Tatapan menyelidik langsung Chole dapatkan dari seorang pria yang baru saja keluar dari pos keamanan. Pria berpakaian serba hitam itu melangkah dengan sigap sekaligus buru-buru. Chole yang menyadari dirinya langsung dicurigai segera memperkenalkan diri sebagai teman dari Syam, Excel, dan juga Helios. Kabar yang juga langsung sampai ke telinga Excel.
Di depan ruang rawat, Excel menerima kabar tersebut melalui sambungan telepon. Ia menjadi duduk gelisah karena tak sembarang orang tahu alamat sekaligus penghuni gedung keberadaannya.
“Bentar aku cek lewat CCTV dulu,” ucap Excel sembari meninggalkan sofa empuk tempatnya terjaga di sana.
Sambil tetap menempelkan ponselnya ke telinga kanan, Excel mengawasi layar monitor di sebelahnya. Ia sengaja membuka layar CCTV depan gerbang. Excel sempat berpikir justru sang istri yang datang. Namun ketika sosok bercadar cokelat tua itu menatap ke arah kamera sambil melambaikan tangan kanan, ia sudah langsung mengenalinya sebagai Chole.
“Chole ...?” lirihnya yang kemudian refleks menoleh ke ruang rawat Helios dan Syam berada.
Excel menghampiri Chole dan membawakan dua rantang bawaan wanita itu yang awalnya dibawakan oleh sang sopir.
“Bapak istirahat dulu, jangan pulang dulu, takutnya saya perlu,” ucap Chole kepada sang sopir yang ia tinggalkan.
“Jadi, kamu temannya Helios?” tanya Excel sengaja meledek Chole tak lama setelah mereka meninggalkan area depan gerbang.
“Teman hidup, Mas. Biar kayak Mas Excel dan mbak Azzura! Lagian kalau ngaku istri, takutnya enggak ada yang percaya,” balas Chole.
Goda*an dari Excel membuat seorang Chole merasa tergelitik. Dan Chole tidak bisa untuk tidak tertawa meski kedua matanya masih sembam. Sampai detik ini saja, kedua mata Chole masih kaku, panas, bahkan perih.
“Amin-amin!” sergah Excel yang sempat ikut tertawa gara-gara lede*kan yang ia lakukan kepada Chole.
“Keadaan Helios belum stabil, jadi kamu yang kuat ya. Jadi istri Helios harus kuat. Kuat menghadapi cobaan, kuat juga menghadapi Helios yang kita sama-sama tahu keadaannya seperti apa,” ucap Excel mencoba memberi Chole perhatian.
Dada Chole sudah langsung bergemuruh. Chole yakin, sang suami terluka parah.
“Awalnya memang terasa berat bahkan sangat berat. Namun setelah kamu berhasil membuat Helios mencintaimu, aku yakin kamu akan menjadi wanita paling bahagia karena seorang Helios.” Excel tulus mengatakannya terlebih sejauh ini, ia mengenal Chole sebagai sosok yang sangat baik. “Bukan memaksamu berkorban hanya karena kamu perempuan. Namun ini lah yang harus kamu lakukan setelah kamu memutuskan menikah dengan dia.”
“Kamu enggak usah menuruti semua aturannya, Chole. Karena aku yakin, kamu yang apa adanya akan jauh lebih membuat hidup Helios berwarna!” Excel yakin, alasan Chole sudah menangis sampai tersedu-sedu karena wanita itu tahu, Helios tidak baik-baik saja. Helios terluka parah, hingga ia sengaja menyemangati Chole.
“Makasih banyak Mas Excel. Makasih banyak karena sudah bantu suamiku. Makasih banyak buat semuanya!” ucap Chole tersedu-sedu.
Air mata Chole makin tak terbendung lantaran Excel menuntunnya masuk ke ruang kesehatan. Ruangan yang sebenarnya tidak asing sebab kini bukan kali pertama ia datang ke sana.
“Sebelah kiri Syam, sebelah kanan mas Helios.” Excel berbisik-bisik melepas Chole yang menatapnya dengan air mata yang terus berlinang. Chole tampak sangat berat, terlihat jelas wanita itu tulus kepada Helios.
Sembari terus melangkah cepat tapi hati-hati menuju ruang sebelah kanan, Chole sengaja menggunakan kedua tangannya untuk membekap mulut guna meredam suara tangisnya. Chole sudah berjanji untuk tidak berisik apalagi Helios benci jika ia berisik. Dan Chole juga berusaha tegar walau itu sangat sulit ia lakukan.
Keadaan Helios sangat mengkhawatirkan. Ada mesin EKG yang bunyinya selalu membuat bulu kuduk Chole berdiri. Selain itu, untuk bernapasnya Helios juga dibantu ventilator. Menandakan luka pria itu benar-benar fatal.
Chole langsung tidak bisa berpikir. Yang wanita itu bisa hanyalah menangis sambil menyesali keadaan. Kenapa dirinya tidak bisa mencegah Helios, agar suaminya itu tidak terluka parah layaknya sekarang?
Bersama tubuh Chole yang merunduk, kedua mata Helios berangsur bergerak-gerak. Chole terduduk di lantai sebelah ranjang Helios. Wanita itu masih membekap mulutnya menggunakan kedua tangan demi meredam suara tangisnya.
Helios memang tidak melihat keberadaan Chole. Namun suara tangis yang ditahan dan juga aroma parfum Chole, sudah langsung membuatnya yakin, wanita itu ada di sana, benar-benar di dekatnya. Di sebelah kirinya dan merupakan sumber aroma parfum beraroma permen yang tercium sangat feminin, lengkap dengan suara tangis yang ditahan-tahan.
“Aku belum mati jadi jangan menangisiku seperti itu!” lirih Helios yang untuk bicara saja masih sangat tidak jelas.
Mendengar itu, Chole merasa sangat nelangsa. Ia memang refleks mendongak walau ulahnya tetap tidak mampu membuatnya bisa melihat Helios. Chole tetap memilih bersembunyi di sana karena ia belum bisa menguasai diri agar tidak sedih apalagi menangis.
Kenyataan Chole yang tetap diam sekaligus bersembunyi, membuat Helios menghela napas pelan. Helios memejamkan kedua matanya. Tak beda dengan Chole, ia juga memilih diam, bersembunyi di balik luka-luka yang ia rasakan.
Malahan, Chole yang penasaran. Chole yang melongok untuk memastikan hingga ia keluar dari persembunyiannya. Mata kiri Helios sudah langsung menyambutnya dengan tatapan datar.
“M-mas?” sapa Chole lirih dan benar-benar canggung. Selain itu, ia yang masih jongkok juga tak berani menatap Helios lama-lama. Hanya saja, ada yang Chole lewatkan. Dirinya belum menyalami tangan kanan Helios. Namun lagi-lagi ia kembali menangis setelah ia mendapati tangan kanan Helios yang diperban penuh.
“Enggak usah ke sini kalau kedatanganmu enggak berguna dan malah bikin repot!” kecam Helios.
“Aku khawatir ke Mas!” rengek Chole.
“Khawatir tapi nangis terus, dikiranya itu enggak nambah beban?” omel Helios sambil menatap marah Chole.
“Aku sedih,” lirih Chole, tapi selanjutnya ia memilih diam. Ia kembali menggunakan kedua tangannya untuk membekap mulut agar tidak berisik.
Sepanjang Chole di sana dan wanita itu hanya diam justru membuat Helios bingung. Chole hanya sesekali menatapnya kemudian memanggilkan perawat ketika infus Helios harus diganti.
“Kamu sedang menguji kesabaranku, padahal harusnya kamu tahu, level kesabaranku lebih tipis dari sehelai tisu yang dibagi dua?” protes Helios setelah perawat yang membantunya mengganti infus, pergi.
Chole kebingungan, mirip orang linglung. “Aku kan sudah enggak berisik, Mas.”
“Ya kenapa kamu enggak berisik?” balas Helios sewot.
“Kan Mas yang minta. Karena Mas bilang, Mas benci kalau aku berisik, kan?” balas Chole jujur sejujur-jujurnya karena takut Helios lupa pada peraturan yang pria itu buat sendiri.
“Astaga ... hampir empat jam dia hanya diam dan aku sampai bingung, jawabannya justru begitu?!” batin Helios benar-benar geregetan kepada Chole yang polos, tapi baginya sangat menjengkelkan.
“Mas ...?” panggil Chole lirih. Ia masih berdiri di sebelah kursi tempat ia terjaga setelah mengantar perawat yang menggantikan infus Helios.
Helios tidak menjawab, tapi lirikan sebal dari mata kirinya sudah cukup menjadi jawaban untuk seorang Chole.
“Mas, aku boleh peluk Mas?” pinta Chole masih berucap lirih.
Belum apa-apa, Helios sudah merasa tak karuan, kacau. Helios tak hanya degdegan. Karena ia juga langsung panas dingin ketika Chole yang belum ia beri izin bahkan balas saja belum, justru sudah berakhir memeluknya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Eli Elieboy Eboy
𝚔𝚊𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚐𝚊𝚔 𝚋𝚘𝚕𝚎𝚑 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚜𝚒𝚔 𝚝𝚙 𝚐𝚒𝚕𝚒𝚛𝚊𝚗 𝚍𝚒𝚊𝚖 𝚖𝚊𝚕𝚊𝚑 𝚔𝚎𝚋𝚒𝚗𝚐𝚞𝚗𝚐𝚊𝚗
𝚐𝚖𝚗 𝚜𝚒𝚑 𝚖𝚊𝚜 𝙷𝚎𝚕𝚒𝚘𝚜 𝚗𝚎 𝚐𝚊𝚔 𝚔𝚘𝚗𝚜𝚒𝚜𝚝𝚎𝚗 🤣🤣🤣
2024-12-06
0
Kamiem sag
peluk aja mumoung Helios gak bisa menolakmu
2025-01-12
0
anikbunda lala
her her ... gengsi digedein
2024-10-26
0