Chole memutuskan untuk tidur. Namun ponsel Helios yang pria itu taruh di nakas bersebelahan dengan kacamata dan dompet, terbilang berisik. Hingga di dering panjang ke empat, Chole memutuskan beranjak kemudian meraih ponsel sang suami.
Nomor ponsel Syam menjadi penyebabnya. Empat kali telepon tak terjawab dan ada dua pesan yang belum dibaca. “Kalau enggak penting pasti enggak sampai begini. Harusnya mas Syam tahu kalau aku dan mas Helios sedang bersama,” pikir Chole.
Chole memutuskan untuk mengambil sekaligus mengantar ponselnya ke Helios. Pria itu masih di sana, hingga lagi-lagi, Chole menjadi sibuk berspekulasi sendiri. Batin Chole terus berbicara, mencoba memahami Helios.
“Mas Helios merasa enggak percaya diri apa gimana, ya?” pikir Chole. Ia memergoki sang suami sedang merokok di ujung balkon. Helios buru-buru memunggunginya, dan terkesan sengaja menghindarinya.
“Mas, ini Syam telepon terus. Sepertinya ada yang mendesak banget,” ucap Chole.
Helios langsung terdiam. “Syam?” pikirnya. Apa yang membuat Syam sibuk menghubunginya? Tak pernah anak itu begitu jika memang bukan untuk hal mendesak terlebih Syam tahu, Helios baru saja selesai ijab kabul.
Firasat Helios langsung menjadi buruk. Segera ia balik badan untuk mengambil ponselnya. Membuatnya mendapati Chole yang sudah kembali memakai gamis. Bahkan, Chole yang juga membawakan kemeja putihnya sudah langsung memakaikan kemeja itu ke tubuhnya.
“Anak ini, sudah aku sakiti masih saja peduli!” kesalnya dalam hati. Hanya saja, ia bukan kesal kepada Chole. Karena ia kesal pada dirinya sendiri yang masih saja egois, tak mau memberi Chole kesempatan.
Beres memasang setiap kancing kemeja Helios, Chole tak lantas pergi. Ia justru memeluk erat Helios, kembali menempel pada tubuh kokoh yang sampai terasa terlalu keras bagi Chole. Ia mendengar Helios yang menghela napas kasar dan ia yakin karena keputusannya.
“Aku minta maaf, yah, Mas. Aku salah,” ucap Chole yang kemudian menengadah hanya untuk menatap wajah sang suami. Kendati demikian, kedua tangannya tetap mendekap punggung Helios.
“Aku benci kata maaf!” kesal Helios.
Chole mengangguk-angguk, berusaha menerimanya tanpa kembali berisik dan mengarahkan Helios agar mengikuti arahannya. Chole sadar, Helios berbeda dari manusia kebanyakan. “Iya, enggak apa-apa, Mas!” ucapnya yakin dan masih lembut. Ia kembali membenamkan kepalanya di dada terlampau bidang milik suami. Dada bidang yang ia harapkan menjadi satu-satunya tempatnya mendapatkan kenyamanan. Dada bidang yang juga menjadi pelabuhan terakhir cintanya di dunia maupun kehidupan mendatang.
Helios memang hanya diam, tapi pria itu juga sampai mengabaikan telepon masuk yang kembali membuat ponselnya berdering nyaring sekaligus panjang.
Segera Chole menengadah menatap wajah Helios. Ia pergoki, Helios yang malah tengah terpaku menatapnya, tapi lagi-lagi suaminya itu buru-buru menghindari tatapannya.
“Sebenarnya Mas Helios mau, tapi malu. Merasa minder, merasa enggak pantas bersanding dengan aku. Begitu apa bagaimana? Namun sepertinya memang begitu. Mas Helios minder,” pikir Chole yang kemudian mengingatkan Helios bahwa suaminya itu sudah kembali melewatkan telepon masuk yang membuat ponselnya sibuk berdering.
“Astaga ... baru dua hari tapi anak ini sudah berhasil menghipnotis aku!” batin Helios. Ia sungguh lupa segalanya dan malah sibuk memikirkan Chole setelah apa yang ia lakukan kepadanya. Helios sadar dirinya telah melukai Chole sangat dalam, tapi Chole dengan pesonanya masih saja memberinya ketulusan tanpa batas.
Tanpa bermaksud membanding-bandingkan, Helios mengakui, Chole yang masih memeluknya erat dan wanita itu sampai menempel ke tubuhnya, berkali lipat jauh lebih baik dari Cinta. Bukan hanya dari segi fisik, melainkan juga dengan kesabaran Chole walau Chole memang sangat berisik. Selain itu, Chole juga berkali-lipat lebih membuatnya gugup.
Kini, Helios memutuskan untuk menelepon Syam, kemudian jika tidak ada yang mendesak, ia bermaksud untuk benar-benar memberi Chole nafkah batin. Karena sejujurnya, ia juga menyesal kenapa tadi, ia malah pergi. Padahal setelahnya, Chole masih mencarinya dan tak segan memakaikan kemeja putih pemberian istrinya itu dengan dalih, Chole tidak mau Helios kedinginan.
“Mas Helios yang akan menjawab telepon, kok aku jadi deg-degan, ya?” pikirnya.
Satu hal yang Chole syukuri. Karena bagaimanapun hubungan mereka, bahkan Chole sempat takut Helios tak mengizinkannya mendekat, tapi pada kenyataannya, Helios masih mau didekati. Helios bahkan tak masalah ia terus menempel layaknya bayi.
Telepon yang Helios lakukan sudah langsung ditolak. Helios langsung kaget dan refleks mengernyit. Ia dapati, ada pemberitahuan beberapa pesan masuk dan setelah ia pastikan, salah satunya dari nomor Syam. Syam mengiriminya video dan bisa ia pastikan, itu penting. Namun karena Chole masih menempel kepadanya, Helios sengaja meniadakan volume media di ponselnya.
“Kok firasatku makin enggak enak, ya?” pikir Helios sudah sampai merinding. Ia refleks menjatuhkan ponselnya lantaran video yang ia putar berisi adegan seseorang yang ia yakini Syam, tengah dilindas menggunakan mobil jeep hitam!
Chole yang terusik karena selain mundur secara spontan, Helios juga sampai menjatuhkan ponsel, refleks memastikan isi ponsel. Merinding, air mata Chole sudah langsung jatuh. Sementara ketika ia mendongak memastikan Helios, ia juga mendapati suaminya sudah menitikkan air mata. Helios bahkan lebih parah. Helios tampak sangat terpukul dan bahkan linglung.
Syam dilindas dan menjadi bahan tertawaan, seolah adegan tersebut sangat lucu sekaligus menghibur bagi mereka yang juga berseragam serba hitam layaknya Syam. Kemudian, seorang pria penuh tato sekaligus anting yang mengarahkan kamera ponsel untuk merekam muncul dari balik kemera. Pria itu seolah sengaja menyampaikan pesan khusus.
Helios memungut ponselnya. Ia pergi tanpa pamit dan memang karena sangat buru-buru, tapi kedua tangan Chole menahannya. Hanya saja, Helios yang telanjur naik pitam karena video yang ia terima, dengan refleks menyingkirkan kasar tahanan tangan Chole.
“Kalau Mas pergi, aku ikut!” ucap Chole.
Helios tidak peduli dan langsung pergi.
“Mas, aku bahkan enggak tahu, Mas masih bisa pulang atau hanya nama Mas—” Chole menjerit histeris sembari mengejar Helios.
Chole terlalu khawatir, takut karena detik ini saja, ia tidak bisa untuk tidak merinding. Namun, yang ia khawatirkan tetap memperlakukannya tidak manusiawi. Helios menatapnya dengan tatapan marah, tatapan yang dipenuhi emosi, seolah Chole yang salah. Helios bersikap, seolah Chole menjadi penyebab semua masalah dalam hidupnya.
“Aku khawatir banget ke Mas ...,” isak Chole tanpa bisa mengontrol emosi sekaligus air matanya.
Jujur, ulah Chole malah makin membuat seorang Helios tak berdaya. Baru Helios sadari, wanita itu sudah langsung menjadi sumber semangat sekaligus kehancurannya.
“Jangan ... berisik!” ucap Helios tanpa mau menunjukan sisi rapuh apalagi kepeduliannya kepada Chole.
Chole yang jika sedang menangis akan terlihat seperti anak kecil yang merajuk, langsung menggeleng tegas sambil terus menatap Helios. Untuk beberapa detik, wanita itu membuang pandangan dari Helios. Namun ketika langkah cepat nan tegas Helios terdengar meninggalkannya, Chole buru-buru lari kemudian mendekap erat punggung Helios.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Nartadi Yana
sudah nonton iklan bebas iklan 20 menit iklannya tetap tidak berhenti datang belum satu paragraf dibaca
2024-10-31
0
Samsia Chia Bahir
Haaaahhhh, chole jg udh tau helios mo buru2 di tahan2 😣😣😣
2024-04-27
0
Lindaaja Linda
pasti yang berkhianat itu pak Mul karena dia tidak ditempatkan dirumah Helios lagi
2023-11-18
2