“Cepat siap-siap, semua orang sudah menunggu kita di rumah orang tua kamu!” Helios belum bisa berkata lembut sedikit pun.
“M-Mas ....” Chole masih memohon. Ia maju, tapi mundur lagi. Takut. Walau kemudian, ia memilih maju dan sampai mendekati Helios. Sebab seperti yang sempat ia katakan kepada pria itu, tanpa pria itu jauh lebih membuatnya takut.
“Kamu yang mau ini. Kalau kamu enggak mau, ngapain kamu laporan ke Excel? Kenapa kamu masih mohon-mohon?!”
“Aku mohon-mohon karena aku mau, Mas kasih kesempatan buat kita jalani hubungan kita. Menikah, menjadi suami istri—”
“I—yah!” Helios masih sewot.
“Hah ...? I—yah?” Chole tidak percaya dan itu membuatnya menatap Helios sambil miring.
Helios menghela napas dalam. “Kita ijab kabul lagi.”
Apa yang baru saja Helios katakan sudah langsung membuat Chole terkesiap. Hatinya menjadi diselimuti rasa hangat. Malahan di sana seolah mendadak dipenuhi bunga-bunga bermekaran layaknya sebuah taman impian.
Sadar Chole sudah langsung kegirangan, Helios langsung menghadapnya. Gaya yang masih sama, seolah pria itu akan menerkam Chole hidup-hidup.
“Iya, Mas! Pokoknya aku ngerti!” sergah Chole benar-benar sok tahu.
Helios yang telanjur kesal apalagi Chole sampai lari kegirangan, sengaja melempar botol air mineralnya dan sampai mengenai punggung Chole.
“Mas ngefans banget ke aku apa gimana, sih? Ini punggungku saja masih trauma loh, Mas!” rengek Chole.
Helios yang tidak tahan dengan kemanjaan Chole refleks geleng-geleng. Ia sampai merinding kemudian meninggalkan tempat tidurnya. Helios kembali membuka pintu lemari yang tadi sempat ia banti*ng dalam menutupnya.
Chole yang sadar Helios akan segera menyiapkan penampilan terbaik, segera membuka kopernya. Dari sana, ia mengambil sebuah kemeja putih yang masih terlipat rapi.
Hadirnya satu kemeja putih yang terlipat rapi di sebelahnya dan itu ulah tangan Chole, langsung mengusik Helios. Namun, tangan kanannya sudah langsung mengambil kemeja lengan panjang warna hitam.
“Innalilahi, semua pakaian Mas warnanya hitam semua. Ngapain beli banyak-banyak kalau warnanya hanya satu, Mas? Orang susah saja kalau beli pasti bervariasi. Lah ini ...?” ucap Chole langsung mingkem lantaran dalam sekejap, Helios sudah membuatnya duduk di rak lemari. Pria itu menggunakan kedua tangannya, dan kini akan menutup pintu lemarinya.
“Mas ih, Mas—” Chole benar-benar panik dan makin berisik.
“Kalau kamu terus-terusan berisik, yang ada aku makin pusing tahu!” kesal Helios.
“Tapi ini tolongin dulu. Aku bahkan lebih tinggi dari Mas. Kalau aku sampai jatuh, aku beneran bisa caca*t. A—aku bakalan lapor lagi ke mas Excel. Ternyata Mas takut ke Mas Excel kan?” berisik Chole. Demi bisa turun dari rak kedua paling atas lemari pakaian berukuran besar milik Helios.
Helios tidak langsung menanggapi. Ia terus menatap Chole sambil mengatur napas pelan. Itu merupakan bentuk kemarahannya dan ia berusaha meredamnya, daripada ia malah kembali melakukan hal yang lebih fatal lagi.
“I—ini, ... Mas pakai ini. Pakai warna putih, kan mau ijab. Jangan serba hitam mirip mau ke makam. Pakaian juga bagian dari cerminan diri kita. Bagian dari harapan juga sementara harapan juga bagian dari doa terbaik.” Walau takut bahkan selain deg-degan, ia juga sudah panas dingin gemetaran, Chole tetap memberikan kemeja putihnya.
“Itu kemeja putih siapa?!” tanya Helios memastikan.
“Mas. Itu punya Mas. Aku sengaja beli itu dua hari yang lalu, harusnya pas!” yakin Chole.
“Bohong!” tepis Helios tak percaya Chole sengaja membelikannya untuknya.
“Sumpah, Mas!” yakin Chole.
“Itu pasti punya orang! Kamu beli itu buat mantan kamu, tapi karena enggak kepakai, jadi kamu kasih itu ke aku. Itu tipu daya kamu buat memperdaya aku!” Helios masih tidak bisa percaya kepada Chole.
“Astagfirullah Mas, ... itu beneran punya Mas. Ini, ... ini ukuran Mas! Mantanku enggak ada yang segede ini! Astagfirullah, ... terbiasa dilukai bikin Mas trauma dan menganggap semuanya sama saja, ya?” balas Chole sambil membentangkan kemejanya yang memang sangat besar. Sangat pas dengan ukuran tubuh Helios.
“Mas ini kan sudah bukan anak kecil, tapi kok cara pikirnya enggak kalah nyungseb dari kak Chiko? Sudan sana pakai, Mas sendiri yang bilang kita sudah ditunggu di rumah orang tuaku!” keluh Chole.
Helios memang menerima kemeja pemberian Chole. Itu membuat Chole lega sekaligus bahagia. Hanya saja, kenyataan Helios yang tetap membiarkan Chole duduk di rak lemari, membuat Chole merengek sekaligus meraung berisik.
“Mas ...?!”
“Nanti, tanggung, jangan berisik! Tadi kamu sendiri yang memaksa aku buat pakai kemeja ini!” Helios berteriak dari dalam kamar mandi.
“Tapi ya enggak gini juga. Masa iya kamu biarin aku nyangkut di rak lemari. Untung aku kecil, kalau kelebihan berat badan, ambruk ini lemari sama aku-akunya.” Karena Helios mendiamkannya, Chole kembali merengek-rengek memanggil pria itu.
Di kamar mandi, Helios merasa tak asing dengan penampilannya. Melalui lirikan, ia mendapati dada tegapnya yang menjadi berbeda karena kemeja putih yang ia pakai dan itu pemberian Chole. Sampai detik ini, ia belum berani menatap wajahnya. Itu terlalu mengerikan karena berada di depan cermin besar saja sudah langsung membuatnya tegang. Ia sampai menahan napas dan langsung jantungan karena teriakan Chole dari luar.
Rak lemari pakaian yang Chole duduki benar-benar ambruk. Dua rak di bawahnya juga ikut serta, disusul Chole yang terlempar ke bawah. Helios yang menyaksikan itu langsung panik kemudian bergerak dengan cepat. Tubuh Chole langsung Helios tangkap menggunakan kedua tangannya. Kemudian, ketika mereka sempat bertatap dan itu refleks, setumpuk pakaian juga menghantam punggung Chole.
Chole refleks menunduk, membuat keningnya menempel di bibir Helios karena kali ini, pria itu tak memakai topeng ataupun penutup wajah lainnya.
“Mas memang tipikal yang hobi bikin masalah. Bikin masalah sendiri, sibuk sendiri, dan merasa paling terzalimi!” kesal Chole. “Ya Alloh, kalau seperti ini terus kayaknya aku bakalan panjang umur. Harus lebih sabar karena aku punya bayi tua yang aktifnya melebihi balita!” keluhnya lagi sembari berusaha turun dari tubuh Helios.
“Turuninnya pelan-pelan, manusiawi. Awas kalau sampai dibanting lagi!” lanjut Chole kali ini mengomel.
“Bisa enggak, kali ini saja kamu jangan berisik?” kesal Helios. Namun untuk kali ini, ia bisa bicara dengan jauh lebih lembut.
Chole yang awalnya masih memunggungi Helios, berangsur menoleh sekaligus menatap tak percaya Helios. Ia mematut penampilan Helios dari bawah ke atas. Namun ketika ia akan menatap wajah pria itu, ia ragu melakukannya.
Helios yang sadar Chole masih mempermasalahkan wajahnya yang buru*k rupa, gadis itu takut, sengaja memakai masker yang sudah tersangkut di telinganya.
“Enggak usah pakai masker, Mas. Enggak usah pakai kacamata juga. Biar aku terbiasa,” ucap Chole serius.
Mendengar itu, Helios sudah langsung tercengang dan perlahan linglung. Apalagi ketika Chole yang mendekat, juga sampai berjinjit untuk melepas masker maupun kacamata hitam Helios. Chole masih gemetaran, tak berani menatap wajah Helios. Buih keringat jatuh dari kedua alis tebalnya. Namun, tangan kanan Chole yang juga gemetaran, berangsur mengusap poni Helios, merapikannya agar pria itu memiliki penampilan lebih sempurna.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Liiesa Sariie
chole cerewet,,tp aku Syyuukkaaa /Kiss/
2024-05-12
1
Ida Ulfiana
bener2 wanita hebat si chole ni
2024-05-09
0
Samsia Chia Bahir
Astagaaaaahhh, lemarix sampe ambruk 😃😃😃😃😃
2024-04-27
0