Eps 10 Ibu Siuman

Ilham dan Monita menempati kamar VVIP, begitu melihat pemandangan kamar itu, jiwa miskin Monita meronta-ronta, bagaimana tidak, kamar VVIP itu di desain dengan begitu aesthetic, membuat Monita terkagum-kagum, namun kekagumannya itu tidak terlalu ia tunjukkan karena Monita tiba-tiba saja teringat tingkah lakunya terhadap Ilham di dalam lift tadi, ia terus saja merutuki kebodohannya saat membayangkan dirinya yang memeluk tubuh Ilham begitu erat.

Dia masih saja terus berdiri di ambang pintu dengan perasaan berkecamuk, sementara Ilham yang melihat itu tampak gusar dan kembali memanggil Monita dengan suara yang menggelegar.

“Monita!”

Monita pun tersentak mendengar suara Ilham yang begitu memekakkan telinga.

“Iy.. iya tuan.” Jawab Monita dengan suara gelagapan.

“Apa katamu? Barusan kamu panggi saya dengan sebutan apa?” Ketus Ilham dan mulai mengayunkan kakinya dan berjalan ke arah Monita.

Melihat itu Monita mendelikkan matanya dan menggeleng dengan cepat.

“Maksud saya Mas.”

Kini tubuh Monita semakin gemetar saat melihat Ilham yang semakin mendekati dirinya.

Melihat Ilham yang tiba-tiba tersenyum menyeringai padanya membuat irama jantung Monita semakin tak karuan, apa lagi kini wajah Ilham begitu dekat dengan wajahnya, hembusan napas Ilham kian terasa karena jarak antara mereka hanya beberapa senti saja.

“Ma.. Mas Ilham mau apa?” Tanya Monita dengan suara yang tersendat-sendat.

Namun Ilham tidak menjawab, dia malah menatap Monita dengan sinis, kini jarak mereka berdua tinggal beberapa senti saja, Ilham semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Monita, saat ini Ilham ingin mengerjai Monita, karena dia tau, Monita sangat takut padanya.

Tak lama, Ilham mencengkram kuat kedua pundak Monita, lalu menyandarkan tubuhnya di dinding secara kasar, melihat itu Monita sontak mendelikkan matanya dengan mulut yang sedikit menganga saking terkejutnya.

Ilham semakin mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir Monita namun Monita memalingkan wajahnya ke samping membuat Ilham gagal menciumnya.

“Kenapa kamu menolaknya? Bukan kah tadi kamu dengan begitu agresifnya memeluk tubuhku dengan erat saat di dalam lift?”

“Ma… maafkan aku Mas, ta.. tadi ak..aku.. hanya refleks saja.” Jawab Monita dengan terbata-bata.

“Dasar munafik!” Bentak Ilham lalu menghempas kasar tubuh Monita begitu saja.

“Kamu harus terbiasa, ingat aku sudah membayar kamu dengan mahal, tujuan kamu adalah melahirkan anak untukku, itu artinya kamu juga harus mau aku sentuh.” Ucap Ilham membelakangi Monita, tanpa melirik Monita sedikitpun.

Monita yang mendapatkan perlakuan seperti itu dari Ilham, tampak meringis kesakitan sembari memegangi pundaknya yang terasa sakit karena cengkraman Ilham tadi, namun seketika ia teringat ucapan Ilham barusan tentang melahirkan anak untuknya, Monita pun jadi bergidik ngeri, selama ini dia tidak pernah berpacaran apa lagi sampai melakukan hubungan suami istri dengan pria manapun, Monita tidak bisa membayangkan bagaimana tubuhnya akan dijamah oleh Ilham, bagaimana dia memulainya, karena sejujurnya itu adalah hal yang pertama bagi Monita, perasaan takut kini mulai menyeruak ke dalam hatinya.

Monita tau pekerjaannya ini adalah melahirkan anak untuk Ilham, namun untuk membuat anak Monita benar-benar masih sangat takut dan belum siap.

Sisi lain sebuah Rumah Sakit…

Seorang gadis remaja yang cantik sedang duduk di kursi samping tempat tidur ibunya, ia terus saja memandangi wajah teduh ibunya yang masih tak sadarkan diri, gadis itu terus menggenggam erat telapak tangan sang ibu dan menempelkannya di pipi, tak lama buliran bening lolos begitu saja membasahi pipi mulusnya.

“Ibu cepatlah bangun, operasi sudah berjalan lancar tinggal menunggu ibu sadar saja, buatlah kak Monita bisa bernapas lega dan tenang dari kejauhan, kak Monita sudah berusaha keras mencari uang demi kesembuhan ibu, jadi berilah kabar gembira untuknya, Eden harap ibu bisa melawan penyakit ibu, Eden tau ibu pasti kuat.” Ucap Eden dengan suara yang terdengar begitu lirih.

Tak lama, jari telunjuk sang ibu perlahan mulai bergerak, melihat itu Eden sontak mendelikkan matanya, seutas senyum mulai terbit dari wajah gadis belia itu, dengan mengusap air matanya, Eden bergegas keluar memanggil dokter.

“Dokter, ibu sudah menggerakkan jari-jarinya.” Cetus Eden begitu sampai di ruangan dokter.

“Benarkah?” Dokter itu juga tak kalah senangnya, selama ibu Rahayu dirawat di rumah sakit dengan dibawah penanganan dokter tersebut, Eden sudah begitu dekat dengan dokter itu, karena hanya Eden satu-satunya keluarga pasien yang tak sungkan menangis dan mengeluh pada sang dokter.

Dokter dan Eden pun segera melangkahkan kakinya menuju ruang perawatan bu Rahayu, begitu sampai, pria yang berjas putih itu mulai memeriksa bu Rahayu menggunakan stetoskop yang ia tempelkan di bagian dada bu Rahayu.

“Ini kemajuan yang sangat baik, bu Rahayu sudah menunjukkan respon positif, dalam hitungan menit, ibu Rahayu pasti akan segera sadar.” Jelas dokter dengan tenang.

“Syukurlah, terima kasih banyak dok.. terima kasih banya.” Jawab Eden berkali-kali membungkukkan badannya di depan sang dokter.

“Iya sama-sama, jaga ibu baik-baik ya.” Ucap sang dokter menepuk pelan pundak Eden kemudian berlalu meninggalkan ruangan bu Rahayu.

Tak lama terdengar suara yang begitu lirih di balik sungkup oksigen yang menutupi hidung dan mulut bu Rahayu.

“Eden.” Panggil bu Rahayu dengan begitu lirih.

Eden pun tersentak saat mendengar itu, bagaimana tidak, ibunya sadar bahkan lebih cepat dari waktu yang ditentukan dokter, hanya butuh waktu beberapa detik saja, kini bu Rahayu sudah sepenuhnya sadar.

Eden segera menghampiri sang ibu, dan kembali menggenggam erat telapak tangan ibunya lalu kemudian mencium punggung tangan bu Rahayu berkali-kali.

“Akhirnya ibu sadar juga, Eden senang sekali.” Cetus Eden dengan binar di wajahnya, lalu mengusap kepala sang ibu dengan sayang.

“Di mana kakakmu?” Tanya bu Rahayu kemudian.

“Emmm… kakak masih di kota bu, biaya operasi ibu sebanyak 50 juta, dan kakak sudah berhasil mengirmkannya padaku, itulah kenapa ibu sudah berhasil di operasi sekarang.” Jelas Eden dengan air mata haru yang terus mengalir membasahi pipi lembutnya.

“Kapan kakakmu pulang?”

“Kakak belum bisa pulang sekarang karena bos di tempat kerja kakak belum memberikan libur untuk kakak.” Jawab Eden seperti yang selalu dikatakan Monita padanya.

Monita sudah lama tidak pulang karena dia harus bekerja untuk menyekolahkan adiknya juga untuk kesembuhan ibunya, Monita selalu mengirim uang ke rekening adiknya setiap bulan, meskipun jumlahnya tidak banyak, tapi itu cukup untuk biaya hidup dan biaya sekolah adiknya setiap hari.

Namun untuk bulan ini, Monita sudah mengirimkan banyak uang untuk adiknya, tak main-main, uang yang dikirimkan Monita bahkan sampai ratusan juta, dan tentu saja itu uang pemberian Ilham, sebagai DP untuk dia menyewakan rahimnya.

Eden juga sudah menceritakan pada bu Rahayu kalau uang yang dikirmkan Monita sampai mencapai 100 juta, mendengar itu bu Monita mulai bertanya-tanya, pekerjaan apa yang dilakukan putrinya itu sampai bisa mengirmkan uang sebanyak itu untuk mereka.

Namun Eden yang tidak mau ibunya berpikiran yang bukan-bukan tentang kakaknya, langsung menjelaskan pekerjaan kakaknya, Eden bercerita kalau kakaknya bekerja di perusahaan besar dan menempati jabatan sebagai sekretaris, itulah sebabnya kenapa kakaknya memiliki banyak uang, karena gajinya juga pasti sangat besar, lagi-lagi Eden menjelaskan sesuai apa yang Monita katakan padanya saat Eden bertanya perihal pekerjaan Monita selama di kota.

Mendengar itu, bu Rahayu mulai bernapas lega, ternyata anaknya mendapatkan pekerjaan yang halal, dia hanya khawatir kalau anaknya akan terjerumus ke dalam pekerjaan yang tidak benar.

Bu Rahayu

Terpopuler

Comments

Nie Kartini

Nie Kartini

asisten andre ge kasep u aku wwh nya🤔😁

2023-10-09

0

lihat semua
Episodes
1 Eps 1 Menafkahi Adik dan Ibunya
2 Eps 2 Ibu Sakit Keras
3 Eps 3 Naomi Tertimpa Musibah
4 Eps 4 Mendapat Pekerjaan Baru
5 Eps 5 Permintaan Konyol Naomi
6 Eps 6 Mengabulkan Permintaan Sang Istri
7 Eps 7 Pertemuan Kedua
8 Eps 8 Menikah
9 Eps 9 Majikan yang Energik
10 Eps 10 Ibu Siuman
11 Eps 11 Ditinggal Sendiri
12 Eps 12 Ada Maunya
13 Eps 13 Pindah Rumah
14 Eps 14 Mulai Perhatian
15 Eps 15 Pertemuan Perdana Istri Pertama dan Istri Kedua
16 Eps 16 Rasa yang Mulai Muncul
17 Kepergian Naomi
18 Eps 18 Mood Rusak
19 Eps 19 Rencana Ke Swis
20 Eps 20 Swiss
21 Eps 21 Bertemu David
22 Eps 22 Menjebol Gawang Monita
23 Eps 23 Rasa Bersalah
24 Eps 24 Bertengkar!
25 Eps 25 Bersama David
26 Eps 26 Melamar
27 Eps 27 Menantang
28 Eps 27 Menanam Saham
29 Eps 29 Mengungkap Rahasia
30 Eps 30 Pengakuan Cinta
31 Eps 31 Malaikat Kecil
32 Eps 32 Firasat Seorang Ibu
33 Eps 33 Akhirnya Ilham Tau
34 Eps 34 Sahabat Lama
35 Eps 35 Salah Paham
36 Eps 36 Berbaikan
37 Eps 37 Aksi Penyelamatan
38 Eps 38 Berpisah Sebentar
39 Eps 39 Uneg-uneg Andre
40 Eps 40 Sembunyi-sembunyi
41 Eps 41 Andre dan Eden
42 Eps 42 Tidur Dengan Ibu
43 Eps 43 Duka Mendalam
44 Eps 44 Pengakuan
45 Eps 45 Mengetahui Pelakunya
46 Eps 46 Kembalinya Naomi
47 Eps 47 Perasaan Sensitif
48 Eps 48 Memulai Rencana
49 Eps 49 Hal Tak Terduga
50 Eps 50 Mengaku
51 Eps 51 Di Bawah Taburan Bintang
52 Eps 52 Main Kucing-kucingan
53 Eps 53 Karya Terindah
54 Eps 54 Si Merah
55 Eps 55 Bimbang
56 Eps 56 Peluh di Malam Hari
57 Eps 57 Lagi dan Lagi
58 Eps 58 Menyalami Tangan Suami
59 Eps 59 Belum Direstui
60 Eps 60 Kencan Membawa Ija
61 Eps 61 Gagal
62 Eps 62 Hambar
63 Eps 63 Dia Milikku!
64 Eps 64 Terciduk
65 Eps 65 Aku Tidak Sebrengsek Itu!
66 Eps 66 Mbak Naomi Sudah Berubah!
67 Eps 67 Suasan Rumah Jadi Tak Nyaman
68 Eps 68 Makan Hati
69 Eps 69 Diabaikan Lagi
70 Eps 70 Menggoda Eden
71 Eps 71 Pura-pura
72 Eps 72 Mertua Terbaik
73 Eps 73 Selalu Ada Kesempatan
74 Eps 74 Apartemen Baru
75 Eps 75 Nginap Di Apartemen
76 Eps 76 Rencana Dinner
77 Eps 77 Rencana Dinner part 2
78 Eps 78 Cemburu Menguras Hati
79 Eps 79 Melepas Rindu
80 Eps 80 Kecurigaan Naomi
81 Eps 81 Terciduk Lagi
82 Eps 82 Tak Ada Lagi Kesempatan
83 Eps 83 Terlibat Cekcok
84 Eps 84 Frustasi
85 Eps 85 Titik Terang
86 Eps 86 Akhirnya
87 Eps 87 Bagaikan Second Lead
88 Eps 88 Tak Menyangka!
89 Eps 89 Menolak Namun Tubuh Berkhianat
90 Eps 90 Dikta Anugerah Adhitama
91 Eps 91 Tidak Tau Tempat
92 Eps 92 Pamit
93 Eps 93 Fakta Mencengangkan
94 Eps 94 Terkuak!
95 Eps 95 Variasi
96 Eps 96 Keputusan
97 Eps 97 Ilham Keterlaluan! (Mama Nancy)
98 Eps 98 Kekaguman Mama Nancy
99 Eps 99 Penyatuan Lagi
100 Eps 100 Mama Nancy Merindukan Dikta
101 Eps 101 Mama Nancy Gagal Diet
102 Eps 102 Naomi Sakit Hati
103 Eps 103 Keceplosan
104 Eps 104 Terungkap
105 Eps 105 Larangan Mutlak Mama Nancy
106 Eps 106 Menggoda Iman
107 Eps 107 Hanya Karena Gadis Belia
108 Eps 108 Berdamai Dengan Keadaan
109 Eps 109 Piknik
110 Eps 110 Cinta yang Tak Main-main
111 Eps 111 Siapa Pelaku Pembunuh Ibu?
112 Eps 112 Memperkenalkan Monita di Depan Umum
113 Eps 113 Berita Miring
114 Eps 114 Licik
115 Eps 115 Penasaran
116 Eps 116 Rahasia Naomi
117 Eps 117 Amarah Mama Nancy
118 Eps 118 Rencana Ilham
119 Eps 119 Fakta Kematian Ibu
120 Eps 120 Aku Talak Kamu!
121 Eps 121 Perang Batin Karena Eden
122 Eps 122 Ungkapan Cinta Andre
123 Eps 123 Inilah Saatnya!
124 Eps 124 Hampir Saja!
125 Eps 125 Mahakarya Ilham
126 Eps 126 Benar-benar Bedah
127 Eps 127 Tak Peduli Lagi
128 Eps 128 Pertunangan Eden
129 Eps 129 Akhir Kisah Naomi
130 Eps 130 Calon Pewaris Tahta
131 Eps 131 Suami Posesif
132 Eps 132 Suami Impian
133 Eps 133 Bahaya Mengintai
134 Eps 134 Ilham Tidak Sebodoh Itu
135 Eps 135 Hukuman
136 Eps 136 Pertemuan Tak Terduga
137 Eps 137 Sekilas Tentang Kisah Cinta Segiempat
138 Eps 138 Kelahiran Kedua
139 Eps 139 Diculik
140 Eps 140 Kebersamaan (End)
Episodes

Updated 140 Episodes

1
Eps 1 Menafkahi Adik dan Ibunya
2
Eps 2 Ibu Sakit Keras
3
Eps 3 Naomi Tertimpa Musibah
4
Eps 4 Mendapat Pekerjaan Baru
5
Eps 5 Permintaan Konyol Naomi
6
Eps 6 Mengabulkan Permintaan Sang Istri
7
Eps 7 Pertemuan Kedua
8
Eps 8 Menikah
9
Eps 9 Majikan yang Energik
10
Eps 10 Ibu Siuman
11
Eps 11 Ditinggal Sendiri
12
Eps 12 Ada Maunya
13
Eps 13 Pindah Rumah
14
Eps 14 Mulai Perhatian
15
Eps 15 Pertemuan Perdana Istri Pertama dan Istri Kedua
16
Eps 16 Rasa yang Mulai Muncul
17
Kepergian Naomi
18
Eps 18 Mood Rusak
19
Eps 19 Rencana Ke Swis
20
Eps 20 Swiss
21
Eps 21 Bertemu David
22
Eps 22 Menjebol Gawang Monita
23
Eps 23 Rasa Bersalah
24
Eps 24 Bertengkar!
25
Eps 25 Bersama David
26
Eps 26 Melamar
27
Eps 27 Menantang
28
Eps 27 Menanam Saham
29
Eps 29 Mengungkap Rahasia
30
Eps 30 Pengakuan Cinta
31
Eps 31 Malaikat Kecil
32
Eps 32 Firasat Seorang Ibu
33
Eps 33 Akhirnya Ilham Tau
34
Eps 34 Sahabat Lama
35
Eps 35 Salah Paham
36
Eps 36 Berbaikan
37
Eps 37 Aksi Penyelamatan
38
Eps 38 Berpisah Sebentar
39
Eps 39 Uneg-uneg Andre
40
Eps 40 Sembunyi-sembunyi
41
Eps 41 Andre dan Eden
42
Eps 42 Tidur Dengan Ibu
43
Eps 43 Duka Mendalam
44
Eps 44 Pengakuan
45
Eps 45 Mengetahui Pelakunya
46
Eps 46 Kembalinya Naomi
47
Eps 47 Perasaan Sensitif
48
Eps 48 Memulai Rencana
49
Eps 49 Hal Tak Terduga
50
Eps 50 Mengaku
51
Eps 51 Di Bawah Taburan Bintang
52
Eps 52 Main Kucing-kucingan
53
Eps 53 Karya Terindah
54
Eps 54 Si Merah
55
Eps 55 Bimbang
56
Eps 56 Peluh di Malam Hari
57
Eps 57 Lagi dan Lagi
58
Eps 58 Menyalami Tangan Suami
59
Eps 59 Belum Direstui
60
Eps 60 Kencan Membawa Ija
61
Eps 61 Gagal
62
Eps 62 Hambar
63
Eps 63 Dia Milikku!
64
Eps 64 Terciduk
65
Eps 65 Aku Tidak Sebrengsek Itu!
66
Eps 66 Mbak Naomi Sudah Berubah!
67
Eps 67 Suasan Rumah Jadi Tak Nyaman
68
Eps 68 Makan Hati
69
Eps 69 Diabaikan Lagi
70
Eps 70 Menggoda Eden
71
Eps 71 Pura-pura
72
Eps 72 Mertua Terbaik
73
Eps 73 Selalu Ada Kesempatan
74
Eps 74 Apartemen Baru
75
Eps 75 Nginap Di Apartemen
76
Eps 76 Rencana Dinner
77
Eps 77 Rencana Dinner part 2
78
Eps 78 Cemburu Menguras Hati
79
Eps 79 Melepas Rindu
80
Eps 80 Kecurigaan Naomi
81
Eps 81 Terciduk Lagi
82
Eps 82 Tak Ada Lagi Kesempatan
83
Eps 83 Terlibat Cekcok
84
Eps 84 Frustasi
85
Eps 85 Titik Terang
86
Eps 86 Akhirnya
87
Eps 87 Bagaikan Second Lead
88
Eps 88 Tak Menyangka!
89
Eps 89 Menolak Namun Tubuh Berkhianat
90
Eps 90 Dikta Anugerah Adhitama
91
Eps 91 Tidak Tau Tempat
92
Eps 92 Pamit
93
Eps 93 Fakta Mencengangkan
94
Eps 94 Terkuak!
95
Eps 95 Variasi
96
Eps 96 Keputusan
97
Eps 97 Ilham Keterlaluan! (Mama Nancy)
98
Eps 98 Kekaguman Mama Nancy
99
Eps 99 Penyatuan Lagi
100
Eps 100 Mama Nancy Merindukan Dikta
101
Eps 101 Mama Nancy Gagal Diet
102
Eps 102 Naomi Sakit Hati
103
Eps 103 Keceplosan
104
Eps 104 Terungkap
105
Eps 105 Larangan Mutlak Mama Nancy
106
Eps 106 Menggoda Iman
107
Eps 107 Hanya Karena Gadis Belia
108
Eps 108 Berdamai Dengan Keadaan
109
Eps 109 Piknik
110
Eps 110 Cinta yang Tak Main-main
111
Eps 111 Siapa Pelaku Pembunuh Ibu?
112
Eps 112 Memperkenalkan Monita di Depan Umum
113
Eps 113 Berita Miring
114
Eps 114 Licik
115
Eps 115 Penasaran
116
Eps 116 Rahasia Naomi
117
Eps 117 Amarah Mama Nancy
118
Eps 118 Rencana Ilham
119
Eps 119 Fakta Kematian Ibu
120
Eps 120 Aku Talak Kamu!
121
Eps 121 Perang Batin Karena Eden
122
Eps 122 Ungkapan Cinta Andre
123
Eps 123 Inilah Saatnya!
124
Eps 124 Hampir Saja!
125
Eps 125 Mahakarya Ilham
126
Eps 126 Benar-benar Bedah
127
Eps 127 Tak Peduli Lagi
128
Eps 128 Pertunangan Eden
129
Eps 129 Akhir Kisah Naomi
130
Eps 130 Calon Pewaris Tahta
131
Eps 131 Suami Posesif
132
Eps 132 Suami Impian
133
Eps 133 Bahaya Mengintai
134
Eps 134 Ilham Tidak Sebodoh Itu
135
Eps 135 Hukuman
136
Eps 136 Pertemuan Tak Terduga
137
Eps 137 Sekilas Tentang Kisah Cinta Segiempat
138
Eps 138 Kelahiran Kedua
139
Eps 139 Diculik
140
Eps 140 Kebersamaan (End)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!