke tempat yang lebih luas.

Wajah Elvino terlihat sangat dingin dan tidak peduli ketika menjinjing wanita layaknya sebuah kantung belanja.

Satu per satu Elvino memindahkan ketiga wanita yang menyerangnya di satu tempat untuk dikumpulkan.

Selepas mereka dikumpulkan, Elvino menurunkan Lusi dan berdiri di depan para wanita yang jahat ini.

Ketiga wanita tersebut tampak lemah dengan luka di sekujur tubuhnya.

Elvino sama sekali tidak bersimpati dengan wanita-wanita ini meski mereka terlihat menyedihkan dengan tubuh yang sudah dinodai oleh bercak darah.

Satu serangan dari Elvino dapat membuat mereka terluka parah, padahal dia sama sekali tidak menggunakan seratus persen kekuatannya dan juga pedangnya.

Pasalnya, Elvino masih punya rasa hormat pada kaum wanita, Elvino tidak sekejam itu kepada seorang wanita, terlebih ketiga wanita ini masih tidak diketahui identitasnya.

Masih dengan pedang panjangnya, Elvino berdiri bersama Lusi dan menatap ketiga wanita ini dengan sorot mata yang tajam dan mengerikan.

Melihat Elvino di depannya, wanita ini tampak sangat pasrah, hanya bisa duduk bersandar di tembok sambil menahan rasa sakit akibat serangan fisik Elvino.

"Siapa kalian? Mengapa kalian menyerangku tiba-tiba?"

Elvino bertanya dengan suara yang dalam dan intonasi yang menakutkan.

Mendengar pertanyaan Elvino, mereka bertiga terdiam sesaat, kemudian salah satu dari ketiga wanita tersebut memaksakan diri untuk menjawab.

"Ka–kami seorang survivor yang ingin hi–hidup, arghh!"

Saat wanita itu menjawab, mendadak wanita tersebut menjerit karena rasa sakit muncul di di tubuhnya.

"Jelaskan apa maksud kalian menyerangku?"

Elvino memberikan pertanyaan lagi kepada mereka masih dengan sikap yang sama. Dia sama sekali tidak merasa kasihan dengan ketiga wanita ini.

"Tu–tujuan ka–kami menyerang kalian adalah un–untuk mengambil persediaan makanan yang ada di tas ka–kalian. Aku sudah menjelaskannya, tolong lepaskan kami!"

Wanita yang terakhir Elvino lawan dengan cara ditendang ini memohon kepada Elvino untuk melepaskan mereka semua.

Namun, Elvino tidak bisa menuruti permintaan mereka semudah itu.

"Jawab dahulu semua pertanyaan dariku, jika kalian menjawabnya dengan jujur, aku akan membebaskan kalian."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!