“Cholira Berliana Maheza ....”
Suasana rumah sakit yang terbilang ramai, membuat Chole yang tengah menunggu obatnya, melewatkan namanya disebut.
Chole melamun, dan baru terusik di panggilan ketiga. Bersamaan dengan itu, di depan tempat penebusan obat sudah ada pria tampan berkulit putih mulus, sementara rambut lurusnya agak gondrong menutupi telinga. Gaya pria tersebut yang mirip Opa-opa Korea dan kerap wara-wiri tampil di layar kaca, sudah langsung menyita perhatian di sana.
“Cholira Berliana Maheza,” panggil petugasnya memastikan kepada Chole.
“Iya, Kak. Maaf tadi saya tidak dengar. Jadi, totalnya berapa?” Chole bersikap sangat santun. Ia mengeluarkan dompet warna pinknya dari tas pundak yang juga masih berwarna pink.
Chole tidak tahu jika pria tampan berambut pirang di sebelahnya sudah sibuk mengawasi penampilannya. Pria tersebut sampai melepas kacamata hitam tebalnya hanya untuk menatap Chole jauh lebih saksama. Ia menatap dari ujung kepala hingga ujung kaki yang nyaris tak terlihat karena tertutup gamis.
“Makasih,” ucap Chole mengakhiri urusannya di sana. “Ini parfum kok enggak asing, ya?” pikir Chole sambil berlalu dari sana. Namun, belum genap dua langkah ia pergi, ubun-ubun kepalanya sudah ditahan oleh sebuah telapak tangan.
Telapak tangan sosok yang jauh lebih tinggi dari Chole, dan ternyata itu ulah si pria rasa opa-opa Korea Selatan!
“Hanya ada satu orang yang hobi begini,” pikir Chole yang langsung terlonjak ketika sepasang mata yang begitu teduh tiba-tiba melongok di hadapannya.
“Allohuma mantan yang selalu lebih seram dari saitan!” batin Chole. Ia buru-buru kabur, mencoba berlari secepat mungkin walau punggungnya terasa retak. Sembari berlari, ia bahkan menggunakan kedua tangannya untuk menahan punggungnya agar rasa sakit di sana sedikit berkurang.
Rayyan, pemuda rasa oppa-oppa Korea Selatan dan merupakan anak dari bibinya Didi alias Divani mantannya mas Aidan, terbengong-bengong menatap bingung sosok Chole. Namun segera ia menyusul hingga berakhir memohon-mohon, tak mau diputuskan secara sepihak oleh Chole.
“Aku sudah menikah ih!”
“Menikah kapan? Enggak lucu ih. Tiba-tiba minta putus, aku saja enggak mau putus dan sekarang, ... sekarang kamu mengaku sudah menikah.”
“Aku memang sudah menikah, Rayyan. Kemarin saja kamu kondangan!” Chole masih tidak mau memberi Rayyan kesempatan untuk sekadar menatap kedua matanya.
“Kemarin aku kondangannya ke pernikahan kakak kamu. Aku sengaja datang lebih awal buat ketemu kamu. Aku cari-cari kamu tapi tetap enggak ketemu. Aku juga ngobrol sama orang tua kamu. Aku ngobrol sama Chalvin juga.” Rayyan kembali berbicara panjang lebar.
Chole sadar, Rayyan baru akan berhenti setelah ia menjelaskan sejelas-jelasnya. “Aku menggantikan kak Cinta karena kak Cinta pergi di hari itu juga untuk menikah dengan Akala! Sementara sebelum aku melakukannya, satu minggunya aku sudah menyelesaikan hubungan kita!” ucapnya cepat sekaligus tegas. Di hadapannya, Rayyan yang menatapnya dengan jarak sangat dekat, sudah sibuk menggeleng. Seperti biasa, pria itu terus saja tidak mau jika ia putuskan.
“Aku enggak mau! Aku enggak bisa tanpa kamu!” lirih Rayyan merengek sekaligus sungguh-sungguh.
Chole menggeleng tidak nyaman, kemudian buru-buru pergi dari sana.
“Terus kamu sakit apa? Tadi kamu tebus obat, kamu baru berobat? Punggung kamu kenapa?” tanya Rayyan menunjukkan perhatiannya. Ia terus menyusul setelah terlebih dulu kembali memakai kacamata hitamnya lantaran suasana sedang silau-silaunya akibat sinar mata hari yang terlalu menyengat.
“Aku enggak sakit. Cuma kecapaian gara-gara malam pertama!” ucap Chole sengaja membuat Rayyan marah agar pria itu segera melupakannya.
“Kamu takut setengah mati ke Helios. Aku tahu itu!” tanggap Rayyan menolak percaya. Di hadapannya, Chole mendadak berhenti kemudian balik badan.
Chole menunjukkan cincin emas yang menghiasi jari manis tangan kanannya. Itu cincin pernikahannya dengan Helios. “Aku sudah menikah. Aku istri orang. Pernikahanku dan mas Helios resmi di mata agama maupun hukum. Terlepas apa pun yang terjadi kepada kami sebelum ini, ... inilah kami!”
Bukan hanya bibir Rayyan yang bergetar. Karena setelah kacamata hitam tebal juga pria itu dilepas, nyatanya tatapan Rayyan juga sudah bergetar sekaligus basah. Rayyan menangis, terlihat jelas tidak bisa menerima kenyataan.
“Lupakan aku!” pinta Chole yang sebenarnya tidak tega.
“Aku sayang kamu. Aku cinta kamu. Aku bahkan sudah menyiapkan pernikahan romantis buat kita!” lembut Rayyan meyakinkan.
Kali ini, Chole lah yang sibuk menggeleng. Sebenarnya, kenyataan Rayyan yang sampai mengemis kepadanya, juga membuatnya terluka karena ia tahu bagaimana rasanya begitu. Seperti yang ia lakukan kepada Helios. “Lupakan aku!”
“Maaf!” lanjut Chole. “Kamu terlalu baik buat aku!”
“Kalau terlalu baik, kenapa kamu minta putus? Kenapa kita udahan? Masa iya, aku harus jahat ke kamu?” balas Rayyan.
Dengan mata yang sudah basah, Chole mengawasi sekitar. “Sudah mau sore, aku harus pulang. Mas Helios pasti sudah nungguin aku!” pamitnya.
“Kamu gantiin Cinta buat barter? Kamu dijual orang tuamu buat bayar Helios?” tegas Rayyan emosional.
Chole yang awalnya sudah melangkah buru-buru, refleks berhenti karena mendengarnya. “Dijual orang tuaku?” pikirnya.
Pedih menguasai hati seorang Chole akibat ucapan Rayyan barusan. Kebangkrutan orang tuanya akibat ulah Cikho sang kakak, memang membuat keuangan mereka tidak baik-baik saja. Chole dan semuanya pun tak menyangka, Helios akan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengikat Cinta, menjadikannya sebagai barter. Bodohnya, Chole sengaja menggantikan Cinta hanya karena Chole merasa hidupnya sudah tidak berguna sejak mas Aidan yang sangat ia cintai justru menikah dengan Arimbi—baca novel : Talak Di Malam Pertama (Kesucian yang Diragukan).
“Orang tuaku tidak menjualku. Akulah yang menyerahkan diriku karena aku sadar, semenjak mas Aidan menikah, hidupku benar-benar tak berarti. Dan aku merasa, aku memiliki beberapa kesamaan dengan mas Helios.” Chole berangsur menatap Rayyan. “Maaf, ... karena adanya kita pun, ... itu ulah enggak jelas Didi. Intinya, lupakan aku. Cari dan menikahlah dengan wanita lain. Tanya Didi dan orang tuanya. Mereka akan jelasin semuanya.”
“Aku maunya kamu yang jelasin!” pinta Rayyan. “Aku mau dengar langsung dari kamu!”
Chole tahu, akan banyak waktunya yang terbuang jika ia terus bersama Rayyan. Beruntung, taksi online yang ia sewa, sudah menghubunginya. Tanpa pamit kepada Rayyan, Chole sudah langsung buru-buru masuk ke taksi online-nya.
Rayyan melepas kepergian mobil yang membawa Chole dengan tatapan frustrasi. “Aku harus segera mendapatkan alamat rumah Helios!” lirihnya yang sampai detik ini belum bisa menyudahi air mata apalagi kesedihannya.
Di dalam mobil, Chole juga menjadi sibuk menangis. Ia meratapi kedua kantong besar di kedua tangannya. Itu stok keperluan untuknya karena di rumah Helios, ia tak memiliki jatah apa pun. Termasuk jatah sekadar dianggap apalagi diharapkan oleh Helios.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Kamiem sag
mbohlah Chol
mak gak ngerti jalan pikiranmu
moga secepatnya kau bertemu dgn takdir baikmu
2025-01-12
0
Ana Akhwat
Aneh juga ceritanya udh di talak tapi masih tinggal dirumah itu juga, yang benar saja
2024-12-29
0
Ica
lah dia sudah ditalak ngapa masih sebut suami istri.. /Facepalm//Drowsy//Hey/
2024-12-24
0