Sepanjang perjalanan pulang, Helios tetap diam lantaran hal yang sama juga masih dilakukan sang istri. Helios duduk di tempat duduk penumpang bersama Chole yang tangan kanannya terus ia genggam menggunakan tangan kiri.
Sementara di depan mereka ada pak Mul—orang kepercayaan Helios yang duduk di sebelah sopir. Suasana benar-benar sunyi lantaran kedua pria di hadapan Helios juga kompak diam.
“Ya Alloh, ... mungkin ini detik-detik terakhir, dan aku harus siap!” batin Chole. Membayangkan dirinya akan diamuk sampai mati oleh Helios setelah misinya ketahuan, sudah sangat membuatnya takut.
Chole mencoba mengalihkan ketakutannya dengan mengawasi suasana luar dari kaca jendela di sebelahnya. Suasana yang gelap karena kini sudah malam, tengah diguyur hujan ringan. Chole berpikir, semesta ikut menangis karena orang tua dan juga keluarga Chole sedang sangat bersedih mengkhawatirkan Chole. Malahan Chalvin berdalih, membiarkan Chole bersama Helios sama saja membiarkan Chole mati lebih dini.
Setelah satu jam lebih menjalani perjalanan, akhirnya mobil mewah yang membawa mereka berhenti di depan sebuah rumah dan ada di kawasan perumahan elite.
Rumah mewah yang Helios maksud benar-benar mewah. Bentengnya saja setinggi sepuluh meter lebih dan temboknya tampak sangat tebal sekaligus kokoh.
“Jadi mafia duitnya banyak, ya? Kenapa mas Helios enggak operasi plastik saja biar wajahnya enggak bikin aku ketakutan sampai panas dingin bahkan pingsan?” pikir Chole langsung terkejut ketika pintu di sebelahnya dibuka dan di sana sudah ada pak Mul yang menyambutnya.
Jujur, Chole tidak suka kepada pak Mul apalagi cara pria itu menatapnya. “Tatapannya messum banget mirip pria hidung bel4ng meski tampangnya kelihatan alim! Dikiranya dari tadi aku enggak tahu apa, pas di pesta, dia sering curi-curi perhatian ke aku?” kesal Chole dalam hatinya.
Chole memilih menyusul Helios yang detik itu juga langsung menoleh sekaligus balik badan, hingga pria itu menghadapnya sepenuhnya. Chole lebih memilih panas dingin menahan takut karena harus dekat-dekat dengan Helios dan bisa ia pastikan tak akan berani menyentuhnya sembarangan. Ketimbang bersama manusia bertampang alim layaknya pak Mul, tapi justru sebelas dua belas dengan preda*tor se*ks.
“Sepertinya mas Helios memang sudah mencintai kak Cinta. Dia sampai rangkul aku begini. Alasannya merangkulku kan karena yang dia tahu, aku ini kak Cinta!” pikir Chole merasa bersalah telah membuat Helios patah hati terlalu dini. Namun, ia memilih tetap dalam dekapan Helios yang membawanya masuk ke rumah mewah tujuan mereka, ketimbang berurusan dengan pak Mul yang terus saja mengabarkan banyak hal kepada Helios. Pak Mul sampai menyampaikan semua jadwal Helios untuk hari besok.
“Benar-benar kurang kerjaan. Padahal harusnya dia tahu, tuannya mau malam pertama. Sama sekali enggak kasih jeda buat mas Helios bernapas,” batin Chole yang memang belum berani bersuara. Chole baru akan melakukannya setelah nanti mereka ada di dalam kamar tanpa orang lain terlebih pak Mul.
“Pak Mul, ... kita lanjut besok saja. Saya lelah dan saya ingin istirahat.” Dengan keji, Helios memotong penjelasan pak Mul.
Pak Mul sudah langsung bengong. Walau ia lebih tua dari Helios, statusnya yang hanya bawahan Helios tak mungkin membuatnya membantah. Dan ia tidak memiliki pilihan lain selain langsung diam.
“Pak Mul tidak perlu mengantar kami. Kami akan langsung ke kamar kami sendiri.” Helios terus melangkah sambil menggandeng Chole, walau tadi ia sempat berbicara kepada pak Mul.
Pak Mul yang awalnya sudah sampai melangkah hingga anak tangga kedua tepat di belakang Chole, langsung berhenti melangkah dan wajahnya tampak kecewa. Kendati demikian, pak Mul tetap berdiri di sana, mengawasi punggung Chole sampai benar-benar tak lagi terlihat.
“Wanita bercadar memang jauh lebih menarik. Kita lihat saja apa yang nanti terjadi. Mampukah dia menolak pesonaku, sementara yang harus dia hadapi tak lebih baik dari monster keji yang juga bikin jij*ik ...?” lirih pak Mul yang kemudian tersenyum keji. Senyum keji yang membuatnya mengalahkan kekejian seorang Helios. Karena jika sedang tersenyum layaknya kini, ia akan mirip psikopat.
Melalui lirikannya, Chole mengawasi suasana rumah Helios. Rumah mewah Helios tak kalah mewah dari kediaman orang tua Chole. Di sana juga dilengkapi lift layaknya di kediaman orang tua Chole. Bedanya, suasana di kediaman Helios seolah sengaja dibuat temaram. Horor, mirip rumah yang dipenuhi arwah halus dan biasanya Chole temukan di acara layar kaca.
“Aku benci terang. Jangan pernah menyalakan lampu berlebihan meski semua lampu di rumah ini sengaja dibuat temaram,” ucap Helios yang sudah melihat gelagat heran dari sang istri. Helios yakin, Chole tengah mempermasalahkan penerangan di rumah mereka.
Chole menghela napas pelan beberapa kali sambil terus menunduk tanpa tanggapan berarti. “Ya Alloh, ini beneran detik-detik terakhir mas Helios memperlakukanku dengan manusiawi!” batinnya menjerit ketakutan jauh di lubuk hatinya yang paling dalam.
“Ada dua belas pekerja di sini dan itu bukan termasuk pak Mul maupun sopir tadi. Ada sembilan Mbak, dua tukang kebun, dan satu sopir pribadi untuk kamu.” Helios sengaja berbicara walau suara yang ia hasilkan terdengar kaku bahkan di telinganya sendiri.
Helios terus menjelaskan keadaan rumah guna meredam ketegangan yang membuatnya tidak baik-baik saja. Tubuhnya sudah panas dingin hanya karena dirinya tak sabar ingin menyentuh sang istri.
Kini, tangan kanan Helios yang diperban, berangsur membuka pintu dua sisi di hadapan mereka. Selanjutnya bukan hanya Helios yang panas dingin. Karena hal yang sama juga langsung Chole rasakan setelah kedua tangan Helios sudah langsung mendekapnya dari belakang.
Padahal, harusnya Helios masih menutup sekaligus mengunci pintu ruangan yang dikata Helios sebagai kamar mereka. Namun dengan sangat cekatan, Helios membuat Chole balik badan bahkan menatapnya. Ia mengungkung tubuh Chole di pintu, kemudian dengan segera melepas cadar tanpa permisi.
Helios langsung kebas, kemudian menjatuhkan cadar di tangan kanannya begitu saja. Lain dengan wanita di hadapannya yang sudah langsung tidak berani menatapnya.
“Di saat seperti ini saja, yang aku lihat tetap Chole! Kenapa mata kiriku seolah sudah dibutakan oleh Chole?!” kesal Helios dalam hatinya.
Helios berpikir, memang dirinya yang salah. Hingga ia yang yakin wanita di hadapannya memang Cinta, tetap saja menikmati bibir wanita itu. Bibir Chole yang terasa sangat kenyal dan terus Helios luma*t kasar, benar-benar membuat seorang Helios ketagi*han.
Helios tak kuasa mengontrol diri apalagi mengakhirinya. Apalagi pada kenyataannya, Helios memang sudah menunggu masa-masa sekarang ini cukup lama.
Namun, selama itu juga air mata Chole berlinang. Helios tak memberinya kesempatan untuk menjelaskan, bahkan sekadar untuk bernapas dengan benar. Sementara yang membuat Chole merasa aneh, kenapa Helios tetap menyentuhnya? Helios tak segan menurunkan tuntas ritsleting di punggung Chole kemudian meraba setiap bagian tubuh Chole, termasuk bagian paling sensi*tif dengan agresif.
“Jangan pingsan! Jangan pingsan! Kamu baru boleh pingsan bahkan mati, jika kamu sudah menjelaskan sekaligus meminta maaf kepada mas Helios, Chole!” batin Chole menyemangati dirinya sendiri. Sebab apa yang Helios lakukan tak hanya membuat Chole kewalahan terlebih gamis pengantin yang dipakai, nyaris lepas.
Bagi Chole, melakukan kontak fisik dengan orang yang tidak ia cintai, juga melakukan hubungan fisik dengan pria yang sangat ia takuti sementara pria itu juga sangat membencinya, membuatnya merasa menjadi korban pelec*ehan. “Mas Helios suami kamu, Chole! Kamu yang memulai karena semua ini murni keputusan kamu! Jangan lupa, kamu sudah berjanji akan mengabdi, menjadi istri baik untuknya!” jerit Chole dalam hatinya.
“Aaah!” refleks Chole yang juga kesakitan karena ci*uman Helios makin lama makin bar-bar. Bibir bawah Chole sampai berdarah tergigi*t Helios.
“Suara Chole?” pikir Helios mulai merasa frustrasi. Detik itu juga ia berhenti, menarik bibirnya menjauh dari bibir wanita di hadapannya.
Sekali lagi, yang Helios lihat masih Chole. “Ini kenapa masih Chole? Rupa, ... suara ... kenapa aku tidak bisa menyingkirkannya dari pikiran apalagi kehidupanku?!” pikir Helios merasa sangat muak kepada dirinya sendiri.
Helios bahkan menjadi tidak bisa membedakan antara kenyataan dan halusinasi. Mirip ketika dirinya harus melihat wajahnya sendiri.
“M-mas ....” Terengah-engah Chole menghadapi Helios. Antara sadar dan nyaris sekarat, setelah apa yang mereka lakukan. Ci*uman, sekaligus sentuhan demi sentuhan.
“Maaf ....’’ Kata itu akhirnya terucap dari bibir Chole yang masih gemetaran hebat. Bukan karena efek ciuman mereka, melainkan karena ia terlalu takut.
Muak dengan kenyataannya yang merasa terus dibayang-bayangi Chole, Helios sengaja menekan semua sakelar lampu di sebelah pintu dan kebetulan ada di sebelah tangan kirinya.
Ulah Helios sudah langsung membuat suasana menjadi agak terang dan wajah Chole terlihat makin jelas.
Murka, tak ada lagi yang Helios rasakan selain itu di tengah dadanya yang bergemuruh.
“I-iya, Mas. Ini benar-benar aku. Aku ... aku terpaksa melakukan ini karena, ... aku minta maaf, Mas!” Chole kacau apalagi menggunakan kedua matanya sendiri, ia memergoki Helios yang sudah langsung menjelma menjadi malaikat maut untuknya.
Tanpa pikir panjang, Helios sudah langsung mendekat, mencengkeram kuat-kuat kedua lengan Chole, kemudian membanti*ngnya. Helios melakukannya sekuat tenaga. Tak peduli walau Chole sudah menangis dan tak hentinya minta maaf. Helios yang telanjur muak sekaligus kecewa, tak bisa menghentikan kedua kakinya yang menendang tubuh Chole di lantai sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Kamiem sag
astaga Chole😭😭 malang sekali nasibmu demi membela Cinta taiii yg tdk bertanggung jawab
2025-01-12
0
Lina Suwanti
sabar ya Chole,, pengorbananmu akan berakhir indah......
2025-01-17
0
Juan Sastra
kesadisan yg berakibat sebuah tangis penyesalan
2024-05-27
0