“Jangan pakai warna pink!” ucap Helios ketika Chole akan meninggalkannya. Gadis itu sudah sukses membuatnya panas dingin karena perhatian yang Chole berikan kepadanya.
Chole langsung mesem kemudian tersenyum jahil kepada Helios. “Kalau gitu aku mau pakai warna pink!” yakinnya dan langsung tertawa lantaran mata kiri Helios langsung mendelik kepadanya. Lain dengan mata kanan yang berwarna putih sempurna dan memang tidak berfungsi lagi.
Sekitar lima belas menit kemudian, Chole keluar dari kamar mandi. Ia memakai gamis putih gading. Dan Chole menyadari, Helios sudah langsung memperhatikannya. Entah sadar atau tidak, pria itu tampak kagum, menatapnya penuh minat tapi bukan tatapan me*sum layaknya pak Mul.
“Enggak pakai cadar lagi?” tanya Helios. Mata kirinya masih menatap silih berganti kedua mata Chole. Selain memakai bulu mata palsu dan membuat bulu mata itu tampak tebal sekaligus lentik, Chole juga ia yakini memakai soft lens. Mata bulat Chole tampak jauh lebih lebar dan itu membuatnya terlihat jauh lebih cantik. Helios mengakuinya, dan ia sadar.
“Ketinggalan di koper,” singkat Chole memilih langsung menunduk, menjaga pandangannya dari Helios yang memang belum berhak atas semua yang ada dalam dirinya, setelah talak yang pria itu berikan kepadanya.
Helios merasa canggung dan memilih menunduk juga, membiarkan Chole lewat di sebelahnya. Walau ulahnya itu juga membuat dunianya seolah berputar lebih lambat. Melalui ekor lirikan mata kirinya, ia memergoki Chole jongkok meletakan pakaian bekas termasuk tas kosmetik yang juga sudah membantu gadis itu mempercantik diri.
Barulah sekitar sepuluh menit kemudian, mereka keluar dari kamar. Chole tetap memakai cadar, sementara Helios juga tetap menutupi wajah dan matanya menggunakan masker dan kacamata. Hanya saja, kali ini Chole mendandani Helios dengan masker putih.
Sepanjang keluar dari rumah megah Helios, Chole tidak melihat pak Mul bahkan sekadar tanda-tandanya. Helios menyadari Chole seolah mencari-cari walau matanya yang berfungsi hanya mata kiri.
“Mas, pak Mul di mana?” tanya Chole lirih sembari memakai sabuk pengamannya sendiri.
Kali ini Helios sampai menyetir sendiri, tanpa kawalan. Dari yang Chole amati, Helios tampak tidak suka dan memang tak mau membahasnya.
“Insting Mas enggak kuat karena tertutup kesedihan Mas.” Chole masih bicara. “Mas, sekali ini saja, biarkan aku bicara, ya?”
Helios tetap diam, fokus dengan kemudinya.
“Aku janji, aku enggak bakalan berisik kalau bukan untuk urusan mendesak. Namun untuk pak Mul,” lanjut Chole.
“Aku sudah mengirimnya ke markas. Di sana ada Syam dan anak-anak!” sergah Helios lirih tapi cepat.
“Embel-embel ‘orang kepercayaan’ kan bisa disalahgunakan, Mas.” Chole berbicara dengan hati-hati.
“Aku juga sudah bilang, sekarang dia pekerja biasa. Dia punya jasa ke aku jadi aku enggak bisa memecatnya,” balas Helios.
“Mas Helios paham arah pembicaraanku. Dia sudah tahu semuanya apa bagaimana?” pikir Chole. “Kenapa Mas bicara begitu? Memangnya di mata Mas, dia salah? Padahal awalnya aku mau ngerujak dia. Walau jujur aku takut, bahkan lebih takut ke dia ketimbang ke Mas.” Chole terdiam melow. “Dia kurang ajjar, ... dan itu ke aku. Apa kabar ke orang yang ada di bawah dia?”
Sambil menatap serius Helios, Chole merengek, “Ih, Mas ... aku jadi khawatir ke yang di rumah. Kalau mereka sampai dilece*hkan, dihamiliii, atau ... sampai abor*si, gimana? Ih ... kok Mas bisa sih kecolongan gitu. Ih sumpah aku jadi kasihan ke mbak-mbak yang ada di rumah.”
“Jangan berisik!” tegas Hellios masih lirih.
“Hari besok juga aku akan usut, dan andai terbukti—” sergah Chole.
“Aku serahkan dia ke kamu. Terserah mau diapain.” Helios sudah tidak mau makin pusing.
“Si pak Mul?” lirih Chole memastikan.
“Ya iya, siapa lagi? Masa iya anj*ing tetangga!” sergah Helios yang kemudian meminta Chole untuk tidak berisik.
Chole tidak memiliki pilihan lain selain diam karena andai ia nekat tetap bicara, Helios bisa kembali murka. “Sudah mulai ada perubahan, ... Mas Helios jadi manusiawi,” batin Chole yang jujur saja langsung bahagia. Ia sudah mulai melihat secercah cahaya setelah badai besar menghantam kehidupannya dan itu karena kekejaman seorang Helios.
Suasana jalan yang sepi menjadi salah satu alasan utama mereka sampai rumah orang tua Chole dalam waktu singkat. Ditambah lagi, cara Helios mengemudi mirip pembalap Andal. Chole berpikir, itu terjadi karena Helios yang seorang mafia sudah terbiasa melakukannya.
Sampai di sana, mobil Excel sudah langsung mencuri perhatian mereka. Hanya ada mobil Excel, tapi suasana lampu rumah dalam keadaan terang benderang. Seolah semuanya sudah siap menjadi bagian dari ijab kabul ulang Helios dan Chole.
Tepat pukul setengah tiga pagi, di jam digital yang ada di mobil Helios.
“Sudah jam segini,” lirih Chole sambil melirik Helios.
“Makanya cepat! Dati tadi kamu berisik tapi gerak apalagi jalannya lelet banget mirip keong ekspres! ” semprot Helios sudah langsung turun dari mobil.
Selain menutup pintunya dengan membant*ing, Helios juga mengunci mobilnya walau Chole masih di dalam mobil.
“Orang kok gitu amat ih!” sebal Chole yang akhirnya bisa keluar dari mobil, walau ia juga sampai harus menggedor-gedor kaca pintu di sebelahnya.
Kedatangan Chole dan Helios sudah langsung disambut air mata oleh ibu Aleya. Ibu Aleya yang sudah memakai gamis putih lengkap dengan kerudung, tersedu-sedu memeluk Chole.
“Duh, nikmatnya ... punggungku masih sakit banget, tapi aku enggak mungkin jujur ke siapa pun,” batin Chole. Alasan air matanya lolos dengan sangat sibuk juga masih bagian dari kenyataan punggungnya yang didekap erat oleh sang mamah.
Helios yang dipanggil Excel untuk bergabung dengan rombangan penghulu, Tuan Maheza dan juga Chalvin, diam-diam memperhatikan Chole. Tentu ia tahu punggung wanita itu sakit. Namun terlepas dari itu, Helios benar-benar takjub karena Excel sudah langsung bisa membuat orang tua Chole siap. Termasuk penghulunya, dan masih penghulu sama saat kemarin. Excel berhasil menyiapkan semua itu dalam waktu cepat.
Dini hari menjelang subuh, Excel dan sang istri menjadi saksi ijab kabul ulang yang Helios lakukan kepada Chole, ia melakukannya sadar tanpa tipuan lagi. Ijab kabul itu berlangsung cepat sekaligus singkat, menjadikan uang lima juta sebagai emas kawinnya.
Layaknya di ijab kabul sebelumnya, Chole masih ketakutan kepada Helios apalagi ketika harus menyalaminya. “Sudah, Chole, jangan ragu apalagi takut. Nanti yang ada Helios tersinggung, marah lagi dia,” batin Chole menasihati dirinya sendiri.
“Sudah jadi suami istri lagi,” batin Chole yang menyalami tangan kanan Helios menggunakan kedua tangan. Ia melakukannya dengan takzim, membiarkan kening dan hidungnya bersemayam lama di punggung tangan kanan Helios. Karena entah kenapa, dunia seorang Chole seolah berhenti berputar hanya karena apa yang ia dan Helios lakukan.
“Kembali ke status sebelumnya. Sudan menikah, sudah jadi suami istri lagi,” batin Helios tak percaya. Tak beda dengan Chole, ia juga merasa dunianya berhenti berputar. Dunia seolah hanya miliknya dan Chole. Karena di sana pun, seolah hanya dirinya dan Chole saja yang hidup.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 130 Episodes
Comments
Eli Elieboy Eboy
𝚌𝚑𝚘𝚕𝚎 𝚗𝚎 𝚢𝚐 𝚝𝚊𝚔𝚞𝚝 𝚜𝚊𝚖𝚊 𝙷𝚎𝚕𝚒𝚘𝚜 𝚝𝚙 𝚋𝚎𝚛𝚒𝚜𝚒𝚔𝚗𝚢𝚊 𝚓𝚞𝚐𝚊 𝚐𝚊𝚔 𝚋𝚒𝚜𝚊 𝚍𝚒 𝚛𝚎𝚖 𝚔𝚊𝚢𝚊𝚔 𝚛𝚎𝚖 𝚖𝚘𝚋𝚒𝚕 𝚢𝚐 𝚕𝚐 𝚋𝚕𝚘𝚗𝚐 🤣🤣🤣
2024-12-06
0
duoNaNa
kok penge cari lakban buat nutup mulut brisiknya chole ya 🤣🤣🤣
2024-02-26
2
Tavia Dewi
untung da Excel yang bantu...
2023-12-09
2